THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PENCARIAN DI DEPAN MATA



Ramaputra mendatangi kantor kepolisian di kota JJ. Kota yang cukup ramai dengan fasilitas modern. Kota JJ termasuk kota besar yang ada di sini. Seorang kepala perwira datang dan menyalami Ramaputra.


"Jadi ini komandan, tuan yang tengah mencari keberadaan putrinya dua puluh sembilan tahun yang lalu," jelas kepala polisi yang mengawal Ramaputra.


"Baik kalau begitu. Tuan Ramaputra Artha bukan?" pria yang disebut namanya mengangguk.


"Jadi setelah saya selidiki memang ada tiga penemuan bayi yang dibuang semuanya berjenis kelamin perempuan. Setelah kami telusuri kembali lagi, kami menemukan nama belakang anda di salah satu bayi itu," jelas kepala polisi tersebut.


"Di mana dia pak?" tanya Ramaputra cepat.


"Sabar ... kami masih proses mendatanya," tenang kepala polisi itu.


Ramaputra pun harus menenangkan dirinya. Pria itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan putrinya. Ia akan menjelaskan bagaimana ia dibuang.


Sementara di mansion Abraham. Tujuh bayi tengah bermain bersama neneknya. Manya pulang membawa kue pie mini kesukaan anak-anak.


"Mama pawa papa?" tanya Lika dengan suara cerianya.


"Mama bawa kue pie sayang, sabar ya! Mama mau cuci tangan dulu baru kita makan kuenya," pinta wanita itu.


"Oteh mama!"


Manya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Maid membawa kue ke dalam kamar. Maira langsung tersenyum melihatnya.


"Wah, mama bawa banyak sayang," ujarnya.


"Wah ... beunel woh, mama pawa banat tue bay na," sahut Laina senang.


"Atuh bawu buwa ah tuena!" ujar Abraham menunjuk dua jari telunjuknya. Maira tertawa melihat tingkah lucu cucunya itu. Manya datang dengan baju rumahan. Wanita itu membagi kue dengan adil. Maira juga dapat.


Semua anak memasukan makanan sekaligus dalam mulutnya. Walau bentuk kue kecil, tapi mulut mereka seperti penuh.


"Babies kenapa dimasukkan semua makanan ke dalam mulut? Itu tidak baik!" tegur Manya.


Maka seven A mengeluarkan lagi makanan dalam mulutnya.


"Buapin ma!" seru mereka.


Manya menghela napas panjang. Kue itu sudah basah oleh liur. Tentu Manya tak keberatan menyuapi kue basah itu. Maira sedikit jijik melihatnya.


"Sayang, apa kau tak merasa jijik?"


"Ludah anak sendiri, kenapa harus jijik?" sahut Manya balik bertanya.


Pie habis. Anak-anak ingin makan kue lain. Manya berjanji akan membuatkan kue mimggu nanti.


"Tue yan taya padhi ya ma," pinta Lika.


"Oteh baby," sahut wanita itu mencium semua bayinya.


Bhizar membuka baju ibunya dan menaikan bra sang ibu. Bayi itu langsung meminum susu dari sumbernya.


"Astaga sudah kayak anak sapi?" seru Maira terkejut melihat tingkah cucunya meminum susu sambil duduk.


"Mama yan pibinum Bijal pa'a?" tanya Abi.


"Coklat baby," jawab Manya tersenyum sambil mengelus kepala Bhizar yang menyusu.


Plop! Bhizar melepas bibirnya dari pucuk dada ibunya. Air berwarna putih langsung menetes sampai Manya harus menampungnya dengan tangan.


"Butan mama ... imi lasa pimbimbin!" jawabnya lalu menyusu lagi.


"Mama, mawu lasa beyi," ujar Syah lalu mengangkat bra satunya dan langsung mengemut dan menyedot kuat pucuk dada ibunya. Manya sampai meringis dibuatnya.


"Sakit sayang?" Maira begitu paham akan keadaan menantunya itu.


Usai menyusui tujuh bayinya. Kini seven A tidur dengan nyenyak. Maira akhirnya paham kenapa cucu-cucunya itu paling susah untuk tidur siang. Padahal air susu Manya sudah disediakan dalam storage khusus.


"Sepertinya aku harus memberi nama pada kantung susu itu agar besok mereka bisa menyusu dengan rasa yang mereka inginkan," ujar wanita itu.


Manya tersenyum. Bukan tak pernah ia melakukan hal yang sama seperti ide yang baru saja terlintas di pikiran mertuanya.


"Oh ya, apa itu tidak berhasil?" Manya mengangguk.


"Iya, ma. Tidak berhasil sama sekali. Malah mereka paham jika kita membohonginya," jelas wanita itu.


Maira menghela napas panjang. Ia dan empat suster sangat kesulitan membuat tujuh bayi itu tidur siang.


"Bu dokter selalu menyempatkan diri masuk ruangan untuk menyusui mereka nyonya," jelas suster ketika melihat semua cucunya tak mau tidur siang.


Pagi hari Manya kembali ke rumah sakit kali ini ia membawa tujuh anak empat suster dan Maira. Jovan belum pulang dari luar kota pria itu benar-benar sibuk dengan pekerjaannya.


"Wah pita teumbali te lumah satit!" seru Abraham kecil.


Mereka masuk ke ruangan biasa dan Manya akan keliling sebentar mengecek kesehatan pasien di bangsal.


Wanita itu hanya butuh setengah jam untuk mengecek semua pasien bersama Anindya, suster yang menggantikan Saskia.


"Apa jadwal saya selain cek rutin di bangsal Dya?" tanya wanita itu.


"Akan ada jadwal operasi bersama dokter Ridwan, Bu Dokter!" jawab gadis itu.


"Kapan itu?'


"Nanti sekitar jam 15.00. Operasi pelebaran pembuluh darah," jelas Anindya.


Manya mengangguk tanda mengerti. Wanita itu kembali ke dalam ruang prakteknya. Ada beberapa pasien yang harus ia tangani.


Sedang di ruangan lain Amertha menemani putrinya bersama Renita untuk membuka jahitan di kepala gadis itu. Beberapa ruam bekas memar di wajah dan seluruh gadis itu sudah mulai memudar, wajah cantik Leticia sudah mulai terlihat.


"Dok, apa luka di wajahnya bisa sembuh?" tanya Renita khawatir.


"Sembuh, nyonya. Kami akan memberikan salep untuk menghilangkan bekas lukanya," jawab dokter.


"Apa tidak lebih baik operasi plastik ringan saja dok, biar benar-benar hilang?" tanya Renita lagi.


"Aku nggak mau operasi plastik mommy!" rengek Leticia.


"Tidak perlu nyonya. Luka itu tak terlalu besar dan menimbulkan bekas yang terlihat," jelas dokter lagi.


Renita akhirnya diam. Ia tak mau putrinya membencinya gara-gara hal kecil.


"Setelah gips dibuka, kita akan lakukan therapy pada nona muda," jelas dokter lagi.


Leticia tidur setelah memakan obatnya. Amertha menyuapi makanan gadis itu walau merengek tidak enak. Amertha membujuk putrinya agar lekas sembuh.


"Mommy pergi dulu ya sayang, hanya sebentar," bisiknya pada sang putri.


Amertha meninggalkan Leticia dengan Renita. Wanita itu langsung mendekati sang putri dan mengusap bekas bibir Amertha di pipi dan kening gadis itu.


"Sayang ... aku lah ibumu yang sebenarnya," bisiknya pelan sekali lalu mengecup pipi dan kening putrinya.


Amertha kembali mendatangi tempat praktek Manya. Wanita itu merasa pusing sekali. Ia begitu lelah dengan keadaan dan tekanan yang dilakukan Renita padanya.


Tatapan penghakiman dari wanita itu membuat Amertha tertekan dan stress. Kecelakaan Leticia dan pergaulan bebas gadis itu membuat Amertha gagal menjadi ibu yang baik di mata Renita.


"Apa kau begitu karena kau tau dia bukan putrimu?" tanya Renita di suatu hari lain.


"Tidak, kami bahkan baru tau jika dia bukan putri kami sebelum ia terjun ke dunia bebas. Leticia gadis yang manis dan ceria walau ia sangat manja!" tekan Amertha pada Renita.


"Nyonya Artha!" panggil Anindya.


Wanita itu masuk dengan wajah sedikit pucat. Manya langsung menyongsong tubuh wanita itu dan mengajaknya ke brangkar. Amertha menangis ketika diletakkan di atas tempat tidur periksa. Manya memeluknya erat.


"Tenanglah nyonya!" ujarnya lembut.


bersambung.


mereka telah berpelukan!


next?