THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MENJELANG PERSALINAN TRIPLE DINATA



Manya sudah merasa mulas. Jovan pun bersiap sebagai ayah siaga. Perut besar Manya membuat pria itu ngeri sendiri.


"Sayang ... ini tiga sudah sebesar ini, bagaiman jika kemarin waktu tujuh anakku ada di sini?" risau Jovan.


"Lebih besar dari ini Tuan," sahut Leni.


"Lingkar perutnya nyaris 100cm," lanjutnya.


"Ya Tuhan besar sekali!" takjub Jovan sekaligus takut.


"Ini lebih kecil sayang, hanya setengah dari biasanya," jawab Manya.


"Jika ukuran segini, perkiraan berat bayi rata-rata 1,4 atau 1,8kg dengan tinggi sekitar 40-45cm jika normal," lanjutnya.


"Atau bisa lebih kecil dari itu. Waktu seven A lahir, kukira aku melahirkan anak tikus. Mereka kecil-kecil sekali!"


"Begitu normal?" Manya mengangguk.


"Hanya seminggu di inkubator lalu berat ketujuhnya bertambah begitu juga tingginya," jawab Manya.


"Sekarang lihatlah!" lanjutnya lalu terkekeh.


Tujuh bayi kembar itu tengah berdebat akan jenis kelamin adiknya.


"Atuh penenna pemua lati-lati!" sahut Bhizar dan Syah.


"Beulempuan!" pekik Agil dan Lika ngotot.


"Beulempuan puwa, lati-lati zatu!" sahut Abraham.


"Duwa lati-lati, zatu beulempuan!" sahut Alaina tak kalah bijak.


"Pati atuh inin nanat Mama sewet semua, pial syantit taya Mama," ujar Agil.


"Lati-lati don pial dadah, pisa lindunin Mama!" tukas Abi tak mau kalah.


"Mantana pial ladil .. lati puwa beulempuan zatu!' sahut Laina.


"Biya ... tan yan syantit lada ... yan jadhain Mama judha lada!" sahut Abraham bijak.


"Telus dedet payina tapan lahin?" tanya Lika.


"Buntin palam watu detat imi," jawab Syah.


Semua bayi mengangguk. Mereka sudah bersiap menyambut kedatangan calon tiga adik mereka.


Sedang di mansion Ramaputra, pria itu selalu menemani istrinya. Perut Amertha sudah kelihatan, usia kandungan juga sudah mau empat bulan. Keduanya ingin kontrol dan akan mengajak putri mereka.


Baik Ramaputra dan Amertha memutuskan kontak dengan Leticia, putri yang pernah mereka asuh hingga besar. Setelah banyak bukti diserahkan oleh Jovan kemarin. Membuat keduanya tak lagi menghubungi Leticia.


Sedang kini Leticia juga tak lagi mengganggu keluarga ayah dan ibu asuhnya dulu. Ia tak kekurangan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tua kandungnya.


Amertha sebenarnya merindukan Leticia, biar bagaimanapun, gadis itu ia susui selama dua tahun. Walau tumbuh kembang gadis itu banyak diasuh oleh ibu dari Ramaputra. Tetapi ikatan batin ibu susu dan putrinya itu tetap kuat.


"Kau merindukan Leticia?" terka Ramaputra tepat.


"Iya, seburuk-buruknya dia. Anak itu pernah menyusu padaku, kita yang gagal mendidiknya dulu," jawab Amertha.


Ramaputra juga menyesal. Namun kelakuan terakhir Leticia membuatnya malu sebagai ayah. Jika saja Jovan tak menahan diri, mungkin ia tak memiliki muka untuk menatap semua orang.


"Kita sudah baik mendidik dia sebagai anak. Setelahnya adalah tanggung jawab dia memilih. Selama ini tak ada yang kurang untuknya," sahut Ramaputra.


"Aku tak bermaksud membandingkan. Tetapi, lihat putri kandung kita, Manya," lanjutnya.


"Ia didik oleh ibu-ibu panti. Putri kita memilih berjuang dan memperbaiki nasibnya sendiri dan menjadi orang hebat," lanjutnya.


"Jika ditanya peran orang tua yang mendukung. Putri kita bisa mengklaim diri jika ia berdiri atas kemampuan sendiri!" lanjutnya lagi.


Amertha terdiam. Kata-kata suaminya benar. Dua putri dengan karakter berbeda. Jika pun tak tertukar, dirinya tak yakin bisa membuat Manya seperti ini.


"Jadi jangan salah kan diri, pertanggung jawaban kita sudah selesai setelan Leticia ada di tangan kedua orang tuanya," ujar Ramaputra lagi.


Amertha mengangguk, ia mengelus perutnya. Ketika nanti anaknya ini lahir, ia akan sebaik-baiknya menjadi ibu yang mendidik agar anaknya terdidik.


Keduanya kini menjemput putri mereka. Manya sudah bersiap dengan semuanya. Tujuh anak kembar dititipkan pada mertua, Maira tentu tak keberatan.


"Ma titip anak-anak ya," ujar Manya yang sudah seperti kelelahan itu.


Johan mendorong kursi roda istrinya. Manya sebenarnya tak keberatan berjalan kaki, agar proses kelahiran bisa normal. Tetapi, Jovan melarang keras.


"Ayo Jeng ... kami tinggal ya," ujar Ramaputra pamit.


Maira mengangguk. Semua melambaikan tangan, seven A berdrama.


"Mama ... tuat-tuat ya ... janan panat pitilan!" sahut Abraham mencebik.


"Mama ... iputin tata doptel ya ... hiks!" sahut Agil juga mencebik.


"Mama ... Lop yu!" pekik Abi dan Syah.


Manya terharu dengan kepedulian seven A. Kini mereka naik mobil dan langsung menuju rumah sakit. Jika Amertha mengecek kandungannya sedang Manya menanti proses kelahiran. Jovan memilih operasi Caesar untuk kelahiran tiga anaknya ini.


Sedang di tempat lain, Lana harus kembali berkunjung dan menemui Bernhard mengenai proposal kerjasama. Gadis itu memang butuh perusahaan Bernhard untuk proyek keduanya ini.


"Selamat siang, saya Lana Adriani ...."


"Oh mari Nona, sudah ditunggu oleh atasan kami," ujar resepsionis dengan baju ketat.


Lana sampai ngeri melihatnya, takut baju perempuan yang berjalan di depannya ini sobek. Resepsionis seksi itu mengetuk pintu. Lana melihat hampir semua karyawan adalah wanita yang berpakaian ketat dan memakai dalaman berwarna cerah. Entah apa maksudnya, Lana sendiri tak peduli.


"Masuk!" sebuah suara meminta mereka masuk.


"Tuan, Nona Adriani sudah datang," ujar resepsionis dengan suara seksi.


"Suruh dia masuk!" titah Bernhard.


Lana masuk dan mengucap salam. Ia duduk setelah berjabat tangan. Bernhard menatap gadis yang beberapa bulan lalu ia tolak mentah-mentah, bahkan mungkin menyakiti hatinya.


Lana, cukup cantik. Hidungnya bangir dengan bibir sedikit tebal. Alis melengkung dan bulu mata palsu. Dandanan Lana cukup berat. Bernhard memaklumi. Gadis itu kembali mempresentasikan proyeknya.


"Begitu Tuan," ujar Lana mengakhiri presentasinya.


Bernhard sangat puas. Ia mengangguk lalu mulai memberi pertanyaan-pertanyaan ringan.


"Jadi selama proyek berlangsung kita harus berdua, baik itu ke lokasi, meeting dan juga melakukan meeting untuk mendapatkan investor, apa kau bersedia?"


Lana sedikit ragu. Tapi kemarin pamannya bilang ini lah resiko sebagai seorang CEO perusahaan yang harus mau bertempat di mana saja. Ia pun mengangguk setuju.


"Baik, agar tak ada gosip miring. Kita harus menikah!"


"Apa?" pekik Lana tak percaya.


Di rumah sakit, Manya disuntik bagian ekor belakang. Ia akan dioperasi cecar. Wanita itu sudah menunjukkan bulan kelahiran. Dokter juga menjadwalkan kelahirannya.


"Kita bawa masuk ke ruang operasi!" ujar para suster.


Tubuh Manya didorong di kursi roda. Para suster dan dia sudah memakai baju OK. Jovan juga dipakaikan. Pria itu akan menemani persalinan istrinya.


"Letak bagus, semua menuju lorong lahir. Kita bersiap ya Dokter Manya?" ujar dokter kepala.


Di ruangan itu ada empat dokter dan tiga perawat. Semua bekerja semaksimal mungkin. Layar ditutup antara muka dan perut Manya. Sayatan lapis demi lapis kulit dilakukan.


Lima jam berlalu, tiga anak lahir dengan selamat, sedang Manya masih bugar dan sadar. Tujuh bayi pertama menjadi modalnya untuk bersiap diri dan mental.


"Selamat, dua laki-laki dan satu perempuan! Semua sehat dan tak ada kelainan apapun!" jelas dokter senang.


Manya dan Jovan bersyukur. Kini sang ibu dan tiga bayi ada dalam satu ruangan eksklusif. Bahkan seven A, mertua juga kedua orang tua kandungnya plus Aldebaran sudah ada di ruangan itu.


"Oh .... tampan-tampan dan cantik," puji Maira melihat bayi-bayi berukuran mungil.


"Sudah persiapkan nama?" tanya Aldebaran.


"Aku ingin menamai mereka Aidan Jovan Dinata, Aqila Jovan Dinata dan Adelard Jovan Dinata!"


"Ah ... ten A!" sahut Ramaputra senang.


bersambung.


selamat ya Manya!


next?