THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
DHIYAKSA vs ALDEBARAN



Pria suruhan kini menunduk di depan Aldebaran. Pria gaek itu menatap tajam sosok yang hanya menunduk. Aldebaran sangat bersyukur karena telah mengganti pengawalnya.


"Dia melempar ini Tuan!" lapor Deden menyerahkan satu batu dengan diikat oleh kertas.


"Cis ... nggak level amat neror istriku dengan ini!" dumalnya pelan.


Demira hanya duduk diam, semua anak sudah pergi ke sekolah. Wanita itu sangat tau siapa pesuruh pelaku pelemparan.


"Apa yang kau mau?" gumamnya lirih.


"Tiga puluh tahun dia hidup bahagia. Aku sama sekali tak mengusiknya," lanjutnya.


Sang suami melihat istrinya yang melamun dengan wajah sedih. Pria itu menyerahkan sepenuhnya pada pengawal.


"Serahkan dia pada polisi!" perintahnya.


Pria itu tentu berteriak ketakutan. Ia terus memohon ampunan agar tidak dibawa ke polisi. Sayang, perbuatannya harus mendapat ganjaran.


"Jika kau mau bebas, beberkan semua pada polisi!" tekan Deden marah.


"Tuan, saya terpaksa Tuan, anak saya disandera!" aku pria itu.


"Ketua!" salah satu anak buah Deden menyerahkan BraveSmart ponsel.


Kata-kata pria bayaran itu benar adanya. Inilah yang membuat pengawal dibayar dengan harga fantastis. Keberadaan ponsel yang begitu dicari oleh banyak orang. Tak ada lagi yang bisa membeli atau menjiplak kinerja benda canggih itu karena diisi dan diberi kebebasan oleh pihak pemerintah baik secara internal maupun eksternal.


"Tuan!" Deden menghadap atasannya.


"Ada apa Den?"


Deden membisikkan sesuatu ke telinga atasannya lalu memperlihatkan bukti yang didapatkan.


"Kurang ajar!" desisnya memaki.


"Sayang, ada apa?" tanya Demira khawatir.


"Tidak apa-apa sayang, kamu tenang aja ya. Nanti aku suruh semua anak kemari," ujar pria itu.


Demira hanya bisa menuruti suaminya. Tak lama Manya datang bersama tiga anak kembarnya, Reece juga Tita.


"Grandma," wanita itu memeluk Demira.


Aldebaran langsung pergi bersama Deden untuk mengurus mantan suami dari istrinya itu.


"Jadi dia menyandera anak dari pria tadi?" tanya Aldebaran.


"Benar Tuan!" sahut Deden.


Dering telepon berbunyi, Aldebaran melihat Jovan menelepon dirinya.


"Assalamualaikum sayang!"


"......!"


"Benar sayang, ada yang menyerang nenekmu," jawab Aldebaran.


".......!"


"Tidak perlu sayang, biar Grandpa yang mengurusnya ya. Kau kerja saja, cari uang yang banyak!" ujar Aldebaran.


Sambungan telepon terputus. Hanya butuh sebentar mansion Dhiyaksa sudah dikuasai oleh seluruh bodyguard Aldebaran. Beberapa pengawal yang ada di mansion mewah itu bukan tandingan dari SavedLived.


"Papa!" teriak seorang anak laki-laki berlari menuju ayahnya.


Pria pelempar batu itu memeluk putranya sambil menangis haru. Dhiyaksa duduk dengan kepal tertunduk. Aldebaran menatap datar pria yang usianya hanya beda lima tahun darinya itu.


"Apa maksudmu mengganggu ketenangan istriku?" tanya Aldebaran dengan nada tak bersahabat.


"Aku hanya bercanda saja," jawab pria itu walau sedikit gemetar dari nada bicaranya.


Ingin sekali Aldebaran memukul pria itu hingga babak belur. Polisi datang menangkap Dhiyaksa atas tuduhan pembuat keonaran dan penyekapan anak di bawah umur.


"Ck ... tak kusangka lawanku seorang Dinata," sesal Dhiyaksa dalam hati.


Kini pria itu harus berurusan dengan hukum. Dengan semua bukti yang ada maka akan membuat dia dihukum berat. Tiga anak yang ia miliki memilih tak mau membantu ayah mereka.


"Dad!" panggil Abraham.


Pria itu langsung memeluk ayahnya. Ia cukup khawatir, walau ia sangat yakin jika pria gaek itu bisa menyelesaikan persoalan dengan mudah.


"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Abraham.


Deden diberi penghormatan oleh Ramaputra, kesigapan pria itu patut diacungi jempol.


"Kami dilatih untuk sigap dengan segala kondisi Tuan!" ujar pria itu membungkuk hormat.


Ramdan sangat puas akan kinerja wakilnya itu. Memang semua dilatih sedemikian rupa untuk menangani situasi, baik situasi pelik seperti tadi atau ketika salah satu anak angkat Aldebaran sakit seperti waktu itu.


"Tuan pengacara dari Tuan Dhiyaksa ingin menemui Tuan!" lapor Fabian asisten baru pria itu.


"Suruh pengacara kita yang menemuinya!" titah Aldebaran.


"Baik Tuan," Fabian langsung mengerjakan tugasnya.


Kini mansion Aldebaran penuh dengan anak-anak. Mereka bermain bersama, terdengar teriakan satu dan lainnya lalu gemuruh tawa.


"Papa ... Kak Lilanya nih!" adu Salsa.


"Jangan seperti itu Lila!' peringat Praja.


Pria itu menggendong putrinya yang tadi menangis. Sedang putranya asik tidur di kereta dorongnya.


"Papa ... Salsanya cengeng!"


"Salsa nggak cengeng!" bantah Salsa.


"Loh ... kok malah ribut?" Praja paling tidak suka jika keluarga saling ribut seperti itu.


"Minta maaf!" perintahnya tegas.


"Maaf Salsa," ujar Lila menyesal.


Lila juga minta maaf pada kakaknya itu. Anak-anak kembali bermain. Tiga bayi Manya juga masih asik memejamkan mata. Bayi baru empat hari itu tentu hanya bisa tidur.


"Mama ... tapan paypi pisa pain?" tanya Maiz melihat bayi-bayi yang kini menggeliat di kereta dorong mereka.


"Masih lama sayang," jawab Maira sambil tersenyum.


Demira masih kepikiran dengan apa yang terjadi beberapa jam lalu. Ia menatap suaminya yang sangat tenang.


"Mas,' panggilnya.


"Apa sayang?" sahut Aldebaran.


Pria gaek itu sangat mengerti apa arti tatapan dari wanita yang baru beberapa bulan ia nikahi itu. Aldebaran menenangkan istrinya.


"Tenanglah sayang. Semuanya sudah berakhir," ujarnya. "Pria itu tak akan mengganggumu lagi."


"Aku hanya heran sayang. Aku tak pernah mengusiknya selama ini. Tetapi kenapa tiba-tiba dia menerorku?"


"Dia bilang hanya bercanda denganmu setelah sekian lama berpisah. Dia sendiri kaget jika ternyata kau telah menikah lagi," jelas Aldebaran.


"Ia mengira bisa kembali padamu setelah kematian istrinya dua tahun lalu sayang," lanjutnya.


Demira menghela napas panjang. Ia masih tak habis pikir, namun ia kini bisa bernapas lega karena mantan suaminya tak akan mengganggunya lagi.


"Mom, aku lapar!" seru Ramaputra.


"Iya sayang, ayo kita makan!" ajak Demira pada semua orang.


Sementara itu di jeruji besi, Dhiyaksa mengurut keningnya. Bukan ini yang ia inginkan, selama tiga puluh tahun ia mengawasi mantan istrinya. Ia tahu jika Demira menikah lagi, tapi ia tak menyangka jika wanita itu menikah dengan legenda pebisnis nomor satu.


"Dari mana ia berkenalan dengan Rougher Dinata?" tanyanya berdesis.


"Selama tiga puluh tahun, dia hidup tenang walau banyak pria datang silih berganti berhasil aku singkirkan. Ternyata ia menikah dengan pria yang tak bisa aku sentuh sama sekali," lanjutnya bermonolog.


"Tuan, pengacara anda ingin bertemu!" sahut sipir penjara membuka pintu terali besi.


Pria itu keluar, ia sangat yakin jika bebas bersyaratnya ditolak. Ia juga sangat yakin jika pihak lawan tidak akan menerima uang jaminan.


"Maaf Tuan, kami gagal memberikan bebas bersyarat itu,' ujar pengacara menyesal.


Dhiyaksa mengangguk, salahnya bermain api, kini dirinya terbakar sendiri. Tak ada satu anakpun yang mau membantunya. Anak yang ia bangga-banggakan, malah tak peduli sama sekali.


"Aku seperti tak memiliki anak sama sekali," keluhnya sedih.


Bersambung.


Anak itu sesuai didikan orang tuanya.


Next?