THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
BELAJAR BERSAMA



"Kita pulang!" pekik Abraham ketika masuk rumah.


"Ata' pulan!" sorak Liam.


"Baby Liam!" pekik Seven A semringah.


Mereka saling berpelukan. Liam terharu, untuk pertama kalinya ia berjalan-jalan bersama ibunya dan mendatangi saudaranya.


"Kakak ganti baju dulu ya," ujar seven A.


"Iya Kak," sahut Liam.


Manya sedang bekerja, Liam datang bersama ibunya, Amertha dan Maira menemani cucu dan juga Reece.


Lima bayi pun berkumpul bersama dan saling bercerita terutama triple A. Mereka bercerita pengalaman mereka ketika sekolah kemarin.


"Padhi talian setolah, peulnel basut dalam telas?" tanya Liam dengan mata bulat tak percaya.


"Biya, pita baju te depan telas don," ujar Adelard sombong.


"Wah ... bebat!" sahut Liam bertepuk tangan.


"Pemana teumalin peulajan pa'a?" tanyanya.


"Beulajan anta" jawab Aqila.


"Oh anta tayat zatu, puwa, dita ...."


"Tida Iam, butan dita. Tamu tebalit pilanna!" ralat Adelard.


"Eh ... teumalin lada yan pulis anta tidha tayat bulun peulban woh!" ujarnya mengingat.


"Pulun peulban?" tanya Liam dengan mata membola.


"Biya anta tida teulabit!" jawab Aidan.


"Atuh suma pisa pampai bepuluh pitunna," keluh Liam.


"Woh teunapa ... pa'a mommy eundat pawu ajalin?" tanya Aqila.


"Butan, Atuh pales peulajan," jawab Liam santai.


Reece hanya diam saja, ia menunggu tujuh keponakan kecilnya.


"Mama ... tot pesen A lama?" tanyanya.


"Maaf ya, padhi lama gala-gala Lika nangis cali pukunya," Abraham keluar dengan wajah kesal.


Sedang tersangka matanya basah dan hidungnya memerah. Balita itu mencari buku gambarnya yang ia bawa tadi hilang dari tasnya. Ia menyuruh semua mencari buku kesayangannya karena buku itu hadiah dari Bima.


“Oh ... sayang, sini,”


Amertha memeluk cucu cantiknya itu, Lika kembali menangis.


“Bukunya ilang Moma ... hiks ... hiks!” ujar Lika sedih.


“Buku kita mah ada semua di tas masing-masing,” ujar Laina.


“Memangnya tadi Baby masukin ke tas lagi nggak bukunya?” tanya Maira gemas.


Lika mencoba mengingat lagi. Ia sangat yakin jika sudah memasukkan semua buku dalam tasnya. Ia pun mengangguk.


“Sudah Moma ... hiks!” jawabnya sedih.


“Tata Mommy palan ilan, bi itlasin aja ...,” sahut Liam.


“Biya, itlasin aja Baby. Talo pasih lejeti tamu, butuna basti batal palit ladhi!” sahut Reece.


“Nah, benar itu. Ikhlasin aja bukunya. Nanti kalau memang masih milik. Bukunya bakalan balik kok ke kamu,!” ujar Maira menenangkan cucunya itu.


“Tapi itu bukunya dali Om Pimpa eh Om Bima ... hiks ... talo ilan, belalti Lika enggak menjaga balang yang udah dikasih,” sahut Lika sedih.


“Sudah ... nggak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati ya. Nanti Moma belikan lagi buku gambarnya,” ujar Amertha.


Wanita itu mengusap air mata yang membasahi pipi bulat Ailika yang memerah. Akhirnya seven A pun kembali bermain bersama yang lain. Kali ini Liam ingin bermain sambil belajar. Bayi satu lima bulan itu ingin belajar menghitung.


Denna hanya mengawasi semua anak bersama para suster terutama Saskia. Wanita itu baru menikah tiga bulan lalu, jadi belum ada tanda-tanda hamil. Praja juga santai untuk memiliki anak.


“Spasa yan jadhi Duluna?’ tanya Aidan.


“Bhizal aja,” jawab Syah.


“Sian!” sahut semua anak.


“Kita akan mulai belajal belhitun ya!”


“Bait Pat Dulu!” sahut Liam sangat antusias.


Denna merekam semua kegiatan belajar itu. Ia memang suka merekam semua aktifitas putranya itu.


“Ulani kata-kata pak Gulu ya!” titah Bhizar.


“Satu, dua, tiga ....”


“Zatu, puwa, pida!” sahut Aidan, Liam, Adelard, Aqila dan Reece.


Mereka berhitung hingga angka tiga puluh. Liam begitu senang telah berhasil menghitung hingga sebegitu banyak tanpa bosan. Bayi tampan bermata biru itu ingin belajar yang lainnya. Bhizar mengenalkan dua puluh enam huruf.


“A, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, q, el, s, t, u, v, w, x, y, z!”


“Abvdefargsbjssnjbdhbbjskdnwwbebejezzzz!” sahut lima bayi tak jelas.


“Aduh ... kok jadi gitu bahasanya?”


“Bestina badhaipana Ata’?” tanya Aqila.


Bayi itu cantik sekali dengan rambut yang dikuncir dua dengan pita. Rambutnya yang pirang dengan mata hazel sang ayah. Bayi itu sangat cantik luar biasa, sama dengan tiga kakak perempuannya.


“Waktunya makan!” ujar Suster Wati.


“Holleeee ... matan!” sahut Adelard.


Mereka pun makan siang bersama. Triple A, Liam dan Reece sudah bisa makan sendiri. Mereka merasa bukan bayi lagi. Usai makan mereka disuruh tidur siang. Semua menurut, karena memang sudah ngantuk.


Sore Manya pulang dengan suaminya, anak-anak sudah rapi dan wangi. Semua menyambut kedatangan ayah dan ibu dari ten A itu. Jovan yang gemas mencium semua bayi yang tak berhenti berceloteh. Tak lama, Gerard datang menyusul, lalu Abraham, Ramaputra juga Praja.


“Rudi masih cuti bulan madu, senin depan baru mulai kerja. Agak kewalahan juga tidak ada Rudi,” keluh Ramaputra.


“Buka lowongan lagi saja Dad, kasihan juga nanti Rudi ketika masuk banyak pekerjaan yang ia kerjakan,” saran Jovan.


“Nanti saja, kalau dia sudah masuk. Aku minta dia mencari asisten untuk membantunya,” ujar Ramaputra.


Setelah makan malam, Liam dan Reece pun pulang dalam keadaan mengantuk. Ten A sudah masuk kamar. Mereka masuk dalam boks tidur mereka masing-masing.


“Mami dan Papi pulang dulu ya, Nak,” ujar Abraham pamit.


“Iya Pi, Mi. Makasih ya udah jagain anak-anak,” ujar Manya.


“Iya sama-sama,” sahut Maira lalu mengecup menantu kesayangannya.


Rumah kembali sepi. Manya yang merindukan sepuluh anaknya masuk ke kemar, mengusap kepala dan mencium kening mereka satu persatu. Jovan juga masuk dan melakukan hal yang sama. Keduanya pun saling berangkulan masuk ke kamar mereka melalui pintu penghubung.


“Sayang, mereka semua cepat besar ya,” ujar Jovan haru.


“Iya sayang, akan tiba hari di mana kita akan melepas mereka satu persatu untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi,” sahut Manya.


Jovan memeluk istrinya yang masih saja cantik itu. Ia merasa sangat bahagia telah dipertemukan dengan sosok yang begitu tabah mengandung anak banyak untuknya. Jovan mengecup bibir dan memagutnya lembut.


“Kalau nambah anak lagi sepertinya seru sayang,” kekeh Jovan.


“Oh ... aku sih sudah cukup sepuluh anak,” ujar Manya.


“Tunggu mereka besar deh ya,” kikiknya geli sendiri.


“Boleh, setidaknya triple A sudah lima tahun ya,” Manya mengangguk setuju.


Malam ini, Jovan menggoyang ranjang penuh kelembutan dengan target sang istri di bawahnya. Keduanya saling mereguk nikmatnya gelora cinta yang datang bertubi-tubi. Keduanya melenguh melepas semua bibit yang menyatu di dalam sana.


“Aaaahhh ... sayang!” pekik Jovan dengan nafas menderu.


Keringat membasahi tubuh keduanya, manya memeluk sang suami erat. Kepalanya ia letakkan di dada Jovan, pria itu mengecup lembut kening sang istri.


“Aku mencintaimu, sayang,” ujar Jovan tulus.


“Aku juga mencintaimu!” balas Manya tak kalah tulus.


bersambung.


banyakin anak!


next?