
Pagi hari mansion Clara heboh dengan suara anak-anak. Mereka tengah berlatih gobak sodor. Lika, Laina dan Agil tentu tidak mau kalah dengan saudara kembar mereka yang pria.
"Ata' lali te syana Ata'!" pekik Adelard.
Lika berlari hendak menembus gawang. Sayang Abraham langsung menangkapnya. Lika mencebik kesal, ia pun harus keluar arena.
Agil dan Laina berdecak kesal dengan kecerobohan saudara kembar perempuan mereka itu. Tim Agil kalah, kini berganti jaga dengan tim Abraham, Syah dan Bhizar sedang Abi menjadi wasit pertandingan.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Eddie.
Pria itu baru saja turun dari lantai dua di mana kamarnya berada. Amertha dan Maira juga Ramaputra ikut menginap di mansion keluarga Downson karena menantu dan cucunya tak mau pulang.
"Mereka berlatih, besok pertandingan gobak sodor di sekolah, mereka masuk final," jawab Abraham.
Jovan, Gerard dan Aldebaran mengawasi semua anak-anak bermain. Para bayi bersorak-sorai mereka terkadang mengganggu jalannya pertandingan. Liam dan Reece mendatangi ayahnya masing-masing.
"Daddy poleh ya pesot itut Ata' te syetolah," pinta Liam memohon pada Gerard.
"Tentu Baby," jawab Gerard.
Liam bersorak kegirangan begitu juga Reece yang diperbolehkan ikut oleh Ramaputra. Amertha dan Clara hanya bisa menuruti keinginan Liam dan Reece.
Tidak ada yang menang atau kalah dalam permainan tadi. Baik tim Agil dan Tim Abraham tak mau mengalah. Manya puas karena putra dan putrinya sangat benar-benar pintar mengatur strategi.
"Kalian hebat!' pujinya.
Denna tengah menjemur putrinya. Bayi cantik itu mirip sekali Gerard dengan mata biru dan rambut keemasan. Kulitnya memerah karena paparan sinar matahari.
"Mommy ... payina pidul pelus ya?" tanya Aqila lalu duduk di pangkuan ibunya.
"Bayi memang suka bobo sayang," jawab Denna.
"Poleh syium?' pinta Aqila.
"Boleh Baby," sahut Denna.
Aqila mencium pipi bayi merah dalam pangkuan mantan suster kakaknya itu. Manya sampai menahan laju gadis kecilnya agar tak langsung menyorong tubuhnya ketika mencium Baby Ais.
Anak-anak sudah selesai berlatih. Memang mereka sedang mempersiapkan diri untuk perlombaan di final besok.
"Eh ... coba ada Anton ya," sahut Abi.
"Iya, apa kita minta Mama sole ini ke lumah Anton buat latihan?" saran Bhizar.
"Boleh juga, tapi halus sama Denta juga," sahut Abraham.
"Kita nggak tau lumah Denta," ujar Syah.
"Belum lagi lumah Sapli sama Lucky," lanjutnya.
Semua pun terdiam. Mereka ingin sekali memenangkan pertandingan besok.
"Ya sudah ... nggak usah belnapsu puat eh buat menang. Lakukan yang telbaik," sahut Abi bijak.
Abraham, Bhizar dan Syah mengangguk setuju. Sedang Agil, Lika dan Laina, mereka juga masuk final bahkan Laina akan melawan saudaranya sendiri nanti.
Seven A disuruh mandi oleh Clara. Ia juga akan melihat pertandingan cucu-cucunya besok. Wanita itu mendengar kabar jika Abraham membawa kado untuk salah seorang temannya.
Sehabis mandi semua meminta makan. Ternyata latihan tadi membuat semua kelaparan.
"Mama mau nasi goleng," pinta Lika.
"Oke Baby," sahut Manya sang ibu.
Semua anak memakan sarapan mereka dengan lahap. Usai makan mereka kembali bercengkrama mengulas kembali pertandingan yang akan mereka ikuti besok.
"Kata Ibu Gulu, yang jadi lawan kita besok bukan dali sekolah folmal sepelti kita loh," sahut Syah memberitahu.
"Nama sekolahnya As-salam," sahut Lika.
"Itu sekolah Islam atau TPA gitu," sahut Laina juga memberitahu.
"Kata Ibu Gulu panti asuhan yatim piatu," jawab Agil.
"Panti asuhan?" semua menoleh pada Agil.
"Tempat apa itu?" tanya Syah tidak tau apa namanya panti.
Manya mendengar itu langsung memberitahu apa itu panti.
"Jadi tempatnya anak-anak sepelti Anton yang ayah dan ibunya meninggal?" tanya Abraham tak percaya.
"Iya Baby," sahut Manya.
"Duh ... apa kita mengalah saja ya buat meleka?" sahut Abi tak tega.
"Kan kalau kalah meleka juga dapat hadiah kan?" sahut Bhizar memutar mata malas.
Tiba-tiba Abraham menengok ayahnya yang tengah sibuk dengan ponselnya. Ia pun mendatangi sang ayah.
"Daddy, boleh minta tolong?" Jovan mengerutkan keningnya.
"Apa Baby?"
"Tolong cari tau bagaimana panti asuhan As-Salam itu," pinta Abraham.
"Untuk apa Baby?" tanya Jovan.
Semua anak mengikuti saudaranya itu. Mereka juga ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Abraham jika telah mengetahui tentang As-Salam itu.
"Panti asuhan As-Salam memiliki dua ratus anak asuh berbagai usia. Panti itu memiliki sekolah TPA untuk anak-anak asuh dan juga penduduk setempat yang ingin belajar mengaji," Jovan membaca artikel tentang panti yang diinginkan putranya itu.
"Rupanya panti yang cukup baik, jika dilihat dari bangunan dan lainnya. Mereka juga memiliki donatur tetap dari pemerintah dan juga perusahaan besar," lanjutnya.
"Makasih Papa Yayah," ujar Abraham mengerti.
Kini ia tau, jika tak perlu mengalah untuk pertandingan besok hari.
"Kita nggak pelu ngalah sama meleka," ujarnya.
"Kan meleka anak yatim," sahut Abi. "Kita halus menyayangi anak yatim!"
"Sayang nggak halus mengalah kan?" sahut Abraham lagi.
"Kau benar sayang. Mengalah bukan tanda kita sayang. Justru kita harus membuat mereka berusaha lebih keras jika ingin menang dari pertandingan besok!" ujar Manya membenarkan perkataan putranya.
Anak-anak kembali bermain. Sedang Eddie kembali berembuk soal acara pengenalan cucunya yang kedua di hotel miliknya.
"Beri pada EO saja sayang. Soal makanan biarkan pihak hotel mengelolanya. Yang kita minta adalah makanan yang bisa dicerna oleh anak-anak dibawah lima tahun!" ujar Clara.
Eddie mengangguk setuju. Ia juga sudah meminta tim dekorasi untuk merubah taman di samping hotel sebagai taman bermain anak-anak.
"Kita akan lakukan acara setengah out door karena memakai taman untuk anak-anak agar betah di pesta," ujar Eddie kembali menuangkan idenya.
"Atur saja Dad. Yang penting semua anak-anak nyaman juga istriku bisa menyusui putriku nanti," ujar Gerard tak mau ambil pusing.
Semua mengangguk setuju. Akhirnya Eddie menelepon asisten pribadinya untuk mengurus semua prihal pesta perkenalan cucu perempuannya.
Sementara di tempat lain, Leticia sedang asik membaca semua berkasnya. Semenjak menikah, ia lebih sering membawa semua pekerjaan ke rumah. Tugasnya sebagai seorang istri tetap ia lakukan dengan baik.
"Sayang, kau dari tadi belum sarapan," ujar Rudi.
Leticia tersenyum, ia minta maaf pada sang suami karena sedikit abai.
"Ini tender besar sayang, hanya tinggal sedikit. Aku ingin semuanya sempurna," ujarnya memberi alasan.
"Letakkan dulu sayang. Aku tak mau kau sakit," pinta Rudi.
"Baiklah," sahut Leticia menurut.
Wanita itu meletakkan semua pekerjaannya di atas nakas. Ia menyantap nasi goreng buatan suaminya.
"Ini enak sekali sa ... huuuffhh!" tiba-tiba wanita itu hendak muntah.
Leticia pun berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isinya. Rudi langsung cemas. Ia yakin jika istrinya sedang tidak enak badan
"Sayang, kau tidak apa-apa?"
Muka Leticia tiba-tiba memucat. Wanita itu pun jatuh tak sadarkan diri. Beberapa lama kemudian Leticia pun sadar.
"Mom," panggilnya.
Renita langsung menghampiri putrinya. Ia mengecup sayang, sedang Irham dan juga Rudi saling menggenggam tangan dengan binaran bahagia.
"Sayang, kau sudah sadar?" Leticia merasa sedikit pusing.
"Mom, mana suamiku?" tanyanya.
"Aku di sini sayang," ujar Rudi dengan senyum lebar.
"Apa yang terjadi?" tanya Leticia.
"Sayang ... kita akan jadi orang tua sembilan bulan ke depan!" jawab Rudi dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?" tanya Leticia tak percaya.
"Kau hamil sayang," jawab sang suami.
Leticia menatap ayah dan ibunya. Mereka mengangguk membenarkan. Barulah ia memeluk sang suami penuh rasa haru.
bersambung.
next?