THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
HADIAH



"Besok kamu ulang tahun sayang?" tanya Maira antusias.


Manya tersenyum lalu mengangguk pelan. Abraham tersenyum, pria itu mengelus kepala menantunya.


"Baiklah, kita adakan pesta besok!" putus Maira cepat.


"Maaf ma, besok aku ada dua jadwal operasi. Jadi nggak bisa ikutan, pulang juga agak malam," tolak Manya dengan nada menyesal.


"Pesot Mama lopasi?" tanya Lika dengan kepala miring.


"Iya sayang, besok mama operasi," jawab wanita itu.


"Jadi besok mama tinggal ya, jangan nakal sama popa dan moma," lanjutnya mengingatkan.


"Telus talo bawu tutu dhimana ma?" cebik Syah.


"Baby, kan ada susu mama tinggal banyak," jawab Manya membelai salah satu putranya itu.


"Pati ipu eundat lada lasana!" cebiknya lagi.


"Iya mama ... pesot eundat busah lopasi," rayu Abraham.


"Kalau nggak Operasi terus buat gaji Syah apa dong?" tanya Manya.


"Mama ... pial lumah syatit paja yan payal!" sahut Bhizar mengingatkan..


"Kan Syah belum jadi dokter," sahut Manya.


"Mama ...," rengek semua bayi tak mau ditinggal ibunya.


"Babies bagaimana besok kita berenang air dan bola!" ajak Manya.


"Ada tuena eundat?" tanya Laina.


"Ada sayang. Moma akan beli kue banyak. Jadi pas mama pulang kita bisa langsung rayakan ulang tahun, okeh!"


"Oteh!" seru semuanya senang sambil bertepuk tangan.


Usai makan malam, Manya membiarkan semua bayinya puas menyusu padanya, hingga ia tertidur dengan baju bagian dada yang terbuka.


Jovan datang dan masuk kamar anak-anak. Di sana semua sudah tidur tumpang tindih. Pria itu terkekeh melihat tingkah semua bayi.


Memang di kamar itu ada tempat tidur besar dan tujuh boks warna-warni. Pria itu meletakan bayi-bayinya di boks masing-masing.


Melihat dada istrinya terbuka. Pria itu tersenyum. Melihat pucuk warna menghitam kini sudah kemerahan akibat ulah tujuh bayi kembarnya.


Perlahan ia mendekatkan kepalanya, menjulurkan lidah dan menjilat titik putih di ujung dan sekitaran areola. Air susu Manya produksinya sangat melimpah. Terbukti wanita itu bisa menyimpan ASI nya sebanyak seratus kantung di storage.


"Kau luar biasa sayang," bisiknya.


Manya mengerjap. Perlahan pandangannya melihat jelas pria yang memberinya anak banyak sekaligus itu.


"Hei ... selamat ulang tahun, sayang," ujar pria itu.


Manya melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah pukul. 00.05.. Jovan menggendongnya ala pengantin. Menutup pelan pintu penghubung.


"Mas nggak mandi dulu?" tanyanya dengan suara berbisik.


"Nggak, aku mau kamu," ujar Jovan dengan mata diselimuti gairah.


Manya melayani suaminya. Jovan termasuk pria jantan dan perkasa. Entah berapa kali Manya merasakan pelepasannya. Pria itu masih asik menaiki bukit gairah hingga peluh bercucuran. Lalu makin lama makin cepat dan semua tumpah ruah di dalam sana. Manya hanya pasrah.


"Jika aku punya anak kembar lagi, bagaimana mas?"


"Tidak masalah sayang," jawab Jovan dengan napas terengah-engah.


Pria itu ambruk di sisi istrinya. Sekarang pukul 03.00 dini hari. Pria itu benar-benar kelelahan, tak lama Jovan pun pulas sambil memeluk tubuh telanjang istrinya.


Sementara di rumah sakit. Amertha sudah tidur di sisi sang putri. Kali ini Renita mengalah. Ia dan suami pulang setelah sekian lama meninggalkan pekerjaannya.


"Sayang, mommy kangen ... mommy udah lama nggak shopping bareng kamu nak," ujarnya.


Sebenarnya kata-kata itu bukan tertuju untuk Leticia yang masih setia memejamkan mata itu. Perkataan itu tertuju pada sosok putrinya yang lain.


"Selamat ulang tahun sayang," bisiknya lalu mengecup pipi putrinya.


Pagi menjelang. Semua hilir mudik di rumah sakit. Pasien datang dan pergi. Ramaputra datang dan memandangi ruang praktek di mana putrinya berada.


"Maaf pak, dokter Manya tidak buka praktek hari ini," ujar salah satu perawat.


"Dokter Manya ada dua kali jadwal operasi. Beliau adalah asisten dari Profesor Ridwan," jelas perawat itu.


Ramaputra mengangguk tanda mengerti. Pria itu menghela napas panjang. Otaknya berpikir keras bagaimana ia mengatakan kenyataan sebenarnya.


"Tidak ada yang tidak menginginkanmu, nak. Kau disingkirkan karena kesalahanku memelihara racun itu," gumamnya penuh sesal.


Pria itu pun berjalan menuju ruang putrinya yang lain. Istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang," panggilnya dengan suara lemah.


Amertha menatapnya. Ia berharap ada kabar gembira. Namun melihat wajah suram suaminya. Ia jadi sedih.


"Belum ada kabar gembira kah?" Ramaputra menggeleng lemah.


Amertha memeluk suaminya. Ia lelah dengan penantian panjang ini. Ia ingin sekali memeluk putrinya dan memanggilnya "Putriku".


"Kapan ini selesai sayang?" tanyanya lelah.


"Sabarlah sayang. Mau tiga puluh tahun, jika pun bertemu, aku bingung harus berkata apa," sahut Ramaputra juga ikut lelah.


Pria itu melepas pelukan pada istrinya. Ia mendekat pada Leticia. Mengusap lembut pipinya.


'Maafkan daddy sayang. Kemarin tak terlalu memperhatikan dirimu," sesal pria itu.


Jari Leticia bergerak. Ramaputra melihatnya. Ia pun kembali memanggil putrinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Amertha.


"Aku melihat jari putri kita bergerak sayang," jawab pria itu.


"Sayang, bangun nak. Hey, happy birthday!" ujar pria itu.


Mata gadis itu bergerak. Amertha langsung memencet bel. Tiga dokter dan satu perawat datang. Mereka memeriksa gadis itu.


"Mommy!" panggil sang gadis membuat Amertha menangis.


"Baby ... mommy di sini," sahutnya.


"Mommy ... huuuu ... mommy ... don't leave me ... hiks ... hiks!!"


"I won't leave you baby!"


Leticia sadar, walau dokter belum mencabut masa krisisnya. Rudi datang membawa kue ulang tahun strawberry kesukaan gadis itu. Ada tiga teman Leticia hadir atas permintaan Ramaputra.


Mereka merayakan ulang tahun bersama. Tak lama Renita datang membawa hadiah gaun cantik rancangan designer ternama.


Sebuah gaun yang Leticia idam-idamkan. Amertha begitu senang dengan pemberian wanita itu.


"Sayang lihat! Bukankah kau sangat menginginkan gaun ini?" seru Amertha antusias.


"Kau tau mommy kesulitan mendapatkannya karena selalu keduluan orang lain," ujarnya.


Leticia tersenyum. Ia memang menyukai gaun itu. Renita juga membawa sepasang sepatu yang cantik dan sesuai dengan gaun itu.


"Sayang, sepatu kaca!" seru Amertha memperlihatkan sepatu itu pada Leticia.


"Say thank you pada mama sayang," pinta Amertha.


"Makasih ma ...," ujar gadis itu lemah.


Renita mengecup kening putrinya. Sungguh ia masih ingin memiliki Leticia untuknya seorang diri.


Sedang Ramaputra kembali ke ruang praktek Manya. Ia tetap ingin memberitahu kebenaran. Ia membawa banyak berkas yang bisa membuat wanita itu percaya jika dia adalah ayah yang tak pernah meninggalkannya.


Manya sudah selesai menjadi assisten dari Profesor Ridwan. Pria itu sangat puas dengan hasil operasi.


"Operasi berjalan dengan sukses! Terima kasih tim!" semua bertepuk tangan.


Manya kembali ke ruang prakteknya. Ia harus melepas semua baju OK nya. Di sana, sosok pria berdiri menatap pintu ruang prakteknya.


"Tuan?" panggilnya dengan jantung berdegup kencang.


"Dokter ...," sahut pria itu dengan bibir gemetar.


bersambung.


next?