THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
RUTINITAS



Seven A plus Anton berdiri berhadapan dengan Denta juga delapan temannya. Mereka masih berseragam taman kanak-kanak. Tetapi Denta ingin menjadi ketua regu semua murid yang ada di kelas ini.


"Aku yang paling besar dan sudah bisa bicara dengan benar!" sahut Denta sombong.


"Talo kamu beusal dan pintal beustina tamu eh kamu masuk SD bukan TeKa!" sahut Abraham.


'Aku masih lima tahun, mana boleh masuk SD. Harus TeKa dulu!" sahut balita bongsor itu.


"Telus kamu mawu apa kalo besar dan udah benel nomonnya?" tanya Anton.


"Eh ... yang udah nggak punya bapak itu nggak boleh ngomong!" sahut salah satu pendukung Denta.


"Loh ... spasa eh siapa yang melalang? Atulan balu dali mana?" tanya Lika runtun.


"Pokoknya Anton itu nggak masuk level kita!" sela salah satunya lagi.


"Hei ... dengel ya ... tamu eh kamu tau kemulyaan anak yatim? Losul itu juga anak yatim!" sentak Syah.


"Hei ... ini kenapa ribut-ribut?" guru datang dan melerai para murid.


"Itu Bu gulu, Denta maksa buat jadi ketua kelas. Padahal kan sudah dipilih kalo Anton yang jadi ketua?" jawab Abi.


"Bu guru, mestinya milih ketua yang nggak cadel!" sahut Denta.


"Denta, besok pindah kelas aja ya, di Kelas TK B. Di sana nggak ada yang mau jadi ketua kelas!" tawar gurunya.


Akhirnya semua sepakat. Denta pindah di kelas TK B. Kelas itu rata-rata muridnya perempuan lebih banyak di banding laki-laki.


Jam pulang selesai, salah satu murid meminta semua untuk tidak keluar dulu karena dirinya akan merayakan ulang tahun.


"Halo anak-anak, kita rayain ulang tahun Dina ya!" seru ibunda Dina.


Semua bertepuk tangan meriah. Dina termasuk anak berada, kelas mendadak riuh karena masuk badut. Semua anak menangis karena takut badut kecuali seven A dan Anton.


"Tenan semuana!" sentak balita itu.


"Padut ini cuma olan pate topen!" lanjutnya.


"Huuuuu ... Mama ... tatut Mama ... hiks!" salah satu tetap takut pada badut.


Karena kondisi yang tak memungkinkan badut pun keluar dengan wajah sedih.


Guru menenangkan murid-murid yang ketakutan. Setelah tenang baru lah lagu ulang tahun dinyanyikan, semua bersorak dan bertepuk tangan.


"Selamat ulang tahun Dina!" seru semua teman satu kelasnya.


"Makasih teman-teman!" sahut gadis kecil itu dengan senyum indah.


Kue dipotong. Ibu mendapatkan potongan pertama lalu pada ayah yang juga datang. Kemudian pada ibu guru. Semua anak dapat potongan kue, ibu guru yang memotong dan membagikannya.


"Wah ... kita semua nggak bawa kado!" celetuk salah satu murid.


"Nggak masalah Nak, yang penting minta doanya untuk Dina ya," sahut sang ibu ramah.


Bingkisan dibagikan, semua anak senang, akhirnya mereka pun pulang dengan menenteng bingkisan.


"Makasih ya Dina. Kue dan makanannya enak semua!" sahut Abraham.


"Sekali lagi selamat ulang tahun ya, moga panjang umul sehat selalu dan sayang telus sama papa dan mamanya!" lanjutnya.


"Sama-sama, makasih doanya!" sahut Dina dengan senyum lebar.


Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Anton ikut dengan seven A bersama sang ibu angkatnya. Sidik dan istrinya telah resmi menjadi orang tua angkat Anton.


Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di depan rumah mewah milik orang tua Seven A. Lalu kendaraan roda empat itu meluncur dan membawa Anton juga ibunya ke rumah. Seusai dengan perintah Jovan. Usai mengantar istri dan anaknya. Sidik langsung menuju rumah sakit di mana Jovan dan Manya bekerja.


Sedang di tempat lain. Rudi telah selesai meriksa dan melengkapi berkas kerjasama dengan salah satu perusahaan. Pria itu harus segera kembali ke perusahaan Ramaputra untuk melaporkan hasilnya.


"Leticia, aku pasti kembali. Tunggu saja!" ujarnya bermonolog.


Pria itu masuk mobilnya dan meluncur ke perusahaan. Butuh waktu empat puluh menit agar sampai ke perusahaan yang sudah lebih dari dua puluh tahun. Usianya kini juga sudah lebih dari empat puluh tahun.


Baru sampai depan ruangan bossnya. Pria itu dikejutkan dengan sosok seksi yang masuk ke ruangan Ramaputra.


"Sintia?" panggilnya.


Gadis itu menoleh, tampak jelas kekesalan terpatri di wajah sang sekretaris. Dari kemarin ia tak sempat menggoda atasannya. Kali ini ia ada kesempatan malah datang pengganggu.


"Kau pakai baju apa tidak?" sindir pria itu sarkas.


"Tuan!"


"Ah kau sudah kembali, masuklah!" titah Ramaputra. "Sintia buatkan kami ko ...."


"Astaga ... kau pakai baju apa tidak Sintia!" bentak Ramaputra.


Sintia terkejut mendengar bentakan atasannya. Gadis itu menunduk takut. Bagaimana Ramaputra tak marah, Sintia memakai dress dengan model kerah sabrina yang pendek sepangkal paha dan warnanya sesuai dengan warna kulitnya.


"Keluar dari ruangan ku, ganti bajumu!" sentak Ramaputra lagi.


"Kalau tidak kau kupecat!" ancamnya.


Gadis itu tak menyahut, ia langsung berlari meninggalkan ruangan. Ramaputra mengurut keningnya. Ia tak habis pikir dengan para wanita jaman sekarang.


"Apa yang mereka pikirkan sebenarnya?" keluh pria itu.


"Ingin hidup enak tanpa susah-susah cari uang Tuan!" sahut Rudi.


"Oh ya bagaimana laporannya!"


Rudi memberikan berkas yang tadi dia bawa. Ia melaporkan secara rinci. Ramaputra mengangguk puas, ia menyuruh asisten pribadinya itu kembali bekerja.


Sore menjelang, anak-anak dimandikan Amertha juga sudah meminta para maid membuat kudapan untuk semua anak-anak.


"Moma ... pa'a Mama Manya pulan pecat?" tanya Reece.


"Cepat sayang bukan pecat!" ralat Amertha dengan senyum lebar.


Memang adik bungsu Manya ini memanggil ibunya dengan sebutan Moma, dan untuk kakaknya, dipanggil Mama.


"Mungkin barengan sama Papa Yayah," jawab Amertha.


Wanita itu tak pernah keberatan jika putra bungsunya memanggil anak menantunya sama dengan panggilan keponakan kecilnya.


"Yuk makan buah!" ajak Saskia pada semua anak.


"Puwah pa'a bustel?" tanya Aqila.


"Ada anggur, strawberry, apel!' jawab Saskia lagi.


Semua bertepuk tangan meriah. Jika mereka senang mereka akan bertepuk tangan.


"Eundat lada tue?" tanya Adelard.


"Ini ada kue sus, baby!"


Adelard lebih suka kue dibanding buah. Agil naik di atas meja.


"Halo semuana pa'a tabal?" serunya bertanya.


"Bait ... eh ... tamu napain Agil?" tanya Laina.


"Atuh atan meumpelsempahtan sepuah talya!' sahut Agil.


"Sepuah buisi pictaan atuh sendili!" lanjutnya lagi.


"Dajah, talya Agil ... pada buatu hali ... atuh peuldi te tota peulsama pemua telualda!" Agil membacakan deklamasi.


"Aku lihat dajah yan menangis ... talena ditundani ... cili-cili dajah ipu lada pelalaina ... talo eundat lada pelalaina, butan dajah namana!' lanjutnya lagi.


"Dajah ... entau pinatan palin peusal ... pemoda pita beultemu ladhi!"


Agil selesai dengan deklamasinya. Balita cantik itu membungkuk hormat pada penonton dadakan yang bertepuk tangan.


"Seutalan Lees bawu nait!" unjuk Reece.


Bayi itu naik ke atas meja yang sama. Ia berdiri cukup lama hingga ia mengucapkan kata-kata.


"Pudandan lanit, benuh pintan belapuhan ...."


Amertha nyaris tersedak, sedang yang lainnya menutup mulut agar tak tertawa.


bersambung.


anak-anak beraksi


next?