
Hari yang di nanti tiba. Semua sibuk. Pengguntingan pita akan dilakukan oleh Jovan dan juga pemilik brand asli perusahaan SavedAcounting.
Wartawan sudah menginap di sana selama dua hari. Semua mendaftarkan diri agar bisa masuk ke dalam dan mendengar sambutan dari sosok cantik jelita.
Bariana Putri Diablo, pebisnis cantik, terkenal bar-bar, jago bela diri dan juga genius. Banyak perusahaan yang ditangani pembukuan dan masalah error managerial sistem dan juga lainnya. Gadis cantik itu mengembangkan usaha yang diturunkan padanya hingga memiliki banyak anak perusahaan yang sama. Jovan mendirikan perusahaan sama dengannya. Karena pemilik brand perusahaan adalah milik gadis itu maka Bariana lah yang akan menggunting pita bersama Jovan sebagai CEO tertinggi.
Hotel tempat penginapannya dijaga ketat oleh dua puluh lima pengawal PT Savelived yang juga kini di pegang oleh salah satu adik Bariana. Perusahaan yang diturunkan kepada semua keturunannya benar-benar membuat pebisnis tak bisa berkutik.
Jovan memakai pakaian terbaik begitu juga Manya. Sosoknya di dunia bisnis juga tak bisa dianggap sebelah mata, begitu juga Abraham Dinata terutama Aldebaran. Sosok ayah dari Manya juga sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, Ramaputra Artha dulu sempat melakukan kerja sama dengan Darren Putra Dougher Young. Sedang Maira dan Amertha juga sangat cantik dengan dress keluaran butik ternama. Kini mereka bersama dengan sahabat putra mereka. Ayah Gerard juga hadir. Eddie Downson tentu tak ingin melewatkan kesempatan untuk berjabat tangan dengan sosok pebisnis nomor satu di negeri ini.
Hari sudah beranjak pagi. Jovan dan Praja menunggu di lobby hotel milik Artha. Hotel bintang lima taraf internasional ini memang paling mewah dan paling megah di kota. Makanya, Jovan mempersiapkan akomodasi terbaik untuk tamu kehormatannya. Deretan mobil mewah sudah berjejer di lobby. Bariana keluar dengan balutan formal sederhana, di sisinya berdiri sosok gagah yang menggenggam erat tangan gadis itu. Pipi Bariana bersemu merah, di kedua jari manis sepasang kekasih itu tersemat cincin pengikat.
"Selamat pagi Nona Diablo ... Tuan muda!' sambut Jovan langsung pada sepasang sejoli itu.
"Selamat pagi Tuan Dinata!" ujar pria di sisi Bariana.
"Tuan!" sambut Bariana menyambut tangan Jovan dan berjabatan.
"Apa anda sudah sarapan?" tanya Jovan.
"Sudah Tuan. Pelayanan di sini benar-benar memuaskan. Saya sangat nyaman," puji Bariana sekaligus menjawab pertanyaan Jovan.
Jovan memperkenalkan Praja. Mereka pun pergi menuju perusahaan baru yang mengusung nama SavedAcounting milik perusahaan Bariana. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat. Cuaca cukup terik, Jovan tentu tak ingin tamunya berpanas-panasan, ia sudah memasang tenda untuk pemotongan pita itu.
Manya menyambut dengan kalungan bunga pada Bariana. Gadis itu menatap Manya dengan pandangan berbinar. Senyumnya langsung terbit ketika melihat wanita itu.
"Ini istri saya Nona Diablo," ujar Jovan memperkenalkan istrinya.
Lalu bergerak memperkenalkan ayah, ibu, kedua mertua dan juga semua sahabat yang terlibat di sana. Bariana dengan ramah menyambut uluran tangan. Media langsung meliput berita itu. Semua terhenyak dengan kedatangan Bariana. Mereka mengira Jovan membual. Saham semua perusahaan langsung naik drastis.
"Nona Diablo, ini ketujuh anak kembar saya!" ujar Manya memperkenalkan seven A.
"Ah ... cantik-cantik dan tampan-tampan sekali!" pujinya.
"Boleh cium nggak?" pintanya memohon.
"Poleh pona syantit!' sahut Abraham langsung memonyongkan bibirnya.
Bariana terkekeh begitu juga sang tunangan. Keduanya langsung mengingat masa kecil mereka.
Pemotongan pita dimulai. Bariana dan Jovan sama-sama memegang gunting, lalu secara bersamaan menggunting pita dan di sambut tepuk tangan meriah dari semua tamu undangan. Mereka masuk. Bariana mengangguk puas. Sebuah bangunan bertingkat empat, dan sedikit tersembunyi karena bangunan ini dihimpit dua bangunan raksasa.
"Letaknya sesuai, sama dengan perusahaan mu sayang," ujar sang tunangan pada Bariana yang langsung bersemu merah.
Semua mengakui kecantikan Bariana. Padahal gadis itu hanya memakai riasan sederhana begitu juga pakaiannya. Jovan sedikit malu karena memakai baju mewah menyambut tamunya itu.
Hanya dua puluh menit Bariana dan tunangannya berada di sana. Setelah memberi kata sambutan. Keduanya pergi diiringi air mata pada bayi dan membuat sepasang kekasih itu sedih.
"Nanti kita ketemu lagi ya," ujar Bariana berjanji.
Seven A melambaikan tangan. Manya juga diberi kecupan oleh Bariana yang manja padanya. Entah berapa kali gadis itu merengek pada Manya.
"Nona Diablo memang selalu begitu sayang. Ia akan tau siapa-siapa yang tulus di antara semuanya. Makanya beliau tak ragu bermanja denganmu," ujar Jovan.
Manya tersenyum dengan hati yang menghangat. Seluruh anaknya diberi hadiah oleh gadis itu.
"Beliau cantik sekali sayang," puji Manya.
"Semuanya begitu tampan dan cantik sama dengan hati mereka yang baik dan ramah pada siapapun," lanjutnya.
"Aku akan mengajarkan putra dan putriku seperti itu!" tekad Manya.
"Iya sayang, aku juga mau seven A dan anak-anak kita lainnya memiliki hati yang tulus seperti dirimu," ingin Jovan.
Manya tersenyum. Acara berakhir, semua tamu undangan diberi cendramata cantik.
Kini semuanya mengurusi pernikahan Gerard yang tinggal menghitung minggu. Fitting baju pengantin akan dilakukan dua hari lagi.
"Fitting baju pengantin apa bersamaan dengan foto prewedding?" tanya Manya.
"Tidak sayang," jawab Abraham.
"Denna ingin pre-wed sambil mendaki gunung, ia ingin foto pernikahannya berbeda dengan yang lain," jelas pria itu.
"Kalau begitu apa anak-anak bisa ikut?" tanya Manya ragu.
"Tentu bisa sayang, kan bisa naik mobil ke atas, lagi pula kita memiliki villa di bukit dekat sini," jelas Maira kini.
Manya dan anak-anak berada di rumahnya. Aldebaran sudah menuju tempat pre-wed bersama Ramaputra dan istrinya.
"Apa bukit itu bernama Dinata Halley?" Abraham mengangguk.
Manya tersenyum kecut. Mendengar kekayaan ayah mertua sekaligus ayah kandungnya saja ia bergidik ngeri terlebih ia mengetahui berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarga pebisnis yang baru ia ketahui tadi.
"Keturunannya banyak tapi kenapa kekayaan mereka malah bertambah?" pikir wanita itu.
Manya menggeleng untuk menepis keingintahuannya pada keluarga Bariana Diablo itu.
Kini semua anak tertidur lelap. Manya menciumi bayinya. Mendoakan agar seluruh anaknya diberi kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Sayang," panggil Jovan.
Manya menoleh dan memberikan senyum indah. Pria itu mengecup satu persatu tujuh anak kembarnya. Lalu mengajak istrinya pergi ke kamar mereka.
"Sayang," panggil sang istri dengan memeluk suaminya.
"Hmmm!" sahut Jovan yang sedikit lelah dengan hari ini.
"Aku penasaran dengan harta kekayaan dari keluarga Nona Diablo tadi," ujar wanita itu masih penasaran.
"Kenapa begitu?" tanya Jovan bingung.
"Mereka turunannya banyak, tetapi kenapa harta mereka justru bertambah?" tanya Manya.
Jovan tak bisa menjawab pertanyaan itu. Banyak rumor miring mengenai empat keluarga pebisnis itu. Entah apa rahasianya hingga kekayaan Pratama, Dougher Young, Triatmodjo dan Starlight itu seperti tak ada habisnya malah bertambah.
bersambung.
apa rahasianya ya?
next?