
Akibat usulan Manya untuk keringanan pada anak-anak kurang mampu langsung disambut para orang tua yang memang keberatan jika harus mengeluarkan uang sebegitu banyak. Akhirnya, anak-anak seperti Anton tidak dipungut biaya apapun dan biaya kurangnya akan ada dari pendonor tak dikenal menyumbang acara itu.
"Jadi Anton dan Nita nggak bayar?" tanya Lily salah satu teman sekelas mereka.
"Iya, kan kita hanya anak angkat, sekolah juga punya data semua anak yang benar-benar tidak mampu," jawab Anton.
"Gimana dengan anak yang tidak dipedulikan orang tuanya?" tanya Lily.
"Aku nggak tau," jawab Anton.
"Emang kamu udah serahin surat dari sekolah ke orang tua kamu?" Lily mengangguk.
"Papi dan Mami sibuk. Kemari aku serahin surat ke Mami. Mami taro aja itu surat di meja. Mau minta uangnya takut dimarahi," lanjutnya.
"Kemarin udah diingetin bibik yang suka antar jemput aku. Tapi Mami cuma iya-iya aja," jelasnya lagi.
""Apa aku nggak ikut pas acara sekolah itu yaa?" tanyanya meminta pendapat.
"Coba kamu bilang ke ibu guru, mungkin bisa dibantu," ujar Nita memberi saran.
"Seven A, kamu kemarin jadi jualan di pasar?" tanya Lily.
"Jadi," jawab Lika.
"Laku?"
"Lumayan sih, mungkin karena kita semua anak kecil. Tapi, pas dibantuin sama Pak Sidik. Barangnya baru ada yang beli," jawab Lika.
"Aku ikut kalian kerja dong. Aku jadi males minta-minta Mami aku. Kadang suka sepelein gitu," pinta Lily.
"Coba aja kamu minta dulu lagi. Ntar kalo emang Mami kamu masih abai. Baru deh kita bantu kamu, gimana?" saran Bhizar panjang lebar.
Lily mengangguk, ia akan kembali memberitahu perihal uang sumbangan itu. Kini mereka pun pulang dengan para wali yang menjemputnya.
Seven A kembali berjualan di pasar kali ini Manya ikut. Ada sekitar lima belas anak yang ikut berjualan.
"Yok dibeli ... dibeli ... dibeli!" teriak Nita mulai mempromosikan dagangannya.
Reece, Liam dan triple A yang sedang duduk di mobil bersama para suster ingin juga turun.
"Sustel ... atuh mau tulun!" pekik Reece.
Anak-anak berjualan di salah satu emperan toko di sebelahnya adalah kantor polisi. Jadi tak ada preman yang berani datang ke tempat itu. Terkadang yang membeli adalah para polisi atau tentara yang ingin membantu dagangan anak-anak.
"Selamat siang adik-adik!' sapa seorang polisi mendatangi mereka.
"Wah kalian kenapa tidak pulang dulu, makan siang sudah itu baru jualan?" tanya polisi lagi.
"Kami hanya sebentar saja Pak. Begitu lapar baru pulang," jawab Dika.
"Ini paket jualan apa?" tanya polisi.
"Paket jualan mandi seven A!" jawab Denta.
Polisi itu lalu membeli beberapa buah paket mandi. Setelah membayar polisi itu menghibahkannya pada para penyapu jalan dan tukang sampah yang lewat.
"Ini uangnya yang simpan siapa?" tanya Manya.
"Denta yang simpan Ma," jawab Abraham.
Tak sampai sepuluh menit paketan mereka tersisa dua. Seven A memilih untuk memberikannya secara cuma-cuma dua paket itu pada orang yang membutuhkan.
"Uangnya dihitung besok ya!" ujar Denta memasukkan uang dalam tasnya.
"Siap!" sahut semuanya.
Wali Denta datang, seorang wanita muda tersenyum melihat putranya yang dipercayai oleh semua teman-temannya. Manya sedikit malu, wanita itu tak memarahi Denta malah menyemangati putranya untuk terus berbisnis.
"Nanti Tante bantu untuk jualan di Internet ya," janji wanita itu.
"Makasih Tante!" seru semua anak senang.
Bahkan wanita itu membagikan makanan siap saji pada anak-anak dalam kotak. Nita dan lainnya yang jarang sekali makan-makanan itu tentu senang bukan main.
"Makasih Tante!"
"Sama-sama sayang!" balas wanita itu.
Denta pun masuk mobil. Mereka semua pamit, rata-rata rumahnya dekat dengan pasar itu. Anton dan Nita kembali ikut bersama seven A.
Sampai rumah, triple A, Reece dan Liam ngambek gara-gara mereka tidak diperbolehkan turun dari mobil tadi.
"Mama ... Lees tan mawu zualan judha!" sahut Reece kesal.
Balita itu melipat tangan di dada dengan mengerucutkan bibirnya. Begitu juga Liam dan triple A yang ikut kelakuan om mereka.
"Baby, kalo marah terus Mama nanti sedih loh," peringat Laina pada om kecilnya.
"Emang Om mau Mama sedih?" lanjutnya.
Reece menggeleng diikuti empat anak buahnya. Manya tersenyum, ia begitu haru melihat semua anak tidak ingin melihatnya sedih. Reece memeluk kakaknya begitu empat lainnya. Manya langsung luluh, ia mencium semua anak-anak.
"Sudah, sekarang kita mandi dulu ya baru makan kotak tadi," ujar Abraham.
"Lees totatna mana?' tanya Reece.
Manya menepuk dahi, ia lupa jika ada lima anak yang pasti akan marah lagi karena tidak mendapat kotak makanan.
"Nanti makan bersama ya," ujar Bhizar bijak.
Reece dan empat lainnya mengangguk. Usai mandi kini mereka memakan ayam goreng tepung yang terkenal itu.
"Mama buatin lagi ya," ujar Manya melihat jika ayam itu kurang.
Wanita itu segera menyuruh maid untuk membuat ayam tepung. Tak lama potongan ayam tepung terhidang. Mereka kembali makan, tak lama Jovan datang bersama Praja. Dua pria itu pulang makan siang.
"Bagaimana tadi jualannya sayang?" tanya Praja pada Bhizar.
"Laku semua Papa Praja!" jawab Bhizar antusias.
"Syukurlah, jadi apa mau jualan yang sama besok?" tanya Praja lagi.
"Kami ingin menghitung untung kami dulu, nanti baru pikirkan jualan apa yang kami tak perlu jualan jadi sistem titip," jawab Bhizar.
"Oh ... anak-anak Papa memang pintar-pintar!" puji Jovan senang.
"Papa atuh judha tasyih podal syih!" pinta Reece.
"Modal apa Baby?" tanya Jovan gemas.
"Mawu pisnis judha!" jawab balita montok itu.
"Mau bisnis apa!" kali ini Praja yang bertanya.
"Mawu pisnis paju!"
Praja dan Jovan hanya mengangguk saja. Kedua pria itu yakin jika lima balita itu hanya ikut-ikutan saja.
Malam tiba, Manya mencium semua anak yang terlelap. Banyak cerita yang bisa dipetik oleh wanita itu dari semua anak-anak hari ini terlebih dari seven A.
"Terima kasih sayang, Mama banyak belajar hari ini dari kalian," ujarnya.
"Memang apa lagi yang mereka lakukan hari ini?" tanya Jovan.
"Seperti biasa,"
Manya menceritakan kejadian hari ini. Tita dan Mai tak dititipkan padanya hari ini kedua ibu mereka membawa sang putri ke kantor dan mengganggu kerja ayah mereka masing-masing.
Sedang di rumah Lily, gadis kecil itu kembali memberitahu perihal surat permintaan sumbangan itu.
"Oh ... astaga, Mami lupa. Berapa yang diminta sekolahmu?' tanya wanita itu.
'Nggak tau Mi, ada di surat itu minimalnya," jawab Lily.
Sang ibu membacanya lalu memberikan uang itu pada sang putri. Lily hanya menatap uang itu.
"Mami nggak datang ke sekolah lagi?" cicitnya bertanya.
"Sayang ... Mami kan sibuk," jawab wanita itu lalu mengusap kepala sang putri meminta pengertian.
Lily akhirnya menerima uang itu. Ia menunduk dan meneteskan air mata. Ia kembali menatap sang ibu yang kembali fokus pada pekerjaannya.
"Ma ... kalo Lily mati ... apa Mama baru berhenti dengan pekerjaan Mama?" tanyanya sedih.
Bersambung.
Eh ... 🥲
next?