THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SEBUAH RENCANA



"Tuan akan ada gala dinner nanti malam, apa Tuan akan hadir?" tanya Larissa.


"Aku akan datang bersama istriku. Kau boleh pulang Larissa!" jawab pria itu sekaligus meminta sekretarisnya untuk pulang.


"Tapi di sana pasti Tuan membutuhkan saya. Sebagai sekretaris, saya harus ada di sisi Tuan!" sahut Larissa setengah memaksa.


"Tidak perlu, ada Praja yang mengatasi semuanya," jawab Jovan santai.


"Tuan Praja seorang CEO tak mungkin menjadi sekretaris anda!" sahut gadis itu setengah marah.


"Larissa!" sentak Jovan.


Gadis itu terdiam, pria tampan yang sudah menjadi bahan fantasinya itu berdiri dan menatap tajam dirinya. Gadis itu menelan saliva kasar.


"Jika kau masih mau bekerja ...," Jovan menghentikan ucapannya. "Pulanglah!"


Larissa gemetaran, bukan begini mestinya, ia telah membaca banyak novel dari yang memakai koin atau gratis. Semua CEO pasti jatuh ke pelukan sekretarisnya, tapi Jovan sepertinya berbeda dari CEO lainnya.


"Pergi!" bentak Jovan mulai marah.


Larissa berusaha menahan diri, gadis itu yakin dengan kisah yang selalu dibacanya. Semua CEO akan luluh melihat seorang gadis menangis pilu dan terlihat lemah. Mereka akan memaksa dan menghamili mereka walau jahat pada awalnya, namun berakhir bucin dan cinta mati dengan gadis yang selalu bertahan dalam tekanan sang CEO.


"Daniel!" pekiknya.


Si empunya nama datang, pria itu tadi tengah memberikan berkas pada Praja.


"Tuan!'


"Aku memecat anak ini. Usir dia dari sini!" titah Jovan.


"Baik Tuan!" sahut Daniel langsung.


Larissa tertegun, bukan seperti ini pula kisah-kisah yang ia baca.


"Ah ... mestinya aku yang mengundurkan diri!" ujarnya dalam hati.


"Tidak perlu memecatku Tuan. Aku mengundurkan diri!" sahut Larissa jumawa.


"Bagus kalau begitu!" sahut Jovan.


"Daniel, black list dia seumur hidup!" lanjutnya dengan tatapan sadis.


"Anda tidak bisa semena-mena Tuan!" sergah Larissa marah.


"Seret dia Daniel!" bentak Jovan.


Daniel segera menyeret gadis itu. Larissa berteriak histeris. Tak ada yang menolongnya. Gadis itu lupa, jika ia hidup di dunia nyata bukan novel yang mempertontonkan kelemahan wanita.


Larissa menelepon pria yang telah membayar mahal dirinya. Gadis itu mengatakan jika dirinya telah dipecat dan di-blacklist.


"Kau sudah kubayar mahal, Larissa. Jika kau mau bekerja, pergi ke luar negeri!" ujar suara itu dari sambungan telepon.


Larissa jalan tertunduk. Di ruangan kerjanya, Jovan mengurut pelipisnya. Pria itu tak habis pikir dengan sekretaris yang baru bekerja dua minggu dengannya.


"Tuan, Larissa menelepon Tuan Surya!' lapor Daniel.


"Surya?" Daniel mengangguk.


"Apa pria itu yang meminta Larissa berbuat gila seperti tadi?" tanya Jovan.


"Tuan, saya telah menyelidiki latar belakang Larissa. Dia adalah seorang wanita yang memang dibayar untuk mengganggu rumah tangga seseorang!" lapor Daniel lagi.


'Surya!" geram Jovan lalu meremas ujung meja hingga berbunyi. Kreek!


Daniel diam mematung, ia belum begitu tau perihal atasannya itu. Tapi menurut info yang ia dapatkan. Jovan Dinata dijuluki half monster.


"Daniel!" panggilnya.


"Saya Tuan!'


"Kau ingin melihat sebuah kehancuran seseorang?" ajaknya.


"Panggil Tuan Praja!" titahnya kemudian.


"Praj, cari sistem perusahaan Surya. Kita kuliti mereka!" titah Jovan dengan seringai sadis.


Daniel dan Raul berdiri di belakang tuan mereka. Beberapa baris kata tak terbaca oleh keduanya karena begitu cepat. Deretan data terpampang, seringai sadis terbit di wajah Jovan. Hanya satu kali ketuk saja, data pengemplangan pajak yang dilakukan sebuah perusahaan terbongkar. Bahkan beberapa oknum terlibat di sana. Hanya butuh beberapa menit saja, beritanya sudah tersebar.


Beberapa kompetitor proyek langsung menarik dana mereka, begitu juga perusahaan Jovan.


"Sebentar lagi ... kita lihat bagaimana Surya akan tertunduk dengan baju khusus itu!" sahut Jovan masih dengan kilatan sadis.


"Saudara Perusahaan besar milik Tuan Surya Hartadi dinyatakan diaudit oleh Bank. Kepengurusan keuangannya akan diambil alih. Ada dugaan pengemplangan pajak yang dilakukan dan melibatkan banyak oknum!"


Sebuah berita kini tampil di televisi. Surya ditangkap dengan borgol di tangannya. Pria itu menyembunyikan borgol itu dengan jasnya. Lima pengacara langsung menjadi penasihat hukumnya.


"Selesai!" sahut Jovan menepuk tangan seakan menepis debu.


Daniel dan Raul hanya tercenung dengan apa yang mereka lihat barusan. Jika orang akan melakukan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun penyelidikan. Tapi, tadi baru saja mereka melihat hanya dalam hitungan jam. Sebuah bukti kejahatan langsung terungkap.


"Tak salah kita menanam sistem BraveSmart ponsel milik Tuan Darren di PC kita!" sahut Praja.


"Ya, berkat kegeniusan adik ipar Tuan Darren yakni Nyonya Azizah yang menciptakan sistem gendong hingga mampu mengembangkan pelacakan data secepat kilat," sahut Jovan bergidik ngeri dengan kegeniusan istri pengusaha yang juga genius itu.


"Semua keturunannya genius Tuan," sahut Praja.


Jovan mengangguk setuju. Tak hanya Dougher Young yang terkenal dengan otak encernya. Keturunan Triatmodjo, Pratama, Starlight, Sanz, Dewangga dan Budiman Samudera juga terkenal dengan kegeniusannya.


"Kau ingat ketika seven A mampu memecahkan kata sandi milik Tuan Lavinski Roun, padahal mereka belum bisa membaca?" ingat Praja.


"Ah ... iya, tentu aku ingat. Anak-anak itu genius seperti ibunya," sahut Jovan.


Mereka pulang ke rumah. Kedua pria itu disambut riuh anak-anak. Jovan menciumi Tita, Maiz dan Pram.


"Kalian gembul sekali!" ujarnya gemas.


Usai makan malam, Liam dibawa pulang oleh Gerard, pria itu telah membeli sebuah rumah sederhana yang dekat dengan mansion ayah dan ibu mereka.


"Ayo ke rumahku, menginap!" ajaknya.


"Besok kami datang dan menginap!" sahut Jovan. "Aku sedikit lelah."


Gerard akhirnya mengangguk. Ia juga membawa triple A dan Reece. Para suster yang membawa kelima bocah yang hendak sekolah itu.


"Babies," rengek Manya.


"Kau masih punya tujuh. Jangan pelit!" ketus Gerard kesal.


Manya cemberut, namun kelima anak itu malah senang diajak menginap di tempat lain. Aqila melambaikan tangannya pada sang ibu.


"Dag ... dag ... Mama!"


Manya menangis melihat mobil itu pergi. Ingin sekali ia berteriak memanggil semua bayinya. Jovan menahan keinginan istrinya.


"Sayang ... jangan egois. Biar anak-anak kita juga tau rumah saudaranya!"


Manya diam, ia memang selalu egois jika perihal anak. Ia ingin semua anak ada di tangannya. Bahkan Maiz dan Tita juga sudah tidak mau bersama ibu mereka. Hanya Pram saja yang menempel pada Saskia, ibunya.


"Sayang ... kok aku pengen punya anak lagi ya?" ujar Manya mengelus perutnya.


"Sayang, usiamu sudah rawan untuk melahirkan," sahut Jovan mengingatkan.


Manya menghela napas panjang. Ia sudah membuka sterilnya, ia menghitung waktu suburnya. Hari ini adalah waktu yang tepat untuk program hamil.


"Sayang," panggil wanita itu lalu melepas jubah mandinya.


Jovan tentu terpesona dengan apa yang dipakai oleh istrinya. Tak butuh waktu lama, kini aktivitas keduanya membuat ranjang menderit.


Bersambung.


Tancap terus sampai jadi ...


next?