
"Saya juga mengucapkan terima kasih pada kedua mertua saya dan paling terima kasih pada Suami saya tercinta dan tak lupa pada tujuh anak kembar saya!" lanjut Manya berkaca-kaca.
Semua bertepuk tangan. Wanita itu tersenyum penuh kebanggaan ketika semua keluarganya turun dan disalami para profesor, rektor dan dekan nya. Ramaputra dan Amertha begitu bangga mendampingi putri mereka.
Kini semuanya pergi ke studio foto dan mengabadikan diri mereka. Para bayi berpose lucu dan membuat para fotografer senang bukan main.
"Ayo kita rayakan kelulusan Manya, makan di restauran," ajak Ramaputra.
Kini mereka bergerak menuju restauran milik Ramaputra yang di inventariskan untuk seluruh cucunya. Bahkan restauran tersebut memiliki menu sehat untuk para balita. Para suster menyuapi bayi-bayi dengan telaten.
"Selesai mereka makan, kalian juga makan suster," ujar Manya.
"Baik Dok!" sahut ketiga suster itu.
Manya akan memanggil Saskia untuk menggantikan Denna. Gadis itu juga sudah bosan menjadi suster kepala. Ia berpikir bisa menjadi mantri kesehatan setelah menjabat sebagai suster kepala. Ternyata harus mengumpulkan uang yang tidak sedikit, sedang gajinya tidak cukup.
"Pasti Saskia mau jika bekerja bersamaku, gajinya jauh lebih besar jika bersamaku," gumam Manya.
Selesai makan. Mereka bergerak menuju mansion Ramaputra, pria itu akan menyiapkan pesta untuk kelulusan putrinya. Ia sudah memberitahu Rudi untuk mempersiapkan semuanya. Jovan juga mengundang empat sahabatnya.
"Sayang, ini Gerard!" ujar Jovan memberi telepon.
Manya menerimanya. Pria di seberang sana langsung memberinya selamat atas kelulusan. Denna juga mengucapkan kata yang sama.
"Selamat ya Dok!"
"Terima kasih Denna!" sahut Manya senang.
"Dok .. pulang nanti akan dapat kabar baik dariku," ujar Denna berbisik.
"Apa kau?"
"Ssshhh ... pokoknya tunggu aja ya," bisiknya lagi.
"Memang dia di mana?" tanya Manya juga berbisik.
"Sedang di kamar mandi," jawab Denna masih berbisik.
"Baiklah aku tunggu kalian pulang ya," ujar Manya.
"Jangan lupa oleh-oleh," lanjutnya terkekeh.
Sambungan telepon berhenti. Manya memberikan ponsel suaminya. Pria itu mengernyit dan bertanya kenapa sampai berbisik ketika berbicara di telepon.
"Sudah ... nanti tau sendiri kok," sahut Manya.
Malam menjelang, seven A masih kuat bergadang. Bahkan kini riuh bersama Lektor, Hasan, Bima dan Bernhard.
"Perkenalkan ini putriku Dokter Manya Aidila Artha Sp.B!" ujar Ramaputra memperkenalkan putrinya dengan bangga pada para koleganya.
Abraham juga tak mau kalah. Pria itu juga mengundang banyak kolega untuk memperkenalkan menantunya. Joe Brooks datang tanpa Lana. Pria itu langsung sadar diri jika keponakannya itu kalah telak dengan wanita yang kini digandeng mesra oleh Jovan.
Joe memilih mendatangi Bernhard. Pria itu mengenal ibu dari pria yang kini tengah bercanda dengan pada bayi.
"Halo Ben!" sapanya.
Bernhard menoleh. Tak banyak yang tau nama kecil pria itu, kecuali orang-orang dekatnya. Ia mengerutkan keningnya, tak suka dengan panggilan itu.
"Aku Joe Brooks apa kau mengingatku, aku ayah baptis mu," ujar Joe mengingatkan Bernhard.
"Oh ... kau tiba-tiba datang setelah dua puluh tujuh tahun berlalu dan memanggilku Ben. Tentu aku terkejut Tuan Brooks!" sahut pria itu.
Joe hanya tersenyum kecut. Kesalahannya karena langsung pergi meninggalkan kota yang membesarkan usahanya. Meninggalkan semua orang yang pernah mendukungnya. Kini usahanya sedikit turun hingga mengharuskan ia kembali.
Tentu banyak yang berubah, perbisnisan sudah tak seperti dulu lagi. Pernikahan bisnis tak bisa lagi diungkit ke publik karena sudah ketinggalan jaman.
"Aku ingin memperkenalkan keponakanku padamu," ujarnya mencari peruntungan.
"Oh ya? Apa dia gadis yang hendak kau jodohkan pada Jovan?" tanya Bernhard langsung.
Joe mengangguk pelan. Ia masih berharap Bernhard mau menerima perjodohan ini. Sayang Bernard menggeleng. Pria itu menolak.
Bernhard menatap tajam pria itu. Ia yakin ibunya pasti akan langsung setuju pernikahan bisnis ini. Joe melangkah dan mundur. Ia mengaku pusing pada pemilik pesta dan pamit pulang. Abraham mempersilahkan tamunya pulang terlebih dahulu.
Lektor, Hasan dan Bima langsung mendekati Bernhard. Ketiga pria itu menenangkan sahabatnya.
"Kau coba saja dulu, Bernhard ... siapa tau Lana adalah jodohmu," ujar Hasan.
"Benar. Kita ini pria berengsek, mana mungkin mendapat gadis baik-baik!" ujar Bima menimpali.
Bernhard menghela napas panjang. Netranya melirik Neni. Pria itu menggeleng, gadis itu akan mati berdiri jika Bernhard memaksakan diri menikahinya.
"Ibuku pasti punya seribu cara membunuh perlahan gadis itu jika kunikahi," keluhnya.
Hasan menepuk bahu sahabatnya. Kini semua larut dalam pesta kelulusan Manya.
"Mama ... atuh bunya peulpembahan puntut Mama!' sahut Bhizar tiba-tiba ke tengah ruangan.
"Mama tuh yan syantit ...!" Bhizar membaca puisi karya dia sendiri.
"Entaulah pudaan hatituh!" lanjutnya.
"Beulcayalah ... panya dilitu yan palin meunelti ... tedelisahan jiwamu tasyih ..." Bhizar malah menyanyikan lagu dari diva Indonesia.
"Pan alti lasa teusewamu ... tasih yatin lah ... banya atuh yan palin bebahami ... pesal alti peujujulan dili ... pindah banupalimu tasih ... peulcayalah ....!"
Bhizar menyanyikan lagu itu hingga habis. Manya menitik air mata haru. Para bayi lain juga ingin mempersembahkan lagu untuk ibu mereka. Seven A sudah belajar melalu kanal musik di ponsel milik para suster.
"Lita atan beulpanyitan ladhu puntut mama dan papa yayah!"
"Mama ... atuh pinta mama ... judha pinta Papa yayah ... pinta Popa pan Moma judha!' Lika menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.
Manya terkikik mendengarnya. Jovan juga senang mendengar lagu ciptaan putrinya itu.
Malam telah larut. Semua anak sudah tidur begitu juga kedua orang tua Manya dan Jovan.
Kini sepasang suami-istri itu sedang memadu kasih di atas ranjang. Jovan memuja istrinya, ia ingin sekali memiliki keturunan dari wanita itu.
"Sayang, apa kau tak ingin punya anak lagi?" tanyanya.
"Tentu aku mau sayang. Tapi tunggu anak-anak tiga tahun ya, ini bekas operasi Caesar ku masih terasa loh!" pinta Manya.
"Baiklah sayang," ujar pria itu lalu melabuhkan ciuman di bibir sang istri.
Sedang di tempat lain. Bernhard duduk termenung di balkonnya. Joe benar-benar mengatakan keinginannya untuk menjodohkan sang keponakan dengan dirinya.
"Pokoknya Mami nggak mau tau. Kau harus menikah dengan Lana!" tekan sang ibu.
"Ma .. tapi Lana bukan gadis baik-baik!" sahut Bernhard.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau pria baik-baik?" tanya sang ibu berbalik menyudutkan putranya.
"Kau lebih baik menikah dengan Lana dibanding meniduri kekasih model mu itu!' sahut sang ibu sarkas.
Bernhard diam, kata-kata salah satu sahabatnya terbukti. Pria bajingan macam mereka tak mungkin memiliki istri dari gadis baik-baik.
"Baik lah Mi, aku menerimanya," tukas pria itu pada akhirnya.
"Baik sayang ... Mami suka dengan keputusanmu, besok kau temui gadis itu dan ajaklah berkencan. Ingat ... jangan membuat Mami malu!" peringat sang ibu.
Bernhard menatap langit. Wajah Neni makin buram dalam pandangannya. Ia tak mungkin menggapai gadis berhati lembut itu.
"Mungkin aku memang bukan jodohmu," gumam pria itu pasrah.
bersambung.
wah ... Bernhard melow.
next?