THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
KESIBUKAN YANG TAK BERHENTI



Pagi menjelang, seven A sudah mulai banyak mengikuti perlombaan. Denta sudah kembali ke sekolah, ia sembuh dari demam berdarah. Anton yang paling bahagia melihat sahabatnya itu.


"Kamu kulusan," kekehnya penuh haru.


Denta tersenyum, walau masih terlihat lemah. Tetapi, ia senang kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya.


"Lumayan lah," ujarnya.


"Apa mau berlatih gobak sodor sekarang?" tanyanya.


"Nggak usah. Kamu balu sehat, nanti saja dekat-dekat pelombaan," sahut Abraham.


Denta mengangguk setuju. Memang balita bongsor itu masih terlalu lemah jika diajak bermain. Sebenarnya pun ia belum boleh sekolah, tapi Denta memaksa.


"Dik Denta jangan terlalu lelah ya!" peringat suster yang menjaganya.


"Iya suster!" sahut balita itu.


Bel pulang pun berbunyi, anak-anak berhamburan keluar, Sidik sudah menunggu mereka di mobil.


Para suster datang sambil menggandeng seven A dan Anton. Mereka pun naik mobil, lalu kendaraan itu bergerak menuju kediaman orang tua tujuh balita kembar itu.


"Kami pulang!" seru Abhizar ketika masuk dalam rumah.


Sepatu dilepas begitu saja, para suster merapikannya. Jika ada ibu mereka, Manya akan melarang dan meminta seven A kembali merapikan sendiri sepatu mereka.


"Biar mereka mandiri Sus!" ujar wanita itu.


"Kalau mereka mandiri terlalu cepat, kami akan cepat juga tak merawat mereka," sahut Wati mengerucutkan bibirnya.


Manya terkekeh, tentu ia hanya akan memakai para suster itu sampai diusia ketika Seven A sudah mandiri.


"Kan ada triple A, Sus," sahut Manya mengingatkan.


Manya hari ini sedang ada jadwal operasi dan akan pulang sedikit lebih larut dari biasanya. Amertha dan Maira langsung memerintahkan tujuh cucu kembarnya berganti baju.


"Moma ... sebental lagi ... kami masih lelah," ujar Syah meminta pengertian.


"Hah, sejak kapan kalian lelah?" sindir Amertha gemas.


"Moma ... belajal itu telnyata susah tau!" sungut Lika.


"Moma mungkin lupa rasanya sekolah, kan itu sudah lama teuljadi," celetuk Agil.


"Astaga apa maksudmu Moma sudah tua?" sahut Maira gemas.


"Oh ... apa Moma masih muda?" sahut Agil tak mau kalah.


"Astaga Manya ... putrimu," gerutu Maira lagi-lagi gemas.


"Ayo sini ganti baju, biar suster bantu!" ajak Saskia.


Ketujuh balita itu menurut, para maid baru selesai memasak. Dua piring gorengan tahu isi terhidang. Reece langsung mengambil makanan yang masih berasap itu.


"Aaah ... nanas!" pekiknya nyaris melempar tahu isi yang tadi ia pegang.


"Itu kan masih panas Baby!" peringat Amertha pada putranya.


"Moma ... tanan Lees satit," rengeknya mau menangis.


"Oh ... sini Baby, Moma lihat,"


Maira menarik tangan Reece, telunjuk bayi itu memerah karena memegang makanan yang masih panas. Wanita itu meniupnya pelan-pelan. Memasukan jari itu ke mulutnya.


"Masih perih?" Reece mengangguk dengan mata menggenang.


Suster datang membawa salep untuk luka bakar, ia mengolesnya lada telunjuk Reece yang memerah.


"Masih perih?" Reece mengangguk lalu tak lama ia menggeleng.


Kejadian itu membuatnya manja pada ibunya, ia tak mau lepas dari pangkuan Amertha.


"Loh, Om kecil kenapa Moma?" tanya Abraham.


Seven A sudah berganti baju rumahaan. Mereka mendekati adik-adiknya terutama paman kecil mereka, Reece.


"Tanan Lees satit," rengeknya sambil memperlihatkan telunjuknya yang memerah.


"Oh ... ini kenapa Moma?" tanya Abraham khawatir.


"Tadi ambil makanan yang masih panas Baby," jawab Amertha.


"Oh, lain kali hati-hati ya Baby," ujar Abraham memperingati paman kecilnya itu.


Reece mengangguk, Abraham lalu mengajaknya bermain. Bayi lima belas bulan itu pun akhirnya melupakan tangannya yang memerah. Maira langsung menuju dapur, ia memperingati para maid agar menghidangkan makanan dalam keadaan hangat pada para bayi.


"Apa kalian mengerti?" ujarnya tegas.


"Mengerti Nyonya," sahut enam maid menunduk.


"Sekarang siapkan makan siang!" titahnya.


Tak lama mereka pun makan, siang. Ternyata Reece masih manja dan ingin disuapi oleh Maira.


"Moma ... tanan Lees satit, eundat pisa pedan sendot!" keluh bayi tampan itu.


Maira gemas dengan bayi yang bossy itu. Ia menyuapi, Reece dengan telaten.


Usai makan semua anak tidur siang. Amertha dan Maira, mengecup satu persatu bayi-bayi menggemaskan itu.


Sore menjelang, anak-anak sudah wangi dan bersih. Mereka bersiap menyambut kedua orang tuanya. Ramaputra dan Abraham datang bersamaan. Anak-anak menyambut meriah.


"Popa ... padhi tanan Lees satit!' adu Reece pada ayahnya.


"Oh ... mana Baby?" tanya Ramaputra.


Reece menunjukkan telunjuknya yang tadi memerah dan sudah sembuh. Pria itu mengecup jari putranya. Reece pun memperlihatkan juga pada Abraham.


"Masih sakit Baby?" tanya pria itu.


"Basih ditit Popa," jawab Reece hiperbola.


Abraham begitu gemas dengan bayi tampan pandai merayu ini.


"Popa ... tami eundat pisium!" protes Adelard kesal.


"Oh ... Baby, maaf ya," Abraham lalu memeluk tiga bayi itu gemas dan menciuminya.


Setelah triple A, giliran seven A yang dicium dua pria yang masih tampan itu.


"Mama pelum pulan?" tanya Aidan mencari keberadaan ibunya.


"Mama masih lama pulangnya Baby," jawab Maira.


"Papa Yayah judha?" tanya Aqila dengan mata bulatnya.


"Iya Baby," jawab Maira.


"Telus banti talo Moma pama Popa pulan, tami pama spasa?" tanya Adelard sedih.


"Oh .. jangan khawatir Baby, Popa dan Moma akan pulang setelah Papa dan Mama kalian pulang," ujar Abraham.


"Iya sayang, jadi jangan khawatir ya, kalau perlu Moma dan Popa menginap!" ujar Amertha, Ramaputra mengangguk.


Saskia senang mendengarnya, ia ingat ketika ibu dari kembar tujuh itu awal-awal masuk kerja pasca melahirkan.


"Dulu, mereka bertujuh akan menginap di ruangan khusus itu bersama saya dan empat rekan lainnya," ujarnya memberitahu.


"Benarkah?" Saskia mengangguk.


"Suster Denna, Leni, Neni, Retta dan saya akan bergantian berjaga ketika Dokter Manya ada pekerjaan hingga empat jadwal operasi satu hari," lanjut wanita itu mengingat.


"Seven A masih terlalu kecil waktu itu," lanjutnya.


"Oh, Babies ... kasihan sekali kalian," ujar Maira iba terlebih Amertha.


"Sudah, jangan mengingat masa lalu. Biar jadi pelajaran yang membuat kita lebih kuat nantinya," tukas Abraham.


Anak-anak sudah mengantuk, semuanya tak bisa menunggu ayah dan ibu mereka pulang begitu juga yang lainnya. Manya dan Jovan pulang pukul 22.16 malam. Manya langsung menyiapkan makanan untuk suami dan bawahan sang suami.


"Makanlah Praja," perintah Jovan.


"Terima kasih Tuan," sahut pria itu.


Ketiganya pun makan, usai makan Praja diminta untuk menginap karena sudah terlalu malam jika membangunkan istrinya.


"Tidur lah di ruang tamu," suruh Jovan lagi. "Jangan ganggu istrimu yang sudah lelap beristirahat!"


"Baik Tuan," sahut Praja lagi.


Baik Jovan dan Manya langsung tidur setelah mencium semua anak dan juga adiknya.


Pagi menjelang, kembali keributan terjadi. Anak-anak berlarian karena belum mau pakai seragam sekolah.


"Ma ... dasiku mana?" teriak Jovan di kamarnya.


"Mama ... Ablaham mau pup pulu!"


Balita itu kembali membuka semua seragamnya dan masuk kamar mandi.


"Mama ... Aidan pipis di selana!' pekik Aqila melihat celana saudara kembarnya basah dengan air di lantai.


"Mama ... hiks ... Mama!' Aidan menangis karena pipis di celana.


Manya hanya bisa garuk kepala dan menghela napas panjang.


bersambung.


Aduh ... yang sabar ya Bu!


next?