
Jovan pergi bersama Praja, pria itu disambut di perusahaan milik Ramaputra, Rudi mendatangi mereka.
"Tuan," sambutnya.
"Kita ke ruang IT. Daddy ... ah kata Tuan Artha jika sistem semua pendataan ada di sini?" tanya Jovan.
"Benar tuan!" jawab Rudi.
Ketiga pria dengan ketampanan berbeda menjadi sorotan, terutama mata hazel milik Jovan. Ketiganya langsung naik lift khusus dan membawa mereka ke tingkat paling atas. Ruang kontrol panel seluruh data ada di sana. Beberapa tim IT bekerja, Jovan memang sangat menguasai bidang itu.
"Tuan ini sistem panel utama yang mengakses semua jaringan data seluruh perusahaan yang terkait dan bekerjasama dengan kita," jelas Rudi.
Jovan duduk di kursi panel. Begitu nyaman ada layar pelindung mata dari radiasi. Jovan memulai mengetik. Jari jemari pria itu seperti hapal di mana letak huruf dan angka.
Pertama Jovan menyusuri data perusahaan milik Ronald Frank. Seluruh data tak ada yang mencurigakan. walau banyak data tumpang tindih. Rupanya tim IT belum memperbaikinya.
"Ini jika tak dikerjakan akan membuat data perusahaan kita juga berimbas," ujar pria itu.
"Rudi, kau kerjakan bilik divisi keuangan, perencanaan dan divisi yang setara perusahaan milik Ronald dan kau Praja kerjakan divisi lainnya!" lanjutnya memberi perintah.
"Baik tuan!"
Rudi dan Praja langsung mengerjakan apa yang dititahkan atasan mereka. Jovan sendiri membuat tameng untuk mencegah virus masuk ketika perombakan data.
Semua bekerja dengan serius. Perusahaan Ronald termasuk perusahaan besar, divisi miliknya banyak dan memiliki fungsi ganda.
"Management Ronald sangat teliti dan paling baik sistemnya, tapi kenapa dia banyak berutang ya?" gumam Jovan tak mengerti.
Jovan mengabaikan pikirannya. Ia lalu masuk ke perusahaan ayahnya. Ternyata, sistem pagar perusahaan milik Dinata yang diciptakan oleh Jovan sendiri langsung memblok, beruntung Jovan mengetahui password pembuka, maka ia bisa masuk setelahnya dan memulai memasukkan seluruh jaringan pada data di perusahaan ayah mertuanya yang jauh lebih canggih dan lengkap.
"Rudi, jika tak salah dengar, Tuan Artha memiliki program pelindung yang dibeli khusus pada perusahaan ternama di tanah air bukan?' tanya Jovan.
"Benar tuan, perusahaan legenda yang diturunkan pada semua keturunannya," jawab Rudi dengan mata masih fokus ke layar.
"Apa nama perusahaannya?" tanya Jovan lagi.
"PT Hudoyo Cyber Tech, tuan. Kini dipimpin oleh cucu dari Nyonya Pratama yakni Nona Maryam Dougher Young!" jawab Rudi lagi.
Jovan sedikit bergidik mendengar nama belakang itu. Siapa yang tak kenal dengan turunan genius Dougher Young. Bahkan anak-anak dari perempuan bernama Terra Arimbi Dougher Young begitu melegenda di telinga para IT seperti mereka.
Jovan kembali fokus pada layar. Ia merasa tenang dengan sistem penjaga data jika sudah memakai chip dari perusahaan cyber pertama di Indonesia itu. Bahkan salah satu menantu dari pemilik perusahaan menciptakan banyak sistem untuk memperkuat pengamanan data.
"Mereka keluarga menyeramkan," gumamnya pelan.
"Apa tuan?" tanya Rudi yang mengira Jovan berbicara dengannya.
"Lupakan Rud, lanjutkan tugas!" ucap Jovan.
Rudi mengangguk dan mengerjakan semua tugas. Jovan kembali berselancar pada perusahaan jasa bodyguard atau pengawal yang mereka sewa. Ia dengan mudah menjelajah sistem tanpa ada tameng atau apapun.
"Praja, apa nama perusahaan pengawal kita?"
"LockedJaya, tuan!"
Pria itu mengetik nama perusahaan yang disebut asistennya. Dengan mudah ia masuk tanpa rintangan walau ada tameng data, tetapi dapat ia atasi tanpa kesulitan yang berarti.
"Eh, apa ini?" Jovan tengah mengklik sebuah kubikel berwarna merah. Sistem mendadak error, Jovan langsung membuat blok agar sistem error tak menyebar ke sistem lain.
"Block semua sistem yang mencoba masuk!" titah pria itu.
Semua orang di bawah perintah pria yang memiliki akses dari atasan tertinggi mereka. Semua harus bekerjasama, jari-jari mereka mengetik dengan cepat. Layar panel sedikit berasap pada awal. Namun chip pengamanan yang sangat mendukung langsung mengamankan, anjing cyber yang diciptakan oleh menantu dari pemilik perusahaan cyber pertama di Indonesia sanggup mematahkan penyerangan virus. Panel normal kembali suhu kembali ke sistem pendinginan dan semua bisa bernapas lega.
Jovan masuk berkutat pada satu titik merah. Ia selalu diminta password untuk bisa akses ke tempat itu.
"Ck ... pemilik dari perusahaan ini sudah lama meninggal dunia, sistem yang terkunci ini pasti sistem baru yang disusupkan!" geram pria itu kesal.
"Praj, siapa nama pemilik LockedJaya?" tanya Jovan.
"Almarhum tuan Gevanka Rohan, tuan!" jawab Praja.
Pria itu sudah hampir selesai mengerjakan pembenahan data milik perusahaan Ronald begitu juga Rudi.
Jemari Jovan berhenti. Ia berpikir keras sistem dapat dikembalikan oleh chip pelindung data.
"Apa password-nya?"
Sementara di mansion Artha. Seven A sibuk bermain di sebuah taman, empat suster, Manya dan Amertha juga Maira duduk mengawasi mereka. Sedang Abraham dan Ramaputra memilih ke kantor kepolisian bersama para pengacara untuk membuat konferensi pers atas kasus ketika di gala lunch tadi siang.
"Mama Abi palpal mama!"
"Sini makan buah baby,"
Abi dan saudaranya yang lain datang. Tangan mereka dicuci dengan tisu basah oleh para suster.
Amertha menyuapi bayi-bayi perempuan sedang ketika Maira ingin menyuapi bayi-bayi laki-laki langsung ditolak.
"Moma pita bunya tanan seundili, eundat bawu bipuapin!" tolak Bhizar.
Maira cemberut dan langsung pura-pura sedih.
"Wawo woh ... moma nayis dala-dala Bijal!" sahut Agil menyalahkan saudaranya.
Maira berdrama, ia pura-pura menangis sangat sedih hingga membuat bayi lainnya langsung mendekatinya.
"Moma ... puapin Abi aja," ujar Abi lalu hendak menghapus air mata Maira.
"Tot eundat lada ain batana?" tanya Abi bingung.
"Oh ... Moma tayat Syah yan nayis eundat teluan ain bata," sahut Syah lalu menyuap jeruk yang sudah dibuang bijinya.
"Bustel andul beulahna don!" pinta Abraham.
"Tapi ini anggur warnanya apa ya?" tanya Denna.
"Beulah bustel," jawab Abraham.
"Hitam baby," ralat Denna.
"Tuh bustel pudah pahu walnana, tot pasih panya?" celetuk Abraham ketus.
"Baby," tegur Manya dengan menahan senyum.
"Mama ... Plaham beunel tan, bustel pudah pahu walnana pa'a teunapa basih Panya?" sahut Abraham lalu melipat tangan di dada.
"Kan biar baby tau kalau itu bukan warna merah," sahut Manya.
'Jennwjwhhwbwhakjwhsbswhus!"
Abraham menggerutu dengan bahasanya. Ia paling tak suka ditanya-tanya tentang warna jika bukan dalam keadaan belajar.
Sedang di perusahaan. Praja dan Rudi menemani tuannya yang masih berkutat memecah kode rahasia yang menutup sistem yang terkunci. Pria itu sampai berteriak kencang karena sistem sudah memperingati kesalahan pria itu.
"Tuan tinggal satu kesempatan lagi, jika tidak maka chip akan memblok kartu akses dan kita akan menyerahkan pada sistem," sahut Praja.
"Apa tuan serahkan saja pada anjing cyber untuk membuka sistem yang tertutup?" saran Rudi.
Jovan akhirnya menyerah, ia akan mengkodekan anjing cyber. Hingga satu kalimat yang diucap salah satu putarnya.
"Bulan tampun ... ini password sesungguhnya atau apa?"
Lalu Jovan mengetik arti perkataan putranya. Sistem terbuka, ia membelalak sempurna. Semua sistem pengamanan langsung membaca dan mengeprint semua data kejahatan dan percakapan beberapa pengawal dengan seorang perempuan yang ada di sebuah negara.
"Gatcha!"
bersambung.
ah ... hampir aja nyerah ... akhirnya tau juga password-nya.
next?