
Sebuah tanah seluas seribu meter persegi sudah dibeli dan langsung diwakafkan untuk pembangunan masjid. Sidik melaporkan semua pada seven A dan semua anak yang terlibat dalam donasi tersebut.
"Bapak bilang kan kalo itu dari hamba Allah?" ujar Denta.
"Kenapa tidak atas nama orang tua kalian masing-masing? Itu lebih baik,'' saran Sidik.
"Apa boleh?" tanya Abi.
"Tentu saja Tuan muda," sahut Sidik.
"Anton boleh atas nama almarhum bapak dan ibunya Anton?" tanya Anton hati-hati.
"Tentu sayang," jawab Sidik tak masalah.
"Kalau begitu Nita atas nama Bapak dan Ibu!"
'Kenapa bukan atas nama orang tuamu sayang?" tanya Sidik.
Mereka sedang berada di studio mereka, di sana ada Wiwid dan Lina yang baru bergabung mengajak semua teman-teman di tempatnya tinggal.
"Kan Bapak tau sendiri Nita ditemukan di depan panti, jadi nggak tau nama orang tua," jawab Nita.
Sidik baru ingat, memang data gadis kecilnya menerangkan jika ia datang tanpa ada nama ayah dan ibunya. Selama dua tahun pencari kepolisian, tetapi hasilnya nihil. Nita memang diletakkan secara sengaja oleh orang tuanya. Sidik mengelus kepala putrinya itu.
"Nama masjidnya Bapak sudah katakan Al Qudus, yang artinya Maha suci," ujar Sidik yang langsung disetujui semua anak-anak.
Dania memberi kotak makan lezat bagi semua anak-anak. Mereka makan dengan antusias. Seven A selalu senang jika makan dengan semua temannya.
"Endah, kok nggak dimakan nasi kotaknya?" tanya Dania.
"Mau dibawa pulang Bu," jawab Endah sambil tertunduk.
"Nih, Endah makan berdua dengan aku," ajak Wiwid.
"Kenapa mau dibawa pulang sayang?" tanya Dania lalu mengelus kepala Endah.
Seperti nasib Wiwid dan Lina. Endah datang dengan luka kepala yang lebih parah akibat kutu yang bersarang di rambutnya. Bahkan telur-telurnya sampai masuk ke dalam kulit kepala gadis kecil malang itu. Dania harus membotaki Endah untuk penyembuhan sang bocah. Beruntung Endah memakai hijab jadi kepala gundulnya tak kelihatan.
"Mau bawa pulang buat adik, Bapak dan Ibu," jawabnya.
"Nanti ibu kasih lagi sayang, kamu makan saja ya," ujar Dania iba.
"Apa kami juga dapat Bu?" tanya Dodo.
"Tentu saja, kalian semua dapat ya," ujar wanita itu.
"Seven A nggak usah Tante," tolak Lika. "Buat yang lain aja."
"Makasih sayang," ujar Dania mengelus kepala gadis kecil nan cantik itu.
Seven A pulang, Sidik mengantar dua anaknya terlebih dahulu. Mobil mereka diikuti oleh beberapa pengawal. Mereka pun sampai rumah setelah setengah jam perjalanan.
Ketujuh kembar itu tertidur di mobil. Para suster tak bisa mengangkat mereka karena sudah besar.
"Mas ... tolong angkatin anak-anak dong," pinta Leni.
Tujuh pengawal langsung menggendong semua anak satu persatu. Para suster membantu melepas sepatu mereka ketika masuk rumah.
"Mereka sudah makan Sus?" tanya Amertha.
"Sudah Nyonya," jawab Leni.
Mereka masih menginap di mansion milik Ramaputra, semua anak juga sudah tidur siang.
"Nyonya, saya mau melaporkan soal masjid yang dibangun atas nama anak-anak," ujar Sidik menghadap Amertha.
"Tidak perlu Pak, saya percaya kok. Bapak boleh pulang kalau mau," ujar Amertha.
"Makasih Nyonya. Kalau begitu saya pulang dulu," ujar Sidik pamit.
Amertha mengangguk, ia membalas salam dari pria itu ketika keluar dari kediamannya. Manya sudah beristirahat dari tadi. Kehamilannya memang harus membuat ia bed rest total.
Amertha mendekati besannya yang sedang membaca koran. Para pria tidak pulang makan siang kali ini. Ramaputra dan Abraham mengatakan jika mereka harus menyelesaikan semua berkas. Aldebaran dan istrinya sudah beristirahat siang dari tadi.
"Kita istirahat yuk Jeng," ajak Amertha pada Maira.
Wanita itu mengangguk setuju. Akhirnya mereka beranjak ke kamar masing-masing dan tidur. Sore menjelang, Jovan pulang bersama Praja.
"Assalamualaikum!" salamnya.
Jovan mengecup ibu dan mertuanya lalu beralih pada sang istri dan perut buncitnya. Semua adiknya ia cium dengan gemas begitu juga anak-anak. Gerard datang tak lama kemudian bersama Abraham dan Ramaputra.
"Papa ... Papa!" panggil Dery pada Gerard.
"Apa sayang?"
"Papa, masa tadi Kak Seno mau berkelahi lagi!" adunya.
"Kenapa sayang?"
"Gara-gara tadi dia dideketin cewek terus semua temen ngatain kalo Kak Seno pacaran!"
"Oh, kenapa harus marah sayang. Jangan kau tanggapi," ujar Jovan.
"Habis kesel Pa," sahut Seno.
"Udah-udah ... ayo main sana!" ujar Aldebaran.
Mereka pun bermain, selesai makan siang kali ini Aldebaran memilih menginap di mansion Ramaputra. Weekend nanti mereka berencana untuk pergi liburan mengunjungi kebun binatang.
"Sayang ... aku nggak ikut ya besok," ujar Manya.
"Iya sayang, biar anak-anak yang ikut," ujar Jovan.
"Kamu nggak ikut Mas?" Jovan menggeleng.
"Nggak, aku nungguin kamu," jawabnya.
Manya memeluk suaminya erat. Kandungannya kali ini sedikit lemah karena usia, wanita itu selalu meminum obat kuat agar dua janinnya selamat.
"Jangan pikirkan yang berat-berat sayang. Jika memang Allah berkehendak lain, kita ikhlaskan saja ya," ujar Jovan menenangkan istrinya.
Manya mengangguk, usia membuat rentan bagi janin yang dikandung juga nyawanya. Jovan tentu memilih istrinya dibanding apapun di dunia ini. Kandungan Manya sudah berjalan empat bulan. Wanita itu meminta pada Tuhan agar ia bisa menggendong dua janin dalam kandungannya.
Pagi hari anak-anak mulai ribut, para suster sigap menangani seven A yang mencari semua kebutuhan sekolahnya.
"Mama ... Mama mana?" tanya Aqila. Balita itu kecarian ibunya.
Manya yang memang dilarang bergerak lebih banyak tak bisa melayani semua anak-anak.
"Mama istirahat sayang," ujar Praja menentang gadis kecil itu.
"Mau Mama ... hiks!"
Aqila dibawa ke kamar Manya oleh ayahnya. Jovan meletakkan putrinya di sisi sang istri.
"Mama, peluk Mama," pinta Aqila.
Manya memeluk putrinya, Aqila memang sangat manja dan dekat dengan Manya.
"Jaga Mama ya sayang," ujar Jovan mengecup pucuk kepala dua perempuan beda usia di tempat tidur.
Mansion kembali sepi, Amertha dan Maira mendatangi Manya bersama Adelard, Aidan, Tita, Maiz, Reece dan Pram. Aislin dan Liam belum datang.
"Mama ... Mama sakit!" tanya Reece sedih.
"Nggak sayang, tapi Mama memang harus banyak tidur agar Babies dalam perut Mama bisa lahir selamat," jelas Manya.
Reece mencium perut kakaknya itu penuh kasih sayang begitu juga yang lainnya.
"Kita bobo sama Mama ya," pinta Adelard.
"Iya Baby," jawab Manya senang.
Semua anak akhirnya kembali tidur di sisi Manya. Amertha dan Maira menjaga mereka semua.
"Sayang sehat terus ya," harap Maira lalu mengecup Manya menantunya.
Amertha juga melakukan hal yang sama. Dua wanita itu sangat berharap kandungan dari Manya baik-baik saja.
bersambung.
Sehat kandungannya ya Mama Manya.
Next?