
"Uyut ... kita naik itu!" pinta Bhizar menunjuk para layang yang ditarik dari bibir pantai dan naik ke awan.
"Uyut sudah tidak boleh naik itu karena usia, mungkin kalian bisa, kita coba ya!" ujar Aldebaran.
Mereka menuju petugas yang tengah mengatur turis yang hendak menaiki para layang pantai itu. Semua anak sudah mencukupi tinggi dan berat badannya. Mereka digendong di dada oleh para ahli. Kali ini Bhizar lebih dulu naik. Bocah itu sudah memakai pelindung kepala dan juga pelampung.
"Huuaaaa!" pekik bocah itu ketika tubuhnya naik ke atas.
Beberapa momen di abadikan. Bhizar begitu bahagia dan banyak tertawa ketika di atas. Setelah Bhizar kini Laina yang naik, bocah cantik itu terbang bersama salah satu bodyguardnya. Semua naik paralayang dan semua foto diberikan pada Aldebaran. Pria itu senang melihat ekspresi semua cicitnya.
"Ayo pulang, ini sudah siang. Mama kalian pasti sudah masak," ajak pria itu.
Semua pun kembali ke villa jaraknya hanya lima belas meter. Semua anak digendong oleh para pengawal. Mereka, hanya butuh lima menit saja merek sampai villa.
"Ayo mandi, habis itu makan!" titah Manya.
Usai mandi anak-anak makan dengan lahap. Reece, Liam dan triple A sudah mengantuk ketika makan. Manya tak tega, ia menyuapi lima batita itu hingga habis. Reece sudah tidur di kursi khususnya.
Ramaputra mengangkat bayi itu setelah Manya membersihkan makanan di mulutnya.
"Uh ... kasihannya," ia mengecup Reece dengan sayang begitu juga dengan Liam dan triple A.
"Kalian juga tidur siang!" titah Manya.
"Ma ... kita kan libur ... boleh sih ...."
"Tidur sayang!" titah Jovan tak bisa dibantah.
Akhirnya seven A menurut, mereka semua masuk kamar yang berbeda, Untuk Laina, Agil dan Lika tidur bersama. Sedang Bhizar, Abi, Syah dan Abraham tidur satu kamar. Semua bayi juga sudah tidur di kamar bersama susternya. Manya, Leticia dan Denna saling membantu dan membersihkan meja makan.
"Eh, kalian mau disewakan maid tidak?" tanya Eddie.
Manya menggeleng, Denna juga menggeleng. sedang Leticia hanya diam karena bingung mau jawab apa.
"Memang ada yang nawarin?" tanya Amertha.
"Ini ada dua perempuan menawarkan diri sebagai maid dengan meminta bayaran seratus dolar per dua hari," tunjuk pria itu pada dua wanita berpakaian sederhana tapi rapi.
"Mahal amat!" pekik Manya kaget.
"Maid kita hanya 300 dolar perbulan jika dikurskan dengan dolar!" lanjutnya sengit.
"Kan bukan hari biasa, ini hari weekend," sahut salah satu wanita.
"Nggak Pa. Aku masih bisa sendiri bahkan dengan orang banyak begini!" tolak Manya.
"Ya sudah, maaf ya Bu!" tolak Eddie pada dua wanita itu.
Keduanya pun berlalu dari sana. Ketika sudah jauh dari villa, mereka menengok ke arah hunian yang tadi ia kunjungi.
"Baru kali ini ada pemilik Villa menolak maid. Biasanya para bule itu sangat mau menyewa maid untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian," ujarnya.
"Beda orang, beda tabiat," sahut rekannya.
Sedang di dalam Villa. Manya yang memang tak bisa diam mulai menyapu lantai dan mengepelnya. Beberapa pengawal membantu wanita itu dengan menyapu halaman. Leticia agak malu melihat mantan rivalnya yang sigap dengan semuanya.
"Kau tidak lelah?" tanyanya.
"Tidak," jawab Manya sambil tersenyum.
Leticia sedikit kikuk berhadapan dengan Manya. Jika ada Amertha, ia sedikit banyak bicara. Tetapi ketika berduaan seperti ini. Sosok CEO tegas, dingin dan arogan musnah di depan Manya yang tenang.
"Istirahat lah Leti!' titah wanita itu.
Leticia menurut, ia memang kehabisan kata-kata jika bersama istri dari Jovan itu. Manya menghela napas panjang, ia merasakan betapa kakunya Leticia jika berduaan dengannya. Padahal dia sudah tak mempermasalahkan masa lalunya.
Tak terasa sore menjelang. Anak-anak dilarang Manya kembali ke pantai karena angin kencang dan air laut yang mulai pasang. Terlebih ombak menggulung hingga terdengar suara deru ombak yang menghempas karang.
"Lihat itu ada kapal!" pekik Lika sambil menunjuk arah laut.
"Iya itu kapal dikelilingi lumba-lumba!" pekik Laina.
"Mana sih?!" tanya Abi penasaran.
"Itu ... yang berjalan menuju matahari tenggelam!" pekik Lika.
"Oh iya!" sahut semuanya.
"Kita besok naik kapal dan lihat lumba-lumba berenang ya!' ajak Aldebaran.
"Sebanyak ini Papa sewa yatch?" Aldebaran mengangguk.
"Ada kapal pesiar mini yang akan membawa kita ke Lombok pulang pergi. Aku juga akan membawa kalian naik," ujar pria itu.
"Bawa pakaian lagi?" tanya Manya sedikit mengeluh.
"Pakaian anak-anak saja. Di sana ada mall untuk membeli baju," jawab Aldebaran.
"Mungkin sebaiknya bawa sebagian kecil saja," sahut Renita menimpali.
Semua mengangguk setuju. Manya hanya mengikuti semua, ia juga melihat binaran mata bahagia semua anak-anak.
Malam pun larut, kali ini mereka membakar ikan kakap kuning dan kakap hitam juga lobster berukuran besar.
"Mama imi tenapa udan na peusal?" tanya Aidan takjub melihat lobster.
"Itu namanya lobster sayang," jawab Manya.
"Butan udan?" tanya Aidan.
"Hampir sama, tapi ini lebih besar ukurannya," jawab Manya lagi.
"Enat Mama!" pekik Aqila ketika memakan daging lobster itu.
"Nyanyi dong sayang, Papa Gerard iringi gitar deh," pinta pria itu.
Gerard duduk dan memangku gitar lalu mulai memetiknya. Pria itu mulai bernyanyi sebuah lagu milik band luar negeri Westlife.
"An empty street, an empty house
A hole inside my heart
I'm all alone, the rooms are getting smaller.
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together
Oh, yeah
And oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far!
So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there!
Where the skies are blue
To see you once again, my love.
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
My love!"
Suara pria itu sangat indah dan serak. Netra birunya menembus pekat iris pekat sang istri.
"Papa Yayah Lelat banyi pa'a?" bisik Reece bingung.
"Ladhu pahasa lindis!" jawab Aidan.
"Oh ... pahu balipana ipu pahasa plindis?" tanya Reece.
"Pitu lada lop-lopna!" jawab Aidan lagi.
"Oh ... talo beudithu atuh judha pawu banyi pahasa sindlis!" sahut Reece.
Ia seperti berpikir lama. Gerard masih bernyanyi, hingga lagu selesai, para orang tua bertepuk tangan.
"Lees bawu panyi!" teriaknya.
"Ayo, mau nyanyi apa?" tanya Gerard.
"Punyiin aja pusitna!" titah Reece bossy.
Suara gitar dibunyikan. Reece tampak mulai menggerakkan tubuhnya.
"Lop yu lolevel ... i no no ... i yes yes ... no lop lop!"
"Hpphhffhhh!' semua nyaris menyemburkan ludah.
"Lees lop lop Mama ... lop lop Papa ... lop lop pemuana ... eh ... pahasa plindisna pemua pa'a ya?" tanyanya sambil garuk kepala.
Bersambung.
Nah ... apa ya pahasa blindisnya?
next?