
Amertha tertawa ketika mengetahui apa maksud salah satu cucunya itu. Perempuan itu sangat terhibur dengan perkataan lucu yang keluar dari mulut bayi delapan belas bulan.
"Jadi bagaimana sayang?" tanya Maira ketika orang tua Manya menginginkan gelar resepsi besar juga ingin melakukan konferensi pers.
"Aku sebenarnya kurang suka keramaian dan aku ingin melindungi kenyamanan seven A mi," jawab wanita itu.
Amertha sedih begitu juga Ramaputra. Mereka ingin sekali mengatakan pada dunia jika mereka memiliki keturunan asli yakni Manya Aidila.
"Sayang, mami tidak pernah ingin membantah semua keinginanmu sayang. Kemarin saja para kolega yang kami undang tak banyak mengetahui menantu kami," jelas Maira.
"Kami pebisnis sayang. Kehadiran kalian sangat membantu mengokohkan pondasi kami," jelas Aldebaran kini.
Manya memandang tujuh bayinya. Ia hanya ingin kenyamanan para bayi begitu juga keselamatan mereka.
Ramaputra dan Abraham sangat paham kegelisahan Manya. Mereka juga tak ingin seven A merasa terganggu dan malah ketakutan dengan banyak orang.
"Bagaimana jika hanya konferensi pers saja? Aku hanya bisa meninggalkan anak-anak sebentar, mereka akan terlalu menyusahkan jika tak dijaga ketat," tawar Manya.
Aldebaran tertawa mengingatnya. Hal itu membuat Ramaputra dan Amertha menoleh.
"Ada apa?" tanya Rama bingung.
"Kau tau cicitku itu mampu mengelabui seratus pengawal dan tak ada yang bisa menangkap mereka,"
"Benarkah?"
Semua mengangguk kecuali seven A. Mereka sibuk mengunyah kue yang dibawa oleh nenek mereka.
"Baiklah, aku akan mengadakan pesta penyambutan sekaligus konferensi pers, anak-anak bisa ditaruh di kereta bayi mereka," sahut Ramaputra memberi ide.
Manya akhirnya setuju. Maira dan Amertha menyusun pesta itu. Amertha ingin mengusung konsep negeri dongeng. Maira langsung setuju. Kali ini Manya membiarkan ibu dan mertuanya merencanakan semuanya.
"Mama ... tutu!" teriak Syah ingin mengangkat baju ibunya.
"Kita ke dalam baby," ujar Manya menggendong Syah. Enam anaknya ikut turun merangkak dan mengikuti ibunya. Amertha terkekeh melihatnya.
"Kau ingin melihat bagaimana para cucumu menyusu?" tawar Maira.
Amertha mengangguk pelan. Mereka berdua masuk kamar. Para pria masih asik mengobrol soal peluang bisnis yang di-idekan Aldebaran.
"Lihatlah," titah Maira.
Amertha membelalakan matanya. Manya berbaring dengan dua bayi yang menghisap dadanya. Wanita itu begitu pasrah dan mengelus kepala bayi-bayinya menyusu.
"Abi budah don tutuna!" seru Lika.
"Beuntal ladhi ... imi lasa bulen ... tamu eundat syuta!"
"Syah ... tamu lasa pa'a?" tanya Lika pada Syah.
"Lasa telapa nuda," jawab Syah sambil menarik dada ibunya hingga berbunyi.
Manya sedikit mendesis karena perih akibat ditarik seperti itu.
"Atuh pudah!" Syah tidur di sisi Manya.
Lika naik dan menyusu. Abi selesai dan kini berganti Bhizar.
"Mama imi lasa pa'a?" tanya Bhizar setelah mengenyot sumber kehidupannya.
"Tadi kan masih rasa duren sayang," jawab Manya.
"Memang maunya rasa apa sayang?" tanya Amertha penasaran.
"Lasa peci!" jawab bayi tampan itu lalu kembali menyusu.
Amertha menggeleng. Semua bayi mendapatkan susu dengan rasa yang mereka inginkan. Ketujuh bayi itu sudah tidur dengan menumpuk satu dan lainnya. Manya, Maira dan Amertha memindahkan mereka satu persatu ke boks masing-masing.
"Oh, mereka menggemaskan sekali!" ujar Maira menciumi pipi gembul cucunya.
Amertha mengangguk membenarkan. Ia juga akan menyiapkan kamar khusus untuk tujuh bayinya.
Manya membenahi pakaiannya. Wanita itu keluar menyusul ibu dan mertuanya.
"Apa mereka sudah tidur?" tanya Jovan.
Tiga wanita mengangguk bersamaan. Usai menyepakati acara pesta yang diusung. Amertha dan Ramaputra pulang.
Hari-hari berlalu. Acara konferensi pers tinggal menghitung hari. Ramaputra sengaja tak menyebut apa tujuan ia mengadakan acara konferensi pers besar-besaran itu. Bahkan ada beberapa paparazi membidik foto pria yang menduduki tahta bisnis nomor satu di negara itu sangat menghebohkan publik termasuk keluarga Downson.
"Jadi kau berbesan dengan Artha?" seru Downson tak percaya.
"Begitulah," sahut Maira sedikit bangga.
Eddie menatap putranya. Ia menggeleng putus asa. Gerard menolak perjodohan dengan salah satu putri koleganya.
"Kalau begitu undang aku ke pesta itu Maira, aku juga ingin ikut terkenal," pinta pria itu.
Maira mengatakan jika untuk keluarga tidak ada undangan. Wanita itu meminta iparnya agar menginap saja di mansion mereka dan berangkat bersama sehari sebelum perayaan tiba.
"Beruntung sekali Jovan mendapat putri Artha. Dulu dia memacari putri yang tertukar, sekarang malah menikahi putri sesungguhnya," ucap Eddie takjub.
Gerard hanya menanggapi biasa akan hal itu. Pria itu memang sulit untuk memilih gadis atau wanita yang menjadi istrinya. Ia masih suka berkencan dengan model-model cantik.
"Jangan bawa kekasih palsumu di pesta nanti!' peringat Clara pada putra tunggalnya itu.
Gerard berdecak. Padahal ia ingin sekali menggandeng salah satu koleksi wanitanya.
"Jangan membuatku malu dengan tingkah playboymu. Entah siapa yang kau tiru," gerutu Eddie.
"Aku punya gayaku sendiri dad!" sahut Gerard santai.
Pria itu berdiri, memilih meninggalkan dua orang tua yang menyebalkan itu. Walau begitu Gerard tak sanggup jika berpisah dengan keduanya.
Hari yang dinantikan tiba. Manya dan suami beserta ketujuh bayi kembar dan empat susternya sudah menginap di mansion mewah Ramaputra. Berita konferensi pers sampai di tempat Leticia.
Gadis itu masih dalam pemulihan, ia belum diperbolehkan banyak bergerak selama beberapa bulan. Irham dan Renita juga akan mengadakan konferensi pers dalam waktu dekat.
"Untuk apa Daddy mengadakan konferensi pers?" gumamnya bertanya.
Gadis itu tengah menonton televisi.
Beberapa wartawan menyoroti kesibukan di hunian mewah pebisnis nomor satu itu. Beberapa bunga hidup bahkan beberapa designer mondar-mandir hunian itu.
"Oh kami memang tengah menangani gaun yang akan dipakai keluarga Artha dan Keluarga Dinata," jawab salah satu designer.
Leticia mengerutkan kening.
"Keluarga Dinata?"
Ia membelalakan matanya. Ada perasaan tiba-tiba membuncah di sana. Gadis itu bahagia dan menantikan acara yang akan diselenggarkan besok malam itu.
"Apa daddy tau hubunganku dengan Jovan?" tanyanya penuh harap.
"Jovan ternyata kau sangat mencintaiku, kau langsung mengatakan jika aku adalah kekasihmu hingga daddy mengadakan konferensi pers agar hubungan kita diketahui orang banyak," ujarnya berkhayal.
Gadis itu begitu senang. Tetapi perlahan ia sedih. Sampai saat ini kedua orang yang ia tahu sebagai orang tuanya tak menghubunginya sama sekali perihal acara besar itu.
"Mommy dan Daddy, bukan tipikal suka memberikan kejutan," gumamnya lagi bermonolog.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia menghubungi nomor ibunya. Hingga panggilan ke sepuluh kali, tak dijawab atau diangkat.
"Apa mommy terlalu sibuk hingga tak mengangkat ponselnya?" terkanya melihat layar ponselnya.
Kali ini ia mencoba menghubungi ayahnya. Rudi yang menjawab sambungan telepon itu.
"Nona, apa kabarmu?" tanya pria itu dengan luapan kegembiraan di seberang telepon.
Leticia memutar mata malas. Ia paling tak suka jika orang asing begitu akrab dengannya.
"Jangan sok akrab Rudi!" sergah gadis itu tak suka.
"Berikan ponselnya pada ayahku!" titahnya.
"Maaf nona, ponsel ini berada di kantor tertinggal, bisa nanti saya yang menghubungi anda ketika sudah di mansion?" ujar Rudi.
Leticia hanya berdehem menjawab pertanyaan Rudi. Ia segera memutuskan sambungan telepon.
"Dad ... aku kangen," ujarnya mengusap layar bergambar foto ayahnya yang tersenyum lebar memeluknya.
bersambung.
eng ing eng....
next?