THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERNIKAHAN GERARD DAN DENNA



Hari yang ditunggu tiba. Sepasang pengantin duduk bersanding di pelaminan. Gerard memeluk pinggang ramping istrinya. Setelah mengucap sumpahnya. Gerard tak ragu mencium bibir istrinya. Denna malu luar biasa.


"Selamat ya suster!" ujar Manya pada gadis itu.


Denna memeluk erat wanita yang selalu ada untuknya itu. Eddie dan Clara juga Abraham dan Maira duduk bersama pengantin. Ramaputra dan juga Amertha datang kini bersama para suster menjaga para bayi yang berada dalam kursi khusus mereka.


"Talo pita bedhini, badhaibana pita beumpelsempah tan ladhu puat Papa yayah Lelat?" bisik Bhizar mulai gusar.


"Biya mih ... lolan pua!" gerutu Syah.


"Bustel ... pita bawu banyi!" seru Abraham mulai rusuh.


"Belum mulai baby, tuh pemain bandnya aja masih diam belum naik panggung," jawab Leni.


"Pototna pita pawu puluan woh!" ujar Laina.


"Sabar baby," sahut Leni.


Ramaputra yang memperhatikan percakapan para bayi, mengerutkan keningnya.


"Mereka mau ngapain?" tanyanya.


"Popa janan tepo yaa!" sahut Bhizar cemberut.


Ramaputra jadi gemas sendiri. Pria itu mengangkat bayi itu dan menciumi perut cucunya hingga tergelak.


"Popa mawu judha!" pinta yang lainnya.


Pria itu memenuhi keinginan tujuh cucunya. Amertha senang dengan suara tawa cucu-cucunya.


Musik mulai terdengar seven A sudah ribut ingin mempersembahkan sesuatu untuk pengantin.


"Sabar baby, Suster Retta sedang ke sana," ujar Neni.


"Pita judha bawu tesyana bustel!" seru semuanya tak sabaran. Akhirnya. Leni dan Neni mendorong dua kereta berisi para bayi. Semua tamu langsung memandangi tujuh bayi tampan dan cantik. Manya dan Jovan tengah berbincang dengan sahabat Jovan. Melihat pergerakan kereta bayinya, Manya mengernyit bingung. Tujuh bayi diturunkan dan langsung naik ke panggung.


"Jadi siapa yang ingin bernyanyi?" tanya pembawa acara.


"Tami!" pekik semua bayi.


"Mau nyanyi apa?" Retta langsung memberitahukan mereka bernyanyi apa.


"Poleh atuh yan nomon pi mit?" pinta Abraham.


Retta mengartikan bahasa para bayi agar dimengerti pada pemandu acara. Pria itu mengangguk tanda mengerti dengan senyum lebar.


Mik di serahkan pada Abraham. Bayi tampan itu langsung ke tengah-tengah panggung. Tiga saudara laki-lakinya berdiri di belakangnya sedang yang perempuan menunggu giliran bernyanyi.


"Palo pemamat sian pemuana?!" sahut Abraham langsung membuka acara.


"Pami atan beumpeulsempahtan sepuah ladhu pitpot. Papa yayah Lelat, imi ladhu puntut ladiah puat Papa yayah Lelat!" ujar Abraham.


Gerard dan Denna terkejut melihat empat anak bayi laki-laki berparas sama ada di atas panggung.


"Haaciiyuut.. becah ... becah ... hacpeut ... hacpeut ...!" Syah ber-beatbox.


Semua tertawa terbahak-bahak. Gerard tersedak sedang Denna tersenyum lebar. Manya dan Jovan ikut tertawa mendengarnya.


"Hwnheunwjdjdgwjiw ... hacpeut .. ahcaeput ... cpet .. cpet. bow ... bow!" Syah melanjutkan beat box nya.


"Atuh pelolan patiten ... beumpunai pedan panjan!' Bhizar bernyanyi lagu orang kapiten ala rapper.


"Talo beuljalan ... punyina?" Bhizar menyerahkan mik ke penghujung yang hadir.


"Prok! Prok! Prok!"


"Badhaipana bunina?" sahut Bhizar lagi.


"Prok! Prok! Prok!" sahut para tamu yang hadir.


Kebanyakan memang adalah pengusaha-pengusaha muda. Jadi mereka kini berada di bawah panggung sambil bergoyang ala dance.


"Atuh selolan pa'a?!" teriak Bhizar lagi.


"Kapiten!" teriak para tamu yang mendadak jadi penonton.


"Hacepetut ... pecetah ... pecetah ...!"


"Atuh ini selolan patiten ... beumpunai pedan yan panzan ... atuh selolan patiten!"


"Patiten ... patiten ... atuh selolan patiten ...!"


"Say it!"


"Kapiten ... kapiten ... aku seorang kapiten!"


"Atuh ... selolan patiten ... atuh selolaaaaan ... paaatiiiteeen!"


Abi dan Syah mengakhiri lagunya. Semua bertepuk tangan meriah.


"Lagi ... lagi!" teriak semuanya.


"Sabal pemuana!" sahut Abi menenangkan para penonton.


"Pala sewet setalan pawu banyi!" sahut Abi lagi.


"Halo ... syelamat padhi pemuana!' sahut Abigail.


"Pagi!" seru Lektor dan lainnya semangat.


"Pita atan beulpanyitan ladhu pandut!"


Semua tamu saling toleh. Gerard mencolek istrinya dan bertanya.


"Dia bilang apa?"


"Mereka mau nyanyi lagu dangdut," jawab Denna dengan senyum lebar.


Musik mulai, begitu lembut dan syahdu.


"Beulamat palam puhai tetasyih ... pebutlah bana tu ... peunjelan pidulmu ... pawa lah datu ... palam bimpi yan pindah ... Pi palam yan pinin beupunyi imi!"


Semua bersorak dan mulai bergoyang dangdut. Para pebisnis muda itu langsung mengeluarkan uang mereka dan menyawer para biduanita cilik.


"Lada ... tah Pindu pipalam latimu ... beupelti dilimu beulindu tan mu ...,"


Semua bersiul keras. Para penyanyi cilik banyak mendapat saweran. Giliran pada bayi laki-laki yang kini bernyanyi.


"Balo ... Balo ... balo ...!!"


"Yan ... yan ... yan ... pidoyan-poyan yan ... put ... put ... put yut pita beulpandut!"


"Yan ... pipoyan ... pipoyan yan!'


"Sel ... doyan Papa yayah Lelat!"


Gerard maju ke depan panggung. Pria itu ikut bergoyang bersama kolega dan juga sahabatnya.


"Mali tawan-pawan deumbila peulsyama ... mali pawan-pawan beuljodet peulsyama ... hilan tan pemua pusyah yan lada denan ladhu yang deumbila!"


"Sel ... poha!"


Semua bergoyang heboh. Para bayi terus bernyanyi, Jovan ikut turun panggung dan bergoyang di sana.


Lagu selesai. Seven A sudah kelelahan bernyanyi. Leni, Neni dan Retta yang kini bernyanyi. Sebuah lagu milik Christina Perry, thousand year.


Para pria menatap tiga gadis cantik bersuara merdu. Manya bersama tujuh bayi kembarnya. Lagu berakhir dan kini mereka semua makan di ruang vvip.Tiga suster menyuapi para bayi. Akhirnya tujuh bayi pun terlelap sambil makan.


Acara terus berlanjut. Manya memilih pulang bersama suami dan ayah dan ibu kandungnya.


"Kalian nginep di mansion ya," pinta Amertha.


"Iya mom, anak-anak ingin berenang besok," sahut Manya.


Mereka sampai mansion dan langsung menuju ruangan yang baru dibangun oleh Ramaputra untuk anak dan tujuh cucunya.


Sedang di tempat pesta, akhirnya berhenti setelah empat jam berlalu. Wajah Denna memerah karena Gerard langsung membawanya ke apartemen miliknya. Ia tak mau tidur di kamar hotel yang telah disediakan.


"Kita langsung ke apartemen milikku mom," ujar pria itu.


"Kalo di hotel mesti pagi harus bangun!" ujarnya.


"Dasar anak mesum!" teriak Clara.


Kini sepasang pengantin sudah ada di kamar peraduan mereka. Denna memakai lingerie hitam. Gerard tak tahan dan langsung mengoyak pakaian tipis itu. Keduanya mengarungi ombak gairah cinta.


Sedang di tempat lain, Lektor, Hasan, Bima, Bernhard berada di salah satu club. Keempat pria itu tak bernafsu untuk menenggak minuman beralkohol di tangannya.


"Tuan ... apa ingin ditemani?" tawar salah satu wanita berbaju minim.


Jika sebelumnya, keempatnya akan langsung menyambar tubuh perempuan itu kini mereka tak lagi bernafsu.


"Kita harus menikah!" ujar Bernhard.


"Apa kita ambil suster-susternya seven A?" tanya Bima.


"Aku suka Leni," lanjutnya.


"Aku mau Retta.


"Kita cari di rumah sakit milik Jovan saja. Pasti ada dokter atau suster yang bagus di sana," ujar Bernhard.


"Boleh juga," sahut Hasan.


"Memang nggak ada yang mau sama Leni gitu?" tanya Bima.


"Aku mau deh," sahut Bernhard.


"Ibumu mana mau dengan gadis yang tak sama kelasnya denganmu?" ketus Hasan.


Bernhard berdecak. Ia memang dipersulit oleh ibunya yang ingin bermenantu gadis-gadis kaya.


bersambung.


selamat ya Gerard dan Denna!


next?