
Kehamilan kedua Amertha membuat Ramaputra sangat terkejut, masalahnya ia tak menyangka jika mereka yang sudah mulai berusia lanjut, Tuhan masih memberikan kepercayaan pada mereka. Rudi juga mengatakan jika mertuanya tengah mengandung sepuluh minggu.
“Apa jadi Leticia akan segera memiliki adik?” tanya Ramaputra begitu antusias.
“Benar Tu ....”
“Rud!”
“Eh, dad. Daddy termotivasi karena melihat Reece,” ujar Rudi meralat panggilannya.
Reece tidak tinggal bersama mereka lagi. Bayi itu mengukuhkan jika ingin tinggal dengan kakaknya.
“Lees pindhal pama Mama, talo Lees tanen palu pulan te lumah Moma,” ujarnya.
Hal itu membuat Amertha sangat sedih, sungguh kehadiran Reece menjadi obat kesepian ia dan Ramaputra jika sudah di rumah. Tetapi jika dijauhkan dengan seluruh keponakannya, tentu akan menghilangkan sifat ceria dan rusuh bayi tampan itu.
Sementara di mansion Abraham, pria itu sangat lemah karena baru saja tertidur selesai subuh menjelang. Semalaman ia tak bisa tidur karena muntah-muntah, Maira sampai menangis melihat suaminya yang kepayahan seperti itu.
“Sayang, kita ke dokter yuk,” ajak sang istri cemas.
Aldebaran mendatangi kamar putranya, melihat wajah pucat sang putra membuat ia langsung menangis, ia menciumi wajah Abraham dengan penuh kasih sayang.
“Nak, sembuhlah ... jangan membuatku takut,” cicitnya.
“Daddy jangan ngomong sembarangan sih!” sahut Maira tak suka.
“KIta bawa dia ke dokter. Atau panggil menantumu!” sahut pria itu. “Bukankah dia dokter?”
Akhirnya Maira memanggil menantunya ke mansion untuk memeriksakan sang suami. Tak lama mansion Abraham penuh dengan anak-anak. Clara datang membawa menantu dan juga dua cucunya. Bayi perempuan Denna sudah menginjak tiga bulan dengan pipi bulat kemerahan.
“Ih ... Baby. Kamu cantik sekali!” puji Laina mencium Aislin.
Bayi cantik itu menggeliat lucu, Aislin masih doyan tidur. Tubuh gempalnya membuat siapa saja gemas. Bahkan Manya menciumi bayi itu sampai menangis keras.
“Mama .. teunapa pitayisin dedet payina!” pekik Liam marah.
“Piya mih Mama ... tayat nanatna eundat pisa pisium!” gerutu Aqila protes.
Ternyata para kakak cemburu dengan kehadiran bayi cantik itu. Clara yang gemas, menciumi ten A, Reece dan cucunya sendiri, Liam. Manya memeriksa ayah mertuanya. Ia mengernyit heran. Tak ada masalah yang mengkhawatirkan kecuali darah rendahnya.
“Sejak kapan Papi muntah-muntah?” tanyanya.
“Sudah dua hari ini, herannya setiap dini hari Papi terbangun dan muntah hingga subuh,” jawab Maira sangat cemas, hingga ia menangis..
“Mam, tenangkan dirimu,” ujar Jovan.
Praja ada di sana juga sangat mengkhawatirkan kakak angkatnya itu. Ia sedih melihat wajah pucat Abraham yang berbaring lemah di atas ranjang. Jovan membawa semua orang dari kamar.
“Biar Papi istirahat,”
“Mami mau temenin Papi!” tolak Maira.
“Papi nggak apa-apa sayang,” ujar Abraham.
“Hanya agak lelah,” lanjutnya.
“Papi yakin, hanya mual ketika dini hari dan berhenti usai subuh?” tanya Manya lagi.
Abraham mengangguk, kamar masih belum dibuka tirainya. Manya pergi membuka jendela agar sirkulasi masuk ke dalam kamar mewah itu. Abraham langsung mengeluh melihat cahaya yang masuk.
“Tolong rapatkan tirainya!” pintanya.
Manya makin heran, kelakuan ini seperti orang tengah mengandung. Tetapi tak mungkin ayah mertuanya itu hamil, kecuali.
“Mami!” sang mertua menoleh.
“Boleh aku periksa Mami?”
“Kenapa? Yang sakit Papimu, bukan Mami!” sahut wanita itu sedikit kesal.
“Tak apa, aku hanya memastikannya!” ujar Manya menarik pergelangan tangan sang ibu mertua.
Ia sedikit menggeleng tak percaya dengan apa yang ia rasakan di denyut nadi mertuanya. Ia memeriksa sekali lagi. Maira sampai mendengkus kesal pada menantunya itu.
“Jangan bercanda kamu. Mami dua minggu lalu periksa hasilnya negatif kok!” jawab Maira tak suka. Wanita itu kesal jika ditanya perihal kehamilan.
“Aku nggak salah Mi! Mami itu hamil!” ujar Manya meyakinkan pada mertuanya.
Maira terdiam, ia menatap lekat menantunya, sedang Abraham berangsur membaik seiring waktu. Hanya saja tiba-tiba ....
“Mi, Papi kok pengen rujak serut ya?” ujar pria itu.
“Fix Mami hamil dan Papi terkena syndrom couvade atau kehamilan simpatik. Mami hamil, yang ngidam Papi!” jelas Manya dengan senyum lebar.
“Sekarang mending Papi tidur dulu deh, segarin badan biar nggak mabok!” perintah Manya.
Abraham menurut, ia juga sangat ngantuk, matanya juga sudah sepat dan kepala yang pening. Ia pun memposisikan diri agar nyaman. Perlahan ia pun terlelap. Jovan dan Praja menggantikan ayah mereka untuk meeting di semua divisi perusahaan. Manya belum resmi menjadi kepala rumah sakit. Ia akan diangkat setelah ijasah S3nya keluar. Manya kembali mengambil gelar profesor, ia tengah mengajar di kampusnya terdahulu, ia sudah mengajar di sana setelah kelahiran seven A. Maira akan memeriksakan dirinya ke dokter untuk memastikan jika ia benar-benar mengandung.
Abraham sudah baik-baik saja ketika bangun tepat ketika makan siang. Ada rujak serut di sana sesuai keinginannya. Manya yang membuatkannya. Ada yang tidak pedas untuk anak-anak dan yang sedikit pedas untuk yang tengah mengidam.
“Papi minum air putih dulu!” tegur menantunya ketika ABraham ingin menyeduh rujak itu dengan sendok.
Abraham memberengut, ia menurut karena dipelototi oleh istrinya. Usai minum air dan makan sedikit nasi. Ia langsung memakan lahap rujak serut, liurnya sampai menetes ketika merasakan sensasi rasa pedas dan asam mangga dan nanas.
“Imi eunat Mama!” puji Liam.
“Lada lasa manda, peyaya, pimun, pentoan,” ujarnya.
Manya terkekeh mendengar review bayi tampan itu. Amertha dan Clara juga suka dengan rujak serut itu. Ibu dari Gerard itu belum tau jika Maira tengah mengandung. Usai makan siang seorang dokter datang memeriksa Maira.
“Selamat Nyonya. Anda tengah mengandung. Jika dilihat dari berhentinya masa siklus, kandungan anda berusia dua minggu,” jawab dokter.
Clara terbengong, ia menatap kakak kandungnya tak percaya. Maira terharu mendengar dirinya bisa mengandung lagi. Keinginannya menambah keturunan terwujud. Abraham ikutan senang mendengarnya walau setengah tak percaya.
“Jaga kehamilannya ya. Jangan mengikuti kegiatan berlebihan!” saran dokter lagi.
Manya memeluk mertuanya, ia senang mendapat adik ipar. Om atau tante baru untuk sepuluh anaknya.
“padhi Lees batalan bunya padet payi ladhi?” tanya bayi tampan itu dengan mata membola.
“Iya Baby!” sahut semuanya.
“Holee!” pekiknya senang begitu juga yang lainnya.
Malam telah tiba, mereka semua menginap di mansion atau tepatnya di istana Dinata yang mewah dan besar itu. Abraham memeluk tubuh istrinya yang lebih berisi. Maira memang tak memiliki tubuh seksi dari gadis, ia sedikit montok.
“Terima kasih sayang,” ujar pria itu mengecup tengkuk sang istri.
Maira membalik badan dan mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami. Dua netra saling menatap. Maira sangat heran sang suami begitu setia padanya. Abraham sangat tampan dengan postur tubuh sedang, tampan dan sangat mapan.
“Aku yang malah berucap terima kasih padamu sayang,” ujar Maira.
“Kenapa?” tanya pria itu sampai mengerutkan keningnya.
“Terima kasih telah setia padaku,” ujarnya.
“Tentu, pria mana yang begitu bodoh menyelingkuhi istrinya yang sangat kaya raya,” seloroh Abraham hingga membuat sang istri mencubit kecil perutnya.
“Aduh ... sayang!’ rintih Abraham kesakitan.
“Rasakan!” ujarnya sebal.
“Jadi jika aku miskin. Apa kau akan mengkhianatiku?”
“Tidak!” jawab Abraham tegas.
“Kenapa?”
“Aku tak mau kehilangan peluangku mendapat pintu syurga dan mengambil sesuatu yang akan membuatku masuk pintu neraka,” jawab Abraham sangat dalam.
Bersambung ...
Ah ... Papi Abe ... othor padamu😍😍😍
Next?