
"Terima kasih atas kejelian mu Rin!" ujar Ramaputra.
"Rud, berikan bonus untuk Rina!" titahnya.
"Baik Tuan," sahut Rudi.
"Tidak perlu Tuan, itu sudah jadi kewajiban saya. Ini proyek kita bersama. Tentu akan jadi masalah jika saya membiarkan kecurangan terjadi," sahut Rina menolak bonus.
Beatrice mendatangi ruangan, ia sangat terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar. Terlebih banyak polisi datang dan memeriksa TKP.
"Rin!" panggilnya.
"Nona," sahut sekretarisnya.
"Apa yang terjadi? Apa benar kepala proyek berbuat curang dengan membeli besi yang dibawah standar?" cecarnya bertanya.
"Benar Nona, beruntung para pekerja tak menemukan satu besi pun di setiap bangunan," jawab Rina.
"Apa mereka tidak mencampurnya dengan besi sesungguhnya?" tanya Beatrice masih takut.
"Masih diselidiki, tim masih mencari, Nona. Kami terpaksa berhenti sebentar pembangunan," jawab Rina.
"Tuan?"
"Benar Nona Beatrice, tim dan kepolisian sedang menelusuri rangka gedung. Kita berharap agar laporan pembelian itu benar adanya, jadi kita tak perlu lagi membongkar total gedung ini!" jawab Rudi.
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kita ikut membantu, agar pekerjaan lebih cepat dan pemesan tender puas dengan kinerja kita!" ujar Beatrice.
"Itu sudah pasti, kita akan menerima setiap satu jam laporan pada semua titik konstruksi!" sahut Rudi kini.
Kini mereka berempat kembali memeriksa semua berkas yang ada. Beatrice menatap Ramaputra yang tengah bekerja. Pria itu begitu gagah dan tampan. Karisma Ramaputra begitu kuat.
Beatrice menggigit bibir bawahnya. Ia menahan mati-matian hasrat yang tiba-tiba menyerangnya. Hanya dengan menatap Ramaputra, ia sudah basah di bawah sana. Sedang Rina juga sama, gadis itu menatap pria yang duduk di sebelah Ramaputra.
Rudi yang tenang dan datar membuatnya berfantasi liar. Ia yakin bibir tipis Rudi mahir berciuman. Perlahan ia menyentuh bawahnya. Satu tonjolan keras di sana ia gesek dengan jarinya. Gadis itu mengigit keras bibirnya untuk menahan ******* yang keluar dari mulutnya.
Sedang Ramaputra dan Rudi yang sibuk dengan beberapa berkas. Intercom di ruangan berkali-kali berbunyi melaporkan semua temuan di lokasi.
"Uuuhhh!" lenguh Rina kelepasan.
Dua pria itu menoleh. Wajah merah, mata sayu. Mulut Rina terbuka dengan tubuh mengejang. Napasnya putus-putus. Sedang Beatrice juga tengah asik memberi kenikmatan pada dirinya sendiri.
Rudi bukan tak tau apa yang dua wanita itu lakukan, begitu juga Ramaputra. Rudi yang kesal berdiri. Di sana ada pembatas yang terbuat dari kertas tebal. Ia menarik pembatas itu hingga keduanya tak saling melihat.
"Berengsek!" makinya pelan. "Sial!"
"Duduk lah Rud!" perintah Ramaputra gusar.
Rudi duduk dan keduanya pun larut dengan pekerjaan mereka. Ramaputra ingin sekali mendepak dua wanita gila itu. Tetapi, kinerja Beatrice dan Rina tak bisa dianggap sebelah mata. Mereka sangat baik dan mumpuni jika bekerja.
"Kinerja mereka bagus, tetapi otak mesumnya itu ...," keluh pria itu kesal.
"Jangan dipikirkan Dad. Aku sendiri jijik melihat kejadian tadi. Aku jadi merindukan istriku," sahut Rudi.
"Kita tidak bisa pulang sebelum semua selesai Rud!" sahut Ramaputra.
Keduanya sama-sama menghela napas panjang. Telepon di ruangan itu kembali berdering. Rudi mengangkatnya.
"Ya?"
".........!"
"Oke ... tinggal dua lantai lagi! Semangat kalian semua, bonus menanti!" sahut pria itu memberi semangat.
"Sejak kapan aku bilang ada bonus?" goda Ramaputra.
"Tidak ada, tapi jika memang Tuan tidak ingin pekerjaan ini cepat selesai ... saya akan bilang pada para pekerja ...."
"Hais ... sudah ... lanjut bekerja!" potong Ramaputra kalah.
Rudi tersenyum simpul. Sedang di ruangan lainnya. Baik Rina dan Beatrice selesai dengan pelepasannya. Keduanya malu luar biasa terlebih Rudi menutup sekat mereka.
"Nona," panggil Rina.
"Kenapa kita bisa begini?" tanyanya penuh sesal.
"Aku tak tau Rin ... sungguh aku tidak tau," jawab Beatrice juga penuh penyesalan dan malu.
"Apa kita perlu datang ke psikiater Nona?"
"Kita bukan orang gila!" tolak Beatrice.
"Tapi Tuan Artha dan Tuan Hardiansyah sudah menganggap kita gila, Nona!"
"Mungkin jawabannya menikah," sahut Beatrice.
"Siapa mau menikahi perempuan yang sudah tidak perawan Nona?" bisik Rina lirih.
Rina menggeleng, air matanya meleleh, Beatrice ikut sedih. Ia juga menyesali tabiatnya yang berengsek itu.
"Kita beli laki-laki untuk menikah, lalu bercerai setelah mendapat anak?" Rina memberi solusi.
"Membeli laki-laki?" Rina mengangguk.
"Jika kita beli, buat perjanjian dia tak akan menuntut apapun. Setelah mendapat anak, kita cerai mereka!" terang Rina.
"Kau gila Rin!" sahut Beatrice menolak.
"Lalu bagaimana Nona, aku tak bisa begini terus berhasrat pada laki-laki, aku ingin menghilangkan kecanduan ini!" keluh Rina.
Beatrice terdiam, ada beberapa perjodohan bisnis yang bisa saja ia terima. Tetapi, semua CEO itu tentu akan mencampakkannya setelah tau dirinya tak suci lagi. Terlebih mereka akan tetap bersama selama keuntungan bisnis tapi bercinta dengan wanita lain. Beatrice menggeleng, solusi dari sekretarisnya sangat menguntungkan dirinya.
"Sepertinya kita harus cari pria yang mau kita bayar untuk menikahi kita," ujarnya.
Pekerjaan mereka terus berlanjut selama pemeriksaan seluruh kontruksi bangunan sudah selesai. Ramaputra dan Rudi meminta Rina membuatkan kopi dan membeli makanan. Beatrice memilih pergi ke ruangannya sendiri, ia terlalu lelah hingga menolak makan.
"Nona, anda harus makan," pinta Rina.
"Hmmm," hanya deheman keluar dari mulut wanita itu.
Rina terpaksa menyuapi atasannya itu. Padahal ia juga sangat kelelahan. Beberapa pebisnis yang ikut tender juga sibuk dengan semua data dan mencocokan temuan tim mereka.
"Tuan Bondan, Tuan Duardja!" sapa Ramaputra pada dua koleganya.
"Astaga lelah sekali Tuan!" keluh Bondan duduk di kursi.
"Lebih baik lelah sekarang dibanding nanti kita tak bisa tidur karena ada kesalahan dalam kontruksi," sahut pria itu.
"Apa Nona Beatrice masih di sini?" tanya Duardja.
"Masih, mereka ada di ruangannya," jawab Rudi.
"Salut dengan tenaga mereka. Padahal mereka berdua adalah perempuan," sahut Duardja memuji.
"Kerja hebat tapi minim atitude," gumam Ramaputra lirih.
"Tuan bilang sesuatu?" tanya Bondan yang merasa jika Ramaputra mengatakan sesuatu.
"Tidak, tidak ada!' sahut Ramaputra cepat.
"Laporan masih di lantai delapan, satu lantai lagi, semangat!" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
Rina dan Beatrice masuk, keduanya benar-benar kehabisan tenaga. Selain berkas yang harus benar-benar diperiksa secara teliti. Keduanya juga kembali naik ke gedung untuk melihat semua kontruksi yang berjalan.
"Ini kopi," Bondan memberi satu cangkir kopi pada Beatrice.
"Nona, anda tak boleh minum kopi!" peringat Rina.
Beatrice tak peduli, ia menyeruput minuman hangat itu. Matanya yang sepat langsung terbuka, ia memang butuh kopi.
"Nona," keluh Rina.
"Diamlah Rina. Aku butuh minuman ini!" tukas Beatrice.
Rina memilih minum air putih daripada kopi. Pekerjaannya ini pasti membuat ia kehilangan banyak cairan. Bunyi telepon berdering, semua menoleh.
'Halo!" Rudi langsung menyahuti telepon itu.
".......!"
"Apa kau yakin tidak ada satu besipun tercampur?" tanya Rudi memastikan.
"........!"
"Clear area?" tanya Rudi lagi.
".......!"
"Alhamdulillah!" sahut pria itu pada akhirnya.
"Baik, semuanya rehat satu hari. Lusa pagi kita kerjakan lagi!" ujar pria itu.
Telepon ditutup. Rudi mencatat semuanya.
"Tak ada besi yang dicampur. Semua clear area!" lapornya membuat semua lega.
Bersambung.
Akhirnya selesai kerjaan.
Next?