
Senin menjelang, anak-anak sudah sibuk. Semua ribut mencari tas dan sepatu. Bahkan Jovan tak mendapatkan dasinya.
"Ma ... dasi Papa mana?"
"Ma ... Bhizar nggak Nemu buku gambarnya!"
"Mama Aqila mau pup!"
"Mama ... sepatunya Lika diumpetin Syah masa!"
"Ma ... kaos kaki Laina cuma satu!"
Manya hanya menghela napas panjang. Wanita itu mengambil dasi yang baru dari dalam laci khusus. Ia juga memasangkannya di kerah baju sang suami.
Muka Manya sedikit pucat, ia tak dapat tidur semalam karena muntah. Trimester pertamanya kehamilan kali ini membuatnya berat.
Jovan tau jika istrinya sedang tak enak badan. Ia mengecup bibir istrinya dan mulai membantu untuk mengurusi semua anaknya.
"Makasih sayang," ujar wanita itu.
"Istirahat lah sayang," pinta Jovan.
"Mama ... Less puelum disyium Papa!" adu Reece.
Jovan berdecak gemas dengan adik iparnya itu. Mereka pulang dari rumah Gerard kemarin malam. Padahal Manya telah menyuruh anak-anak untuk menyiapkan semua buku untuk dibawa ke sekolah. Para suster juga ikut membantu semua anak-anak.
Kini rumah sedikit lengang karena seven A pergi sekolah. Triple A dan Reece asik memakan sarapannya. Tahun depan mereka akan mulai sekolah.
"Mama ... Aqila udah kenyang,"
"Ya sudah, kamu main sana Baby," suruh Manya.
Saskia dan Leni membantu para balita. Tak lama Maira dan Amertha datang membawa banyak buah. Maiz dan Tita langsung bermain bersama triple A dan Reece.
"Sayang, apa kau akan periksa kehamilanmu hari ini?" tanya Amertha duduk di kursi taman.
Maira juga duduk, Pram naik ke pangkuan wanita itu. Tentu saja Maira senang dengan bayi tampan yang pemberani itu. Ia mencium gemas Pram.
"Iya, nanti Manya titip anak-anak ya Mom,"
"Iya sayang, jangan khawatir. Biar Pak Deno yang mengantarkanmu ya," ujar Amertha yang ditanggapi anggukan Manya.
"Baby, Mama pergi dulu ya," pamit Manya.
"Mama mau kemana?" tanya Aqila dengan mata membulat indah.
Manya mencium balita cantiknya itu, Reece, Aidan dan Adelard juga Maiz, Tita juga Pram memonyongkan bibir mereka minta dicium. Manya terkekeh lalu mencium semua anak.
"Mama ke dokter dulu ya, mau periksa dede bayi," ujarnya mengusap perutnya yang masih rata.
"Babies di rumah sama Moma ya," semua anak mengangguk mereka menurut.
"Hati-hati Mama!" ujar Aidan.
"Iya sayang,"
Manya pun pergi ke dokter yang memeriksa ketika seven A masih dalam kandungan. Wanita berhijab menyambutnya dengan senyum indah.
"Ibu," sapa Manya.
"Halo Dok, apa kabar?" tanya wanita itu.
"Saya hamil lagi," jawab Manya dengan senyum lebar.
"Masha Allah Dok. Anda sudah berada di usia rawan untuk hamil dan melahirkan!" sahut wanita itu dengan mata membulat.
"Saya pengen anak lagi Bu," rengek Manya manja.
Demira Aliyah SpOG. Menyuruh Manya tidur di ranjang periksa. Wanita itu menyingkap pakaian di bagian perut dan mengolesinya gel khusus.
"Tumben hanya satu, biasanya kembar?" sahut Demira ketika melihat bulatan kecil di layar monitor.
"Janinnya berkembang bagus, kapan anda terakhir menstruasi Dok?" tanya wanita itu..
Keduanya duduk saling berhadapan yang dihalangi meja. Demira mencatat semua perkembangan janin Manya di sebuah buku.
"Hanya mengalami morning sick yang berat saja Bu," keluh Manya.
"Itu biasa kan?" Manya mengangguk.
"Saya akan beri vitamin dan obat anti mual ya," ujar Demira.
Demira sudah berusia enam puluh tahun, wanita itu sudah pensiun lama di rumah sakit, ia membuka klinik kecil di depan rumahnya. Demira hidup sendiri, suaminya telah lama pergi dengan wanita lain, sedang ia tak memiliki anak. Demira masih cantik di usianya yang sudah menginjak kepala enam itu.
Manya pun pulang setelah menebus resep yang diberikan dokter kandungannya. Wanita itu pulang membawa makanan. Hal itu wajib ia lakukan jika ingin selamat dari pertanyaan-pertanyaan semua anak di rumah.
"Mama pulang!"
Ternyata seven A sudah pulang lebih awal. Kelasnya dipakai untuk ujian anak kelas enam. Mereka diliburkan selama satu minggu ke depan.
"Mama kita libur satu minggu loh!" lapor Abraham.
"Kalian mau liburan kemana sayang?" tanya Maira.
Manya menghela napas panjang, ia sudah tak sanggup lagi pergi kemana-mana. Wanita itu menatap lemas ibu mertuanya.
"Mi," keluhnya.
Maira tertawa, wanita itu akan membawa semua cucunya pergi ke bukit dan bermain dengan alam. Villa di sana sudah direnovasi, bahkan taman bermain juga sudah ada dan aman bagi semua anak-anak.
"Kita hanya ke bukit Seven A Ranch, sayang," ujar Maira.
"Tempat itu juga sehat bagi kandunganmu. Kau ajukan cuti saja ya," lanjutnya.
"Iya sayang. Kau terlalu lelah dengan semuanya, Mommy dan Mami mu akan menyewa banyak maid dan suster untuk menjaga semua anak, kau hanya perlu beristirahat," lanjut Amertha..
Manya menatap semua anak yang memandangnya penuh harap. Rupanya, mereka ingin sekali berlibur di luar. Manya akhirnya mengangguk setuju.
"Makasih Mama!" seru semuanya lalu memeluk Manya.
"Mama bawa apa?" tanya Aqila melihat bungkus plastik besar di atas meja.
"Ini kue sus sayang,"
"Mau Mama!" seru Reece paling keras.
Manya membagikan kue satu orang satu. Karena sebentar lagi makan siang, Manya melarang semua anak memakan banyak.
"Nanti kalian nggak mau makan nasi!"
"Atan tot Ma ... Plam atan!" angguk Pram.
"Ita udha atan Ma!" Tita ikut mengangguk.
"Aiz eundat!" seru Maiz beda sendiri.
"Baby!" tegur Maira.
"Eundat palah ladhi!" ralat bayi cantik itu.
Manya gemas bukan main dengan adik iparnya, wanita itu mencium pipi chubby kemerahan Maiz.
Usai makan siang, semua tidur siang. Jovan tidak pulang makan siang, pria itu kini tengah menginterview beberapa sekretaris.
"Jadi Tuan Tino yang lulus jadi sekretaris Tuan Jovan?" Jovan mengangguk.
Daniel lalu pergi ke ruang management. Jovan mengurut pelipisnya, sudah banyak sekretaris datang dan pergi dari perusahaan ini. Abraham dulu juga memiliki sekretaris, tapi sudah pensiun karena usia telah tua.
"Apa nggak ada yang kayak Bu Aina ya?" keluhnya.
Aina adalah sekretaris Abraham, wanita itu sangat ulet dan bekerja lama dengan ayah Jovan. Selain itu wanita yang berusia tiga puluh enam tahun itu bekerja dengan begitu profesional.
"Tuan, ini sekretaris baru anda," ujar Daniel ketika menghadap atasannya.
"Kau briffing dia Daniel! Aku lelah dan ingin pulang!" sahut Jovan.
"Praj, kau urus semuanya ya!" lanjutnya.
"Baik lah," sahut Praja.
Jovan pun pulang di antar supir. Pria itu datang dengan wajah pucat. Manya begitu khawatir.
"Sayang kau kenapa?" tanya Manya.
"Sayang, kepalaku pusing," keluh Jovan.
Manya mendudukkan suaminya di sofa. Amertha dan Maira tengah tidur siang bersama para bayi mereka.
"Sayang," Manya memijit pelipis suaminya.
Tiba-tiba Jovan bangkit dan berlari ke arah wastafel. Pria itu muntah-muntah, hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya.
"Uhuk ... pahit sekali!" keluhannya lagi.
Manya tertegun melihatnya. Setelah kehamilan seven A lalu dilanjut triple A. Manya sendiri yang menanggung trimester pertama.
Namun kali ini, sang suami ternyata mengalami kehamilan simpatik, pria itu ikut muntah seperti yang dialami Manya tadi pagi.
Bersambung.
Wah ... ngidam barengan nih.
Next?