
Jovan terlelap, pria itu kelelahan sedang Manya harus bangun untuk menyiapkan sarapan. Pukul 02.00 dini hari mereka pergi ke pasar induk hanya untuk mencari mangga mengkal. Semua tukang buah ditanya Jovan.
"Mangganya belum ada Pak!" jawab pedagang saat itu.
"Ah ... gimana sih, kan saya lagi pengen mangga!" sengit Jovan kesal.
"Kan emang belum musim!" sahut pedagang itu juga sengit.
"Yang saya cari mangga muda, bukan mangga udah mateng!" sahut Jovan menaikkan nada suaranya.
"Kalo mangga mengkal mah kaga laku Pak! Nggak semua orang ngidam mau mangga mengkal!" sahut pria itu juga meninggikan suaranya.
Manya harus membawa suaminya pergi dari sana sebelum semua ricuh dan ribut hanya perkara mangga. Jovan kesal bukan main, pria itu mengerucutkan bibirnya sepanjang perjalanan pulang. Bahkan ia langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan menangis sedih karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Manya menghela napas panjang.
"Sayang, apa kemarin aku ngidam begitu menyusahkanmu seperti ini?" tanyanya lirih.
Manya mengecup pelipis suaminya yang akhirnya tidur setelah lelah menangis.
Manya mengusap perutnya yang masih belum menunjukkan perubahan, ia berharap anak kembar tapi berapa pun janin yang ada di rahimnya ia akan terima dengan hati yang bahagia.
Manya memasak sarapan untuk anak-anak para suster membangunkan semua anak dan memandikan mereka. Semua telah rapi, Maira dan Amertha datang bersama putri mereka.
"Mama!" pekik Tita.
"Baby sudah sarapan?" tanya Manya.
"Pelum Mama, Mommy eundat masat!" jawab Tita lalu duduk di kursi khususnya.
Amertha kesal dengan perkataan putrinya. Tita sendiri yang menolak sarapan di mansion, bayi cantik itu hanya mau makan masakan kakaknya.
"Pama Mama ... Moma udha ndat masat!" sahut Maizah.
"Hei ... Moma tadi mau masakin kamu loh!" sanggah Maira sebal.
"Beustina Moma pudah masat pulu palu wawalin pita," sahut Tita memberi saran.
Maira dan Amertha berdecak mendengar perkataan putrinya itu. Praja datang kembali membawa berkas. Manya meminta pria itu menunda semuanya. Sang suami baru saja tidur dengan hati sedih.
"Apa? Jam dua dini hari kalian pergi ke pasar nyari mangga muda?" tanya Amertha tak percaya.
"Iya Mama. Kita nggak dapet, Jovan bad mood sampai nangis," jawab Manya meringis.
Amertha dan Maira bingung menanggapinya bagaimana. Ingin tertawa tapi mereka iba dengan Jovan. Maira mengingat bagaimana Abraham kemarin yang juga kena Couvade Syndrome.
"Tapi Papimu nggak parah seperti suamimu," ujar Maira.
"Aku kasihan, padahal udah kukasih obat mual dan vitamin. Tapi, nggak ngaruh sama sekali," ujar Manya.
Praja akhirnya sarapan bersama anak-anak dan kembali ke perusahaan. Jovan bangun ketika hari beranjak siang. Pria itu sudah rapi dan akan pergi ke kantor. Maira sampai memeluk putranya yang tiba-tiba manja.
"Mami," rengeknya.
"Sayang, Mami suapi makan ya?' tawar Maira.
Jovan mengangguk. Wanita itu menyuapi putranya dengan telaten. Usai makan Jovan pun pergi tanpa mencium istrinya. Manya sangat kesal dengan hal itu.
"Ih awas nanti ya!" sungutnya dendam.
"Sayang ... jangan gitu!" tegur Amertha.
Manya mendumal panjang-pendek. Amertha dan Maira hanya menghela napas panjang. Aldebaran datang setelah dua hari keluar kota pria itu baru tau jika cucu menantunya hamil.
"Apa sudah diperiksa?" tanya pria itu.
"Nanti diperiksa lagi Grandpa," jawab Manya masih menekuk mukanya.
"Eh ... kenapa mukamu?" tanya Aldebaran bingung.
Manya tak menjawab, semua anak memperhatikan bagaimana sikap ibu mereka hari ini.
"Ata' Lees ... Mama teunapa?" tanya Maiz. "Tot mutana tayat dithu?"
"Ndat eh nggak tau Baby, mungkin Mama lagi kesal," jawab Reece.
"Teusel tenapa?" tanya Tita.
"Udah kita nggak boleh ganggu Mama ya. Biar Mama nggak tambah kesel," peringat Abraham pada tantenya.
Dua bayi cantik itu mengangguk. Mereka kembali bermain. Reece, Liam dan juga triple A makin lama makin pintar. Aislin selalu saja membuat para suster harus ekstra perhatian, tingkahnya yang super melebihi Pram yang kalem.
Sedang di ruang kerja Jovan. Pria itu larut dalam pekerjaannya, disuapi sang ibu membuatnya sedikit nyaman. Walau ia mengingat jika tadi tidak mencium istrinya.
"Duh ... pasti bakalan ngambek nih!" gumamnya.
"Tuan berkata sesuatu?" tanya Toni sang sekretaris.
"Tidak ada. Oh ya, apa jadwalku lagi?" tanya Jovan sekaligus menjawab.
"Tuan nanti ada meeting antar divisi," jawab Toni.
Pria itu mengangguk, lalu berdiri. Ia akan keruangan meeting hari ini. Praja tengah menghadiri meet and greet para pebisnis muda di salah satu restoran, pria itu membawa Dede asistennya. Sedang sekretarisnya di ruangan mengulas beberapa berkas yang ditinggalkan atasannya. Semenjak dipecatnya sekretaris Jovan waktu itu. Sunia takut mencoba peruntungan menggoda atasannya. Ia berusaha untuk bekerja secara profesional sekarang.
"Ternyata tak seindah novel," gumamnya.
Sunia sama dengan sekretaris Jovan kemarin. Gadis itu menggilai sebuah novel yang menghadirkan kisah affair antara boss dan sekretaris di mana sekretaris itu yang memenangkan cinta sang atasan padahal atasan itu telah beristri dan memiliki anak.
"Bossku sangat mencintai istrinya," keluh gadis itu.
"Tapi ada kan cerita yang tetap melakukan hubungan tersembunyi dan mereka baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Sunia sudah seperti orang gila yang mengkhayalkan sebuah kisah novel romansa. Di mana atasannya meminum obat perangsang dan bukan orang yang memberi perangsang itu yang dinikmati, malah menarik tubuh sekretarisnya hingga hamil.
Sunia tak sadar jika hidup tak seindah novel. Hidup kejam terlebih pada perempuan yang begitu mudah jatuh kepelukan pria beristri. Walau sekarang pelakor begitu kejam menghancurkan sebuah mahligai rumah tangga.
"Apa aku pelakor itu?" tanya Sunia lagi.
Gadis itu menggeleng, ia sedikit tau siapa Praja Dinata, atasannya itu begitu dingin dan tegas. Pria yang tak banyak bicara hanya memberi tugas satu kali dan dia harus sigap mengerjakan tugasnya.
"Cari kerja susah," ujarnya lagi lalu kembali mengerjakan tugasnya.
Praja datang ketika hendak pulang, pria itu membawa dua kilo mangga muda. Pria itu ternyata memborong satu pohon mangga untuk diberikan pada Jovan.
"Mangga!" pekik Jovan kegirangan.
"Makasih Paman!" ujarnya lalu mencium Praja.
"Astaga ... Tuan!" keluh Praja.
Kini mereka pulang. Senyum mengembang menghiasi wajah Jovan. Pria itu bersemangat dengan mangga yang ada di pangkuannya.
"Kami pulang!" seru Jovan.
Manya menyambut dengan senyum. Jovan langsung mengecup bibir istrinya sebagai permintaan maaf karena tadi pergi tidak menciumnya.
"Maaf ya," ujar Jovan yang diangguki Manya.
"Nih Praja bawa mangga!" tunjuk Jovan pada sebuah kantung kresek berukuran besar.
"Astaga, banyak sekali?!" seru Manya.
"Biar dia nggak nyari tengah malam buta lagi," jawab Praja.
Semua makan malam dengan tenang. Aldebaran menginap di rumah cucunya itu. Tita dan Maiz tak mau pulang begitu juga Aislin dan Liam.
"Besok Manya periksa, Mas mau ikut?" tanya Manya.
"Aku harus pergi pagi-pagi sayang. Ada kendala di proyek D," jawab Jovan dengan nada menyesal.
"Ya sudah tidak apa-apa," jawab Manya.
"Aku akan mengantarmu!" sahut Aldebaran.
"Beneran?" tanya Manya setengah tak percaya.
"Iya, bener. Grandpa akan menemanimu periksa besok!" jawab Aldebaran yakin.
Bersambung.
Next?