
Sore menjelang. Seven A sudah bangun dan juga berpakaian rapi dan wangi. Ketujuh bayi itu benar-benar tak mau mendekati Leticia, padahal gadis itu sudah menggodanya dengan coklat.
"Ayo, sini Babies ... aunty bawa coklat nih!" rayunya.
"Eundat bawu .... panti ... pita eundat suta soslat!" tolak Bhizar.
Padahal makanan manis itu sangat mereka sukai. Namun semua menolak pemberian gadis cantik itu.
"Ambil babies. Kasihan, aunty bawanya dari jauh loh," bujuk Amertha.
"BI pulsematet pini judha lada Moma ... eundat busah pauh-pauh!" sahut Abraham.
"Baby, nggak boleh ngomong gitu!" tegur Manya.
"Hormati pemberian orang lain ya," lanjutnya memberi nasihat.
"Mama, soslatnya beunsulidatan!" sahut Abraham yakin.
"Babies!"
"Ck ... nggak sopan, yang ngajari siapa begitu!" gerutu Leticia.
Leticia memasukkan kembali coklat itu dalam tasnya. Ia akan membuangnya nanti di tempat sampah. Seven A tak peduli, tujuh anak itu sudah mencurigai gadis yang dari tadi menatap ayahnya.
"Atuh eundat syuta syama sewet ipu," bisik Lika pada Laina.
"Atuh judha. Batana lilit-lilit papa yayah," sahut Alaina.
"Atuh judha pihat. Seupelti batapan Bustel Penna te Papa yayah Lelat," sahut Agil ikut memberi pendapat.
"Biya ... Atun judha eundat suta!" bisik Laina.
Semua perusuh menatap Leticia dengan pandangan permusuhan. Gadis itu sangat kesal dan ingin sekali memukul tujuh bayi nakal tersebut.
"Ck ... andai aku punya kesempatan. Aku pasti akan ...."
Jovan tengah berdiri sendirian. Gadis itu memutar otak, agar semua tau jika ia dan pria itu memiliki hubungan. Ia mendekati Jovan dan langsung memeluknya.
Jovan terkejut begitu juga semuanya. Amertha dan Ramaputra apa lagi. Putra yang telah memiliki anak kembar tujuh itu geram bukan main.
"Lepaskan Leticia!" desisnya dengan muka mengelam.
Untuk kali ini gadis itu mendapat pria yang ia cintai begitu marah. Amertha dan Ramaputra bingung dengan apa yang terjadi.
"Leticia!" panggil sang ayah malu melihat kelakuan putrinya.
"D—dad," sahutnya.
"Kenapa kau memeluk pria yang bukan suamimu?" desis pria itu.
"Aku yang mestinya menjadi istri Jovan daddy bukan dia!"
Ingin sekali gadis itu berteriak mengatakan hal itu. Namun, mulutnya kaku, ia seperti orang kehilangan jiwanya.
"Leticia!" panggil Ramaputra lebih keras lagi.
Gadis itu tersentak. Ia seperti orang linglung. Amertha mendekati putrinya dan langsung memeluknya.
"Sayang ... kenapa ada apa?" tanyanya lirih.
"Mom ... pulang ... aku mau pulang ... hiks ... hiks!" pinta gadis itu terisak.
Jovan ingin sekali membongkar kejahatan mantan kekasihnya itu di depan kedua mertuanya. Ingin sekali ia menyuruh Praja melempar dokumen keterlibatan Leticia dalam pembunuhan dirinya dua setengah tahun lalu.
"Maaf kan saya, sepertinya putri kami tengah berhalusinasi," ujar Amertha.
"Bawa Leti pulang mom," ujar Manya pada ibunya.
Amertha mengucap terima kasih atas pengertian putri kandungnya.
Amertha dan Ramaputra membawa pulang Leticia. Keduanya ingin membawanya ke psikiater jika memang diperlukan.
Semua yang di sana bernapas lega. Eddie dan Clara yang juga mengetahui hubungan Jovan dan Leticia ikut lega.
"Kau hebat tak menamparnya dengan dokumen yang telah kau siapkan, son!" ujar Eddie salut.
"Aku hanya memandang mertuaku, Uncle," jawab Jovan tenang.
Pria itu mendekati istrinya. Manya mengelus lengan sang suami dan menatapnya penuh kekaguman.
"Aku bangga padamu sayang," ujarnya senang.
Jovan memeluk istrinya. Akhirnya semua pulang ke mansion mereka masing-masing. Tadinya Gerrard ingin membawa Denna bersamanya, tapi langsung dilarang oleh Manya dan juga Clara.
Sedang di tempat lain. Leticia langsung menuju kamar dan menguncinya. Amertha yang begitu khawatir ingin menenangkan sang putri langsung ditahan oleh suaminya.
"Biarkan dia mom!"
"Tapi ... putri kita,"
"Sudah biarkan saja. Aku malah mencurigai sesuatu di sini," ujar pria itu.
"Maksudmu, sesuatu apa?"
"Tadi ketika Leticia memeluk Jovan. Putri kita seperti sengaja, aku melihat menantu kita itu begitu marah dan ingin mengungkap sesuatu," jawabnya panjang lebar.
"Apa, kamu lihat apa sayang. Jangan membuatku tambah penasaran?" ujar Amertha gusar.
"Aku akan cari tau sendiri. Aku yakin Jovan dan lainnya menyembunyikan sesuatu di sini," ucap pria itu.
Ramaputra pamit untuk menemui kembali menantunya dan bertanya perihal sebenarnya terjadi. Belum ia melangkah, tiba-tiba ....
"Daddy!" panggil Leticia.
Pria itu menatap tajam anak gadisnya. Ia tau jika putrinya itu ingin mencegahnya bertanya lebih jauh.
"Kami pernah memiliki hubungan spesial,' sahut Leticia jujur.
"Apa maksudmu?" tanya Amertha.
"Hubungan spesial itu, kekasih?" lanjutnya.
Leticia mengangguk membenarkan. Tentu saja Amertha tak percaya, jika memang berpacaran dengan Jovan. Tak mungkin anak gadisnya berlaku kurang ajar.
"Lalu foto-foto itu? Siapa mereka? Kau berselingkuh dari Jovan?"
Amertha mengingat foto mesum putrinya yang dikirim oleh orang tak dikenal. Leticia terdiam ia melupakan masalah foto tersebut.
"Bisakah kita lupakan itu. Anggap saja tadi aku keterlaluan dan memeluk mantan pacarku," ujarnya beralasan.
"Please," pintanya memohon.
"Aku tidak tau, Leticia ... kau berkali-kali membohongi kami. Aku sedikit lelah menghadapi mu!' tekan Ramaputra.
"Aku mohon Daddy ... please untu satu kali ini. Percaya lah padaku!' pinta gadis itu memohon.
"Please daddy," ujarnya lagi kali ini ia bersimpuh.
"Sayang," Amertha langsung memegang bahu putrinya.
"Sayang, aku mohon. Percaya lah sekali lagi pada putri kita," pinta Amertha pada sang suami.
Ramaputra akhirnya mengangguk, walau ia masih begitu penasaran dan ingin tau kejadian sebenarnya.
"Kalau begitu, pulanglah ke orang tuamu, Leti. Tadi, ibumu sudah meneleponku bertanya kapan aku membolehkanmu pulang," ujar Ramaputra.
Leticia mengangguk. Ia akan menuruti laki-laki yang ia hormati itu. Ia sangat menyesal kembali menoreh arang di wajah pria. Terlebih pada sang ibu susu yang ternyata masih membelanya.
"Besok aku akan mengantarkanmu ke bandara," ujar Ramaputra lalu berlalu dari sana.
Leticia menangis pilu, Amertha memeluk dan menenangkannya.
"Sayang, dengar. Orang tua marah bukan berarti dia membencimu, mereka begitu karena terlalu sayang padamu," jelasnya.
Leticia merasa bersalah. Ia benar-benar menyesal akan semuanya. Gadis itu harus menerima semua kesalahannya.
Keesokan harinya Ramaputra benar-benar mengantar putrinya ke bandara. Ia memastikan Leticia naik ke pesawat. Tak ada peluk cium dan juga lambaian tangan. Leticia pergi dengan derai air mata.
Rudi yang mengantarkan tuannya hanya menatap sedih gadis pujaannya yang begitu menyesali perbuatannya.
"Jadilah sosok yang lebih baik nona. Aku yakin, kau akan bahagia di manapun kau berada," doanya penuh harap.
Leticia menangis di pesawat. Ia meyakini jika kemarin adalah hari terakhirnya mengunjungi kedua orang tua yang merawatnya dari bayi.
"Andai aku tak pernah ditukar. Pasti aku tak mengalami kejadian yang menyakitkan seperti ini ... hiks!" isaknya pilu.
Pesawat pun terbang landas. Ramaputra baru bernapas lega. Ia sudah meminta pada Irham, ayah kandung dari Leticia memberikan pekerjaan yang banyak agar keseharian gadis itu dipenuhi kegiatan.
"Kau pasti sukses, nak!"
bersambung.
untung aja kamu Leti ... jika maksa ... auto kamu masuk bui.
next?