THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
LOMBA



Pagi menjelang, semua anak sudah rapi dengan pakaian olahraga mereka. Anton juga sudah berada di mansion Downson. Balita itu begitu rapi, Manya sampai gemas melihat rambutnya yang klimis.


"Anton!" bocah itu menoleh.


Abraham memberinya satu kado. Balita itu sedikit terkejut.


"Selamat ulang tahun!" Sidik baru teringat jika hari ini adalah hari ulang tahun putranya.


"Oh ... astaga! Selamat ulang tahun Nak!' seru Manya lalu mengecup pipi balita itu.


Sidik sedih, ia lupa padahal Anton adalah putranya. Malah tuan mudanya yang ingat jika hari ini adalah hari lahir Anton.


"Terima kasih, Ablaham ... Nyonya," sahut Anton terharu.


Aldebaran menatap cicitnya. Abraham bisa saja meminta hadiah untuk sahabatnya itu dan tetap memilih hadiahnya. Tetapi, cicitnya itu malah memberi hadiah yang mestinya untuk dia malah diberikan pada orang lain.


"Kau hebat sayang!" pujinya pada Abraham.


Semua mengucap selamat hari lahir pada anak angkat supir dari Jovan itu. Kini mereka semua sudah berada di mobil dan berangkat ke sekolah.


Anak-anak sudah banyak berkumpul di lapangan. Ada yang kembali mengikuti lomba, seperti balap karung, bakiak, makan kerupuk dan banyak lagi. Seven A sudah bergabung dengan Denta, Sapri dan Lucky.


"Anak-anak, ayo kenalan dulu sama lawan-lawannya!" titah Bu guru.


Semua bersalaman dan memperkenalkan diri mereka. Anak-anak As-Salam sama kecilnya dengan mereka. Hanya Denta yang lebih besar di antara semuanya.


"Mainnya nggak boleh curang ya!" peringat wasit.


"Spasa yan sulan!" pekik Reece tak suka.


"Piasana yan sulan ipu yan nomon!" sahut Liam ikutan kesal.


Para orang dewasa hanya tersenyum mendengar ocehan dua bayi itu, sebagian tak mengerti apa yang mereka katakan. Sedang triple A hanya mengangguk setuju.


"Lempar koin siapa pilih burung dan siapa pilih angka?" tanya wasit.


"Kami bulung!" sahut lawan dari tim Denta.


"Oke, kami angka!" sahut Denta.


Wasit melempar koin. Burung yang ada di bawah, berarti tim Denta yang menyerang duluan. Kali ini Anton memakai ban kapten tim. Balita itu tampak memberi instruksi pada semua kawan-kawannya.


"Apa semua bersiap!"


Semua meletakkan tangan mereka di atas tangan Anton. Mereka pun bersorak.


"Siap, menang!"


Lalu semua berpencar. Anton membuka serangan pada bilik tengah, Denta sebelah kiri dan Sapri sebelah kanan. Penjaga garis kanan dan kiri juga sudah bersiap untuk mengenai lawan mereka.


"Payo baju!" teriak Reece kesal pada tim ponakannya yang hanya bermain-main saja.


Akhirnya Sapri masuk langsung di kotak ke dua. Denta mengelabui lawan agar kapten bisa masuk. Untuk mendapat poin lebih kapten harus mencetak angka lebih dulu. Anton berlari kuat dan nyaris saja kena jika saja ia tak berkelit. Hal itu membuat Reece dan Liam juga triple A berteriak kuat.


"Wawas!"


"Gol!" pekik Anton membobol gawang.


"Tiga poin untuk tim TK Permata Bunda!" pekik wasit.


Tim Denta bersorak girang. Kali ini giliran mereka berjaga. Tim lawan menggunakan taktik yang sama. Sayang ketika di satu kotak mereka ada tiga orang.


"Ipu batal!" pekik Adelard.


Denta, Lucky dan Anton langsung mengepung lawan. Tim Harun terbakar, mereka tak mendapat poin. Rupanya tim lawan tak begitu paham dengan permainan.


Hingga tim Denta pun dengan mudah mengalami kemenangan. Sementara di anak perempuan Agil dan Laina memenangkan pertandingan sedang Lika dapat juara dua. Semua senang dengan hadiah yang mereka terima.


"Ayo pulang!" ajak Manya.


Semua pun mengangguk setuju. Para bayi sedikit diam karena pertandingan begitu cepat selesai.


"Imi pudahan?" tanya Aidan bingung.


"Iya sayang, kakaknya kan juara!" jawab Amertha.


"Pudah setali menan pomba!" celetuk Liam.


Semua tersenyum lebar. Mereka pun pulang menuju rumah Manya. Sampai rumah itu Sidik langsung pamit pulang, di rumah ternyata istrinya menunggu.


"Saya permisi ya Tuan, Nyonya!' pamit pria itu.


"Iya hati-hati ya Pak!" ujar Jovan.


Pak Sidik mengambil motornya, Anton duduk di bagian belakang yang terdapat kursi khusus, ia sudah memakai helm. Kado pemberian Abraham ada di pangkuannya.


Tak lama motor itu pun pergi meninggalkan halaman rumah mewah itu. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai ke rumah. Di sana sudah banyak anak-anak. Rupanya istri Sidik mengadakan sukuran hari lahir putra angkatnya.


"Assalamualaikum!" Sidik masuk begitu juga Anton yang memeluk hadiah dari Abraham.


"Wa'alaikumusalam!' sahut semua anak-anak.


"Selamat ulang tahun Anton!" pekik semuanya.


Balita itu tersenyum lebar. Sidik mengambil hadiah yang dipegang oleh putranya itu. Lalu sang ibu membawa tumpeng nasi kuning hasil olahan tangannya.


"Ayo Nak sini, kita berdoa dulu!" ajak Sidik mengagetkan Anton.


Semua pun berdoa, usai berdoa tiba-tiba Manya masuk membawa kue ulang tahun dan lilin huruf enam. Sidik dan istrinya terkejut melihat kedatangan atasannya itu.


"Hole kue ulang tahun!" pekik Anton kesenangan.


Semua anak masuk, mereka membawa kado, kecuali triple A, Reece dan Abraham juga Liam. Ternyata baik Bhizar, Abi, Agil, Lika, Syah dan Laina juga meminta hadiah pada buyutnya untuk sang sahabat. Aldebaran tentu membelikannya.


Anton begitu bahagia, begitu juga anak-anak. Mereka memakan nasi tumpeng dan juga kue ulang tahun. Ten A dan Reece juga Liam begitu takjub dengan tumpeng.


"Ma imi pa'a?" tanya Liam melihat tumpeng dengan takjub.


"Itu nasi tinggi," jawab Jovan.


"Pasi tindi?" tanya Aqila dengan mata bulat.


"Ini tumpeng," sahut Anton.


"Pumpen?" tanya Liam. "Pumpen pa'a?"


"Nasi yang dibentuk sepelti kelucut dan di hiasi aneka lauk," jawab Anton lagi.


"Nah biar seru, bagaimana kalau yang ulang tahun mempersembahkan lagu untuk kita semua!" seru Jovan.


"Iya ... nyanyi!" teriak salah satu anak sambil bertepuk tangan.


"Pide yan badhus!" sahut Reece juga bertepuk tangan.


Anton malu-malu, ia pun akhirnya berdiri. Sebuah lagu untuk ibunya.


"Kasih ibu ... kepada Beta. Tak telhingga sepanjang masa ... hanya membeli ... tak halap kembali. Bagai sang sulya menyinali dunia,"


"Ayo nyanyi semua!" ajak Gerard.


Rumah kecil Sidik jadi penuh dengan manusia. Mereka saling bernyanyi dan juga ada yang menari. Liam juga memberikan sebuah lagu untuk yang berulang tahun.


"Ata' imi ladhu picaan atuh seuntili!" ujarnya yakin.


"Tamu ... yan pulan pahun ... peulamat atuh pucaptan ... semodha entau panzan sumul, sehat selalu ... Ata' Anton!' Liam mengakhiri lagunya dengan nada tinggi diujung lagu.


"Setian ... pelima sapih!" ujarnya lalu membungkuk hormat.


Triple A dan Reece bertepuk tangan heboh, lalu diikuti semuanya. Abraham, Gerard dan lainnya kram pipi gara-gara lagu dari bayi mau dua tahun itu. Reece tak mau kalah ia pun juga ingin menyumbangkan suara emasnya.


"Atuh Om Teusil, peumbucatan peulamat sulan pahun ... hepi besday tu yu!" Reece pun membungkuk hormat.


Semua bertepuk tangan meriah, giliran triple A yang menyumbangkan suara emasnya. Ketiganya memilih bernyanyi bersama.


"Zatu, patu ... atuh sayan Mama, puwa, buwa judha sayan papa yayah ... pida-pida ... sayan tate nenet ... zatu buwa tida sayan pemuana!"


bersambung.


Selamat anak-anak kalian juara lomba!


barakallah fii umrik Anton!


next?