
Ferdy tertunduk. wajahnya sudah babak belur. Sedang dua orang bisu, tuli dan buta huruf itu sama sekali tak bisa memberikan keterangan, bahkan bahasa isyarat keduanya tak mengerti.
"Apa dua orang itu ada indentitasnya?" tanya Jovan.
"Tidak ada. Saya baru saja melaporkannya pada pihak interpol. Sepertinya juga mereka orang asing," jelas Praja.
"Lalu dia?" tunjuk Jovan pada Ferdy.
"Dia sudah tak punya pekerjaan, perusahaan bossnya baru saja diakuisisi oleh perusahaan mertuamu!" jawab Praja lagi. "Ronald akan mendapatkan tuntutan dengan pasal berlapis "
Jovan mengangguk. Ferdy diangkut beberapa petugas memakai seragam. Pria itu memohon-mohon pada Jovan untuk mengampuninya.
"Tuan Dinata ... saya mohon tuan!"
Tubuh pria itu menghilang di balik pintu yang tertutup tapi suaranya masih menggema kemana-mana. Jovan menatap dua pria asing yang menunduk. Wajah mereka juga tak kalah babak belur dihajar oleh pengawal Jovan.
"Tuan, ini ponsel mereka!" Praja menyerah dua ponsel canggih dan berharga mahal. Jovan tersenyum miring.
"Aaaauuu ... aaaa!" bentak pria itu ketika melihat ponselnya.
"Mereka tak mungkin bisu dan tuli jika punya ponsel, dan tak mungkin tak bisa baca!"
Tiba-tiba salah satu ponsel berdering. Jovan mengangkatnya. Ia sangat terkejut mendengar suara di seberang telepon. Suara seorang wanita dan berbahasa Rusia.
"Bagaimana apa sudah beres?"
"Leonita?" panggil Jovan.
Hening seketika. Sedang dua pria yang ada di depan Jovan sudah menangis. Akhirnya yang diujung telepon kembali bersuara.
"Oh ... Jovan bagaimana kejutannya? Kau suka?" tanya wanita itu dengan suara tawa yang begitu memaksa.
"Kenapa kau lakukan itu Leonita, apa salah anak-anak ku?!" tekan Jovan dengan mata berkilat.
"Jangan marah, itu hanya bercanda cucuku!" kekeh Leonita di seberang telepon.
"Sayangnya usahamu gagal perempuan tua!" sahut Jovan santai. "Usahamu terlalu mudah dikenali Seven A!"
"Cis ... itu hanya kebetulan sialan. Akan ada banyak kejutan untuk tujuh cicitku itu," kekeh Leonita lagi sangat santai.
"Kau meragukan kejahatan kakekku, Leonita," sahut Jovan.
"Cis ... laki-laki bangkotan itu terlalu tua untuk melawanku, Jovan. Dia tak akan tau di mana aku berada," ujarnya santai.
"Karena apa ... aku menggunakan pelacak signal. Hingga berapa lama pun kau mencariku via signal ponsel. Itu sia-sia sayang!"
Leonita menutup sambungan telepon. Ia tersenyum licik, kemarin gugatan hartanya terhadap perusahaan Aldebaran di Amerika gagal. Pria itu membuktikan keterlibatan putra kandungannya itu dalam penyalahgunaan wewenang juga jabatan. Bahkan Aldebaran meminta tes DNA pada putranya -Adrian Dinata yang kini tengah dipenjara.
Wanita itu sangat marah, ia mengabdikan hidup pada Aldebaran sejak usia delapan belas tahun. Mengikat pria itu pada jebakan dan menyingkirkan sang nyonya selama-lamanya.
"Gara-gara tujuh anak itu lahir. Aldebaran mulai membuka semua kejahatan yang kulakukan. Padahal selama ini dia menikmati tubuhku juga!" gumamnya marah.
"Dua orang yang tertangkap itu baru awal saja Jovan. Kau akan mendapatkan beberapa kejutan lagi," lanjutnya sambil menyeringai sadis.
Sedang di LA Amerika, Aldebaran mengurusi beberapa pekerjaan yang akan ia bawa ke Indonesia. Pria itu akan menutup semua usahanya di sini. Selain memang perusahaan ini hanya mengurus hal-hal kecil seperti pendataan dan pemograman. Banyak staf dan kepala divisi terlibat kasus korupsi. Hingga ia harus bolak-balik ke perusahaan advokat untuk menangani kasusnya. Belum lagi tuntutan Leonita pada dirinya.
"Tuan, ini hasil tes lab DNA pada putra kedua anda," ujar salah satu petugas.
Aldebaran memang sekarang ada di lab. Ia tak yakin jika ia memiliki anak dari Leonita, mestinya sejahat-jahatnya manusia tentunya ia tau darah lebih kental daripada air.
Aldebaran juga telan menemukan mantan istri dari putra ke duanya itu. Wanita itu mengaku jika Ardi sendiri yang merencanakan kejahatan dan mengajak putranya Rendy bekerjasama dengan imbalan sebuah perusahaan. Aldebaran hanya setengah percaya. Ia membuka hasil lab.
"Kurang ajar!" bentaknya murka.
Sementara di tempat lain. Manya menyuapi anak-anaknya yang tengah santai. Tak ada trauma atau ketakutan pada Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham.
"Babies, kalian tadi nggak takut?" tanya Amertha hati-hati.
"Peuljadian pa'a moma?" tanya Abraham.
"Ular tadi?" Maira kini bertanya.
"Oh ... ulen padhi, ulenna eundat teunapa-napa tan?" tanya Abraham.
Ramaputra begitu gemas dengan cucu-cucunya itu. Abraham juga hanya terkekeh mendengar pertanyaan Abraham kecil itu.
Gerard, Lektor, Hasan, Bernhard dan Bima juga tengah menikmati makanannya. Acara gala lunch berakhir sukses, walau ada sedikit accident yang dilancarkan oleh orang lain.
"Mama ... padhi lada Om Beunawal yan iputan syama yan pawa ulen woh!" ujar Abi.
"Apa katanya?" tanya Abraham tak mengerti.
"Kata Abe ada yang bekerja sama dengan dua pria yang melempari ular tadi," jawab Manya.
"Siapa?"
"Om beunawal yan pate benpon dedhe!" sahut Abi lagi.
Semua saling lihat. Abraham memang sedikit mengendorkan penjagaan agar semua penjahat bisa masuk. Makanya ia tak memarahi para pengawal karena bisa masuk dua penjahat itu.
"Pi?" panggil Manya.
"Gerard!" panggilnya.
"Siap paman!" sahut pria itu menyelesaikan makanannya.
"Biar kami juga bantu Om!" sahut keempat pria lainnya.
Abraham mengangguk. "Tuntaskan!"
Lima pria melakukan gerakan hormat dengan mengangkat ujung tangan ke pelipis mereka. Lalu semuanya langsung bergerak menyelidiki siapa saja yang terlibat.
Jovan datang memberitahu siapa dalang penaruh ular itu.
"Ck ... sudah kubilang. Wanita itu ular yang tersembunyi. Beruntung dulu Kakekmu itu tak menyerahkan semua hartanya!" sahut Abraham kesal.
"Kau sudah memberi tau Kakekmu?" Jovan menggeleng.
"Tenang saja. Oh ya, babies bilang ada pengawal yang juga bekerjasama dengan para pengawal. Selidiki semua Jovan dan cabut sampai akarnya!" titah Abraham lagi.
"Oke Pi!" sahut pria itu.
Ramaputra menepuk bahu putranya. Pria itu juga memberi dukungan dengan kartu akses masuk perusahaannya.
"Daddy percaya kamu bisa bekerja dengan baik!" ujarnya. "Rudi akan membantumu!"
Jovan mengangguk lalu mengucap terima kasih. Pria itu pun mengecup terlebih dulu ketujuh anak kembarnya dan juga sang istri.
"Hati-hati mas," pinta wanita itu khawatir.
"Iya sayang," sahut Jovan.
Pria itu juga mengecup mertua juga ibunya. Dua wanita itu juga meminta Jovan berhati-hati.
"Papa yayah!" Jovan menoleh.
"Baswordna Bulan tampun!" pekik Bhizar.
Jovan mengerutkan kening. Pria itu pun akhirnya pergi ke divisi pengamanan memeriksa semua divisi yang mungkin bekerjasama dengan kejahatan ini.
"Sayang apa tadi bulan tampun?" tanya Manya.
"Lolan padhi pilan ipu lelus moma!" ujar Bhizar.
"Biya Syah judha denal ipu," sahut Syah.
"Ah kalian bayi yang luar biasa," puji Maira kagum.
Manya hanya tersenyum mendengar pujian itu, entah harus bangga atau sedih mengetahui betapa tajamnya penglihatan dan juga pendengaran ketujuh anaknya itu.
bersambung.
next?