
Renita memeluk putrinya. Irham mengepal kuat tangannya hingga memutih. Ia sudah mengancam pria itu ketika awal berhubungan dengan putrinya.
"Rupanya Dave mau bermain denganku," geramnya.
"Daddy, aku yang salah. Aku memang tidak pantas untuk Dave," ujar Leticia lirih.
Gadis itu benar-benar menyesal dengan semua kelakuannya dulu. Ia tak bisa membanggakan dirinya, ia bukan gadis suci lagi.
"Aku hanya gadis kotor yang berusaha membersihkan diri," cicitnya dengan air mata berderai.
"Sudah lah sayang. Jangan kau sakiti dirimu. Kau harus bangkit, buktikan jika kau sangat mampu!" ujar Renita menyemangati putrinya.
"Cis ... kau pikir Dave itu pria suci?" sahut Irham kesal bukan main.
"Dia sangat berengsek. Pernah menghamili sekretarisnya. Hanya dinikahi tiga bulan, selama menikah ia masih kedapatan tidur dengan berbagai perempuan hingga membuat istrinya keguguran. Mengetahui istrinya keguguran, bukan ia menyesal. Justru malah menceraikan wanita malang itu!" omel pria itu benar-benar marah.
"Apa alasannya dia selingkuh?" tanyanya kemudian.
"Leti nggak mau diajak tidur bersama," jawab gadis itu.
"Ketika tadi ketahuan selingkuh dia menghina Leti dengan sebutan tak pantas," lanjutnya lirih.
"Sudah biarkan saja dia. Sebentar lagi perusahaannya gulung tikar, karena banyak pebisnis enggan bekerjasama dengan pria itu!" ujar Irham.
"Sekarang istirahatlah," ajaknya.
Mereka pun ke kamar masing-masing. Leticia menatap cermin, seraut wajah tampan muncul di sana. Gadis itu terpana dan mengucek matanya.
"Aku nggak mungkin mikirin dia!" tolaknya.
Ia pun bergegas tidur. Besok ada jadwal meeting antar pengusaha, sang ayah telah mempercayakan dirinya sebagai pimpinan dari perusahaan Wijaya Corp. Leticia cukup terkenal di kalangan pebisnis. Ia baru dua tahun menjabat sebagai CEO, tetapi gadis itu telah melambungkan perusahaan ayahnya.
Pagi hari menjelang. Leticia sudah berpakaian formal. Kemeja biru dan celana bahan terbuat dari sutra. Ia benar-benar sangat cantik dan begitu elegan. Riasan tipis membuat wajahnya segar dan sedap dipandang.
"Selamat pagi Mom, Dad!" sapanya ceria.
Renita dan Irham tersenyum, tak ada lagi gurat kesedihan gadis itu. Hal itu membuat sepasang suami istri itu lega.
"Selamat pagi sayang," ujar keduanya dengan senyum indah.
Leticia duduk dan langsung memakan sarapannya buru-buru. Renita langsung menegur putrinya.
"Jangan makan seperti itu sayang!"
"Maaf Mommy, aku harus pergi ke Hotel A&H. Ada meeting dengan banyak pebisnis di sana!" ujar gadis itu.
"Aku selesai," ujarnya setelah meminum habis susunya.
Leticia mengecup pelipis ayah dan ibunya. Lalu berlalu dari sana mengabaikan teriakan sang ibu.
"Ah ... anak itu! Dia seperti dirimu jika sudah buru-buru!" omelnya sambil menatap sang suami kesal.
"Oh ... kau lupa jika dia itu putriku!" sahut Irham sebal.
Renita mengerucutkan bibirnya. Leticia memang kopian ayahnya. Hasil didikan Irham mampu merubah gadis itu 180°.
"Aku juga pergi sayang," pamit sang suami mengecup bibir istrinya.
Pria itu menggeram. Ia akan selalu begitu juga berciuman dengan wanita yang telah menemaninya separuh hidup pria itu.
"Kenapa aku ingin menarikmu ke ranjang jika sudah begini?" keluhnya.
"Dasar pria tua mesum!" sindir Renita kesal.
"Oh ... aku tak tahan. Ayo ke kamar, kita bermain cepat!"
Irham menarik istrinya. Ia harus melakukan olahraga pagi jika ingin fokus bekerja hari ini. Lima belas menit saja diperlukan pria itu untuk berpeluh bersama istrinya.
Renita tergolek lemas. Sang suami benar-benar perkasa, walau bermain cepat, wanita itu sudah keluar sampai dua kali. Irham mengakhiri percintaannya setelah mengeluarkan semua cairan cintanya.
"Aku mencintaimu!" ujarnya lalu mengecup kening istrinya.
Pria itu buru-buru pergi setelah merapikan penampilannya. Sang asisten sudah menunggunya di ruang tamu.
"Nona muda Wijaya!" sambut sang empunya acara.
Sosok pria paru baya tersenyum padanya. Gadis itu mendekat dan menjabat tangan pria itu dan juga sosok cantik di sebelahnya.
"Ini perkenalkan putriku, Anita Jatmiko!" ujarnya.
Leticia mengulurkan tangannya. Gadis bernama Anita itu menyambut dan hanya menyentuh ujung jari Leticia.
"Leticia!"
"Anita!"
Keduanya memperkenalkan diri. Lalu Leticia pun berlalu dan masuk ke dalam untuk bersalaman dengan beberapa kolega yang ia kenal.
Ramaputra tengah mengobrol dengan salah satu pebisnis muda. Jovan juga ikut dan kini berada di sisinya. Rudi dan Praja berdiri tak jauh dari atasannya.
Leticia melihat ayah dan juga mantan kekasihnya. Ia ingin sekali mendekat, namun urung ia lakukan. Ia takut tak diterima di sana dan hal itu akan membuatnya malu.
"Daddy ... aku kangen," cicitnya lirih.
Leticia menekan dadanya yang tiba-tiba ngilu. Netranya tak lepas dari sosok yang menjadi cinta pertamanya itu.
Leticia memilih duduk di kursi bar bersama sekretarisnya. Keduanya memilih meminum moktail yang tidak beralkohol.
"Ini Nona!" ujar bartender menyerahkan dua gelas berisi moktail pesanan Leti dan Anna.
"Nona, apa kita tak mengunjungi Tuan Artha dan juga Tuan Muda Dinata. Kita bisa mencari Chanel untuk kerjasama," saran Anna sang sekretaris.
Leticia tersenyum. Ia ingin sekali mendatangi ayah dan juga mantan kekasihnya itu. Tapi, ia tak memiliki muka lebih, terlebih kelakuannya terakhir beberapa tahun lalu.
"Kita cari Tuan Herwin Mc Douglas, katanya ia akan mengembangkan bisnisnya di sini!" ajak Leticia.
Dua gadis itu pun turun dari kursi bar. Keduanya mendatangi sosok bule di sana. Ramaputra melihat pergerakan putri yang ia asuh dulu. Jovan menatap apa yang dilihat mertuanya.
"Daddy mau menemuinya?" tanya pria itu.
Ada helaan napas terdengar. Jovan sangat mengerti, mau bagaimana pun Leticia hidup bersama mertuanya sebelum bertemu dengan putri kandungnya.
"Aku tidak masalah Pa. Toh itu semua berlalu. Hanya menyapa saja," ujar pria itu lagi.
Ramaputra menatap menantunya. Ia melihat kesungguhan Jovan, walau ada penekanan hanya menyapa gadis itu.
Ramaputra bergerak diikuti sang menantu. Pria itu juga ingin menemui pria bule yang bisnisnya sudah berkembang pesat di sini.
"Tuan Dinata, Tuan Artha!" sambut Mc Douglas dengan senyum ramah.
"Mr Mc Douglas!" sahut keduanya.
Leticia mematung sesaat. Gadis itu hanya mengangguk ketika bersitatap dengan dua pria yang sangat penting dalam kehidupannya dulu.
"Tuan, apa kalian mengenal gadis ini? Dia luar biasa sekali!" puji Herwin pada Leticia.
"Tentu aku mengenalnya," ujar Ramaputra.
Mc Douglas antusias mendengarnya. Kini mereka banyak berbicara soal bisnis. Tak lama Irham datang dan langsung menyambangi putrinya. Herwin menyalami ayah dari gadis yang baru ia kenal itu.
"Aku kagum dengan semua reviewny. Kita akan bicarakan soal kerjasama nanti!" ujar pria itu.
Asisten Herwin memberikan kartu nama pada Leticia, Ramaputra dan juga Jovan. Gadis itu langsung berbinar mendapat kartu itu. Dengan adanya itu, peluang kerjasama akan terbuka lebar.
"Minta nomor telepon mereka Andrew!" titahnya.
Leticia segera memberikan nomor ponselnya. Sedang Ramaputra dan Jovan memberikan kartu nama mereka.
"Dad, aku juga minta buatkan kartu nama ya!" rengek gadis itu pada ayahnya.
"Iya sayang," sahut Irham dengan senyum lebar.
bersambung.
next?