THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
DATANGNYA LETICIA



Leticia datang ke mansion orang tua yang dulu mengasuhnya. Amertha senang sekali melihat kedatangan putrinya. Wanita itu langsung mengajak ke kamar gadis itu dulu tempati.


"Sayang, ini kamarmu. Masih seperti dulu kan?" ujar Amertha ketika mereka berdua ada di kamar Leticia.


Gadis itu memandangi kamar yang dulu ia tempati. Masih di lantai yang sama. Semua letak tak ada yang berubah. Kini, ia yakin jika dirinya masih bertahta di hati ibu yang menyusuinya itu.


"Lalu ... Manya tidur di mana mom?" tanyanya hati-hati.


"Manya tidur di kamar lain sayang," jawab Amertha.


Leticia tersenyum senang. Ia mengira sang ibu akan merubah semuanya dan menempatkan putri kandungnya di kamar ini.


"Ayo, kita turun makan. Kamu sudah lama nggak makan sup sosis kesukaanmu kan?" Leticia mengangguk.


Gadis itu menggandeng erat tangan sang ibu. Keduanya masuk lift khusus dan turun ke lantai satu.


"Halo," sapa Ramaputra pulang dari kantornya.


Ia makan siang bersama. Pria itu tau jika putrinya yang lain datang.


"Daddy!"


Leticia langsung memeluk pria itu. Pria cinta pertamanya, seorang putri pasti jatuh cinta pada ayahnya. Ramaputra adalah ayah panutannya.


"Kamu makin gemuk sayang," kekehnya.


Leticia merajuk. Ia memang sedikit berisi di banding dulu. Gadis itu kini serius kuliah dan membantu perusahaan ayah kandungnya. Cara berpakaian gadis itu juga sedikit berubah, lebih tertutup dan sopan juga formal.


"Kau berubah sayang, daddy sangat menyukainya," Leticia hanya mengerucutkan bibirnya manja.


Ramaputra terkekeh dan mencubit bibir putrinya itu. Hal biasa dia lakukan ada putrinya.


Kini ketiganya makan dengan tenang. Usai makan Ramaputra sudah dijemput oleh Rudi asistennya. Pria itu membungkuk hormat pada nona mudanya.


"Nona, selamat datang, anda terlihat sehat!"


Leticia hanya mengangguk. Ramaputra pergi buru-buru dan lupa mencium istri dan putrinya. Hal biasa yang selalu pria itu lakukan.


"Daddy masih seperti dulu mom?"


"Sayang!" kedua perempuan beda usia itu menoleh.


Ramaputra kembali dan mengecup kening istrinya juga Leticia.


"Maaf ya," ujarnya lalu pergi dan masuk mobilnya.


Leticia cukup terkejut. Dulu, ayahnya itu jika sudah pergi ya pergi. Tak mungkin kembali hanya sekedar mencium istri dan putrinya.


"Daddymu berubah sejak bertemu kembali dengan putrinya—Manya," sahut Amertha dengan senyum indah.


"Oh ya, kalian belum pernah bertemu kan?" tanyanya.


"Kebetulan di rumah saudaramu itu ada mertuanya. Sekalian kita berkenalan," lanjutnya mengajak.


"Mom, boleh nanti aja nggak?" pinta Leticia


"Aku sedikit lelah, walau perjalanan pesawat hanya dua jam, tapi aku sedikit jetleg nih," lanjutnya beralasan..


Amertha langsung mengerti. Ia menyuruh putrinya untuk istirahat. Tentu wanita itu tak tahu hubungan putri susunya itu dengan Jovan. Keduanya tak pernah mengungkit hal yang indah menurut Leticia, tapi bahagia menurut Jovan.


"Kalau begitu kamu istirahat dulu ya," suruh wanita itu.


"Mommy mau ke mana?" tanya Leticia ketika Amertha hendak melangkah.


"Mommy ke rumah saudaramu dulu sayang," ujar wanita itu.


Amertha hendak berjalan kembali, tapi lagi-lagi Leticia menahannya.


"Mom, bisa nggak temenin aku di sini?" pintanya.


"Sayang, ini rumahmu juga. Mommy sudah berjanji untuk hadir. Lagi pula, sepupunya menantu mommy akan menikah," jelasnya.


"Sepupu menantu mommy?"


"Iya, Gerard Downson akan menikah dengan seorang perawat yang mengasuh seven A," ujar wanita itu.


"Maaf ya sayang. Besok jika kamu lebih baik. Mommy ajak kamu pergi ke gunung milik seven A," ujar Amertha.


Wanita itu mengecup pipi putrinya dan langsung naik mobil. Leticia menatap kendaraan mewah itu bergerak. Leticia menekan dadanya yang nyeri.


"Tentu saja mommy lebih mendahulukan putri kandungnya di banding aku," gumamnya dengan hati yang sakit.


Sedang di tempat lain. Pria beriris hazel tengah berdiri di depan kaca besar di rumah sakit, Praja melaporkan kedatangan Leticia.


"Siapkan semua bukti. Jika ia hendak mengacau. Aku pastikan dia dicoret dari keluarga Artha!" titahnya.


Pernikahan Gerard tinggal menghitung minggu. Manya benar-benar menyiapkan suster pengurus seven A itu dengan baik. Gadis itu dibawa ke spa dan salon kecantikan, berikut tiga temannya. Leni, Neni dan Retta.


"Kau beruntung mendapat pria kaya yang baik hati dan tampan," ujar Leni.


"Aku doakan agar dirimu juga mendapat pria kaya, tampan dan baik hati!" sahut Denna.


"Aamiin!" ujar Manya menyahuti harapan Denna untuk teman seprofesinya.


Tujuh anaknya ia titip pada kedua mertuanya. Manya tengah membayangkan Maira dan Abraham yang sibuk mengatur seven A yang super ajaib itu. Wanita itu tersenyum lebar membayangkan yang terjadi di rumahnya.


"Babies!" pekik Maira kelelahan.


Wanita itu sudah lelah mengejar cucunya yang sangat aktif. Sedang Abraham hanya diam mengamati.


"Papi kok diem aja sih dari tadi!' gerutu sang istri protes.


"Loh ... yang suruh mami main kejar-kejaran siapa?" tanya pria itu tak mau disalahkan.


"Mami kan nggak mau mereka kenapa-kenapa Pi!" gerutu Maira lagi.


Amertha datang memberi salam. Maid yang membuka pintu langsung mengambil paper bag berisi pakaian seragam untuk hari pernikahan.


"Jeng Maira, ini baju seragamnya sudah jadi," ujarnya.


"Maira langsung meminta para maid meletakan semua paper bag di tempat yang aman.


"Yang buat anak-anak tolong bawa sini!" pintanya.


Maid menyerahkan empat belas paper bag. Maira langsung membukanya.


"Ih ... lucu-lucu amat sih!" serunya.


"Cobain jeng!" pinta Amertha.


Kedua wanita itu sibuk memakaikan bayi perempuan kebaya. Ketiganya sangat ikut dan lucu terlebih warnanya sangat lembut dan cocok di kulit Abigail, Alaina dan Ailika. Maira dan Amertha memfoto ketiganya dan mengirim pada ayah dan ibu seven A.


"Oh ya, besok aku akan membawa putriku yang lain ke sini," ujar Amertha membuat Abraham dan Maira terkejut.


"Siapa?" tanya Maira pura-pura tak ingat.


"Bukankah sudah pernah saya ceritakan kemarin Jeng, jika Manya ditukar oleh anak perempuan milik orang lain," jelas Amertha.


"Ah ... iya, saya lupa," sahut Maira kikuk.


Abraham hanya mendengar dan tak menanggapi. Ia akan bicara pada putranya nanti.


"Iya, tadi Leticia datang karena rindu. Karena dia juga putriku. Besok acara pre-wed saya akan mengajaknya serta, tidak apa-apa kan jeng?"


"Tidak-tidak apa-apa," jawab Maira dan ia melihat suaminya mengangguk saja.


Tiga jam akhirnya Manya kembali. Tujuh anak kembarnya langsung protes dengan cara asuh kakek neneknya.


"Mama ... pasa padhi Lita matan peulmen pi lobehin popa woh!" adunya.


Manya, melirik pria yang hanya menunjuk satu jari.


"Hanya satu, jika tidak ia akan berteriak," Abraham membela diri.


"Padhi moma judha pilan, bipis laja pi selana ... eundat pa'a-pa'a," adu Bhizar.


"Piya mama ... moma suluh pita nompol!" adu Syah dan Agil bersamaan.


"Ya nggak apa-apa, kan kalian pakai popok anti bocor, baby!" sahut Manya.


"Pati tan ma ... pita banti peupiasaan nompol!" tolak Abi ikut bersuara.


"Mama ... spasa ipu Pestisida?" tanya Abraham.


"Hah?"


bersambung.


Nama Leticia diganti sama seven A 🤭🤦


next?