
Aldebaran berjalan tergesa. Pria itu mendapat telepon dari sekolah anaknya jika, salah satu putranya terlibat pemukulan.
Demira tengah sibuk menyiapkan makan siang untuk semua orang. Kali ini mereka berganti tempat makan siang di mansion pria gaek itu.
"Yuyut bawu temana?" tanya Aislin.
"Sebentar ya sayang. Uyut mau ke sekolah dulu. Baby jagain eyang putri ya," jawab Aldebaran.
Pria itu mencium, Reece, Triple A, Liam, Tita, Maiz, Aislin dan Pram. Lalu ia juga mencium istrinya.
"Sayang?" tanya Demira cemas.
"Nanti aku ceritakan ya," ujar pria itu menenangkan istrinya.
Aldebaran menaiki mobil bersama tiga pengawalnya. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai sekolahan yang dikelilingi tembok kawat berduri.
"Itu mobil Ramaputra?" gumamnya bertanya ketika melihat satu kendaraan yang ia kenali.
Pria itu keluar setelah salah satu bodyguard membuka pintu. Bersamaan dengan Ramaputra.
"Ram?"
"Dad?"
"Kau dipanggil juga?" Ramaputra mengangguk.
Keduanya gegas menuju ruang BK. Di sana enam anak duduk, empat di antaranya menangis dengan muka merah. Ramaputra mengenali salah satunya begitu juga Aldebaran.
"Dery?" panggil Ramaputra pada putranya
"Senopati?" panggil Aldebaran.
Dua bocah itu tampak menahan amarah, sedang empat lainnya menangis tersedu.
"Ada apa ini?" tanya Ramaputra gusar.
"Senopati memukuli temannya, Pak," jawab salah satu guru.
"Bisa saya tau apa alasannya?' tanya Ramaputra.
"Halah ... emang dasar anak nggak terdidik ya kayak gini!' sentak salah satu wali yang anaknya dipukuli.
"Anak ibu yang tidak terdidik mengatai saudara saya!" sahut Seno marah.
"Seno!' peringat Aldebaran.
"Papa ... Dery dikatai anak haram sama dia!" tunjuk Seno pada salah satu anak.
"Sudah tau kami adalah anak yatim piatu ... apa perlu kami tunjukkan makam ibu dan ayah kami!" teriak Seno begitu marah.
Aldebaran memeluk putranya. Seno menangis di sana.
"Halah ... mana tau kau dibohongi sama pemilik panti kalo kau punya ayah ibu ... padahal kau itu cuma anak yang dipungut di gorong-gorong!' sahut ibu itu sengit.
"Cukup Bu!" sentak Ramaputra.
"Saya pastikan jika putra saya bukan anak haram seperti tuduhan ibu. Siapa nama suami ibu ... kerja dimana?"
"Kau tau berhadapan dengan siapa?" seru Ramaputra langsung mengeluarkan arogansinya.
"Pak ... kita bisa bicarakan baik-baik Pak!' ujar kepala sekolah menengahi.
"Saya tidak perduli. Saya harap ibu sadar diri menghina anak orang lain!" sanggah Ramaputra.
Seno tak berhenti menangis di dada Aldebaran. Tangisan pilu yang menyayat hati semua orang.
"Ibu ... ayah ... huuuu ... kenapa nggak ajak Seno sekalian ke surga ... huuu ... uuuu ... hiks ... !"
"Sayang ... jangan bicara seperti itu," pinta Aldebaran dengan suara lirih.
Para wali yang dipukuli anaknya oleh Seno meminta maaf pada dua pria itu termasuk ibu yang baru saja menghina Seno dan Dery.
"Maafin saja Pak ... biar lebih baik dan tidak ada dendam," pinta kepala sekolah begitu bijak.
Akhirnya mereka berdamai, empat anak yang dipukuli Seno berjanji tidak akan mengatai mereka lagi.
"Kita tunggu anak-anak pulang ya," ujar Aldebaran.
Ramaputra juga membeli satu unit mobil besar untuk mengangkut dua puluh lima anaknya ke sekolah.
Seno dan Dery tampak banyak diam. Aldebaran sedih melihat dua bocah itu yang tenggelam dalam kesedihan begitu juga Ramaputra.
Kini mereka semua pulang sekolah. Seven A tentu tidak tau karena mereka beda sekolah dengan semua paman dan bibi mereka.
"Assalamualaikum!" seru Ramaputra ketika masuk ke mansion Aldebaran.
"Sayang?" panggil Abraham.
"Sayang ... coba bilang sama Papa ... apa yang terjadi?"
Abraham memeluk dua anak itu. Keduanya terisak. Aldebaran menceritakan semuanya.
"Apa ... jadi cucuku dikatai anak haram?" tanya Demira kesal.
"Iya Mom, Seno tak suka dengan itu lalu mulai membela saudaranya. Tadinya Seno belum memukuli mereka. Tetapi, Dery disiram air kobokan oleh salah satu dari mereka dan mengatai dengan kata-kata kotor," jawab Ramaputra menjelaskan.
"Astagfirullah! Dia ngatain apa Nak?" tanya Demira geram bukan main.
"Kalau mereka adalah anak haram yang sama dengan bab* dan anj*ng," jawab Ramaputra lirih.
Jovan dan Praja mengepal tangan kuat-kuat.
"Aku akan cari siapa nama ayah anak itu!" sahut Praja geram bukan main.
"Sudah lah Nak. Kami sudah berdamai. Mereka sudah minta maaf," sahut Aldebaran.
"Tapi adikku jadi sedih terus seperti ini!" sahut Jovan tak terima.
"Sudah-sudah ... ayo ajak semua anak-anak makan!" titah Demira.
Semua sudah berganti pakaian. Manya dengan telaten menyuapi Seno dan Dery.
"Ata' ... janan nayis ... hiks ... atuh syedih!" cebik Tita.
"Maaf dik ... hiks ... tapi itu sakit sekali ... hiks ... andai boleh memilih ... Kakak mau ikut ibu dan ayah ke surga ... hiks ... hiks!' ujar Dery terisak.
"Nak ... jangan begitu sayang ... tolong ... Papa akan sedih jika kamu berkata seperti itu!" pinta Ramaputra.
"Papa dan Grandpa percaya kan kalau Dery dan Seno bukan anak haram?" tanya Dery melihat dua pria yang mengambil mereka.
"Sayang ... tentu kami percaya kalian bukan seperti itu. Tidak ada istilah itu!" tekan Abraham.
"Kalian lahir secara suci ... bukan terbuat dari alkohol yang memabukkan!" lanjutnya.
"Sayang ... Mama tau sekali apa yang kalian rasakan hari ini," ujar Manya.
"Jujur ... dulu Mama sebelum bertemu dengan Papa dan Mama kalian. Mama juga tinggal di panti asuhan," lanjut wanita itu.
"Mama juga sering di-bully dan dikatai sebagai anak haram karena tidak memiliki orang tua,"
"Sayang," Amertha sedih mendengar kisah putrinya.
Manya menenangkan ibunya. Wanita itu ingin berbagi kisah saja dengan semua adiknya. Manya meminta semua memanggilnya Mama.
"Mama pernah marah sama orang tua Mama karena telah membuang Mama begitu saja. Waktu itu Mama belum tau jika Mama ternyata diculik dan dipisahkan dari kedua orang tua Mama," jelas wanita itu.
Seno dan Dery masih terisak. Manya menghapus air mata dua bocah malang itu. Mengecup sayang kening keduanya.
"Dengar Mama sayang ... kalian sekarang sudah punya Mama dan Papa. Jangan takut mengakui jika kami adalah ayah dan ibu kalian!" ujar Manya.
"Jadi jangan bilang kalau ingin menyusul ayah dan ibu kalian di surga ya ... itu membuat hati kami sedih," lanjutnya lirih.
"Maaf Mama ... hiks ... hiks!"
Manya memeluk keduanya. Seluruh anak ikut berpelukan. Reece sangat kesal dengan semua orang yang mengatai semua saudaranya.
"Andai Lees udah besal ... Lees mau hajal semua olang yang ngatain kakak-kakakku dengan pelkataan buluk!"
"Atuh judha atan putun lolan ipu pampai papat pelul!" sahut Pram tak mau kalah.
Praja gemas dengan perkataan putranya. Ia menciumi bayinya sampai tergelak. Hal itu membuat semua anak minta diperlukan sama.
Anak-anak tidur siang, sebuah rutinitas yang harus dilakukan semua anak-anak. Manya tak suka jika ada anak yang tidak mau tidur siang.
"Sayang," Amertha memeluk putrinya.
"Maafkan Mommy karena tak bisa menjagamu waktu itu hingga kau mengalami hari menyedihkan itu," isaknya.
"Mom ... itu sudah berlalu ... semua ada hikmahnya. Buktinya sekarang kita bisa berkumpul lagi kan?" Amertha mengangguk.
Ramaputra yang paling bersalah atas apa yang terjadi pada putrinya itu. Manya memeluk ayahnya erat.
"Kau adalah ayahku yang terbaik yang pernah aku miliki. Don't worry about anything Dad," ujar Manya menenangkan Ramaputra.
Bersambung.
Ah ... ada air mata sedikit.
Next?