THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
HAMIL LAGI



Tujuh anak kembar sang presiden, didudukan. Mereka difoto oleh para wartawan. Sebagai penerus keturunan dan juga ahli waris dari dua perusahaan ternama. Dinata's Corp. dan juga Artha's group.


"Tuan, apa sudah mempersiapkan pendidikan seluruh keturunan anda?" tanya salah satu wartawan.


"Mereka sekolah seperti anak-anak lainnya," jawab Jovan.


"Tuan Artha, apa anda tidak memiliki rencana pendidikan semua cucu anda?'


"Sama seperti jawaban menantu saya, semua cucu saya akan mendapatkan pendidikan terbaik yang mereka inginkan!" jawab Ramaputra tegas.


"Tuan, seluruh ahli waris sudah dididik sejak dini tentang bisnis. Apa anda tidak memberikan pengetahuan dini pada seluruh cucu anda?"


"Seperti yang saya katakan, selama cita-cita mereka baik untuk semua orang, kami akan mendukung dan memberikan pendidikan sesuai keinginan mereka!' jawab Ramaputra lagi.


"Baby Bhizar ... mau tau dong ... cita-cita nya apa?"


"Atuh inin padhi doptel wewan!' jawab Bhizar.


"Atuh bawu padhi lesiden!" jawab Abraham.


"Atuh ...."


"Atuh bawu padhi bawan pujan!' pekik Syah.


Semua bayi menoleh padanya, sedang para wartawan hendak tertawa. Syah menatap bingung pada semua orang dewasa.


"Penata ... lada yan zalah?" tanya Syah tak suka.


"Tidak ada baby, tapi buat apa jadi pawang hujan?" kekeh salah satu wartawan remeh.


Jovan, Abraham dan Ramaputra tampak malu dengan jawaban salah satu keturunan mereka. Manya, Maira dan Amertha memang tak bersama para pria yang tengah mengenalkan kembali para turunan mereka.


"Pawu padhi pawan bujan, pial Mama ban Papa Yayah eundat teujanan," jawaban Syah membungkam semua orang.


Jovan terharu mendengar jawaban putranya.


"Mama dan Papa kan pakai mobil jadi nggak mungkin kehujanan!" sahut salah satu karyawan.


'Bemana Papa Yayah eundat teulan pasut bomil dithu?" tanya Syah lagi-lagi membungkam wartawan.


"Pelus pemanan talian syenen teulja bas pujan pulun?" tanyanya lagi.


"Atuh pawuna pujan petep pulun, pati Papa Yayah pama Mama pudah bampai mumah!" lanjutnya menjelaskan.


"Beulanzutna teulselah bujan bawu pulun tapan laja!" lanjutnya.


Wawancara berakhir. Semua anak difoto dengan senyum manis mereka. Begitu menggemaskan dan membuat siapa saja iri. Bisnis didominasi oleh pebisnis yang memiliki keturunan. Baik perusahaan Dinata dan juga perusahaan Artha makin kuat dengan adanya keturunan mereka.


"Tuan Artha, turunan anda berakhir di Nyonya Manya Dinata, apa anda tidak menyesal tidak banyak memiliki anak laki-laki?" tanya wartawan.


"Tidak ... putriku adalah yang terbaik!" sahut Artha tak suka dengan pertanyaan itu.


Kini pria itu berdiri menatap jendela besar perusahaannya. Pikirannya melayang di kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Andai aku tak berkhianat," gumamnya penuh sesal.


"Tuan!" panggil Rudi.


"Rud ... andai aku tak melakukan kebodohan itu, mungkin aku memiliki banyak anak," sesal Ramaputra.


"Tuan, saya juga bagian dari itu," sahut Rudi.


Sementara di rumah Manya. Tujuh anak sudah bergulingan di karpet meminum susu di botol masing-masing. Mereka belum mau minum di gelas.


"Babies udah gede loh ... masa nggak mau minum di gelas?" ujar Leni.


"Bustel ... talo pinum tutu tan halus pidulan!" sahut Agil.


"Nggak juga baby, kan waktu bayi aja. Kalo udah gede mah mestinya duduk, nggak sambil tiduran," sahut Leni.


"Iya, nanti kalo tersedak sakit loh!' sela Neni.


Susu di botol habis. Seven A tidur di karpet. Para suster mengangkatnya dan meletakan mereka dalam boks masing-masing.


"Mereka sudah tidur?" tanya Amertha.


"Sudah Nyonya," jawab Leni.


"Nyonya anda pucat," ujar Saskia memperhatikan ibu dari Manya.


"Mungkin saya kelelahan, Sus," jawab Amertha.


Memang sudah tiga minggu ini ia merasa pusing dan cepat lelah. Wanita itu belum sempat mencek kesehatan dirinya. Ia menganggap faktor usia yang sudah setengah abad.


"Boleh saya periksa Nyonya?" tawar Saskia.


Amertha mengangguk. Maira sedang membantu menantunya masak untuk makan malam dan kudapan sore. Para maid hanya membantu membereskan peralatan masak yang kotor.


"Nyonya, mungkin anda tidak percaya apa kata saya, tapi saya yakin jika Nyonya sedang hamil," sahut Saskia kembali mengecek detak nadi.


"Jika anda masih siklus secara teratur, maka saya tak salah Nyonya!' sahut Saskia meyakinkan ucapannya.


'Ada apa dengan ibuku Sus?" tanya Manya.


Wanita itu keluar dari dapur bersama mertuanya. Keduanya tampak heran ketika melihat tangan Amertha berada di tangan Saskia.


"Dok, periksa deh, pasti jawaban Dokter sama dengan saya!" ujar Saskia memberikan tangan Amertha.


Manya memeriksa nadi ibunya. Ia menatap sang suster. Seperti tak percaya, ia kembali memeriksa.


"Mom ... you're pregnant!" seru Manya dengan wajah berbinar.


"Jangan bercanda!" tukas Maira tak percaya. Amertha mengangguk setuju.


"Ini benar Ma. Mommyku hamil!' pekik Manya langsung memeluk Amertha erat dan mengecup pipinya.


"Apa ... ini tidak masalah, Mommy sudah tua, Nak!' sahut Amertha takut.


"Tidak Mom, selama Mommy menurut apa kata dokter!" sahut Manya dengan senyum lebar.


Maira ikut bahagia, lalu ia mengelus perutnya yang rata. Semenjak Jovan lahir ke dunia, wanita itu tak lagi mendapatkan keturunan.


"Apa karena kata-kataku yang pernah nggak mau punya anak lagi ya?" gumamnya.


usai makan malam Maira dan


Amertha pulang dijemput oleh suaminya masing-masing. . Amertha itu meminta untuk jangan mengatakan apapun. Ia ingin memeriksanya agar lebih yakin lagi.


Maira masuk rumah dengan wajah lesu. Aldebaran sampai bingung dengan apa yang terjadi pada menantunya itu.


"Kau kenapa?' tanyanya.


Maira hanya diam tak menjawab, Abraham juga bingung karena sepanjang jalan istrinya diam saja.


"Ada apa dengan istrimu?"


"Aku tak tau Dad," jawab Abraham.


"Sebaiknya, kau ajak istrimu bicara," saran Aldebaran.


"Daddy sudah makan?" tanya Abraham.


"Sudah tadi dengan kolegaku,"


Abraham mengangguk, ia pun masuk kamar. Ia melihat istrinya sudah berbaring dan menghadap tembok. Pria itu mendekati dan membelai bahu Maira.


"Ma ... kamu kenapa?" tanyanya lembut.


Ada isak kecil terdengar di sana. Abraham pun panik dan langsung menarik tubuh istrinya agar duduk dan menghadapnya.


"Ada apa, kau kenapa?" tanyanya lagi gusar.


"Aku ... hiks ... aku ingin hamil lagi ... hiks ... hiks!"


Abraham bengong mendengarnya. Pria itu tentu tak percaya dengan apa yang diinginkan istrinya.


"Sayang jangan menginginkan sesuatu yang mustahil!" tekan pria itu kesal.


"Tapi ... tapi ... besan kita ... hiks!"


"Kenapa ... ada apa dengan besan kita?" tanya pria itu makin kesal.


"Amertha hamil ... huuuwwaaa!" tangis Maira keras.


Aldebaran langsung mengetuk pintu dan masuk ke kamar.


"Kau apakan istrimu!" teriaknya.


"Aku tak melakukan apapun!" sahut Abraham tentu membela diri.


"Lalu kenapa dia menangis?!"


"Dia mau hamil lagi!" jawab Abraham kesal.


"Ya tinggal kau hamili dia apa susahnya!' pekik Aldebaran makin kesal pada putranya.


"Daddy, apa kau lupa berapa usia kita berdua?" pekik Abraham mengingatkan.


"Huuuwwaaa!" teriak Maira makin kencang.


"Aku mau hamil Daddy ... Amertha bisa hamil lagi, jadi aku pasti juga bisa hamil juga ... hiks!'


bersambung.


🤦


next?