
Pagi menjelang. Anak-anak sudah siap untuk pergi ke sekolah. Amertha dan Maira sangat gemas dengan tujuh cucu mereka yang lucu memakai seragam.
"Kenapa kalian cepat besar sekali sih!"
"Moma ... Aqila lusu judha eundat?" tanya bayi cantik itu.
"Kau biangnya lucu Baby," jawab Maira lalu mencium perut bulat bayi itu hingga tergelak.
"Moma atuh judha lutu!" pekik Reece tak mau kalah.
"Ah ... kau rajanya lucu!" gemas Abraham mengangkat bayi montok itu.
Terdengar pekik tawa para bayi yang diciumi oleh kakek dan nenek mereka. Seperti biasa, Anton turun dan mencium punggung tangan semua orang tua. Abraham dan Ramaputra mengelus kepala balita itu. Mereka sudah tau cerita sepatu Anton. Sidik bukan tidak bisa membeli sepatu untuk putranya. Tetapi gaji masih jauh tanggalnya.
"Dipaksa dulu ya Nak. Tunggu Bapak gajian," ujar pria itu meminta pengertian putranya.
"Iya Pak, ini Anton juga lagi tabungin uang jajan," sahut Anton yang membuat Sidik terharu.
Jovan ingin sekali membelikan sepatu untuk Anton, tapi ia takut jika akan melukai hati Pak Sidik.
"Anton sini deh!" panggil Abraham.
Anak laki-laki itu mendekati. Abraham meminta Anton membuka sepatunya.
"Udah pakai saja. Aku udah bilang ke Mama kok!"
Anton melihat pada ayahnya. Sidik mengangguk sambil tersenyum, ia tak mungkin menolak pemberian dari tuan mudanya, terlebih putranya sangat membutuhkan.
"Pas nggak?" tanya Abraham.
"Pas!" angguk Anton.
"Benel nih?" tanya Abraham lagi memastikan.
"Ayo berangkat!" titah Manya.
Wanita itu begitu bangga pada semua putranya, terlebih Abraham. Sepatu yang diberikan untuk Anton adalah sepatu kesayangannya.
"Kata Losul, jika ingin sedekah halus kasih balang yang kita sukai," ujarnya.
"Ini sepatu hadiah dari Om Bima. Kemalin Ablaham sudah minta ijin untuk membelikan pada Anton, dipelbolehkan!" ujarnya panjang lebar.
Manya mengecup pucuk kepala anak angkat supirnya setelah mencium tujuh anak kembarnya.
"Yang pinter ya di sekolah," pintanya.
"Iya Nyonya, makasih," ujar Anton tersenyum indah.
Mereka berangkat dengan lambaian tangan. Para suami memeluk istrinya, mereka bangga dengan semua keturunannya yang baik hati itu.
Sampai di sekolah, mereka berbaris ketika masuk ke kelas. Satu persatu murid-murid masuk. Para orang tua dan pengasuh yang mengantar hanya boleh menunggu di taman yang telah disediakan.
Dina diberi kado oleh Seven A. Sebuah boneka Barbie yang dibawa oleh Maira dari Amerika. Boneka itu milik Agil, ia memiliki untuk memberikannya sebagai hadiah untuk Dina yang kemarin berulang tahun.
"Wah makasih ya!'
"Sama-sama!"
Mereka pun belajar mengenal angka. Seven A tentu paling kencang suaranya dan paling hapal angka di banding murid lainnya.
Bel istirahat berbunyi, semuanya berhamburan keluar kelas. Mereka mendatangi para pengasuh yang menunggui mereka. Seven A dan Anton juga keluar. Mereka memakan bekalnya.
"Anton!" panggil Denta.
"Mau apa kamu!" sentak Agil tak suka.
"Baby nggak boleh gitu!" peringat Wati.
"Habis kesel Sustel ... dia jahat telus sama Anton!" sahut Agil melirik Denta.
"Udah nggak apa-apa," ujar Anton lalu ia mendekati Denta.
Tubuh Denta lebih tinggi ketimbang Anton. Tubuhnya juga jauh lebih subur. Bocah lelaki itu menyembunyikan dua tangan di belakang seperti memegang sesuatu.
"Apa?" sahut Anton tenang.
Denta menyerahkan sebuah kotak pada Anton. Bocah itu mengernyit pada teman sekolah yang selalu menjahilinya itu.
"Ini buat kamu," ujar Denta.
"Apa ini?" tanya Anton. "Kamu nggak ngerjain aku kan?"
"Nggak, buka aja kalo nggak percaya!" sahut Denta sedikit kesal.
Anton membuka bungkus tak sabaran dibantu oleh Abraham dan Syah. Ketika dibuka sebuah sepatu baru berwarna hitam sangat bagus.
Netra Anton berkaca-kaca. Ia langsung memeluk tubuh gempal teman sekolahnya itu. Denta balas memeluknya.
"Makasih ya, ini hadiah paling indah yang pernah aku dapat," ujarnya.
Ibu guru menatapnya dari kejauhan, ia tersenyum bangga. Ia yakin semua anak didiknya akan menjadi sukses jika ditanamkan kebaikan sejak dini.
Denta mengajak mereka bermain. Kali ini sebuah permainan yang tak pernah diketahui oleh seven A.
"Kita main gobak sodor!" ajak Denta.
Tadinya Seven A kalah telak. Namun, lambat laun skor jadi imbang. Ternyata Anton dan seven A sangat kuat dan tangguh.
"Cimit ... aku nyerah!" teriak Denta ngos-ngosan.
Tubuh besarnya membuat ia sulit bergerak cepat dibanding lawan mainnya. Angka berakhir imbang. Bel masuk pun berbunyi. Mereka pun masuk dengan peluh membasahi seragam mereka.
"Kalian hebat!'' puji Denta dengan napas terengah-engah.
"Kukira Laina, Agil dan Lika nggak bisa ikutin karena cewek. Eh malah bisa dan sangat gesit!" lanjutnya mengacungkan jempol.
Agil, Laina dan Lika hanya tersenyum. Tentu saja mereka tak mau diremehkan sebagai anak perempuan. Manya mendidik anak perempuannya setara dengan anak laki-lakinya.
Akhirnya jam belajar berakhir. Semua anak bersorak sorai karena pulang ke rumah.
"Mali pulang malilah pulang belsama-sama!"
Anton pulang membawa kotak sepatu. Senyumnya tak pudar dari wajahnya. Sidik mengucap terima kasih pada Denta.
"Kamu senang Nak?" Anton mengangguk antusias.
"Jangan lupa mengucap syukur alhamdulillah!" ujar Sidik mengingatkan putranya.
"Alhamdulillah!" ujar Anton mengikuti.
Sampai rumah. Seven A sudah berisik menceritakan kejadian hari ini. Amertha dan Maira begitu bangga dengan apa yang dilalui tujuh cucu kembarnya hari ini.
"Kalian luar biasa sayang,"
"Moma, telnyata Denta itu anak baik," ujar Abi.
"Iya, kadang manusia kan bisa berubah. Mungkin Denta benar-benar menyesal dan mengakui kesalahannya. Ia menggantikan sepatu Anton," ujar Maira.
"Jadi apa inti yang kalian dapat hari ini Babies!" tanya Amertha.
"Kita halus belbuat bait pada sesama!" sahut seven A kompak.
"Benar sekali. Selain itu jangan cepat membenci seseorang. Seperti Denta, yang tiba-tiba berubah jadi baik," jelas Amertha lagi.
"Antat tanan pemua!" teriak Aidan mengacungkan senapan mainan.
"Ah ... ampun Tuan ... jangan lapok kami!" seru Bhizar mengikuti drama.
"Atuh atan meulampot talian!" Pom Teusil ... pambil pemua halta penda meuleta!"
"Oteh Pos!" sahut Reece.
"Stop!" pekik Lika tiba-tiba.
"Pop tau beunculi hatituh ... hatituh pop tau beunculi hatituh!" sahut Aqila tiba-tiba bernyanyi dangdut.
Amertha dan Maira tak mampu menahan tawa. Keduanya tertawa mendengar lagu yang dinyanyikan salah satu cucu mereka.
"Moma ... ayo pita doyan!" ajak Aqila sambil menggoyang pinggulnya.
"Musiknya nggak ada Baby," tolak Amertha.
"Bustel, balain pusitna don!" pinta bayi cantik itu.
Saskia memutar musik dan lagu yang dinyanyikan oleh Aqila tadi. Akhirnya semua anak bergoyang heboh, diikuti oleh nenek mereka.
Sedang di rumah Sidik, Tinah mengusap peluh putra angkatnya yang sudah terlelap. Senyum indah Anton tak lepas dari bibirnya, tangannya tak lepas dari sepatu pemberian Denta.
Secara perlahan, Tinah mengambil sepatu itu dan meletakkannya di rak kini ada dua sepatu indah di sana.
"Alhamdulillah ya Allah, ternyata teman-teman putraku baik hati semuanya," ujarny penuh rasa syukur.
bersambung.
ibu juga baik ... love you untuk semua ibu😍😍
next?