THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
SANGKAR EMAS



Pagi menjelang. Semua anak kembali ribut ingin berenang. Liam ingin tidur bersama saudara-saudaranya. Makanya bayi berusia lima belas bulan itu menolak dibawa pulang oleh ayahnya. Terlebih sang ibu tengah mengandung.


“Iam eundat bawu pama Papa yayah!” tolaknya.


“Sama Moma yuk!” ajak Clara ibu Gerard.


“Eundat bawu!” tolak Liam keras.


“Sudah lah Mom. Biar Liam dan Reece nginap bersama anak-anak,” ujar Manya.


Semua anak akhirnya tidur satu kamar bersama anak-anak dan para suster yang menjaga mereka. Kini mereka ke kolam renang besar. Semua orang sudah ada di sana, mereka juga ingin berenang. Irham telah menutup area kolam renang agar hanya keluarganya saja yang bisa masuk.


“Pakai yang dangkal Sus!” titah Manya.


“Iya Dok!”


Manya menceburkan diri bersama semua anak-anak. Jovan mengambil beberapa pelampung untuk memudahkan anak-anak berenang. Teriakan memiki terdengar dari mulut-mulut bayi. Mereka telah sarapan terlebih dulu tadi sebelum berenang.


“Atuh atan padhi itan!” seru Liam.


“Atuh itan bujair!” seru Aidan.


“Atuh itan upul-upul!” seru Aqila senang.


“Itu butan Itan Baby!” sahut Abraham .


“Telus upul-upul pa’a Ata’?” tanya Aqila ingin tahu.


“Upul-upul ipu sebenis dulita, wewan laut judha syih. Pati ia butan itan!” jelas Abraham.


“Atuh itan salden!” seru Adelard.


“Ipu butan itan judha!” seru Abrham lagi, ia terbawa bahasa bayi karena bicara dengan adik-adiknya.


“Itan Ata’!” sahut Adelard.


“Basa itan dalam talen?!” sahut Abraham.


“Pati tan ipu itan Ata’!”


Manya ingin sekali menjelaskan apa itu ikan sarden. Tetapi, ia terlalu malas untuk menjelaskan. Maka ia membiarkan kesalah pahaman ini.


“Mama ... itan puyun lada pi laut eundat?” tanya Lika. Balita itu terkontaminasi bahasa bayi.


“Ada Baby,” jawab Manya.


“Ah ... talo dithu atuh itan puyun!” ujar Lika senang.


“Aku ikan paus!” seru Bhizar lalu melompat ke kolam.


Semua jadi ikan yang mereka sebut. Gelak tawa anak-anak menjadi hiburan semua orang yang ada di sana. Hanya satu jam mereka berenang, Manya menyudahi acara berenang. Bibir semua bayi sudah gemetaran menahan dingin.


“Ayo mandi!” titah wanita itu.


“Kita makan dulu sebelum cek out!” ajak Irham.


Usai makan, mereka semua cek out dari hotel tempat di mana pesta kemarin berlangsung. Terjadi aksi saling menangis antara Liam, Reece dan triple A. Mereka seperti akan berpisah lama. Liam memang tak pernah berkumpul dengan saudaranya di banding Reece.


“Iam ... eundat bunya solada ... hiks ... soladana basih bi pelut Mommy ... hiks!”


“Pita atan beuljempa ladhi suatu hali ... peulcaya lah!” ujar Adelard bijak walau matanya menggenang.


“Beulamat pindal Iam ... nulut-nulut pama Moma dan Mommy Penna ya ... hiks!”


“Clara, bawa lah sesekali cucumu bermain bersama triple A dan Reece,” ujar Abraham.


“Aku masih sedikit sibuk,” ujar Clara beralasan.


“Jika demikian, bebaskan menantumu berjalan-jalan dan bermain di tempat kami!” sahut Maira kesal dengan adik kandungnya itu.


Eddie hanya bisa menggeleng, istrinya mengatakan sayang dengan menantu. Clara melarang Denna berpergian, ia tak mau begitu pulang tidak ada menantu dan cucunya di rumah. Semua kebutuhan Denna dan putranya dipenuhi wanita itu.


“Gerard, kenapa kau tak tinggal sendiri bersama istri dan anakmu,” saran Jovan.


“Tidak boleh!” tolak Clara.


“Astaga, Clara ... jangan egois!” tekan Maira.


‘Hei ... sudah jangan ribut di sini!” sahut Eddie.


“Ayo kita ke mansionmu, kak!” ajaknya kemudian.


Semua naik mobil masing-masing, mobil bergerak menuju mansion Abraham. Eddie sepertinya juga ingun membicarakan perihal ini dengan keluarga. Pria itu selalu kalah suara jika sendirian, Clara termasuk wanita yang keras kepala.


Satu jam mereka barus sampai di mansion mewah itu. Semua anak senang bukan main. Hanya Reece yang tidak bersama mereka karena ayah dan ibunya sudah lebih dulu pergi ketika keributan terjadi.


Manya membawa semua anak-anak ke kamar karena mereka sepertinya kelelahan. Usai menidurkan semuana, suster diminta untuk menjaga mereka. Manya kembali ke ruang keluarga, tadi sang ibu mertua memintanya ikut berkumpul.


Wanita itu duduk di sisi dang ibu mertua, sedang Clara dudk bersama suaminya dengan wajah cemberut. Wanita itu memang tak mau menantunya hidup sendiri padahal Gerard pulang setiap hari. Setiap Gerard membawa istrinya ke apartemen, Clara pasti menjemput menantu dan cucunya.


“Aku tak memiliki teman. Untuk apa ada menantu dan cucu jika tak tinggal bersamaku!” sahut wanita itu memberi alasannya.


“Tapi Mommy suka juga ninggalin Denna dan Liam di rumah sendirian. Bahkan ketika aku pulang, Mommy nggak ada di rumah.” sahut Gerard.


“Mommy kan kerja,” sahut Clara tak mau kalah.


“Mommy kerja meninggalkan Denna dan Liam di rumah sampai tiga hari?”


“Kan kamu pulang?” sahut Clara tetap tak mau disalahkan.


‘Kak, Denna juga ingin membawa putranya berjalan-jalan, mengenal lingkungan. Ingin bermain ....”


“Kan aku sudah menyediakan semua di mansion. Mau apa lagi keluyuran. Di luar banyak kuman dan orang-orang,” potong Clara bersikukuh.


“Kak, Denna ini manusia loh ... bukan hewan yang dilindungi!” sahut Maira kesal.


“Aku ....”


“Pokoknya, aku putuskan Denna dan Liam harus memiliki rumah dan kehidupannya sendiri bersama suaminya!’ putus Eddie.


“Aku setuju!” sahut Gerard langsung.


“Denna pasti menolak. Iya kan sayang?” rajuk Clara.


“Maaf Mom, aku dan anakku ikut ke manapun Gerard berada.


“Kau nggak sayang aku!”


“Clara ... cukup!’ sentak Eddie marah.


“Dad!’ peringat Jovan dan Gerard bersamaan.


“Kau bisa mengunjunginya jika kau rindu dengan Liam,” sahut Eddie tak memperdulikan peringatan putra dan keponakannya.


Clara hanya diam. Denna akhirnya bernapas lega. Walau hidup serba kecukupan, tetapi jika diatur harus apa dan tak sesuai hati membuat Denna seperti dipenjara. Wanita itu bisa memasak apa saja yang ia sukai. Berbelanja dan juga ke mall membeli baju untuk putranya.


“Aku setuju dengan keputusan Eddie. Kau tak bisa mengekang anak dan juga menantumu. Mereka memiliki keluarga impian mereka sendiri,” ujar Abraham memberi pendapatnya.


“Aku juga setuju. Kau lihat, aku bisa setiap hari ke rumah menantuku bersama besan, melihat perkembangan cucu,” sahut maira juga sependapat.


Clara kalah suara, ia memang sangat menyayangi menantu dan juga cucunya. Makanya ia memenuhi semua kebutuhan mereka di mansion. Clara tak mengijinkan menantunya ke manapun, walau terkadang ia suka bepergian karena bisnis yang ia jalani.


“Mom, kau adalah ibu yang terbaik yang pernah aku miliki. Aku menyayangimu,” ujar Denna.


“tapi aku punya mimpi membangun keluarga sendiri, aku ingin Liam tumbuh seperti anak pada umunya, yang tau hujan, lumpur, becak, anak tukang asongan. Aku ingin Liam tumbuh dengan banyak manusia majemuk di sekitarnya,” lanjutnya.


Clara hanya bisa menghela napas panjang. Keinginan Denna tentu tak sejalan dengan dirinya. Ia mau Liam tumbuh dengan semua fasilitas, sebagai ahli waris pertama keluarga Downson. Tentu Clara ingin Liam tumbuh sesuai drajatnya.


“Terserah kalian saja. Aku hanya ingin yang terbaik bagi cucuku,” ujar Clara.


“Mom ...,” rajuk Denna sedih.


“Sudah Denna. Biarkan jika Mommy mu beranggapan demikian, ia lupa jika bisa dikatakan langit, karena ada bumi!’’ tukas Eddie mulai kesal pada istrinya.


“Makasih dad!” sahut Gerard senang.


Mereka pun kembali bercengkrama hingga sore menjelang dan anak-anak sudah rapi. Gerard membawa Liam, Denna berjanji akan sering bermain di rumah ten A nantinya.


“Dok, jika memungkinkan aku menitipkan Liam di sini,” bisik Denna.


“Shh ... sudah jangan pikirkan yang tidak-tidak dulu ya,” sahut Manya.


Akhirnya mereka pulang. Seven A sedang meniapkan buku mereka karena besok mereka akan kembali bersekolah.


Bersambung.


Next?