
Satu minggu berlalu. Kini mansion Ramaputra penuh dengan anak dari para kolega, Abraham dan Jovan juga mengundang kolega mereka. Eddie dan Clara juga ada di sana, mereka baru saja mendapat seorang cucu laki-laki.
"Wah, siapa namanya ini?" tanya Leni ketika menggendong putra dari mantan rekan sekerjanya.
"Namanya Liam Elijah
Downson yang artinya pelindung yang kuat, cerdas dan penyayang," jawab Denna penuh kebanggaan.
"Nama yang indah," puji Neni.
Acara puncak dimulai. Ramaputra memperkenalkan tiga cucu kembarnya. Ia dan sang besan cukup terkejut dengan jumlah keturunannya sekarang.
"Kami perkenalkan, tiga cucu kami!"
"Ini dia Aidan Jovan Dinata, Aqila Jovan Dinata dan Adelard Jovan Dinata!"
"Wah triple A ... jadi semuanya tenth A!' seloroh Eddie.
Semua terkekeh. Bayi-bayi difoto oleh beberapa fotografer khusus bersertifikat. Tiga bayi duduk bersama dengan tujuh kakak mereka. Semua mirip dengan mata hazel seperti ayah mereka.
"Wah ... Nyonya Manya benar-benar tak mendapat bagian!" kekeh salah satu kolega.
Semua mengangguk setuju. Bahkan Manya juga ikut kesal. Ia seperti hanya melahirkan saja, sedang semua anak tak ada satupun yang mirip dengannya.
Acara berlanjut makan-makan. Lektor, Hasan, Bima dan Bernhard serta Rudi dan Praja ada di sana, mereka tengah bercengkrama.
"Jadi kau sudah meminta Neni untuk menjadi istrimu?" tanya Lektor tak percaya.
Hasan mengangguk dengan senyum cerah. Ia juga tak menyangka lamarannya diterima gadis itu.
"Wah ... hebat sekali kau," puji Bima sambil meledek.
"Mungkin buah kesabaranku," kekeh Hasan.
Semua pria mencebik. Lalu semua menatap Bernhard. Mereka lebih terkejut ketika Lana akan diperistri olehnya dalam hitungan minggu.
"Dan kau ... bagaimana bisa menarik Lana lagi di sisimu?' desis Lektor sebal.
"Sudah kukatakan. Apa yang akan menjadi milikku maka dia milikku!" jawab Bernhard.
Lana yang tak berkutik ketika dilamar langsung di depan pamannya. Sang paman tentu langsung menerimanya.
"Tapi Paman!" Lana masih bersikukuh.
"Ayo lah, Nak. Paman sudah terlalu tua menjagamu, sudah tak sanggup lagi," pinta Joe Brooks setengah memohon pada keponakannya itu.
Akhirnya, Lana mengangguk. Ia juga takut jika hanya berdua terus sepanjang proyek yang akan mereka kerjakan dua bulan mendatang. Lana takut, ia mengulang kesalahan yang sama dan membuatnya menyesal.
"Jadi kalian akan menikah kapan?" tanya Jovan kini.
Tiga bayi telah di dalam kamar, Manya menyusuinya. sedang tujuh anak lain kini sedang bercengkrama.
"Dua minggu lagi," jawab Bernhard santai.
"Astaga cepat sekali!" desis Lektor kesal.
"Balo mamat sian pemuana!" seru Bhizar dengan bantuan mik.
Rudi ada di sana sebagai moderator lagu. Abraham meminta pria itu.
"Pom Luldi ... pusit!"
"Tamu sdalana ... tat teulpisah poleh watu ... pial pumi bun beunolat pu petap cinca tamu ... pial Mama mu tat syuta ... papamu judha meulalan ... palau bunia menolat tu tat tatut ... betap pu tatatan bu cinta lidimu ... huuwwwooo!"
"Mmpprrrffssshhh!" semua nyaris tertawa.
Lagu Mama Papa larang milik Judika berubah total liriknya di mulut bayi tiga tahun itu. Akhirnya semua ikut bernyanyi lagu tersebut hingga selesai.
"Matasih ... matasih!"
Semua bertepuk tangan meriah. Lalu Lika mengambil mik, sebuah musik dangdut terdengar. Neni menepuk keningnya. Lagu itu sering ia putar dan nyanyikan di kamar mandi.
"Aban bilih yan Pana ... beulawan patau panda ... beulawan beman asit ... Panda pebih meunalit ...!'
"Huaaahahahahahahaha!" semua tertawa terbahak-bahak.
Jovan ikut berjoged, ia tak memperdulikan lagu yang dibawakan putrinya itu.
Akhirnya semua bergoyang dangdut. Para anak kecil juga ikut bergoyang. Tentu mereka tidak tau lagu apa yang dinyanyikan oleh bayi cantik itu.
Selesai nyanyi dangdut. Giliran Syah ber-beat box. Semua riuh dalam pesta.
"Hacepeutut ... pecetah ... pecetah ... pectut bow bow ...!"
"Hei ... atuh ini nanat peulembala pasi ... tat lada yan tupitiltan ladhi ... imi lah teuljana di pembala sapi .. lapalah yan tupitiltan ladhi ...!"
"Pila hali teulah betan ... sapi bulan te tandan hatituh sanatlah lian ... imi lah teuljana si dembala sapi ... pa"a yan tu pitiltan ladhi ....!"
"Yoleiloleiloo ... yoloi ... yoolei ... !"
"Banyi pemuana!"
"Bila hari sudah petang sapi pulang ke kandang ... hatiku sangatlah riang!" sahut para tamu ikut bernyanyi.
"Imi lah teuljana ... pi dembala sapi ... pa'a yan tupitiltan ladhi!"
Semua bertepuk tangan meriah. Lagu usai, semua anak sudah tidur di kamar mereka. Para tamu juga sudah pulang. Mereka sangat senang dengan keriuhan suasana anak-anak.
"Nanti seven A datang ke ulang tahun Deborah ya!' pinta salah satu kolega Ramaputra sambil menyerahkan undangan.
"Oke Tante, Seven A bakalan hadir," jawab Manya menerima kartu undangan.
Akhirnya mansion Ramaputra pun sepi. Johan mengajak istrinya untuk beristirahat begitu juga sang pemilik rumah,. Maira dan Abraham juga Aldebaran pun sama. Keriuhan tadi membuat semuanya jadi lelah.
Sedang di tempat lain. Bernhard mendatangi perusahaan calon istrinya. Lana memilih tinggal di perusahaan di banding membeli rumah. Ia malas untuk pulang pergi.
"Ada nonamu?" tanya Bernhard.
"Ada di ruangannya Tuan. Kemungkinan sedang istirahat," jawab seorang penjaga perusahaan.
Gedung itu tampak sepi. Maklum hari ini adalah hari sabtu. Hanya ada beberapa karyawan yang lalu lalang. Semua kenal dengan Bernhard, pria itu masuk lift khusus menuju lantai paling atas.
Pria itu masuk ruangan besar. Tampak sepi dan ada beberapa tumpukan berkas yang tercecer.
"Ck ... kebiasaan!" keluhnya menggerutu.
Lana sedikit ceroboh dan tak mau ambil pusing. Gadis itu selalu menciptakan kopiannya jika berkas-berkas yang ia inginkan hilang atau terselip.
Setelah merapikan berkas dan meletakkan di meja. Pria itu menuju satu pintu yang terselip. Ia tau kata kunci pintu itu.
Klik! Kunci terbuka. Bernhard masuk dan menutup pintu dan langsung terkunci secara otomatis.
Lana tertidur dengan lelap, nyaris seluruh bajunya terbuka, sepertinya gadis itu kelelahan dan hanya asal membuka pakaiannya.
"Hmmm ... kebiasaan lagi?"
Ben merapikan calon istri, kali ini pria itu melihat seluruh isi tubuh calon istrinya itu.
"Ck ... sialan!" umpatnya pelan.
Miliknya berkedut. Pria itu tak tahan. Lalu ia pun mulai mencumbu Lana yang sebentar lagi menjadi istrinya.
Lana memekik dan terbangun. Ia ingin berteriak, tapi mulutnya langsung dibungkam oleh Bernhard. Kejadian itu begitu cepat. Napas keduanya menderu, Bernhard begitu terkejut dengan kenyataan yang baru saja ia dapatkan. Sedang Lana menangis.
"Sayang ... tenanglah," pinta pria itu.
Bernhard memeluk Lana dan mengecup bahu telanjang calon istrinya. Ia mendapatkan keperawanan gadis itu.
"Kau masih suci, sayang," Lana menggeleng tak percaya.
"Ini lihat lah!"
Miliknya sangat perih dan sakit luar biasa. Dulu ketika melakukannya pertama kali, ia tak merasakan sesakit ini, tapi ada noda merah di kain segitiganya waktu itu.
"Mana mungkin, aku pernah melakukannya sekali," ujarnya tak percaya.
"Ini buktinya sayang!" tunjuk Ben pada noda merah di Seprei.
"Ah ... istriku ... istriku!" ujar Bernhard menciumi wajah Lana.
Bersambung.
eh ... next?