THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MALAM MINGGU



Sabtu pagi, seven A baru saja berangkat sekolah. Liam dan Reece datang dengan wajah ditekuk pada ayah dan ibunya.


"Selalu saja!" gerutu Reece.


"Ulu jaja!" ulang Tita mengikuti kakaknya.


"Dadadada!" geleng Maizah turut mengomeli ayah ipar dan kakak misannya.


Gerard dan Ramaputra mencebik kesal. Padahal dua pria itu memang bisa menangani putranya jika bangun dan mencari keberadaan semua saudaranya. Tetapi, setelah satu jam, keduanya ribut.


"Popa katanya mau ke lumah Mama!" seru Reece tak sabaran.


"Baby, Daddy masih ingin bersamamu, kita di rumah main yuk!" bujuk Ramaputra.


"Mau main apa?" tanya Reece.


Kini balita itu sudah mahir bahasa dewasa hanya saja masih cadel. Sedang Liam juga tak mau berlama-lama di penthouse milik ayahnya itu. Gerard memang belum membangun rumah untuk keluarganya. Pria itu masih terlalu sibuk dengan segala urusan, terlebih ia lebih percaya istri dan anaknya tinggal di penthouse miliknya di banding rumah.


"Nah, sudah sampai!" ujar Gerard.


"Mama ... Lees datang!" pekik balita itu.


Manya tersenyum lebar. Baru kemarin Reece menggunakan bahasa bayinya, tapi sepertinya bocah itu sudah lancar berbicara, sedang tiga anak kembarnya belum begitu fasih.


"Mama ... Iam judha sudah datan!"


Jovan mengangkat bocah itu dan menciumnya hingga tergelak. Semua anak juga mau diperlakukan sama. Dengan senang hati pria itu mengangkat dua anak sekaligus.


"Sudah sarapan sayang?" tanya Manya.


"Bewum Mama ... Mommy tan sibut sama Baby Ais," jawab Liam sebal.


"Tadi Mommy buat pancake nggak mau!" sahut Denna kesal dituduh yang bukan-bukan oleh putranya.


Liam hanya nyengir kuda. Manya menasihati bocah itu agar tidak berbohong.


"Jangan gitu ya, Mommy kan udah masak,"


"Iya Mama," sahut Liam menyesal.


"Minta maaf sama Mommy," perintah Manya.


"Mamap Mommy,"


Denna tentu memaafkan putranya. Wanita itu mencium Liam dengan gemas.


Reece tak peduli, walau tadi ia sudah sarapan, tetapi dirinya kembali sarapan di rumah kakaknya.


"Mama ... apa pita masat ladhi tayat teumalin?" tanya Liam.


"Eum ... bagaimana jika kita piknik Babies?"


"Pitnit pa'a Mama?" tanya Aidan.


"Rekreasi," jawab Manya.


"Nanti kalian bisa main gelembung busa!" lanjutnya.


"Mawu!" pekik triple A dan Liam antusias.


"Oteh, Lees atan lihat, apa itu peulmainan yan menyenantan atau pidat," tukas Reece mengamati.


Manya gemas, ia meminta beberapa maid untuk menggelar karpet tebal di rumput di taman belakang. Jovan mengeluarkan mesin pembuat gelembung busa sabun dan menyalakannya. Praja datang bersama istri dan putranya.


Pram langsung antusias, Aldebaran mendudukkan bayi itu bersama bayi-bayi lainnya. Pekik tawa tiga bayi merangkak mengejar gelembung busa itu. Seven A pun tak mau ketinggalan. Tujuh bocah itu berlarian.


"Hati-hati sayang!' peringat Manya.


Delapan piring roti sandwich terhidang, anak-anak masih kenyang karena baru sarapan. Salad buah pun terhidang, melihat buah membuat semua anak berhenti mengejar gelembung-gelembung busa itu.


"Mama ... itu apa?" tanya Abraham.


"Ini salad buah baby," jawab Manya.


"Wah ... enak ... kalo dijual lagi pasti laris!' ujar Laina memberi ide..


"Jangan memaksakan diri sayang, kalian masih kecil. Mama tidak mau sekolah kalian terganggu dengan mencari uang. Kami masih sanggup membiayai kalian," peringat Manya.


"Mama ... Mama tau kan jika kita lakuin itu," ujar Bhizar.


"Kami melakukan itu untuk menolong semua teman-teman kami. Semua berharap dari uang yang dihasilkan dari usaha itu," jelas Abi kini.


"Tapi Mama kalian benar sayang, jangan terlalu memaksakan diri, satu saja usaha kalian belum kelihatan seberapa besar hasilnya," ujar Praja mengingatkan.


Seven A mengangguk tanda mengerti. Mereka berpiknik sambil bermain tiga bayi sudah bermandi lumpur.


"Papa!" pekik tiga bayi sambil tertawa.


Jovan dan Praja hanya menghela napas panjang. Kini tiga bayi dibersihkan oleh para suster. Piknik selesai hingga makan siang, makanan habis. Anak-anak kekenyangan. Manya meminta mereka untuk tidur siang.


"Ayo cuci kaki dan tidur ya," perintah Manya.


Semua anak menurut, mereka tidur siang. Reece yang mengantuk tak bisa menahan perutnya yang kekenyangan hingga membuatnya pup di celana.


"Mama ... Lees belat di selana!" pekik Reece dengan mata terpejam.


Manya tertawa, begitu juga yang lainnya, Denna dengan sigap membersihkan boss kecil itu. Sedang Amertha sudah mual melihat kotoran putranya sendiri.


Reece sudah tidak memakai popok tentunya. Manya seorang dokter, kotoran dan hal lainnya sudah biasa, wanita itu pun membersihkannya.


"Huueek!" Amertha tak bisa menahan mualmya karena kotoran Reece yang tadi bercecer di lantai.


"Mom," Jovan mengurut mertuanya.


Aldebaran hanya menggeleng kepala begitu juga Ramaputra. Memang mereka sedikit jijik, tapi itu adalah kotoran Reece, keturunannya sendiri.


"Kan sudah bersih Mom," ujar Manya terkekeh.


"Mommy paling tidak bisa melihat seperti itu sayang. Waktu Reece bayi, semua yang membersihkan adalah suster begitu juga Tita," jelas wanita itu.


"Mami apa terpengaruh?" Maira menggeleng.


"Hanya kaget saja. Kemarin baru di pup in Maiz," jawabnya.


Sore menjelang, tak ada makanan lagi karena semua anak mengaku kekenyangan. Hanya teh dan susu saja yang menemani mereka hingga makan malam tiba.


"Liam nggak mau pulang sama Papa?" tanya Gerard pada putranya.


"Hoooaaam ... eundat mawu Papa ... mo bobo sini aja!" jawab balita itu langsung.


"Ya sudah Papa dan Mama tinggal ya!"


Gerard mencium putranya. Denna juga mencium Liam dan juga Reece serta yang lainnya. Aislin sudah terlelap di gendongan ibunya. Mereka pun pulang.


"Mommy dan Mami nginap di sini?"


"Iya sayang, Mami mau nginap di sini," ujar Maira.


"Soalnya Papimu akan berangkat nanti malam bersama suamimu dan Praja kan?" Manya mengangguk.


Praja juga menginap di sana bersama istri dan putranya. Dini hari mereka akan berangkat berempat bersama. Ramaputra juga turut serta.


"Aku juga ikut ya," sahut Aldebaran tiba-tiba.


"Praj!" panggil Jovan.


Praja tentu tau tugasnya. Pria itu melaporkan keberangkatan lima orang ke sebuah kota besar. Perusahaan Triatmodjo tengah mengadakan rapat besar semua pemegang saham. Ramaputra dan Jovan telah memiliki sebagian saham perusahaan raksasa itu.


"Tuan Dewa Triatmodjo sudah seperti ayahnya," ujar Aldebaran ketika duduk bersama para pria.


"Ya, aku sedikit takut jika dia sudah memasang wajah datar dan tak bisa disentuh," sahut Abraham.


"Aku belum pernah bekerjasama langsung di bawah kepemimpinan Tuan Dewa Triatmodjo," ujar Jovan.


"Kau akan tau besok," sahut Aldebaran.


"Pendiam, genius dan tampan tentunya," ujar Ramaputra.


"Aku dengar Tuan Dewa menikah dengan salah satu anak angkat kakek dari mendiang Nyonya Pratama, Terra Dougher Young?"


"Ck ... keluarga itu berputar di situ-situ saja," ujar Aldebaran berdecak.


"Mereka keluarga besar. Tentu kekayaan mereka tidak mau diumbar keluar. Hanya Tuan Kean saja yang menikah dengan gadis pilihan ibunya," sahut Aldebaran lagi.


Gosip para pebisnis tentu bukan hal tabu bagi para pria itu. Semua sepak terjang seorang pengusaha menjadi perhatian. Kesetiaan keluarga Pratama, Dougher Young, Triatmodjo dan Budiman Samudera menjadi trend kalangan pebisnis yang ingin hidup tenang dengan anak banyak.


Bersambung.


Keluarga besar yang penuh kasih sayang berkat Terra tentunya.


Next?