THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
MENCARI SEBUAH FAKTA



Sudah satu minggu, kondisi Leticia tetap sama, yakni kritis. Berbagai usaha dilakukan tapi tak membuahkan hasil. Leticia tak mau bergeser antara hidup dan mati.


Kondisi Amertha pun makin buruk. Selama putrinya belum sadar, wanita itu tak menyentuh makanan. Ia masih merasa bersalah pada gadis yang kini terbaring lemah di rumah sakit.


"Nyonya, anda harus makan, kasihan Nona muda tak ada yang memberi semangat nyonya," pinta kepala pelayan dengan nada memohon.


Amertha seperti tersadar dari keterpurukannya.


"Kau benar Leyla, aku harus menemani putriku yang tengah berjuang bukan?"


"Tentu, nyonya harus sehat, harus bangkit demi nona!" ujar pelayan itu menyemangati.


Akhirnya setelah lima hari tak menyentuh makanan apapun. Hanya cairan nutrisi yang masuk melalui selang infus. Amertha makan makanan lunak agar mudah dicerna dan tak membuat perutnya sakit.


Sementara di rumah sakit. Jovan yang mengetahui keberadaan Leticia yang kritis hanya meminta semua tim medis bekerja secara profesional. Pria itu enggan menyambangi gadis yang pernah membuat hidupnya penuh warna dan drama.


"Mestinya aku berterima kasih atas perbuatannya. Jika tidak, aku tak bertemu dengan istriku sekarang," gumamnya.


"Nanti, aku akan mengunjungi tempatnya bersama Manya, istriku," ujar pria itu.


Sedang di ruang perawatan. Ramaputra menunggui putrinya. Pria itu ingin menebus kesalahannya karena telah memarahi dan mengasari putrinya itu.


"Apa anda ingin membersihkan tubuh putri anda tuan?" tanya perawat.


"Ya, tolong ajarkan saya, suster," pinta pria itu.


Suster memberi petunjuk pada Ramaputra ketika membersihkan Leticia dan mengganti baju pasiennya.


Usai membersihkan tubuh putrinya. Ia mengecup buku jarinya dan juga mengecup kening gadis itu yang masih diperban.


"Maafkan daddy, sayang. Mestinya kita bicara baik-baik," ujar pria itu menyesal.


Pria itu mengingat sesuatu. Hari ibu hasil dari tes DNA itu keluar. Ia akan tahu kebenaran yang mungkin sebentar lagi akan terungkap.


"Daddy pergi dulu ya, nanti daddy kembali lagi," ujarnya.


Perlahan Ramaputra meninggalkan kamar perawatan putrinya. Ia menuju sebuah ruang dan bertanya pada petugas di sana.


"Tes DNA atas nama Leticia Artha?"


"Ya, itu putri saya," sahut Ramaputra dengan jantung berdegup kencang.


"Ini hasilnya. Masih tersegel ya, jadi hanya anda yang tau apa hasilnya," ujar petugas itu.


Ramaputra mengangguk. Pria itu mengucap terima kasih setelah menerima amplop putih dengan logo rumah sakit besar itu. Pria itu memilih kembali ke ruangan perawatan putrinya. Di sofa dekat ranjang, Ramaputra menatap amplop putih itu dengan perasaan takut luar biasa.


"Apa reaksiku ketika melihat hasilnya?" tanyanya dalam hati.


"Kata dokter perubahan golongan darah bisa saja terjadi pada kasus-kasus tertentu. Tapi, golongan darah kami adalah O. Jadi tak mungkin ...."


Ramaputra menghentikan pikirannya. Ia tak sanggup jika kenyataannya gadis yang berbaring lemah di depannya bukan putri kandungnya.


Perlahan ia merobek ujung amplop. Pria itu menarik kertas dalam amplop. Masih dalam keadaan terlipat. Ramaputra menghentikan kegiatannya ketika panggilan masuk terdengar.


"Halo, Rud!"


".......!"


"Apa, bagaimana bisa?!" seru pria itu tertahan.


"......!"


"Baik, aku ke sana segera!" putus Ramaputra menyudahi sambungan telepon.


Pria itu menaruh lagi lipatan hasil tes ke dalam amplop. Ia melipatnya dan memasukkannya begitu saja dalam saku celananya. Pria itu mengecup lagi kening sang putri penuh kasih sayang.


"Daddy tinggal sebentar ya," pamitnya.


Pria itu pun segera pergi. Masalah di perusahaan jauh lebih diutamakan karena di sana nasib banyak orang bergantung, termasuk dirinya.


Sementara di tempat lain sepasang suami istri tengah mendatangi sebuah rumah sakit besar di mana pernah menangani kelahiran putri mereka.


"Saya akan tuntut rumah sakit ini. Jangan kira selama ini kalian bisa hidup tenang ya!" bentak wanita dengan balutan sutra terbaik dan perhiasan dengan mata berlian langka dan mahal.


"Nyaris tiga puluh tahun kalian diam saja. Jika kami tak melakukan penyelidikan, kami tentu tak tau apa yang terjadi!" serang suami dari wanita kaya itu.


"Tuan, maafkan atas keteledoran kami, kami mengaku salah dan siap bertanggung jawab!" ujar kepala rumah sakit dengan nada menyesal.


Ini lah bom waktu yang mereka takutkan. Beruntung mereka telah membentuk tim untuk menyusuri walau belum pada hasil akhir.


"Kalau begitu di mana putriku cepat!" teriak wanita itu begitu emosi.


"Yang kami yakini jika putri anda tertukar dengan putri lain, nyonya," jawab kepala rumah sakit.


"Iya, terus di mana putriku. Kalian apa tidak menyelidiknya!?"


"Karena kurang tim jadi penyelidikan itu hanya melihat jika putri anda ditukar pada putri yang lahirnya di hari dan jam yang sama," jawab pria itu.


"Kenapa kau jawab bertele-tele!" bentak suami dari wanita itu.


"Tuan tenanglah. Biar kami akan bentuk tim lagi untuk menyusuri kebenarannya," ujar pengacara.


"Kita akan lapor polisi biar semuanya bisa jelas dan terperinci!" ujar pengacara itu.


"Aku pastikan pemeriksaan ini akan terselenggara di khalayak publik dan rumah sakit ini akan ditutup!" tekan pria kaya raya itu.


Ia mengamit tangan istrinya dan menuntunnya keluar. Tadinya sang istri menolak. Ia ingin bertemu dengan putrinya yang dipisahkan oleh tangan tak bertanggung jawab.


"Sabar sayang, biar polisi usut tuntas semuanya. Mereka tentu lebih paham dari kita bukan?" bujuk sang suami lembut.


Sang istri akhirnya luluh dan menurut. Ia masih mengecam keras pada tindakan ceroboh pihak rumah sakit. Sepasang suami istri itu pun pergi dari sana bersama pengacaranya dan melaporkan semua pada pihak kepolisian.


Sementara di mansion Abraham. Manya kembali tinggal di sana, Aldebaran menjual rumah wanita itu setelah kasus penyerangan terhadapnya. Ia tak mau terjadi sesuatu pada semua cicitnya.


Para bayi tengah bermain di taman bersama para suster dan Maira.


"Babies, ayo kejar bolanya!" titah wanita paru baya tapi masih cantik jelita.


Seven A berteriak histeris mengejar bola. Ada yang berjalan dengan berjinjit dan ada yang merangkak membuat lututnya kotor dengan tanah. Maira membiarkan itu semua.


"Abraham ... apa yang kau lakukan?" teriak Denna ketika bayi tampan itu mengambil tanah basah dan menyapunya di baju dan kepalanya.


"Semua bajumu kotor!" pekik Denna gemas bukan main.


"Atuh bawu padhi lemtala Bustel Pena!" jawab bayi yang keluar terakhir kali itu.


"Don ... don ... don!" teriaknya sambil tengkurap dan menodongkan tangan seperti senjata.


"Astaga ... baby, kau jadi bayi lumpur," ujar Denna mengangkat Abraham dari tanah basah.


Abraham tergelak karena suster itu menggelitiknya. Hal itu membuat semua saudaranya menyerang salah satu suster itu.


"Bita selan bustel Bena!" seru Agil mengomando.


Kini baju putih Denna juga penuh dengan tanah akibat, para bayi menyerangnya. Maira hanya menggeleng melihat tingkah laku semua cucu yang menggemaskan itu.


Sementara di sana. Sepasang mata menatap jengah kumpulan bayi yang bajunya kena lumpur itu.


"Ck ... bikin banyak kerjaan aja!" dumalnya kesal.


bersambung.


oh .. heloo ... anda spasa?


next?