
Hari yang ditunggu tiba. Semua sudah bersiap. Irham tentu datang membawa semua keluarganya. Pria itu ingin bertemu dedengkot bisnis yang begitu termasyhur yakni Darren Hugrid Dougher Young, bersama istri dan salah satu anaknya.
"Astaga ... kenapa malah jantungku seperti menggila seperti ini!" gumam pria itu mengelus dadanya.
"Istighfar Dad," ujar Rudi.
Irham beristighfar, pria itu duduk dengan muka sedikit pucat. Manya memberikannya satu gelas air putih.
"Minum dulu, Dad," ujarnya perhatian.
"Terima kasih, sayang," ujar pria itu menenggak habis minumannya.
Mereka bertolak menuju satu kantor KUA. Praja, Abraham dan Maira telah menjemput ibu sambung mereka. Aldebaran begitu tampan. Jovan menenangkan pria gaek itu yang sedari tadi gelisah.
"Tangan Grandpa dingin, sayang," ujarnya.
"Grandpa tidak apa-apa. Terus istighfar dan minta kemudahan," ujar Jovan.
Kini mereka semua sudah sampai di sebuah gedung perkantoran. Aldebaran digandeng oleh Jovan dan Manya. Anak-anak ditangani Amertha dan Ramaputra. Ada Irham, Regina, Rudi dan Leticia juga Denna, Saskia, Gerard, Eddie dan Clara.
Aldebaran bertemu dengan putra dan menantunya. Di belakangnya, wanita yang begitu cantik tengah menunduk. Kini keduanya ada di depan penghulu.
"Jadi apa benar ini adalah pengantinnya?" tanya petugas.
"Benar Pak," jawab Abraham.
"Baik, saya data kembali nama-namanya ya," ujar petugas itu.
Semua mengangguk. Petugas mulai mendata semuanya, surat-surat lengkap, bahkan Demira meminta wali hakim untuk menjadi walinya di pernikahan ini.
"Baik, saya akan menjadi wali untuk Nyonya Demira ya," sahut petugas. itu.
"Silahkan tandatangan di sini!" titahnya sambil menunjuk kolom yang tersedia. Keduanya membubuhkan tanda tangan. Para saksi juga diminta tanda tangan.
Eddie dan Irham sebagai saksi dari keduanya. Demira hidup sebatang kara. Jadi Irham bersedia menjadi saksinya.
"Baik, silahkan jabat tangan saya Pak!" pinta penghulu.
Aldebaran menjabat tangan petugas di depannya.
"Waah ... dingin sekali!" selorohnya.
Semua terkekeh, petugas itu mengelus buku tangan Aldebaran dan memintanya untuk tenang.
"Mau latihan dulu apa langsung?" tanya petugas lagi setengah bercanda.
Aldebaran menggaruk kepalanya. Petugas kembali memenangkan pria itu dan langsung menuntunnya mengucap ijab kobul.
"Saudara Aldebaran Rougher Dinata bin Andian Daniel Rougher Dinata almarhum, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Saudari Demira Aliyah binti Fadli almarhum dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian seberat lima krat dan logam mulia seberat lima ratus gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Demira Aliyah binti Fadli almarhum dengan mas kawin tersebut diatas tunai!"
"Diulang ya .. tolong disebut berapa mas kawinnya, jangan mas kawin tersebut di atas! Di atas mana?" sahut penghulu.
"Saudara Aldebaran Rougher Dinata bin Andian Daniel Rougher Dinata almarhum saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Saudari Demira Aliyah binti Fadli almarhum dengan mas kawin perhiasan berlian seberat lima krat dan logam mulia seberat lima ratus gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawin Demira Aliyah binti Fadli almarhum dengan mas kawin seperangkat perhiasan berlian seberat lima krat dan logam mulia seberat lima ratus gram dibayar tunai!" satu tarikan napas Aldebaran mengucap ijab kabul.
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah!" seru semua orang.
"Alhamdulillah!"
Doa-doa dipanjatkan pada kedua mempelai. Demira mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, Aldebaran mencium kening istrinya.
Maira terharu begitu juga dengan semuanya.
"Hore aku punya nenek perempuan!" seru Reece.
"Nenet!" pekik Tita dan Maiz berhamburan ke pangkuan Demira.
"Ini nggak difoto?' tanya petugas.
"Astagfirullah ... kita lupa!' sahut Praja menepuk dahinya.
"Praj!" dengkus Aldebaran kesal.
Padahal pria itu sudah membagi tugas. Praja terkekeh, pria itu hanya mengerjai ayah angkatnya itu. Ia menenangkan Aldebaran jika semua sudah dia bidik dengan baik bahkan. Petugas membantu mereka berfoto bersama di luar kantor KUA.
"Ayo kita ke restoran!" ajak Aldebaran.
Pria itu terus menggenggam tangan istrinya. Demira juga tak lepas dari sisi pria itu. Rona di pipinya menandakan jika dirinya begitu bahagia.
"Anak-anak sini!" panggilnya pada dua puluh anak yatim piatu.
"Manya Leticia, Reece ini saudara kalian!" ujarnya memperkenalkan anak angkatnya.
"Hai sayang!' sambut Manya lalu mereka berkenalan.
"Mereka akan tinggal sama Daddy?" tanya Leticia memeluk gemas salah satu adik angkatnya.
'Tentu sayang. Mereka juga sudah bersekolah di sebuah sekolah negeri yang tidak jauh dari sekolah seven A," jawab Ramaputra.
Aldebaran juga tak mau ketinggalan memperkenalkan dua puluh lima anak angkatnya. Demira bahagia langsung diberi anak banyak.
"Mereka adik-adikmu," ujar pria tua itu. "Ini anak-anak kita sayang "
"Paman namanya siapa?" tanya Abi pada salah satu paman angkatnya.
"Nama paman Endra," jawab bocah berusia sembilan tahun itu.
Kedudukan dua puluh lima anak-anak setara dengan Praja. Pria itu kini mengusili salah satu diantaranya yang bertubuh tambun. Bocah itu tertawa dan membuat tubuhnya bergoyang.
"Oh kau menggemaskan sekali!" sahut Maira memeluk salah satunya adiknya itu.
"Mom, kenapa diam?" tanya Manya pada ibunya.
Amertha hanya tersenyum, ia sudah tidak tau harus berkata apa. Wanita itu begitu bahagia sampai mulutnya kelu untuk berbicara.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumusalam!" sahut semuanya sambil menoleh.
Darren datang bersama Safitri. Wanita itu juga memakai kerudung besar dan menutupi tubuhnya yang juga besar. Safitri sangat cantik dengan manik abunya yang begitu mempesona.
"Silahkan, Tuan ... mari-mari!"
Abraham langsung menyambut ketiga orang di depannya. Darren membawa salah satu putranya, Muhammad Izzat Hugrid Dougher Young. Ternyata pria itu benar-benar membawa putranya. Manik abu Izzat menarik perhatian Liam dan Reece. Reece bermanik coklat tua sedang Liam bermanik biru.
"Mama ... bata lolan ipu pa'a?" tanya Maiz pada Manya sambil menunjuk pada Saf dan Izzat.
"Hai ... Baby," sapa Izzat.
Izzat sudah beristri dan memiliki tiga anak kembar. Namun ia tak membawa anak dan istrinya.
"Aku Izzat," ujarnya memperkenalkan diri.
Pria itu menyamakan tingginya dengan dua bayi cantik. Aislin menyela, gadis itu malah berani menyentuh wajah tampan Izzat.
"Atuh Ais ... tamu bawu sadhi pasal atuh eundat?" tanya bayi cantik itu begitu centil.
Denna menepuk dahinya. Izzat tertawa lirih. Darren dan Saf tengah memberi selamat pada pengantin baru.
"Katakan Tuan. Apa Tuan Bart Dougher Young juga menikah di usia tuanya?" tanya Irham penasaran.
Darren menarik sudut bibirnya ke atas. Ia melirik istrinya. Ada rahasia besar ditutupi keduanya. Perjalanan pribadi keluarga pebisnis besar itu memang begitu tertutup, tak ada satu wartawan bisa mengorek karena penjagaan para pengawal yang begitu ketat.
"Itu rahasia Tuan Dinata," jawab Darren.
Sementara itu Aislin tengah merayu Izzat agar menjadi kekasihnya.
"Pom Lizat ... pahu tah entau peulsyamaan batahali dan pelani?" Izzat begitu gemas dengan bayi cantik yang begitu berani.
"Baby ... pelangi tidak akan ada jika tidak ada matahali!" sahut Aqila memutar mata malas.
"Kenapa bisa begitu Baby?" tanya Izzat begitu geregetan hingga giginya beradu.
"Talna pelangi itu adalah pembiasan cahaya dali ail hujan yang ditimpa sinal matahali!" jawaban cerdas dan tepat.
"Ata' Tila!" pekik Aislin kesal.
"Ais tan ladhi peulayu Pom danten!" lanjutnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Bersambung.
Hadeuh ... Aislin 🤭🤦
hai itu adalah karya baru Othor ... bisa dikepoin dan diberi dukungan ya ... makasih.
ba bowu 😍😍😍❤️
next?