THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
CINTA SANG PRIA TUA



"Baby, sini!" Saskia tak enak hati dengan putranya yang menyempil di antara Aldebaran dan Demira.


"Mama ... tan Plam beunel!" ujar bocah itu sangat yakin.


Demira terkekeh, ia memangku bayi tampan itu dan menciumnya. Ia memang tidak bisa memiliki anak, kandungannya ada masalah dan dinyatakan mandul oleh dokter, maka itu mantan suaminya pergi dengan wanita lain yang berhasil mengandung anaknya.


"Baby, kamu tampan sekali," puji wanita itu.


"Namamu siapa sayang?" tanyanya.


"Atuh Planana!" jawab Pram.


"Namanya Pramana, Bu," sahut Manya meralat.


"Oh, Pram," sahut Demira tersenyum.


Lalu Tita dan Maiz ikut naik ke sofa di mana Demira dan Aldebaran duduk bersama. Percakapan dimulai, tak ada pembicaraan serius. Manya diajak Demira untuk memeriksakan diri..


"Nah, ini sudah bagus, Nak," ujarnya.


"Bu, mau ya jadi nenekku," pinta Manya tiba-tiba.


Demira menatap netra coklat terang milik Manya. Wanita yang dulu dikenalnya dengan perut yang besar. Tujuh bayi ada dalam kandungan Manya saat itu. Manya nyaris depresi karena melahirkan sendirian.


"Aku bahagia sekarang Bu," sahut Manya menenangkan.


"Jangan ingat masa itu,"


"Grandpa Aldebaran orang baik," lanjutnya mulai mempromosi.


Rona merah tampak di pipi Demira. Manya makin yakin akan keputusannya menjodohkan ayah dari mertuanya.


"Jangan bercanda sayang, Ibu sudah tua!" sanggahnya.


"Bu, tidak ada larangan usia jika kita saling mencintai!" ujar Manya.


Demira terdiam. Ia menatap Manya yang juga menatapnya.


"Aku menjamin Grandpa orang baik Bu," ujarnya lagi.


Demira tersenyum simpul, wanita itu mengangguk. Memang sepertinya ia merasa ganjil karena terlalu cepat memberi jawaban. Tetapi seorang wanita menatapnya dan meyakinkannya jika ucapanya benar.


"Grandma!" pekik Manya senang.


Wanita itu memeluk Demira erat. Ia bahagia, ia yakin Aldebaran akan sangat bahagia. Jovan tak mengantarnya tadi, Manya sengaja karena ia ingin berbicara berdua dengan dokternya.


"Bagaimana Dok, keadaan menantu saya?" tanya Abraham.


"Kandungannya sehat dan baik-baik saja," jawab Demira tersenyum.


Wanita itu kembali duduk di sebelah Aldebaran. Mereka semua tersenyum, Aldebaran memang pria tak sabaran.


"Maaf, Dokter. Memang ini terlalu cepat. Tapi jujur, saya memiliki perasaan lebih pada Dokter!"


Demira menatap netra hazel yang mampu menghipnotisnya. Ia mencari kejujuran pria itu. Aldebaran menatap wanita yang telah mencuri hatinya. Dulu ketika menikahi Leonita, pria itu hanya melampiaskan napsunya agar tak jajan sembarangan di luar. Namun saat netranya menatap iris hitam milik Demira, ia yakin jika dirinya jatuh cinta, rasa sama ketika menatap mendiang istrinya.


"Aku mencintaimu Demira Aliyah," aku Aldebaran langsung.


"Tuan," cicit Demira dengan pipi memerah.


"Maaf saya langsung saja ya!" ujar Abraham.


"Bagaimana jika sekarang kami melamar Mama jadi istri dari Daddy saya!" pinta pria itu.


Demira terkejut bukan main. Ia tak menyangka jika keluarga pasiennya langsung melamar dirinya, dan entah kenapa kepalanya mengangguk.


"Apa arti anggukanmu sayang?" tanya Aldebaran tak sabaran.


Lagi dan lagi rona merah menyeruak di pipi wanita yang usianya sudah tidak muda lagi. Setelah separuh hidupnya ia menutup hatinya untuk semua pria. Tapi, hanya bertemu dengan Aldebaran pertama kali, wanita itu langsung setuju menikah dengan pria itu.


"Aku bersedia menikah dengan anda Tuan," jawabnya tegas.


Aldebaran nyaris memeluk Demira jika saja tidak ada Maiz dan Tita yang menyela keduanya.


Akhirnya mereka pulang. Aldebaran begitu bahagia, setelah sekian lama ia kini mendapat cinta kembali.


"Lalu?" tanya Aldebaran.


"Daddy yakin menikahi wanita berhijab. Kita belum terlalu taat beragama Dad," ujar Abraham.


"Berarti dia hadir untuk menyempurnakan agamaku bukan?"


Abraham mengangguk setuju. Tanggal pernikahan sudah ditentukan. Mereka tinggal menunggu enam bulan saja.


Malam minggu, Aldebaran mendatangi rumah kekasihnya, ia bersama Praja sang putra. Walau pria itu kesal, acara ngapel diganggu oleh kehadiran putranya.


"Mas," sambutnya.


"Silahkan duduk ya," pinta wanita itu.


Hanya mengobrol sebentar karena Praja memonopoli percakapan yang membuat wajah pria gaek itu kesal sekali.


"Kenapa Dad?" tanya Praja.


"Ck!" Aldebaran berdecak.


Keduanya sudah pulang ke rumah Manya. Pria itu mengomel panjang pendek.


"Kenapa lagi?" tanya Abraham.


"Tuh, adikmu!" gerutu pria itu.


Praja hanya nyengir kuda. Abraham menggeleng melihat tingkah adik angkatnya. Memang Praja jadi usil setelah lahir semua anak-anak. Bukan hanya Praja, Jovan sebenarnya juga ingin ikut tadi dan menggangu kencan kakeknya. Tetapi, ia ada pekerjaan sedikit jadi ia akan menemani kakeknya minggu depan jika berkencan lagi.


"Jangan marah Dad," ujar Manya tersenyum.


"Grandpa adalah wanita berhijab, tak elok didatangi pria malam-malam, jadi benar jika Papa Praja menemani," lanjutnya.


"Besok kita ajak Nenek mu jalan-jalan berwisata di gunung ya,' ujar Maira.


"Oke Mi, aku akan telepon Grandma," sahut Manya.


Aldebaran tersenyum, pria itu ingin enam bulan ini cepat berlalu. Ia sudah tak sabar berduaan saja dengan wanita pujaan hatinya.


"Sabar Dad,' ujar Praja menepuk bahu ayah angkatnya.


''Kau makin kurang ajar Praj!' dumal pria gaek itu.


"Maaf Dad, aku hanya melindungi Mommyku,' ujar Praja lagi.


Aldebaran menghela napas panjang. Dulu ketika ia memutuskan menikah dengan Leonita. Praja terang-terangan menabuh genderang perang dengan wanita itu.


Aldebaran sampai harus menyingkirkan Praja ke sebuah sekolah asrama. Pria itu juga mau menyelamatkan Praja dari tangan Leonita. Karena ia yakin perempuan yang ada di balik jeruji besi seumur hidupnya itu akan tega menghabisi nyawa putra angkatnya itu. Berbeda dengan Abraham, Leonita masih menyayanginya.


"Sudah lah ... kalian seperti Tom and Jerry saja!" ujar Abraham menyudahi pertengkaran Praja dan ayahnya.


Usai makan malam, Aldebaran sudah masuk ke kamarnya, ia mengaku lelah. Persiapan pernikahan diurus oleh dua putranya, beruntung Demira hanya ingin pesta sederhana.


"Aku merindukanmu sayang," ujarnya ketika menatap plafon putih kamarnya.


Sementara di hunian lain. Tampak seorang wanita tengah asyik dengan doanya. Ia meminta pada sang maha kuasa untuk kelancaran seluruh acaranya. Sinyal doa dipanjatkan, mencoba mengetuk pintu langit.


"Astaga!" Aldebaran terbangun.


Pria itu seperti melupakan sesuatu. Perlahan ia bangkit, telah lama pergi meninggalkan Tuhannya, pria itu kini bersujud lama di atas sajadah usai berwudlu di kamar mandi.


"Ampuni aku ya Allah ... ampuni aku yang telah lama meninggalkanMu!' pinta pria tua itu tersedu.


Malam penuh dengan bintang. Semua bergerak sesuai rencana-Nya. Sebagaimana Sang Maha Pencipta tak pernah merasa kesulitan mengatur semuanya.


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali Imran: 190-191)


Bersambung.


Maaf dikit ya ... othor nggak banyak ceritanya lagi sakit.


next?