
Akhirnya Ramaputra dan Rudi pulang dalam keadaan lelah. Leticia langsung menghampiri suaminya yang terduduk lemas di sofa. Wanita itu melepas sepatu dan kaos kaki suaminya.
"Minum dulu sayang," ujar Leticia menyodorkan gelas berisi air putih pada mulut suaminya.
Rudi menenggak air yang disodorkan istrinya. Pria itu berdiri dibantu Leticia menuju kamar mereka. Dengan telaten
Wanita anita beranak dua itu melepas baju sang suami. Menyeka tubuh pria itu dengan air hangat, lalu memasangkan semua bajunya. Rudi sudah terlelap, ia benar-benar kelelahan. Leticia mencium suaminya lembut.
"Tidur nyenyak ya Papa," ujarnya lembut.
Sementara itu Ramaputra pulang ke rumah putrinya karena sang istri menginap di sana. Manya melarang anak-anaknya mengganggu kakek mereka yang terlihat lelah. Bahkan Reece diambil alih oleh Abraham karena nyaris menerjang ayahnya.
"Popa Lees bawu syium Popa!' pinta batita itu memohon.
"Sini sayang," sahut Ramaputra lemah.
Abraham mendekati bayi itu pada ayahnya, Reece mencium Ramaputra. Ten A pun juga mencium kakek mereka setelah diberi ijin oleh Manya. Seven A berangkat sekolah. Ramaputra sudah berada di kamarnya tidur dengan lelap. Kamar pria itu ada di lantai atas. Amertha menangani sang suami.
"Biarkan Tita di sini," pinta pria itu.
"Tidak sayang. Nanti dia menangis mengganggu tidurmu," tolak sang istri mengecup kening sang suami lembut.
"Sini sayang!"
Ramaputra memeluk istrinya hingga terjatuh menimpa tubuh pria itu. Mereka berciuman hingga berhenti ketika sang pria sudah mendengkur halus. Amertha terkekeh.
"Sudah tua masih mesum," gerutunya dengan senyum simpul.
Perlahan Amertha melepas pelukan sang suami. Ia menggendong Tita yang sudah hendak merangkak bayi itu sudah berusia enam bulan.
"Ayo keluar baby, biarkan Daddy bobo ya," ajaknya.
"Bo ... bo!" celoteh Tita.
Maira di bawah sudah bersama Ten A, Reece dan Maizah, Tita yang melihat ada saudaranya ia pun ingin turun dari gendongan ibunya.
"Baby!' peringat wanita itu.
"Hanbreffgghhhhh!" omel Tita pada ibunya.
Maira terkekeh, Manya sudah berangkat ke kantor dari tadi bersama suaminya. Wanita itu meletakkan begitu saja bayinya tengkurap. Tita langsung merayap.
"Baby Tita beupelti ulan delatna!' tunjuk Aidan tertawa.
"Janan teultawa ... pidat poleh!" larang Reece.
"Pulu judha pita dithu!" lanjutnya.
Aidan pun terdiam. Aqila mengajak mereka bermain. Tak lama Liam datang diantar oleh Clara dan Denna bersama putrinya yang berusia sama dengan Tita dan Mai. Bayi cantik itu langsung terpekik senang.
"Aaahhh!"
Kini tiga bayi di baring kan bersama, mereka sudah tengkurap, Aislin bahkan sudah merangkak ke mana-mana. Ia mengajari dua tantenya.
"Aidan ... pita seupental ladhi bawu setolah. Pita banti syatu setolah yut!" ajak Liam.
"Ayut ... pati atuh mawu setolah yan bitempat Ata' peben e setolah!' sahut Aidan.
"Ah ... palinan tamuh setolah bipentat nanat lolan taya!" celetuk Adelard.
"Moma!" panggil Liam pada neneknya.
Clara yang tadi ingin langsung pergi jadi batal karena melihat bayi-bayi lucu yang tengkurap dan merangkak kemana-mana.
"Apa Baby," sahut wanita itu.
"Moma ... atuh bawu setolah pama pitel e! Eundat bawu setolah pama lolan taya!" ujar bayi itu merengek.
"Loh kenapa. Sekolahnya kan bagus," ujar Clara.
"Eundat mawu Moma!' teriak batita itu bersikeras.
"Baby ... nggak boleh teriak!" peringat Denna sang ibu.
"Mommy ... Iam eundat bawu setolah pama lolan taya!" rengeknya memohon.
"Iya Baby ... kamu nggak sekolah di sana. Kamu sekolah sama Triple A!" sahut Denna.
"Banji ya Mom," sahut Liam menjulurkan kelingkingnya.
"Janji!" sahut Denna menyambut kelingking putranya.
"Nanti kita bicarakan ya Mom," putus Denna.
Maira mengelus adik kandungnya itu. Perempuan itu juga ingin menyekolahkan putrinya di tempat elit. Tetapi, ia melihat bagaimana Seven A memiliki sikap dan kepedulian tinggi ketika sekolah bersama anak-anak dari kalangan umum. Ia pun bercermin dari sosok Manya yang begitu tangguh dan kuat.
"Aku juga akan menyekolahkan putraku ditempat yang sama dengan triple A," sahut Amertha.
"Aku ingin Reece dekat dengan semua keponakannya. Aku ingin membentuk Reece menjadi sosok yang ramah dan tak pandang siapapun untuk bergaul," ujar wanita itu.
Clara akhirnya mengalah, ia juga ingin cucunya memiliki sikap kepedulian dengan sesama, mendidiknya sama dengan anak-anak orang kaya takut membuat Liam jauh dari keluarga. Terlihat bagaimana Gerard masa muda dulu yang nyaris terikut pergaulan bebas.
"Jovan berbeda," sahut Amertha.
"Tak semua anak bisa jadi seperti Jovan yang lurus. Karena aku selalu menekan putraku ketika masih bergantung padaku!" sahut Maira cepat.
Clara mengangguk setuju begitu juga Denna. Memang semua anak masih kecil-kecil, tetapi masa depan mereka harus direncanakan dengan baik dan sedini mungkin.
Makan siang tiba, seven A sudah pulang, sedang Ramaputra belum bangun dari tidurnya. Tampaknya pria itu begitu kelelahan.
"Mom, bangunin Papa. Ini sudah siang loh!" ujar Manya yang pulang untuk makan siang bersama suaminya.
Amertha naik ke atas, ia masuk ke kamar nampak sang suami masih bergelung di bawah selimut sambil mendengkur, Amertha tak tega membangunkan suaminya. Tapi, pria itu harus makan agar perutnya tak sakit.
"Sayang ... bangun, waktunya makan," ujar wanita itu lalu mengecup suaminya.
"Hooaaammm!" Ramaputra menguap.
Amertha menindih suaminya. Pria itu memeluk pinggang sang istri yang kembali ramping. Ia memonyongkan bibirnya minta dikecup.
"Sayang ... cup!" Amertha mencium bibir sang suami.
Ramaputra dengan cepat memagut bibir itu. Tiba-tiba melintas sebuah peristiwa yang membuatnya kesal.
"Sayang," panggilnya menyudahi ciuman mereka.
"Bangun yuk!" ajak Amertha.
"Aku sudah bangun," sahut pria itu dengan seringai mesum.
Benda miliknya menegang, Amertha membelalak, benda itu menggesek di bawah sana.
"Sayang!" napas pria itu menderu.
Begitu panas hingga menerpa wajah Amertha. Ia melirik jam di dinding.
"Kita quicky?" ajak wanita itu juga berhasrat.
Ramaputra mengangguk cepat. Amertha langsung membuka celana sang suami, kini sang istri memimpin percintaan dengan gerakan cepat dan begitu sensual di mata Ramaputra.
"Oh ... milikmu masih sempit sayang!" ujarnya dengan suara serak.
Amertha makin mempercepat gerakannya. Ramaputra mendongak tangannya mencengkram pinggul sang istri dan membantu wanita itu menggerakkan pinggulnya. Semakin lama semakin cepat, cairan putih akan segera datang.
"Cum ... cum out ... come on!" pekik Amertha tertahan.
Hingga keduanya pun mendapat pelepasan secara bersamaan dengan bunyi ketukan pintu.
"Mommy kok lama!" pekik Manya di luar.
Napas keduanya menderu. Amertha ambruk di dada sang suami, keduanya belum mencabut penyatuan mereka. Ramaputra yang mendengar teriakan putrinya menjawab.
"Iya sayang ... sebentar lagi!"
Manya pun mengernyitkan dahi mendengar suara sang ayah yang parau. Wanita itu mengendikkan bahu tak acuh.
"Mungkin Daddy memang kelelahan jadi suaranya begitu," ujarnya lalu turun ke lantai satu.
Tak butuh waktu lama sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu turun dan ikut makan walau keduanya sedikit terlambat.
"Kakak habis ngapain?" tanya Clara.
"Nggak ngapa-ngapain!' jawab Amertha santai.
Mata Clara memicing. Ia tak menemukan sesuatu mencurigakan pada pasangan itu. Karena tak mendapat apa-apa, ia pun melanjutkan makannya.
Bersambung.
Mereka habis nganu Moma-nya Liam. ðŸ¤
next?