
"Sialan kau Ferdy!" teriak Ronald marah.
Teriakan pria itu membuat semua orang menoleh padanya. Ronald juga terkejut dengan suaranya yang sangat keras. Jovan menyeringai. Praja, menggandeng tangan para bayi bersama dengan Gerard, Lektor, Bima, Bernhard dan Hasan. Kedatangan empat pengusaha muda membuat semua mata kembali fokus pada mereka.
Ronald mendengkus kesal. Ketujuh anak kembar itu menatap pada semua orang di sana.
"Pom Pimpa ... meuleta panat seutali!" bisik Abraham kecil.
Bima berdecak, pria itu sangat sebal mendengar namanya berubah di mulut para bayi. Ia menggendong bayi agar jalannya jauh lebih cepat. Mendaratkan ciuman di ketiak bayi tampan itu hingga tergelak.
Foto Bima menggendong bayi membuat nilai saham perusahaan pria itu naik dengan skala 3%. Begitu juga Bernhard, Lektor, Hasan, dan Gerard.
Manya keluar sebagai ibu dari tujuh anak kembar. Memakai baju formal senada dengan anak-anak dan juga suaminya. Ia begitu cantik dan sangat menarik. Bahkan Ronald tak berkedip menatap wanita itu.
"Kucongkel matamu nanti!" bisik Jovan mengancam.
Ronald merubah sikapnya. Netra hazel Jovan menatap tajam pria yang usianya sama dengan ayahnya itu. Ia melewatinya saja. Ronald mengepal tangan erat.
"Ferdy ... mana yang katamu berhasil?" bisik pria itu.
"Pekerja itu mengatakannya tuan bahkan kau tau sendiri mereka menghajarku!" bisik Ferdy juga.
Ronald begitu kesal. Terlebih aksi para tujuh kembar yang mampu mendongkrak nilai saham milik para pria yang menggendong mereka.
"Anak-anak itu!" geramnya.
Ia mengulas senyum licik. Pria itu gelap mata. Perlahan ia mendekati tujuh anak kembar itu perlahan. Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham berdiri sambil melambaikan tangan pada para wartawan. Para pengawal berdiri mengelilingi dan menahan para wartawan yang hendak mendekati mereka.
"Nak,'' bisik Ramaputra ketika melihat pergerakan Ronald.
"Tenang dad, aku tengah mengawasinya," ujar Jovan.
Lika menatap deretan wartawan sambil mengernyitkan keningnya. Ia menarik baju saudarinya.
"Na .. na ... pihat lolan ipu!" tunjuknya.
"Yan pate popi butih?" bisik Laina.
"Biya," jawab Lika.
Laina pun memberitahu semua saudaranya. Ternyata mereka menatap dua pria yang memakai topi sama.
"Lolan ipu pedan ulan!" teriak Abi menunjuk.
Dua bertopi melempar ular kobra masing-masing satu ke tengah aula di depan anak-anak. Para suster langsung berdiri berhadapan dengan ular itu Para sahabat Jovan terkejut. Mereka kalah gerak oleh para suster yang ternyata terlatih. Suasana mendadak riuh dan panik. Ronald melihat peluang. Salah satu anak lepas pengawasan. Dengan gelap mata ia hendak menyergap salah satu bayi. Belum sempat tangannya meraih Abi yang terlepas sendiri. Sebuah tangan langsung mencekalnya dan mendorongnya.
"Kurang ajar!' makinya nyaris tersungkur.
Ia menoleh melihat Manya yang mendorongnya. Wanita itu menatap tajam pria yang tubuhnya jauh lebih besar darinya itu. Manya mengambil Abi dan menggendongnya lalu meninggalkan pria itu.
Pria itu kesal bukan main. Ia melihat salah satu bayi yang digendong suster. Ular cobra tadi sudah diamankan oleh para penjaga yang telah disiapkan oleh Ramaputra. Dua pelaku pelempar ditangkap dan diseret ke ruang interogasi. Ronald mendekati Denna. Tiba-tiba ia merebut Lika dari gendongan suster itu.
"Mama!" teriak Lika.
Denna menendang tungkai kering pria itu, Ronald menjerit kesakitan. Tangannya hendak menampar wajah Denna. Gadis itu menendang tangan pria yang melayang dengan kaki kirinya. Hasan langsung menyergap Ronald dan menyeretnya pria paru baya itu dilempar begitu saja oleh Hasan.
"Lawan aku kalau kau punya nyali pria tua!" bentaknya.
"Hasan, kau itu hanya anak haram," sindir Ronald menyeringai.
Ferdy sudah mau melarikan diri, sayang pergerakannya langsung diketahui dan ditangkap oleh para pengawal. Ia juga diseret ke ruang interogasi.
"Cis ... kau juga sama Ronald Frank, bahkan ayahmu menolak mengakui mu!" balas Hasan menyindir pria itu.
"Jaga bicaramu, aku lebih tua darimu!" sentak Ronald murka.
"Tak ada hormat bagi pria mesum sepertimu Ronald!' sentak Hasan.
"Kau banyak bicara!" bentak Ronald.
Bug! Satu pukulan kena di pipi Hasan.
"Oh ayolah, kenapa kau malah kalah dengan pria tua itu!" sentak Bernhard yang sudah gatal ingin menghajar.
Hasan kesal bukan main. Ronald juga seorang petarung, ia bisa melayani pertarungan Hasan yang kuat. Hingga beberapa waktu tak ada satupun pukulan Hasan yang mengenai pria itu.
"Oh ... ayolah Hasan. Apa hanya segitu saja kemampuanmu?!" teriak Bima kini.
Semua wartawan digiring keluar. Mereka protes ingin meliput perkelahian. Tapi, kekuatan pada penjaga bukanlah tandingan mereka. Akhirnya semua digiring keluar dan restauran itu ditutup para kolega ditenangkan di ruangan lain ketika terjadi pelemparan ular. Jadi mereka tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Hasan akhirnya mengeluarkan jurus andalannya. Pria itu belajar Thai boxing bahkan sudah bergelar master. Ketika Ronald menyerang, Hasan melakukan gerakan berputar dan menendang telak perut pria itu.
Brug! Ronald terjatuh sambil terbatuk. Perutnya sakit bukan main. Hasan ingin kembali melakukan tendangan.
"Cukup!" teriak Abraham.
Hasan meludah ke samping dan meninggalkan Ronald yang meringkuk. Abraham mendekati sahabatnya itu.
"Apa yang tadi kau lakukan Ron?" desisnya bertanya.
Ronald mendudukkan dirinya. Perutnya masih sakit bukan kepalang. Ia menatap tajam ke arah pria di depannya itu. Di sana Eddie menggeleng tak percaya dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu.
'Jika Diego masih hidup, ia juga kecewa dengan apa yang kau lakukan sekarang!"
"Jangan bawa-bawa orang mati itu!' teriak Ronald murka.
"Kenapa?"
"Karena kau tak pantas menyebut namanya!" teriak Ronald.
"Aku selalu membencimu dari awal Abraham!' lanjutnya mengaku.
"Aku membencimu karena merebut Maira dari sisiku?!"
"Kurang ajar!' bentak Maira murka.
"Aku tak pernah memiliki hubungan denganmu!" teriak wanita itu.
"Aku jatuh cinta padamu Maira bahkan hingga hari ini!" teriak Ronald.
Plak! Kepala pria itu menoleh ke kiri akibat tamparan keras yang dilakukan oleh Abraham.
"Banci!" maki Ronald.
Abraham mengelam ia lalu menarik kerah pria itu dengan satu tangan dan mengangkatnya ke atas. Tinggi Abraham 180 cm dengan berat 90kg. Otot lengan pria itu hingga bertonjolan. Ronald terasa tercekik.
"Kau ingin melihat kekuatanku Ronald?" tantang Abraham dengan seringai kejam.
Satu tinju dilayangkan pria itu ke wajah tampan Ronald. Berkali-kali hingga berdarah-darah. Maira menjerit memanggil nama suaminya. Jovan langsung menahan lengan ayahnya dan melepaskan bekalan di kerah Ronald. Pria itu sudah tak sadarkan diri.
Pria itu dibawa oleh para pengawal. Ramaputra langsung bertindak, melakukan penyitaan pada perusahaan Ronald, karena memang utang pria itu sudah lewat jatuh tempo.
"Tenangkan diri papi," ujar Jovan.
Maira langsung memeluk suaminya. Ia menangis di dada sang suami. Pria itu meminta maaf pada istrinya.
Amertha memeluk Manya yang ikutan menangis. Jovan mengajak semua sahabatnya untuk pergi dari sana. Ia masih mengurus pria yang melempar ular. Mereka berdua bukan suruhan Ronald tetapi orang lain. Yang disayangkan dua orang itu buta huruf juga bisu dan tuli.
"Kita cari bukti lain yang menunjuk siapa pesuruh dua orang itu?!" ujar Jovan lagi.
bersambung.
wah siapa ya?
next?