
Jovan enggan bangun pagi hari. Pria itu tampak mengantuk sekali. Kemarin ketika sang ayah juga merasakan ngidam, ia sempat meledek pria itu. Kini ia merasakan sendiri bagaimana rasanya muntah tengah malam hingga subuh menjelang.
"Sayang,"
Manya mengusap kening suaminya. Semenjak suaminya muntah-muntah juga, wanita itu berhenti merasakan morning sicknya. Ia mengecup sayang pipi sang suami.
"Ah ... jangan ganggu Mom!" sengit pria itu..
Manya sangat mengerti. Ia pun membiarkan suaminya tidur dan turun ke bawah, semua anak sudah siap untuk pergi ke sekolah. Praja datang membawa banyak berkas.
"Praj, sepertinya kau harus mengurus pekerjaan itu sendiri, Jovan mengalami Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik," jelas Manya.
"Oh kek Papi waktu Mami hamil Baby Maiz?" tanya Praja.
"Iya, kasihan baru tidur lima menit lalu," jawab Manya..
Praja mengangguk tanda mengerti, pria itu tak jadi menyerahkan setumpuk berkas pada keponakannya itu.
"Jika aku memaksa menyerahkan ini. Pasti dia akan membakar semuanya dan aku yang repot sendiri," keluh Praja mengeluh.
Manya tersenyum, ia sangat paham watak suaminya. Ia mengangguk setuju dengan semua kata Praja.
"Sarapan lah dulu," suruh Manya.
Praja duduk dan Saskia melayani suaminya. Setelah sarapan, pria itu pergi sedang seven A sudah ke sekolah dari tadi.
Amertha dan Maira datang bersama putri mereka masing-masing. Maiz dan Tita langsung bermain bersama triple A dan Reece.
Liam datang bersama ibu dan adiknya. Aislin dan Liam juga langsung bermain. Ada saja tingkah mereka. Terutama Reece dan Liam yang sebentar lagi akan sekolah, dua balita itu merasa sudah pintar dan kini mengajari adik-adiknya. Padahal triple A juga mau sekolah, tetapi ketiganya menurut saja.
"Jadi ini A!" tunjuk Liam pada satu huruf.
"A!" sahut semuanya.
"Be!'
"Pe!"
"Bukan Pe Baby ... tapi Be!" ralat Reece.
"Pe ... tan Be!" sahut Aislin.
"Ipu eh ... itu bisa!" sungut Liam kesal.
Aislin hanya tersenyum usil. Bayi dua tahun itu tiba-tiba meninggalkan kelas yang diadakan oleh kakak dan om nya itu.
"Baby mau kemana?"
"Peubental Ata'!" jawabnya.
Bayi itu tertarik dengan binatang yang merayap di pohon. Saskia yang tengah mengawasi langsung mendekati bayi itu dan mengangkatnya. Rupanya Aislin tertarik dengan cicak.
"Bustel ... Alin bawu pihat pinatan ipu!" pekiknya meronta.
"Baby ... cicak itu sudah tinggi, nanti kamu jatuh," ujar Saskia.
Wanita itu tak peduli dengan Aislin yang meronta, Denna menghela napas, di rumah ia dan para suster harus begitu ekstra menjaga bayi cantik itu.
Denna harus menutup semua sela atau lubang kecil di rumahnya. Karena bayi itu bisa berada di bawah tempat tidur padahal celahnya kecil sekali. Denna dan lainnya sampai harus memanggil beberapa tukang untuk mengangkat kasur dan mendapati bayi cantik itu tertawa.
"Ah ... petahuhan deh!" keluhnya waktu itu.
"Sini baby, kita belajar ya," pinta sang ibu.
Aislin mirip dengan ayahnya, sama dengan sang kakak yang memiliki mata biru. Sama seperti Manya, semua anak Denna tak ada yang mirip dengannya.
"Jadi Dokter hamil lagi?" Manya mengangguk.
"Kali ini janinnya satu. Mudah-mudahan hanya segitu, karena biasanya kan embrio bisa membelah secara mendadak," jawab Manya.
Kehamilan Manya masih dalam usia lima minggu, jadi belum bisa memastikan jika kehamilannya kali ini kembar atau tidak. Sama ketika hamil triple A, Manya merencanakan hamil kembar sepasang, siapa sangka malah jadi tiga. Lalu kini, Manya berencana hamil tapi tidak menargetkan kembar, ia yakin pasti di usianya yang cukup rawan untuk hamil akan mudah memperoleh anak kembar.
"Mau kembar atau tidak, yang penting kau dan bayinya sehat sayang," ujar Maira.
Amertha mengangguk setuju. Tiba-tiba anak-anak pulang, Manya lupa jika semua anak libur hari ini.
"Mama ... kita kan libur!" sahut Lika kesal.
"Maaf sayang," kekeh wanita itu.
Maira pun baru ingat jika ingin membawa semua cucunya pergi ke bukit miliknya dan telah berganti menjadi Seven A Ranch and Villa.
Malam menjelang, Jovan pulang dalam keadaan lelah, hamil simpatiknya benar-benar membuatnya kelelahan. Tadi, ia nyaris muntah di depan kolega wanita yang memakai parfum dan berpakaian ketat. Untung Praja dan Daniel selalu ada di sisi pria itu. Sedang dua sekretaris hanya diam dan menunggu perintah atasannya.
"Sayang," Manya menyambut suaminya.
"Papa sakit?" tanya Lika khawatir.
"Tidak Baby, Papa cuma ikut ngidam seperti Mamamu," jawab Jovan.
"Oh Papa hamil simpatik kek Popa kemarin ya?" tanya Abi.
"Iya sayang," jawab Jovan.
Tujuh kembar tentu tau apa yang dialami oleh ayah mereka. Dulu waktu Maira hamil, Abraham juga mengalami hal sama. Seven A bertanya dan sang ibu menjawabnya.
'Liam nggak mau pulang Mommy!" tolak Liam.
"Alin judha!" tolak Aislin.
"Kalau kalian nggak pulang, Mommy pulang sama siapa?" tanya Denna sedih.
Akhirnya, karena sang ibu yang sedih, Aislin dan Liam mau pulang. Mereka akan menyusul jika jadi pergi menginap di seven A ranch.
"Kau juga ajukan cuti Jov," pinta Abraham.
"Manya sudah memberi obat mualnya padaku Pi, aku nggak bisa cuti," jawab Jovan.
"Aku nggak bisa ikut kalo Mas Jovan nggak ikut Mi," ujar Manya.
"Dia mabuk begini, yang ngurusin siapa?"
"Kalo gitu kita juga di rumah aja deh!' sahut Bhizar.
"Kita juga nggak mau liburan kalo nggak ada Mama sama Papa," lanjutnya.
"Sayang, tidak apa-apa jika kalian ingin liburan," ujar Manya.
"Ngapain kalo nggak ada Mama sama Papa,' sahut Laina.
Akhirnya mereka semua memilih untuk liburan di rumah saja. Abraham berjanji akan mengajak semua cucunya jalan-jalan ke taman bermain dan juga ke kebun binatang.
"Bener ya Popa?"
"Iya Popa janji!"
"Janji laki-laki?"
"Janji laki-laki!" jawab pria itu tegas.
Malam datang, Jovan yang kelelahan langsung terlelap, Manya mencium suaminya. Wanita itu tengah horny, namun sayang. Jovan sangat kelelahan, pria itu tak bisa melayani istrinya.
"Ah ... seperti ini jika diabaikan?" keluhnya.
Manya tak memaksa, dulu ketika ia tengah mengalami trimester pertamanya, Wanita itu selalu menolak jika diajak bercinta karena terlalu lelah.
"Jadi aku harus bagaimana?" keluhnya pusing sendiri.
Manya jadi gelisah, ia ingat ketika Jovan memilih kamar mandi dan bermain solo ketika ia menolak berhubungan badan.
"Masa iya harus pake sabun?" tanyanya kesal sendiri dalam hati.
"Aku kan nggak berbatang!" dumalnya pelan.
Wanita itu akhirnya membaca satu artikel bagaimana menahan hasrat bercinta, ternyata tak ada obatnya. Terlebih ia telah menikah.
"Ah ... persetan!" sungut wanita itu.
Manya ke kamar mandi, dengan pikiran dan tangannya ia menyenangi diri sendiri. Jovan yang terbangun karena desa.han Manya masuk kamar mandi.
"Sayang?"
"Aaaahhh!" Manya orgasme ketika melihat suaminya.
Bersambung.
Et dah ... 🤦
othor masih polos ini 🤣
next?