
Jovan sangat terkejut ketika mendengar jika ada salah satu kolega ayahnya hendak melakukan perjodohan bisnis dengannya. pria itu tak habis pikir dengan para pebisnis jaman sekarang. Kebanyakan mereka adalah pebisnis yang baru saja memulai di kancah perbisnisan.
“Mencoba merangkak naik demi kesuksesan? Memang sebagian berhasil, tetapi bukannya tidak takut jika bisnis mereka direbut dan diambil alih?” tanyanya mulai tak habis pikir.
“Mungkin pikir mereka, para pebisnis sudah kaya raya, tentu tak akan tergiur dengan bisnis yang digeluti oleh pasangan mereka,” sahut Abraham.
Mereka ada di ruang tengah sedang mengobrol santai. Manya sedang sibuk dengan tesisnya yang sudah beres karena operasi yang ia lakukan kemarin berhasil. Kini wanita itu tengah mendatangi kampusnya dan mendaftrakan diri sebagai peserta lulus program S2. Manya ingin sekali memakai toganya dan diapit oleh kedua orang tua, mertua, saumi dan tujuh anak kembarnya.
“Ketika jadi dokter, aku melewati acara wisuda karena tak memiliki uang, hanya mengikuti sumpah dokter dan langsung masuk program masuk desa untuk mengabdikan ilmu pada masyarakat,” gumamnya.
Tentu Manya tak lagi kesulitan uang sekarang. Para profesor yang mengajarnya dulu langsung mengenali dirinya. Selain berotak genius, Manya juga menjadi sosok yang begitu diperhatikan seluruh dosen, sekan maupun rektornya. Anak yatim piatu, yang dibuang oleh keluarganya, begitulah yang mereka tau.
Ternyata Manya adalah anak seorang kaya-raya, pebisnis nomor satu negeri ini, terlebih kedua orang tua wanita itu masih hidup. Berita anak seorang direktur utama pemilik perusahaan ternama Artha grup adalah orang tua Manya yang sebenarnya.
Sedang Leticia, yang digadang-gadang sebagai ahli waris utama pengusaha itu ternyata adalah bayi yang ditukar oleh seseorang yang tak bertanggung jawab. Kedua orang tau Leticia yang sama kaya dengan Artha tentu jadi sorotan semua orang.
“Jangan tanya saya tentang hal yang sudah lewat,” ujar Manya menolak menjawab setiap pertanyaan dosen, dekan maupun rektornya.
Wanita itu bersiap pulang dan dijemput oleh Praja. Hal itu sudah biasa, Jovan memang sedikit sibuk terlebih banyaknya para pebisnis yang ingin menjodohkan putri mereka, padahal semua kolega tau jika Jovan sudah beristri.
“Apa Jovan masih disibukkan dengan hal sama?” tanya Manya.
“Ya Nyonya. Sebaiknya anda cepat pulang, karena pelakor jaman sekarang itu nekat luar biasa,” sahut pria itu bergidik.
Manya masuk ke mobil dan diikuti Praja. Pria itu duduk di samping supir, sedang Manya ada di kursi penumpang. Mobil mewah itu bergerak menuju rumah Manya. Kedua orang tua wanita itu juga akan ke sana dan menginap. Dua hari lagi, Manya aka mengikuti wisudanya sebagai dokter spesialis bedah umum, mereka juga akan mendatangi wisuda itu sebagai wali dari putri, menantu dan seorang istri dari Jovan.
“Mama!” sambut tujuh anak kembar Manya.
Wanita itu tersenyum lebar melihat betapa anak-anaknya sudah besar dan menunjukkan bobot juga kecerdasannya. Manya menciumi mereka, Jovan ada di sana dan menyambut istrinya, pria itu menggunakan celemek.
“Mas masak?” tanya wanita itu tak percaya.
Jovan melayangkan ciuman di kening sang istri mesra. Anak-anak sudah kembali bermain bersama tiga susternya. Denna tentu tak lagi bekerja bersama Manya. Wanita itu tengah berbulan madu keliling dunia bersama suaminya.
“Kau jangan meragukanku sayang,” sahut pria itu.
“Mama, Papa Yayah padhi basat tue pentut woh!” adu Abraham.
“Ck ... kenapa jadi namanya seperti kentut sih?” protes Jovan kesal.
Manya terkekeh mendengar nama yang disebutkan untuk kue buatan suaminya itu. ia melihat hidangan di meja. Tercium bau mentega dan madu di hidangan itu. Jovan memotong kue pancake dan menyuapkannya pada sang istri.
“Hmmm ... enak,” puji wanita itu jujur.
“Benarkan?’ sahut Jovan langsung tersenyum indah.
“Baby sudah cobain?” semuanya mengangguk.
Leni, Lena dan Retta menyuapi para bayi dengan kue buatan papa mereka. Kini semua makan kue dengan lahap, Amertha dan Maira memuji masakan Jovan. Pria itu sampai tersipu mendengar pujian yang dilontarkan untuknya.
“Sayang,” panggil Jovan pada istrinya.
‘Ya,” sahut wanita itu.
Mereka ada di kamar sendiri, membiarkan tujuh bayi bersama kedua orang tua mereka berdua. Manya mengalungkan lengannya di leher sang suami. Bibir keduanya bertemu dan saling pagut. Jovan benar-benar memuja san istri.
“Sayang,” panggil pria itu lagi setelah sekian menit berciuman.
“Aku akan membayar apapun demi kehidupanmu yang lalu sayang,” ujar pria itu.
“Itu sudah berlalu sayang,” sahut Manya lalu mengecup bibir suaminya lagi.
“Aku ingin kau selamanya bersamaku sekarang dan hingga mataku menutup nanti,” lanjutnya meminta.
‘Aku juga begitu sayang, bahkan aku ingin ketika membuka mata lagi, Tuhan langsung menepatkan dirimu selalu menjadi istriku, walau aku bereinkarnasi berkali-kali, aku ingin kau adalah saru-satunya istriku!” pita Jovan penuh harap.
Manya tersenyum, ia merasa tersanjung karena sang suami hanya menginginkannya sebagai istri hingga kehidupan mendatang. Keduanya kembali berciuman dan berhenti setelah mendengar ketukan di pintu mereka.
"Tuan, Nyonya. makan malam sudah siap!" ujar maid memberitahu di balik pintu tertutup.
“Iya bik!” sahut Manya.
Kini semua makan dengan tenang di meja makan. Usai makan mereka hanya bercengkrama sebentar, lalu bersiap untuk tidur. Pagi hari menjelang, semua sibuk Manya sudah memakai kebaya dan dilapisi toga. wanita itu hanya bersolek seadanya. Para bayi masih terlelap.
“Babies ... ayo bangun!” ujar leni.
Bhizar, Abi, Agil, Syah, Laina, Lika dan Abraham, bangun dengan mata terpejam. Amertha dan Maira memandikan mereka. Akhirnya semua siap dengan wajah segar. Mereka sarapan di jalan karena tak sempat untuk makan. Manya bangun kesiangan akibat sang suami minta jatahnya tadi malam.
Perjalanan menuju aula kampus butuh waktu dua puluh menit. Begitu sampai mereka semua masuk ruangan dan langsung duduk di tempat yang telah di sediakan. Manya menuju belakang panggung, di sana ia diwisuda bersamaan dengan para lulusan yang lain.
“Woh ... mama pana?” tanya Abi yang celingukan mencari ibunya.
“Mama ada si sana baby,” jawab Jovan menunjuk panggung.
“Napain Mama pi syana Papa Yayah?” tanya Agil lalu menguap lebar.
“Mama akan disematkan topinya dan kembali menjadi dokter ahli bedah umum,” jawab Jovan.
“Doptel bahli pedah?” tanya semua tak mengerti.
“Iya baby, Mama kalian jadi dokter yang akan membedah orang nanti,” jawab Jovan.
“Pedah ipu pa’a Papa yayah?” tanya Syah.
“Bedah itu yang membelah manusia dengan alat khusus untuk diambil penyakitnya,” jawab Jovan sekedarnya.
“Banusia pipelah? Tayat pita pelah jelut apau loti padhi bua dithu?” tanya Abraham penasaran.
Jovan menggaruk kepalanya. Ketujuh anak kembarnya ini memang selalu ingin tau kosa kata baru. Terlebih jika tak paham, mereka akan terus mencecar pertanyaan sampai mereka mengerti.
“Sudah, jangan tanya-tanya lagi, Papa yayah pusing jawabnya,” ujar pria itu.
Lalu terdengar panggilan pada seorang mahasiswi berprestasi, nama Manya disebutkan dengan beberapa nama lainnya. Lima orang naik panggung untuk disematkan langsung topi toga mereka oleh Professor. Semua bertepuk tangan meriah. Manya di daulat untuk memberikan sepatah dua patah kata.
“Terima kasih untuk Tuhan Yang Maha Esa. Saya mengucap syukur pada-Nya karena telah mempertemukan saya dengan kedua orang tua kandung saya, Daddy ... Mommy ... Manya lulus!”
Bersambung.
selamat Manya!
next?