THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
TAMAN SAFARI



Perjalanan yang tak begitu macet, karena memang bukan hari liburnya panjang. Membuat mereka cepat sampai.


Bus mulai masuk gerbang. Semua dihitung dan bayar biaya masuk. Para batita sudah bersorak antusias.


Bus bergerak perlahan. Bima, Hasan, Lektor, dan para suster yang memangku bayi mulai bersuara setiap ditanya oleh para bayi.


"Lihat Baby, itu jerapah!' tunjuk Lektor pada Laina dan Abraham. Mereka yang duduk di sebelah langsung bergerak ingin melihat hewan itu.


"Woh ... lehena panjan Pom!' serunya.


"Iya ... yang lehernya panjang itu namanya hewan jerapah," sahut Lektor.


"Ini Zebra!" tunjuk Bima.


Semua anak langsung takjub dengan warna binatang itu yang tergolong unik.


"Walnana tayat yan lada pi palan ipu ya, Pom!" sahut Abi.


"Iya, namanya juga sama, zebra tapi ditambah cross, jadi Zebra cross," jawab Bima.


"Pa'a pita pisa beumblan calan pi latas wewan?" tanya Bhizar.


"Tidak Baby, kita hanya mengambil istilahnya aja, tapi hewan itu tidak untuk menyeberang jalan," jelas Bima.


Para batita mengangguk tanda mengerti. Lalu hewan-hewan lain pun terlihat di sana, seperti kuda nil, buaya dan lain sebagainya.


"Mohon tutup kaca ya, sebentar lagi kita masuk ke kandang hewan buas," ujar Ramaputra.


"Wewan puas ipu pa'a Popa?" tanya Lika dengan mata bulatnya.


"Hewan buas itu hewan pemakan daging dan bisa melukai manusia, Baby," jawab Ramaputra.


"Ih ... syeuleum!" seru semuanya takut.


"Wah ... itu macan jalan di depan bus kita!" seru sopir.


Semua langsung membuat video untuk mengabadikan pengalaman ini.


"Itu wewan pa'a banana eh namana Pom Pasan?" tanya Agil.


"Itu macan atau harimau," jawab Hasan.


"Halimau pa'a Pom?" tanya Agil ingin tau.


"Harimau apa?" Hasan mengerutkan kening.


"Biya padhi Pom pilan talo ipu pinatan halimau ... halimau pa'a?" tanya Agil mulai kesal.


Hasan sedikit mencerna perkataan bayi cantik itu. Perlahan bus sudah bisa berjalan normal. Harimau yang menghalanginya sudah pindah jalur.


"Itu si raja rimba!" sahut Gerard menunjuk Singa yang duduk bersantai.


"Laja?" tanya Abi kini. "Bahtotana Pana?"


"Itu hanya istilah baby, bukan benar raja dalam arti sebenarnya," jawab Gerard gemas.


Denna dan Lana terkekeh, Lika yang ada dipangkunya asik memandangi para binatang yang mereka lewati, hingga batita cantik itu memekik.


"Weeii ... janan didit pemanmu beuldili!"


Semua menoleh, ternyata ada harimau tengah kawin dengan pasangannya.


"Janan pinaitin ... hiks ... hiks!" Lika sedih melihat hewan itu menunggangi binatang lain.


"Pom ipu wewan ladhi napain tot deulatanna baneh?"


"Eh ... liat sebelah sini deh ... itu ada anak macan tutul loh!" seru Manya mengalihkan pandangan anak-anak.


"Bana Mama?" tanya Bhizar antusias.


Hewan dengan kulit eksentrik itu tengah mengaum hingga terdengar suaranya sampai salam mobil.


"Wah ... suala pacan putul!" seru semua anak kagum.


"Popa ... dajahna bana?" tanya Laina.


"Tot pali padhi pita eundat pihat?" lanjutnya.


"Oh kalau hewan itu biasanya ada di dalam sana tengah mengadakan atraksi," jawab Abraham.


"Patatlatsi pa'a?" tanya Abraham kecil.


"Atraksi itu seperti menggelar pertunjukan. Seperti kalian nyanyi atau berdrama seperti kemarin," jawab Abraham sambil terkekeh.


"Oh ... beudithu!" sahut semua kompak.


Akhirnya gerbang terakhir ditutup. Mereka masuk kawasan pusat perbelanjaan dan antraksi hewan lainnya. Mereka semua turun. Para batita digendong kanguru dengan menghadap depan. Agar mereka bisa berinteraksi dengan alam dan juga semua orang.


Mereka kembali membeli karcis masuk dan mendatangi hewan-hewan yang sedang melakukan pertunjukan di sana.


"Hei ... janan naitin dajahna ... hiks ... hiks!" Lika lagi-lagi menangis melihat hewan besar itu ditunggangi.


"Tan peulat ipu ... hiks!" lanjutnya.


"Mereka besar Baby, jadi nggak akan berat membawa manusia," ujar Bernhard.


"Pom pawu pali bana? Tan wewan eundat pisa pilan talo meuleta pebeulatan?!' protesnya.


"Baby mau naik gajah?" tawar Manya pada bayi lainnya.


"Eundat bawu Mama ... tasihan!" tolak mereka kompak.


'Bawu elus!" pinta Agil.


Satu gajah datang ketika Bima mendekat. Tangan mungil Agil menjulur hendak mengelus kepala bintang besar itu. Gajah seakan mengerti dan menundukkan kepalanya.


"Tamu pait-bait laja ya ... pehat peulus ... puatu hali pila lada teusempatan ... tamu lali te hutan dan janan teumbali pi sini!" ujarnya.


Agil menyorongkan kepala kecilnya dan mengecup kening gajah. Tampak air mata mengalir dari sudut mata gajah.


"Yan sabal ya dajah ... hiks ... hiks ...!' isak Agil.


Gajah dipanggil pawangnya. Agil, Lika dan Laina menangis dan melambaikan tangan pada gajah itu.


"Pye ... pye ... dajah ... hiks!"


Aksi kasih sayang mereka pada gajah menjadi sorotan semua pengunjung, bahkan ada yang mengabadikannya dalam satu video, bahkan foto-foto menakjubkan tercipta ketika Agil mengelus gajah dan mencium keningnya.


Setelah melihat atraksi gajah. Mereka masuk ke kandang burung. Lagi-lagi Agil, Lika dan Laina menangis hingga membuat saudara laki-lakinya kesal.


'Pudah syih ... janan pitanisin ... meuleta padhi syedih woh!"


'Biya ... bastina yan nulusin wewan-wewan padhi judha eundat batalan dalat pama jahat!" sahut Syah membenarkan.


"Popa ipu wewan pa'a?" tanya Abi menunjuk satu burung berekor mekar.


"Itu namanya burung merak, Baby," jawab Ramaputra.


"Buluna badhus setali ...!" puji Abi.


"Talo ipu?" tunjuknya pada burung yang lain.


Semua pertanyaan batita terjawab. Mereka kembali berfoto pada hewan-hewan yang telah dilatih itu. Semua anak tak berhenti bertanya dan bahkan protes pada pelatih hewan tersebut.


"Teunapa ditasalin puluna!?"


"Maaf ya dek ... kan burungnya nakal, ee'in kepala couch," jawab pria itu.


"Ipu pudah padhi potepensi talo beuldaul pama wewan!" celetuk Abraham kesal.


"Anda bisa saya laporkan loh Mas, ke manager di sini kalau anda kasar dengan hewan!" ancam Jovan dengan seringai menakutkan.


Setelah meminta maaf bahkan tak perlu dilaporkan oleh Jovan. Manager langsung memanggil pria kasar itu lalu menggantinya dengan yang lain.


Setelah kawasan burung. Mereka ke kawasan primata. Semua anak masih antusias bertanya hewan-hewan yang mereka lihat. Lalu berakhir di kandang macan dan harimau. Anak-anak juga tak takut untuk berfoto dengan hewan buas yang sudah dijinakkan itu.


Bahkan satu kumbang hitam mau dipeluk erat oleh Agil yang lagi-lagi meneteskan air matanya karena leher binatang itu dirantai.


"Tamu yan tuat ya, pumban ... hiks!"


Hewan itu seperti mengerti hanya mengaum pelan di bahu batita cantik itu. Foto-foto viral Agil lagi-lagi trending. Batita cantik itu mencium kening si macan kumbang dan binatang itu memejamkan mata seperti meresapi kasih sayang yang diberikan seorang anak manusia padanya.


Waktu pun berlalu mereka meninggalkan hewan-hewan itu. Agil melambaikan tangan pada semua hewan.


"Pampai bunpa ladhi bi hutan ya!'


bersambung.


Ih ... Agil πŸ₯ΊπŸ˜ othor terharu.


next?