
Karena kerjasama perusahaan Ramaputra dan milik Beatrice. Pria itu mau tak mau harus sering terlibat rapat, walau ada beberapa kolega yang hadir dan ikut proyek. Tetapi perusahaan milik Beatrice yang baru bergabung beralasan ingin belajar banyak hingga mendekati pria itu.
"Maaf Nona, menjauh lah sedikit, aku mual dengan wangi parfummu!" suruh pria itu.
"Tapi wanginya enak Tuan Artha!" sahut salah satu kolega.
"Bertanyalah kau pada Tuan Bondan, beliau juga pebisnis handal!" tunjuk Ramaputra.
Bondan tak tampan, pria itu berkulit gelap dan bertubuh tambun. Bukan tipe Beatrice sama sekali. Walau Bondan masih lajang dan tak kalah kaya dengan Ramaputra.
"Tapi Tuan, anda lebih senior dari kami. Tentu ilmu anda lebih banyak dari Tuan Bondan," sahut Beatrice pintar menolak.
"Tapi di dekat anda saya mau muntah!" teriak Ramaputra langsung mual. "Hooek!"
"Tolong Nona!" pinta Rudi menyela tubuh wanita itu mendekat dengan tuannya.
"Bondan bawa dia pergi. Sebelum aku mencoret perusahaannya dari list tender!" titah Ramaputra kesal.
Pria gempal itu membawa Beatrice keluar ruangan dan meninggalkan Rani sang sekretaris di sana.
"Tapi saya juga punya omset di sini!" seru Beatrice meronta.
"Nona hentikan usahamu jika ingin menggoda Tuan Artha!" tekan Bondan. "Karena saya juga tidak akan membiarkannya!"
"Apa hak anda melarang saya. Saya tidak menggoda, tapi saya ...."
"Jangan mengelak Nona!" potong Bondan dengan seringai sinis.
Pandangan merendahkan ia layangkan ke arah sang gadis, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Beatrice sangat sempurna dengan lekuk tubuh yang indah, juga ditunjang wajah yang cantik. Terlebih busana yang ia pakai begitu ketat dan menggoda semua mata memandang.
"Nona, apa kau tau aturan berpakaian para pebisnis?" tanya pria itu sambil melipat tangan di dada.
"Aku punya hak untuk berpakaian apa saja!" sahut Beatrice angkuh.
Bondan menggeleng dengan senyum merendahkan gadis cantik itu.
"Baca lagi Nona. Jangan termakan dengan film Hollywood yang menggambarkan semua pebisnis itu memakai baju seksi seperti dirimu. Kami memiliki standar SOP sendiri, dari pakaian dan attitude!" tekan pria itu.
"Bajumu ini hampir sama dengan gadis bar milik Madam Rosa di pusat kota!" lanjutnya.
Beatrice terdiam, memang ia tak pernah membaca tentang standar SOP pebisnis yang ternyata memiliki batasan dan juga aturan seperti ini.
Wanita itu menunduk, melihat baju yang ia kenakan selama ini. Wanita itu hanya memakai apa yang ia ingin pakai. Tak peduli dengan pandangan orang.
"Itu kaca besar Nona, berkacalah! Lalu kau tanyakan apa kau seorang pebisnis atau seorang ...," Bondan menghentikan ucapannya.
"Kau nilai sendiri," lanjutnya berbisik.
Bondan meninggalkan Beatrice yang termenung. Tak butuh waktu lama Rina dan lainnya keluar, Beatrice tidak ada di tempat. Rina bergegas mencari atasannya itu..
"Nona, anda di mana?" tanyanya dalam sambungan telepon.
"Aku ada di taman Rin!" jawab Beatrice di ujung telepon.
"Saya ke sana ya!"
Tak ada jawaban, karena Beatrice sudah mematikan sambungan teleponnya. Rina bergegas mendatangi atasannya.
"Nona!" panggilnya.
Beatrice sibuk mengusap matanya yang basah. Wanita itu sesenggukan setelah habis dihina sedemikian rupa oleh Bondan.
"Aku ... apa aku seperti pelacur?" tanyanya sambil terisak.
"Nona bukan pelacur!" tekan Rina tak terima atasannya dikatai sebagai wanita rendah.
"Hiks ... hiks ... hiks ...!"
Rina memeluk bossnya, keduanya menangis. Rina menarik Beatrice dan berlalu dari taman itu. Keduanya, menuju ruangan mereka, Beatrice harus bekerja fokus.
"Kita harus mencapai target Nona," ujar Rina menyemangati atasannya.
"Tapi aku menyukai Tuan Artha," ujar Beatrice.
"Nona, beliau adalah pria beristri. Jika Nona lupa jika Nyonya Amertha Franklin adalah seorang milyuner, cantik dan kaya raya," jelas Rina.
Beatrice menangis keras, ia kalah telak dengan nama Amertha Franklin. Wanita dari pasangan milyuner di Eropa.
"Ayo Nona ... kita harus bekerja, sebelum Tuan Artha mendepak kita," ajak Rina lagi menyusutkan air matanya.
Kini keduanya kembali bekerja. Beberapa berkas sudah mereka selesaikan. Rina memakai celana panjang untuk pergi melihat konstruksi bangunan. Soal pekerjaan, Rina dan Beatrice sangat cekatan dan bisa diandalkan.
Waktunya pulang tiba. semua pun pergi ke mobilnya masing-masing. Beatrice menatap pria yang ia kagumi dari dulu.
Pria itu sama sekali tak menggubris panggilan wanita cantik itu.
"Aku mencintaimu!' pekik Beatrice dalam hati.
Ramaputra masuk mobilnya, seiring air mata Beatrice. Rina memapah atasannya masuk ke dalam mobil. Sampai rumah Manya, Ramaputra memanggil istrinya.
"Sayang!"
"Popa!" pekik Reece dan triple A.
"Astaga, kalian kenapa belum bobo?" tanya pria itu kaget.
Amertha mengambil tas dan jas suaminya. Pria itu dikintili empat bayi montok. Ketika duduk di sofa mereka juga ikut duduk di sisi kanan dan kiri Ramaputra.
"Popa sape?" tanya Aqila perhatian.
"Atila pizitin ya," ujarnya lalu memijat tangan pria itu.
"Popa putuh tasyih sayan?" tanya Reece asal.
Ramaputra sampai berdecak mendengar pertanyaan itu.
"Pial Lees syium ya!" lanjut bayi itu lalu mencium ayahnya.
"Ini minumnya Pa," ujar Amertha meletakkan teh hangat untuk suaminya.
"Terima kasih sayang. Kalian manis sekali," ujarnya mengecup semua cucu dan putranya.
"Sekarang, kalian bobo ya," lanjutnya memberi perintah.
"Oteh Popa, pelamat balam!" sahut Adelard.
Reece dan Aqila bingung. Keduanya menatap dua saudaranya yang lain. Sepertinya bukan begitu perjanjiannya. Ramaputra menangkap hal itu, ia jadi gemas sendiri. Amertha duduk di sisi suaminya.
"Kok diam, kan Popa suruh bobo!' sahut wanita itu.
"Imi pidat pisa!" sahut Reece menggeleng.
"Pa'a?" tanya Adelard dan Aidan bingung.
"Pasa talian lupa syih!" sahut Aqila sengit.
"Talian butan wowan puwa yan pitun tan?" lanjutnya kesal.
Aidan dan Adelard berpikir lama. Manya keluar kamar karena tak melihat triple A dan adiknya di kamar.
"Baby?" panggilnya.
"Peubental Mama, tami sedan meninat pesuatu!"
Aidan menghentikan ibunya dengan kode merentangkan telapak tangan menandakan untuk Manya berhenti. Manya gemas melihat tingkah salah satu putranya yang memang lebih diluar logikanya.
"Oh ... pita peundat mendoda Popa adal bawu peumbelitan pita bomil plistit tan?" serunya mengingat.
"Biya ipu ... bomil dolef!" sahut Aidan juga baru mengingat.
"Ah .. pita dadal peundapat tan bomil ipu!" decak Reece kecewa.
"Penata Pisa beudithu?" tanya Adelard.
"Peustina pita padhi halus peubih meundoda Popa pial teulgiyul," jawab Reece.
"Seulahtan saza pama Atila ... pan piya beulempuan!" sahut Aidan menunjuk saudaranya.
"Ah ... peunal seutali ... Atila ... Pana ... tau doda Popa pial peuli bomil pistlit!" titah Reece bossy.
"Popaa ...!"
Aqila menggoyangkan tubuhnya dan mengedip-ngedipkan matanya. Ramaputra tertawa melihat cucu perempuan yang menggodanya.
"Popa tan lolan bait ... Atila penen bomil pistlit," rayunya lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Siapa yang tak tergoda jika sudah dirayu oleh bayi cantik seperti Aqila. Pria itu langsung mengangguk setuju dan akan membelikan mereka mobil listrik.
"Matasih Popa!" pekik keempat bayi itu langsung mencium pria itu.
Bersambung.
Yaah ... kalo Aqila yang goda, siapa yang bisa tahan.
next?