THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
HEBOH



Seven A kini ditunggui tiga suster. Wati tidak lagi bekerja, karena sang suami ingin istrinya hanya fokus pada putranya saja. Tentu saja itu tak masalah. Terlebih Hendi sangat butuh kasih sayang lebih dari seorang ibu.


"Sus!" panggil semua rekan.


Wati duduk, ia menunggui putra sambungnya. Hendi sangat manja padanya, hal ini membuat ia sedikit kesulitan.


"Apa kabar semuanya?" tanya Wati.


"Alhamdulillah, kami baik Sus," jawab Leni.


"Gimana setelah jadi istri?" tanyanya.


"Ya, begitulah. Ada tanggung jawab yang diemban sama-sama berat, terbatasnya kebebasan karena kini jadi istri," jawab Wati.


"Gimana MPnya?" goda Leni lagi sambil menarik turunkan alisnya.


"Nanti, kalau kalian menikah pasti tau rasanya," jawab Wati yang membuat tiga rekannya berdecak.


"Kamu nggak jadi perawat lagi?" tanya Lia.


"Masih," jawab Wati.


"Mas Djaya masih membolehkan aku bekerja selama Hendi diutamakan," jawab Wati.


"Hendi nggak nyusahin kamu kan?" Wati menggeleng.


"Nggak, anakku itu manis. Dia juga nurut dan nggak banyak tingkah. Hanya saja sangat manja," jawab Wati.


"Ya, maklum lah. Dari umur lima tahun dia ditinggal begitu saja sama ibu, bahkan kakek dan neneknya," lanjutnya.


Jam istirahat berbunyi. Seven A keluar kelas, mereka langsung mendatangi suster mereka.


"Suster Wati apa kabar?" sapa Bhizar ramah.


"Alhamdulillah baik, Baby. Baby apa kabar?"


"Bhizar baik, alhamdulillah!" sahut bocah itu.


Anton dan Nita keluar dan membawa bekal yang ia bawa dari rumah. Ibunya tak menungguinya, Minah memiliki pekerjaan di rumah tetangga. Masakan Minah yang lezat membuat ia selalu dipanggil tetangga untuk membantu memasak.


"Nak," panggil Anton.


Pria itu mengira dua anak angkatnya itu tak membawa bekal. Ia hendak membelikan makanan di kantin.


"Oh ibu masih buatkan bekal toh untuk kalian?" ujarnya lega.


"Iya Pak," sahut dua anak itu.


Tak lama bel istirahat untuk kelas lain berbunyi. Hendi keluar dan langsung menghampiri ibu sambungnya.


"Mama!"


"Sayang, ini bekalmu!"


Hendi langsung mengambilnya dan memakan isinya dengan lahap. Bocah itu bahagia sekali mendapat ibu yang ia impikan selama ini.


"Mama, besok buatin Hendi sosis yang dibentuk cumi kek seven A ya," pintanya.


"Iya sayang," nampaknya Wati begitu memanjakan putranya.


Seven A, Anton dan Nita pun masuk ke kelas mereka. Hanya tinggal Hendi saja yang masih bergelayut manja pada ibu sambungnya. Tak lama, Hendi masuk bertepatan dengan keluarnya seven A.


Di rumah Manya, Liam jadi makin sering dititip Clara di sini, karena banyak anak kecil, sedang sang ibu yang mengurusi Aislin tidak kerepotan. Liam makin aktif dan tak bisa dijaga oleh Denna.


"Moma, Anti Mai pama Anti Tita peulum banun?" tanya Aqila.


"Belum Baby, kan Anti kecilnya belum bisa apa-apa selain tidur," jawab Amertha.


"Pa'a puluna Atila bedhitu judha Moma?" tanya bayi itu dengan suara kecilnya.


"Iya, sayang. Semua bayi akan selalu tidur di awal usianya," jawab Amertha.


Wanita itu gemas dengan kepintaran dan keingintahuan bayi cantik itu. Liam menarik baju Aqila, hingga hampir membuat bayi itu terjungkal kebelakang jika saja Amertha tak sigap merengkuhnya.


"Baby. jangan kasar sama saudaranya!" peringat Maira pada sang cucu yang memang sedikit tak peduli itu.


"Iam suma bawu pihat Anti teusil Moma!" pekiknya.


"Baby, jangan teriak ya," pinta Amertha menenangkan dua bayi yang mulai merengek jika ada yang berisik.


"Tuh tan!" seru Aqila. "Payina nayis!"


"Atuh eundat seunada!"


"Iam ... syini!" panggil Reece sambil berkacak pinggang.


"Janan dandutin payi yan ladhi bobo!" peringatnya.


"Suma pihat aja Pom teusil!" sahut Liam cemberut.


"Syini!" panggil Reece lagi.


Liam menurut, Reece mengajak ponakan sepupunya itu main bersama Aidan dan Adelard.


Sedang di perusahaan, Rudi tengah membaca blue print bangunan yang akan dibangun. Seorang gadis cantik membawa beberapa berkas. Sudah nyaris dua bulan ia tak berhasil menjerat pria itu.


"Tuan Hardiansyah!" sapa Rina.


"Oh, ya Nona Rina!" sahutnya sambil menoleh.


"Tuan ... ini semua berkas yang kemarin Tuan Artha minta," ujar Rina.


"Letakkan di nakas Nona. Terima kasih!" ujar Rudi tanpa melihat lawan bicaranya.


Rina mencibirkan bibinya, ia kesal pada Rudi yang sama sekali tak mau melihatnya. Padahal gadis itu memakai baju seksi yang ketat hingga terlihat bentuk tubuhnya. Rina memakai kemeja putih yang tipis, ia memakai bra warna merah menyala hingga terlihat dari luar. Rina sengaja melepas blazernya agar Rudi melihat apa yang ia pakai.


"Ck ... apa yang mesti kulakukan!" serunya dalam hati gusar.


Gadis itu melihat ada mesin pembuat kopi di sana. Ia pun berinisiatif untuk menawarkan kopi, kebetulan ia adalah pecinta kafein.


"Tuan apa anda mau kopi?" tawarnya.


"Tidak terima kasih!" jawab Rudi cepat dan tegas.


Rina sangat kesal dengan jawaban pria itu. Rudi memilih duduk dan menelepon tuannya. Pria itu menjelaskan ada gambar yang kurang di dalam blue print yang ia pegang.


"Baik Tuan, saya tunggu!' ujar Rudi lalu menutup sambungan telepon.


"Aduh!" pekik Rina kesakitan.


Dalam khayalan Rina, Rudi mendatanginya dan meniup buku tangannya yang tersiram air hangat. Lalu keduanya akan saling tatap dan dilanjutkan berciuman dengan panas. Rina mengalungkan lengannya di leher Rudi dan memperdalam ciuman mereka.


"Nona?!" panggil sebuah suara yang membuyarkan lamunan Rina.


"Eh?"


Rudi tidak ada di tempat, seorang OG datang membawa kotak P3K. Rina mengernyit.


"Biar saya obati lukanya Nona," tawar Office Girl.


Rina menyerahkan buku tangannya yang memerah. Walau ia kecewa, tetapi gadis itu sangat yakin jika Rudi lah yang meminta salah tau office girl untuk mengobatinya.


"Tuan Rudi mana?" tanyanya.


"Oh Tuan Rudi menjemput Tuan Artha," jawab OG itu.


OG pergi setelah membuat kopi untuk Rina. Tak lama dua pria dengan ketampanan berbeda datang. Ia segera membungkuk hormat.


"Tuan Artha!" sapanya.


Pria itu hanya mengangguk sopan, ketiganya duduk di sana. Ramaputra menatap Rina.


"Bukannya kau harus menjemput atasanmu?" tanyanya.


"Oh, Nona Beatrice tadi sudah menghubungi saya, jika beliau sedikit terlambat," jawab Rina.


"Jadi kita bisa mulai sekarang?"


"Bisa Tuan," jawab Rina langsung mengeluarkan gadgetnya.


Di tengah perbincangan Beatrice datang dengan pakaian ketatnya. Ramaputra enggan melihat, kepalanya pusing karena bau parfum dari wanita itu.


"Maaf saya terlambat," ujar Beatrice lalu duduk di sisi Ramaputra.


"Hueek!" Ramaputra mual ketika Beatrice duduk di sebelahnya.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya semua orang khawatir.


Beatrice mengambil kesempatan untuk memijit tengkuk Ramaputra. Jemari lentik itu ditepis Rudi. Pria itu memilih membopong atasannya dan menjauhkannya dari dua wanita itu.


"Tolong kalian pergi, aku pusing!" pinta Ramaputra pada Beatrice dan Rina.


Dua wanita itu pun hanya bisa pasrah. Mereka berdua pun terpaksa keluar dari ruangan itu dengan wajah lesu.


Bersambung.


Wkwkwkwk! Mau muntah dideketin.


Next?