
"Mama, Bustel Penna eundat teulja pama tita ladhi ya?" tanya Lika.
"Iya Baby, Suster Denna sudah sama suaminya, jadi sekarang tidak lagi bekerja dengan kita," jawab Manya.
"Tlus lada yan dantiin eundat?"
"Ada, nanti suster Saskia ya," jawab Manya.
"Mama talo pemua bustel menitah, Yan teulja spasa ladhi?" tanya Abraham khawatir.
"Banyak suster di rumah sakit baby, jadi jangan khawatir ya!" sahut Manya lagi.
"Oteh Mama!"
Lalu tujuh bayi dua tahun setengah itu duduk berkumpul. Mereka membicarakan entah apa saja.
"Pijal, banti pamu bawu setolah pi mana?" tanya Laina.
"Ya talo atuh setolah, talian basti seutolah judha!" sahut Bhizar malas.
"Oh piya ya ... pati setolah binama?" tanya Lika.
"Yan basti, setolah TeTa pulu, pial pisa paca, bulis, syama Pisa neunal hulup pama anta!" jawab Bhizar.
'Pati tan pita pudah pisa teunal hulup pama anta!" sahut Abraham menimpali.
'Ya pati pelum pisa paca!" sahut Bhizar lagi.
'Bulis judha pita eundat pisa!" lanjutnya.
"Pita binta pajalin bustel yut!" ajak Lika.
"Eundat pawu ah ... Posen!" tolak Syah.
'Eh ... pita eundat peulnah pelajan woh ... tot pamu Pisa pilan Posen!"
"Atuh ladhi pales belajan!' sahut Syah kesal.
"Ya udah ... pita aja yan pinten tamu eundat!" sahut Abi.
"Bustel!" panggil keenam bayi yang ingin belajar sedang Syah memilih bermain sendiri.
Syah tampak asik dengan bermain. Ia mengatur mobil-mobilan berjejer rapi. Bahkan ia menjadi komentator sendiri.
"Hay duys ... imi bomilna ladhi paltil bi palaman bumah satit ... panyat basien yan putuh peulawatan!"
"Ngeeeng!" lanjutnya menjalankan satu mobilannya dan di jejer miring.
"Pemilit bomil imi seupenalna lolan taya laya. Bia punya banat bomil bewah!"
Rupanya keseruan Syah bermain, menarik bagi enam saudara kembarnya. Para suster jadi berhenti mengajar karena tidak ada satu anak yang fokus. Manya hanya mengawasi saja, ia tak pernah ambil pusing dengan anaknya mau belajar atau tidak, usia mereka belum cukup untuk harus menghapal segala macam huruf dan angka.
Akhirnya, Bhizar, Abi, Agil, Laina, Lika dan Abraham mendekati saudaranya yang asik bermain.
"Itutan don!" ujar Abraham.
"Tata na bawu pinten beuldili!" sahut Syah mencibir.
"Syah!" tegur Manya.
"Ayut bain!" ajak Syah.
Mereka pun bermain bersama. Keributan kecil terjadi karena Agil ingin memasukkan truk mainan dalam parkiran.
"Janan paltil syini!"
"Woh ... imi pempat paltilan pan?" tanya Agil.
"Biya, pati imi pempat paltil bomil-bomil pewah!"
"Bemana tlut eundat pewah?" tanya Agil.
"Halda tlut pahal woh!" lanjutnya. "Talo eundat peulcaya panya Mama!"
"Mama?" Syah bertanya.
"Benar baby, harga truk sama dengan harga satu mobil mewah," jawab Manya.
"Pati tan imi pusyus bomil-bomil teucil!" sahut Syah masih enggan tempat parkiran mobilannya dipakai parkir truk.
"Ah ... tamu selewet!" sahut Agil lalu menjalankan truknya.
"Pindas pemua na!" serunya lalu menjalankan mobil di atas mobil-mobilan yang diparkir oleh Syah.
"Huuwwwaaa Mamaa!" pekik Syah langsung menangis.
"Iput pindas!" seru Abraham.
"Dala-dala imi pita eundat pisa pelajan!' lanjutnya.
"Eh ... kalian sendiri loh yang tergoda!" sahut Manya membela Syah.
"Kenapa kalian malah menyalahkan Baby Syah?"
"Ayo benahi kekacauan ini!" titah Manya pada tujuh anak kembarnya.
"Habis ini makan buah!" lanjutnya.
Semua akhirnya membereskan mainan mereka. Setelah rapi para suster mencuci tangan para bayi dan makan buah.
Sementara itu. Jovan sedang diwawancara, pria itu ditanya perihal tujuh anak kembarnya.
"Tuan, apa anda akan membentuk seluruh anak-anak anda menjadi pebisnis seperti anda?"
"Tidak, saya akan membebaskan semua anak saya menjadi apa yang mereka inginkan, asal itu yang baik dan benar!" jawab Jovan panjang lebar.
"Anda seperti santai, jika beberapa pebisnis akan langsung membentuk keturunan menjadi pebisnis seperti mereka," ujar wartawan.
Pria itu pun berlalu, semua wartawan masih terus ingin tau kehidupan pribadi pria itu. Para pengawal sudah bersiap dan mengamankan kliennya.
Sedang Praja tengah berada di luar kota menemani Aldebaran untuk melakukan meeting bersama beberapa kolega.
Kembali ke rumah Manya. Kini tujuh anak kembar sedang ada di taman belakang. Mereka kembali adu argument.
"Atuh talo pesal mawu jadi doptel taya Mama!" ujar Lika antusias.
"Atuh bawu padhi taya papa yayah beupisnis!" sahut Abraham.
"Atuh judha ah ... tayat Papa yayah!" sahut Agil dan Abi bersamaan.
"Adil ... pamu beulempuan, pana pisa padhi beupisnis!" sahut Bhizar.
"Bisa Baby," sahut Manya.
"Tayat spasa Mama?" tanya Bhizar dengan mata bulat dan jernih.
"Moma dulu pebisnis loh!" jawab Manya.
"Beulnel dhitu?" tanya Abraham tak percaya.
"Kita telpon Moma ya!" ujar Manya.
Wanita itu pun menelepon ibu mertuanya. Abi yang langsung bertanya pada neneknya.
"Benar baby, dulu sebelum menikah, Moma adalah pebisnis,' jawab wanita itu.
Akhirnya semua mengerti. Laina pun ingin jadi pebisnis juga. Abraham ingin jadi dokter sedang yang lain memilih pikir-pikir dulu.
"Atuh ... pitil-pitil pulu ah!" sahut Syah.
Manya hanya menggeleng melihat tingkah anaknya. Ia yakin ketika usia anak-anak makin bertambah, cita-cita mereka pasti berubah.
Jovan datang membawa martabak manis. Semua anak suka dengan makanan itu.
"Wah Papa yayah pisa laja tawu matanan teusyutaan pita!" sahut Lika semringah.
Manya memutar mata malas.
"Semua makanan enak juga makanan kesukaan kalian Baby," sahutnya.
Semua anak makan dengan lahap. Ukuran besar membuat mereka kenyang. Beruntung sudah makan nasi semua.
"Atuh dendut!" sahut Agil mengelus perutnya yang buncit.
Jovan terkekeh, ia mencium perut bayinya yang bulat dan menggemaskan itu.
"Papa yayah atuh judha dendut!' sahut Lika.
Semua bayi disembur perutnya hingga tergelak. Manya tersenyum melihat pola tingkah tujuh anak kembarnya.
Di kamar Jovan memandangi bayi-bayinya yang telah terlelap. Ia begitu bahagia diberi kepercayaan begitu besar oleh Tuhan, dititipkan anak langsung sebanyak ini.
"Kalian adalah matahariku," ujarnya.
"Kalau aku Mas?"
Jovan menatap Manya, istrinya.
"Kau adalah nyawaku. Aku akan gila dan mati jika tak ada kamu," ungkapnya jujur.
Manya terharu. Ia memeluk suaminya dan mengajak ke kamar mereka.
"Sayang, aku hamil," ujarnya.
"Kau serius?" Manya mengangguk.
"Mau tau berapa jumlah anak kita?"
"Berapa?' tanya Jovan antusias.
Manya menunjuk tiga jarinya. Jovan langsung tersenyum senang, ia mengangkat tinggi-tinggi dan memutar tubuh istrinya. Manya terpekik dan tertawa lirih.
"Anakku banyak sekali sayang!"
"Iya, aku juga kaget ketika memeriksakan diri tadi," ujar Manya.
"Mama dan papa pasti senang dengan banyak cucu!" sahut Jovan lagi.
Pagi menjelang. Denna dan Gerard pulang dari bulan madu. Semua sahabat kini berada di rumahnya. Para bayi rebutan oleh-oleh dengan pria dewasa.
"Teunapa Pom Pimpa eundat bawu meunalah!" pekik Abraham.
"Kau panggil aku Pimpa bukan Bima!"
"Atuh peulum pisa pilan Pima!"
"Itu bisa!" Abraham menutup mulutnya.
"Sudahlah Bima!" tegur Clara.
Bima mencebik kesal pada para bayi yang kini mengangkat dagu penuh kemenangan.
"Aku juga mau bilang, kalau aku hamil," ujar Denna kemudian.
"Kau beneran?!" teriak Clara hingga membuat kaget seluruhnya.
Denna mengangguk. Clara langsung memeluk menantunya. Ia mencium pipi wanita yang telah menjadi istri dari putranya itu. Gerard juga senang dan terkejut dengan berita bahagia itu.
bersambung.
selamat Manya dan Denna
next?