
Pagi memang awal keramaian. Maira dan Amertha terkekeh mendengar teriakan cucu-cucunya. Bukannya mereka ikut membantu tetapi justru menikmati momen ini, yang mungkin mereka rindukan.
"Maaf Mom, Mi. Aku nggak bisa layani Mami dan Mommy dulu," ujar Manya merasa bersalah.
"Tak masalah sayang," ujar kedua wanita itu.
Ramaputra dan Abraham sudah rapi, Jovan dan tujuh anak kembarnya juga. Mereka bersiap pergi ke tempat mereka masing-masing.
Usai sarapan anak-anak berpamitan pada semua orang tua. Maira dan Amertha yang selalu gemas dengan para cucu yang memakai seragam sekolah.
"Kalian lucu banget sih!" ujar Maira geregetan.
Akhirnya rumah sepi. Manya hari ini tidak ke rumah sakit. Ia tak memiliki jadwal operasi dan juga praktek. Wanita itu berencana akan mendatangi sekolah tujuh anak kembarnya.
"Mama, pa'a pita zadhi peuldhi te setolah Ata' pepen E?" tanya Aqila dengan suara kecilnya.
"Iya Baby," jawab Manya.
"Atuh itut!" teriak Reece.
"Baby pulang sama Moma yuk!" ajak Amertha.
"No Moma ... Lees mawu pama Mama te setolah!" tolak Reece tak mau kompromi.
"Baby ...," rengek Amertha.
"No Moma No!" tolak bayi tampan itu begitu tegas.
"Mom, biar Reece ikut ya," pinta Manya.
Amertha hanya bisa menghela nafas panjang. Wanita itu tak bisa mendidik putranya seperti apa yang ia inginkan. Reece yang dekat dengan kakak perempuannya bahkan lebih dekat dari pada dirinya sendiri sebagai ibu kandungnya.
"Sudahlah Jeng, jangan buat putramu membencimu, karena tidak menurutinya," sahut Maira menengahi.
Amertha pun menurut. Ia tentu tak mau Reece membencinya gara-gara wanita itu memaksakan kehendaknya.
Akhirnya mereka pun ke sekolah sang putra menggunakan taksi online. Tadi Manya meminta Pak Sidik menjemputnya dengan mobil yang lebih besar.
Rupanya ada perlombaan di sekolah taman kanak-kanak tempat seven A belajar. Kebanyakan adalah lomba ketangkasan, seven A mengikuti beberapa perlombaan.
"Selamat pagi Mamanya seven A," sapa ibu guru ramah.
"Selamat pagi," ujar Manya tersenyum ramah.
"Mau liat anak-anak ikut lomba ya?"
"Iya nih, katanya seven A ikut semua perlombaan ya?" tanya Manya.
"Iya, hampir semuanya menang loh Mama seven A!" jawab ibu guru dengan nada bangga.
Manya ikut tersenyum bangga mendengarnya. Amertha dan Maira sudah berada di sisi lapangan bersama Reece yang menggunakan kereta dorongnya. Bayi itu berteriak menyemangati keponakannya.
"Bustel sepat ... mawu bihat Ata' pompa!" ujar Aidan tak sabaran.
Suster mendorong kereta tiga bayi kembar itu. Semua memuji ketampanan dan kecantikan bayi-bayi itu.
"Ata' pompat Ata'!" pekik Aidan melihat kakaknya Ailika tengah berlari dan melompat kotak di depannya.
Lika berhasil menang dengan lompat terjauh sebanyak tiga kotak.
"Pizal ... dolon aja pemenna!" pekik Reece marah pada keponakannya itu.
Bhizar yang dari tadi didorong temannya balas mendorong kuat, hingga membuat temannya terjungkal. Wasit memberi peringatan dengan meniup peluit. Hal ini membuat Reece mengamuk sejadi-jadinya.
"Wansit sulan .. shejnejdhhsikwhdhdnwuwibsvdgbsbrr!!" pekiknya memarahi wasit.
Bhizar terkena pinalti, ia tak boleh ikut satu putaran permainan. Hal ini membuat tim lawan menang. Aidan, Aqila dan Adelard juga ikut menyoraki wasit yang menurut mereka curang.
"Danti pansitna!" teriak Aidan tak terima.
Manya hanya tersenyum saja. Tentu bahasa bayinya tak akan ada yang mengerti. Semua orang tua di sana hanya menatap gemas empat bayi yang marah-marah tak jelas.
Pinalti terhadap Bhizar selesai, ia bisa bergabung lagi. Kini angka mereka sama dengan angka lawan. Denta sebagai kepala tim meminta waktu rehat.
"Moma iputin Pisal!" titah Reece bossy.
"Kita mesti ganti strategi!' ujar Denta sebagai ketua regu gobak sodor.
"Jika mereka bermain seperti itu, kita ikuti saja jangan ada yang terpancing! mengerti?"
"Mengelti!' sahut Anton, Abraham, Syah, Abi dan Bhizar, Lucky dan Sapri.
"Peumbental pulu!" ujar Reece.
Mereka pun mengikuti bayi yang belum dua tahun itu.
"Apa Dik?" tanya Denta.
"Atuh Pom teusil!" ujarnya memperkenalkan diri.
Denta menoleh pada Abraham. Balita itu hanya mengangguk saja. Denta mengikuti apa kemauan Pom teusil itu.
"Tatit peulmainan talian judha halus piupah!" tekannya selayak pelatih.
Denta, Lucky dan Sapri gemas dengan perkataan bayi tampan itu. Sedang Anton dan lainnya hanya tersenyum.
"Danti denan selan pundul ... puwa baju tlus yan tetidha lali doblat tawan!" ujar bayi itu memberitahu.
Abraham, Abi, Bhizar dan Syah yang mengerti langsung mengangguk. Sedang lainnya bertanya lewat tatapan.
"Kata Om Kecil. Kita harus pakai selang mundul, dua maju telus yang ke tiga lali menjebol gawang!" sahut Abraham mengartikan perkataan om kecilnya itu.
'Oh ternyata itu. Oke deh!" sahut Denta mengerti disertai anggukan Lucky, Sapri dan Anton.
Mereka kembali ke lapangan. Tim lawan sudah bersiap. Tubuh mereka sedikit lebih besar dibandingkan seven A. Manya mengira mereka adalah anak kelas satu SD.
"Sepertinya ada kecurangan di sini?' gumamnya menduga.
Wanita itu hanya menghela napas panjang. ini baru pertandingan tujuh belasan. Tapi mereka sudah bermain curang! Gumamnya tak habis pikir.
Permainan dimulai. Tim Denta yang akan menyerang pertahanan setelah tadi kalah dan membuat nilai mereka seri.
Abraham dan Lucky mengecoh lawan di kanan dan kiri garis lawan yang berjaga. Tentu penjaga garis paling depan harus bergerak ke arah salah satu garis.
Lawan bergerak ke arah Abraham yang ada di sebelah kiri. Balita itu mundur dan dua lainnya masuk di dua kotak berbeda. Karena tak abai ingin menangkap salah satu dari lawan yang masuk Denta sebagai kepala tim berlari hingga gawang dan berhasil meruntuhkannya.
"Satu poin untuk tim TK Permata Bunda!" pekik juri langsung memberi nilai.
Karena menang, tim lawan kembali berjaga. Taktik sama dilakukan tim Denta. Lagi-lagi Abraham kini mampu mendobrak gawang dan langsung mendapat nilai telak tiga poin.
Tim TK Permata Bunda menang dan akan masuk final melawan TK As-Salam. Semua bersorak melihat kemenangan itu. Wasit tak bisa berkutik terlebih lawan. Ternyata permainan sederhana ini dimenangkan oleh anak-anak lima tahun.
Usai perlombaan mereka pulang. Akan diadakan perlombaan final ketika acara tujuh belas Agustus nanti. Khusus permainan gobak sodor, tarik tambang dan lompat kotak.
Ailika, Alaina dan Abigail memenangkan perlombaan itu dan masuk ke semifinal. Lika akan melawan teman sekelasnya Nuri dan Agil melawan saudaranya sendiri Laina.
"Mama ini hadiah dari lomba makan kelupuk!' sahut Agil antusias.
"Hebat sayang," puji Manya.
"Anton ikut lomba apa lagi selain gobak sodor tadi?" tanya Manya perhatian.
"Ikut lempal lembing sama lompat tinggi Nyonya," jawab balita itu.
"Juala semua loh Ma!" sahut Abraham antusias.
"Waw ... Ata' Panton pebat!" puji Aqila bertepuk tangan.
Manya menatap supir yang tersenyum bangga pada putra angkatnya itu. Senyum itu menular pada dirinya juga Maira dan Amertha.
"Kau hebat Nak!" puji Maira.
bersambung.
Semua anak hebat Moma!
next?