THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
CINTA PRIA TUA 2



Aldebaran begitu tegas ingin menikahi wanita yang menjadi dokter kandungan cucu menantunya. Pria itu memang sudah jatuh hati.


"Manya bilang, kalau Dokter Demira adalah wanita single tanpa anak," ujar Jovan.


"Aku hanya berpikir, apa dia juga menyukai kakekmu," sahut Abraham.


"Kita tak semerta-merta datang melamarnya kan?" lanjutnya.


Aldebaran mengangguk, rupanya perjalanan cintanya kali ini sangat sulit. Ia juga tak mungkin mendatangi wanita itu tiap hari. Ia harus memiliki momentum tertentu agar bisa mendapatkan hati wanita itu.


"Aku akan tanya pada Manya jadwal Demira," sahut Aldebaran.


Aldebaran tak jadi pergi, semua anak bersorak gembira. Pram berada dalam gendongan Aldebaran, bayi mau dua tahun itu tak mau turun dari tangan pria itu.


"Baby, sini yuk sama Mama," ajak Saskia.


"Ndat!" tolak bayi itu.


"Biarkan dia, Nak," ujar Aldebaran.


Tita dan Maiz bermain dengan yang lain. Seven A sedang asik menggambar. Bahkan Lika tengah menempelkan pada gambar beberapa batu krikil yang ada di sekitarnya.


"Uyut, gimana menurut uyut?" tanya gadis kecil itu.


Aldebaran melihat betapa indahnya susunan batu yang dibuat hingga berbentuk seperti burung itu.


"Bagus sekali!" pujinya.


"Tapi alasnya yang bikin nggak bagus," ujar Lika sedikit kecewa.


"Coba minta sama pengawal alas dari papan sayang," suruh pria itu.


Lika tercerahkan, gadis kecil itu berlari pada salah satu pengawal dan meminta dibuatkan alas dari papan. Sedang Abraham dan Abi hanya mencoret-coret saja kertas yang ada di tangannya.


Tak lama Anton datang bersama Nita. Sidik membawa dua anaknya itu. Abraham tentu senang dan mereka bermain bersama.


"Ih ... bosen!" keluh Abraham melempar semua kertas dan pulpennya.


"Baby!" peringat Manya.


"Mama bosen Mama!" keluh Abraham lagi.


"Iya, kita jalan-jalan ke TMII sih!" pinta Syah.


"Kalian mau ke taman mini?"


"Mau uyut!" sahut semuanya kompak.


"Ya sudah, semua ganti baju, kita ke taman mini!" ajak Aldebaran.


"Grandpa," Manya merengek.


"Kau di rumah saja. Aku akan membawa banyak pengawal dan para suster!" sahut pria itu.


Manya tentu tak mau ditinggal, ia juga mau pergi ke sebuah lokasi di mana ia tak perlu keliling Indonesia. Karena mereka di sana bisa melihat semua rumah adat dan semua kebudayaan Indonesia.


"Kalau begitu Anton dan Nita saya bawa pulang Tuan," ujar Sidik.


"Kau saja yang pulang Sidik. Anak-anak ikut aku!" titah Aldebaran menatap horor supir seven A itu.


Akhirnya dengan menyewa bus, mereka berangkat ke TMII yang dibuka secara umum pada tanggal 20 April 1975. Bahkan sempat direvitalisasi besar-besaran sejak Mei 2022 hingga Oktober 2022. Kemudian dibuka sekitar November 2022.


Bus masuk setelah pertugas menghitung orang di dalam bus.


"Kita naik kereta gantung ya!" ajak Aldebaran yang disambut dengan lompatan semua anak-anak.


Para suster menjaga mereka, Manya memilih bersama triple A dan Reece. Maira bersama Liam, Lika dan Abi. Amertha bersama Tita, Maiz dan Saskia juga Pram. Aldebaran bersama Laina, Agil, Bhizar dan Syah juga suster Leni. Abraham bersama Anton, Nita dan Sidik juga suster Tati. Sedang yang lain berada di kereta lainnya bersama para pengawal.


"Ma ... ini nggak jatuh kan?" Reece memegang kuat tangan kakaknya.


"Jangan khawatir sayang," ujar Manya. "Kita lihat-lihat saja ya. Jangan banyak bergerak!"


Mereka menurut, akhirnya perjalanan kereta gantung berakhir. waktu sudah menunjukkan makan siang. Aldebaran memilih salah satu restoran di sana. Anak-anak makan dengan lahap. Manya juga suka dengan kangkung pelecin dan ayam betutu pesanannya.


"Mama itu tari apa?' tanya Aidan menunjuk.


"Oh itu tadi Pendet dari Bali," jawab Manya.


Setelah berkeliling, mereka kini memasuki wahana-wahana lainnya. Mereka berjalan-jalan hingga sore menjelang. Beberapa oleh-oleh mereka bawa untuk dibagikan.


"Makasih ya Tuan uyut atas jalan-jalannya," ujar Anton senang. Nita mengangguk antusias.


Kedua anak itu tentu jarang berpergian ke tempat yang indah seperti itu. Aldebaran mengusap kepala dua anak itu. Anton dan Nita pulang dengan membawa oleh-oleh dan cerita yang pastinya sampai dalam mimpi indah mereka.


Manya berbaring di kamarnya, Maira dan Amertha mengelus perut anak dan menantunya yang kram.


"Sayang, tadi kan Grandpa bilang nggak usah ikut,' ujar Aldebaran ketika masuk kamar.


"Hanya sebentar Grandpa," ujar Manya.


Aldebaran tadinya ingin bertanya perihal jadwal Demira. Tetapi, Manya sepertinya terlalu lelah, maka ia mengurungkan niatnya.


Sore menjelang Jovan dan semua baru pulang dari kantor. Mereka kesal karena semua pergi ke TMII tanpa mengajak keduanya. Bahkan Abraham dan Ramaputra ikutan cemberut pada Aldebaran.


"Ih ... orang anak-anak bosen. Nunggu kalian libur bisa mahal tiketnya!' sembur Aldebaran.


Abraham memutar mata malas, sedang Ramaputra masih cemberut.


"Ih udah jangan kek gitu!" peringat Manya.


"Daddy, ntar ke sana lagi ya weekend!" rengek Praja.


"Iya Daddy, kalau perlu kita booking satu hari penuh!" seru Abraham menyarankan.


"Kau gila. Itu milik pemerintah, tak boleh kita booking semua harus membaur bersama masyarakat!" ketus Aldebaran.


"Kita ke Dufan aja weekend besok. DuGan kan milik swasta, boleh dong satu hari kita monopoli!" seru Jovan memberi ide.


"Oke, Praja kau atur itu!" titah Aldebaran.


"Siap Daddy!" sahut Praja semangat.


Malam tiba, Jovan masih mengalami Couvade Syndromenya. Pria itu bangun jam tiga dini hari dan muntah-muntah. Hampir semua makanan di dalam perutnya keluar semua.


"Sayang, besok kita ke dokter Demira ya, minta tusuk akupuntur agar meredakan ngidammu," ajak Manya.


Jovan mengangguk lemah. Pria itu sudah tak kuat lagi mengalami Couvade Syndrome ini. Ia akan benar-benar ambruk di rumah sakit. Bahkan tak banyak makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya.


Pagi hari, usai sarapan Manya membawa semua keluarganya pergi ke klinik sederhana milik Demira. Memang wanita itu berkali-kali ingin bertemu dengan sepuluh bayi kembar yang ia tangani persalinannya. Kini ada dua janin dalam perut Manya. Maka lengkap satu lusin anak yang dimiliki wanita itu.


"Assalamualaikum, Dok kami datang!" seru Manya..


Demira yang tau jika Manya datang membawa semuanya. Wanita itu tersenyum lebar netranya melirik mata hazel milik Aldebaran. Ada rona merah di pipinya.


Semua anak sibuk dengan banyaknya atribut kedokteran dari jaman ke jaman. Demira memang pengoleksi barang-barang antik khusus kedokteran.


"Wah ... ini jarum suntiknya besar amat!" tunjuk Abraham.


"Iya sayang,"


Beberapa maid membawa minuman dan kudapan. Semua anak langsung menyerbu makanan yang diletakkan di atas meja. Entah kenapa Aldebaran duduk bersisian dengan Demira.


Manya menyenggol suaminya dan memberi kode. Abraham, Maira, Amertha, Praja, Saskia dan Ramaputra hanya diam dan saling senggol satu dan lainnya.


"Wah ... penpa ... dudut pama dotel syantit!"


Pram naik dan menyempil di antara keduanya.


"Janan peulduwaan banti lada tetan!" ujarnya memperingati.


Bersambung.


Bisa aja Pram! 🤭🤦


next?