THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
PERIKSA KEHAMILAN



Jovan pergi ketika hari masih subuh. Praja sudah menunggunya bersama Daniel. Mereka bertiga pergi setelah sarapan. Walau tak terbiasa makan terlalu pagi, tetapi perjalanan lumayan jauh. Jadi mereka harus makan untuk mengisi perut mereka.


"Mama!" pekik Liam.


"Ada apa baby?" sahut Manya.


"Mama ... mau salapan sosis Ma," pinta balita itu.


Manya sudah menyiapkan semua apa yang diinginkan anak-anaknya. Sarapan nasi goreng sosis, semua makan dengan lahap. Manya akan kembali memeriksakan diri. Aldebaran akan mengantarkan cucu menantunya itu. Maira datang bersama Amertha. Dua wanita itu sedikit terlambat karena para suami mengerjai mereka pagi-pagi.


"Kalian baru mandi?" tanya Aldebaran.


"Penpa ... Moma tan palu panun ya basti pandi!" sela Maiz menjawab pertanyaan Aldebaran.


Maira dan Amertha mengangguk membenarkan. Rambut keduanya yang basah dan sedikit tanda merah di leher. Tidak adanya anak-anak di mansion mereka membuat para suami jadi bebas mengerjai istrinya kapan saja.


"Apa Moma masuk angin?" tanya Bhizar lalu menunjuk leher Maira yang merah. "Lehernya dikerokin ampe merah!"


Aldebaran menggeleng dan berdecak. Pria berusia mau sembilan puluh ini memutar mata malas.


"Mom, titip anak-anak ya," pamit Manya lalu mengecup ibu dan mertuanya.


"Iya sayang," sahut Amertha.


Aldebaran menggandeng Manya, keduanya naik mobil disupiri oleh Sidik. Pria itu menjadi supir Nyonyanya ketika seven A liburan seperti ini.


"Pak, besok bawa Anton dan Nita main bersama anak-anak ya," pinta Manya.


"Iya Nyonya," sahut Sidik.


Memang Anton dan Nita sering diminta Abraham untuk datang ke rumah mereka. Walau sebisa mungkin Sidik sering beralasan anak-anaknya itu pulang ke kampung bersama istrinya. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai pada klinik sederhana milik Dokter Demira Aliyah SpOG.


Manya masuk bersama Aldebaran, dua orang suster menyambut mereka. Rupanya Manya harus antri sebentar karena sang dokter tengah menangani persalinan. Hanya lima menit saja terdengar suara tangisan bayi yang keras.


"Alhamdulillah, bayinya laki-laki!" seru dokter itu di dalam ruangan.


Aldebaran terharu mendengar suara bayi langsung keluar dari tempatnya itu. Pria itu membayangkan bagaimana istrinya dulu melahirkan putranya, Abraham.


"Sayang, sehat-sehat ya," pintanya mengelus perut Manya.


"Iya Uyut, makasih," sahut Manya.


Tak lama kini Manya dan Aldebaran masuk ke ruangan lain. Demira sedang menulis data bayi yang baru saja lahir tadi. Wanita itu meminta pasiennya duduk.


"Baik Dokter Manya, jadi mau periksa lagi ya?" ujarnya lalu mendongakkan kepala.


Netra hazel Aldebaran menembus netra coklat tua yang dibingkai kacamata. Demira masih cantik di usianya yang sudah kepala enam itu. Tubuhnya juga masih terjaga dan bugar. Hanya kerutan di sekitar mata saja yang terlihat.


"Oh iya, ini Kakek dari suami saya Bu," ujar Manya memperkenalkan Aldebaran dan memutuskan tatapan mereka.


"Ok, Dokter ke sini ya," ajak Demira mulai menenangkan hatinya.


Manya membaringkan tubuhnya di ranjang periksa. Demira mengambil kain untuk menutup bagian bawah dan mulai menyingkap dress Manya hingga di atas perutnya.


Wanita itu mengusap gel khusus ke seluruh perut yang belum terlihat bentuknya itu. Mengambil alat dan mulai meraba perut dengan sedikit menekannya.


"Dok ... lihat zygot nya membelah!" pekik Demira.


Manya termangu sedang Aldebaran menatap takjub layar kecil yang tengah memperlihatkan bagaimana zygot itu membelah diri.


"Dua janin diyakinkan akan tercipta di sini Dok!" seru Demira lagi.


"Hanya dua?" tanya Manya.


"Iya hanya du ... sebentar,"


Demira memeriksa semua bagian perut Manya. Memang hanya ada dua titik saja terlihat. Maka dipastikan jika Manya kembali melahirkan anak kembar.


Demira memberikan banyak vitamin dan juga kalsium untuk Manya. Pertumbuhan janin tentu harus dijaga, Manya harus memakan-makanan yang bergizi dan seimbang. Aldebaran tak lepas memandang wajah dokter yang menutupi rambutnya dengan jilbab warna hijau itu.


"Terima kasih Bu," ujar Manya senang.


"Sama-sama, lain kali bawa seven A ke sini," pinta Demira.


"Sekarang kan sudah Ten A," sahut Manya.


"Ah, iya," kekeh Demira.


"Mari Dok,"


Demira mengangguk, "hati-hati Mas ... ah Tuan."


Demira mengigit bibirnya, ia mengutuk dirinya habis-habisan di dalam hati. Aldebaran tersenyum mendengar sebutan itu.


Demira meraba dadanya. Sudah lebih tiga puluh tahun semenjak mantan suaminya meninggalkan dirinya demi wanita lain. Demira sudah mati rasa. Bukan tidak ada yang ingin meminang wanita itu. Tapi semua ditolak karena begitu sakit hati akibat dikhianati.


"Apa-apaan kau Demira ... itu kakek dari pasienmu!" dumalnya pada diri sendiri.


Sedang di dalam mobil, Aldebaran menikmati kinerja jantungnya. Bahkan ia sangat menyukai apa yang dipikirkan otaknya sekarang. Pria itu pun tersenyum dan membuat Manya heran.


"Grandpa senyum-senyum ngapain?" tanyanya.


"Ah ... tidak ada sayang," jawab Aldebaran cepat.


Manya tersenyum, ia bukan tidak tau apa yang terjadi sebenarnya. Wanita itu melihat beberapa kali kakek suaminya dan dokter Demira saling curi pandang.


"Aku bisa atur pertemuan kalian jika memang Grandpa serius," ujar wanita itu.


"Kau serius?" tanya Aldebaran spontan.


"Ah ... eh ... maksudku ... buat apa?" ralat pria itu kikuk.


Manya tertawa, sedang Sidik hanya diam saja. Pria itu tentu tak mau ikut campur lebih dalam.


"Lihat lah Pak, ada yang sedang jatuh cinta di sini," sahut Manya pada Sidik.


"Bagaimana menurut Bapak, apa kita realisasikan cinta mereka?" tanyanya.


"Harus Nyonya. Kalau tidak nanti Tuan besar bisa panas dingin," jawab Sidik yang disahuti tawa Manya dan gerutuan Aldebaran.


Mereka pun sampai rumah, Manya tadi sudah membeli buah tangan berupa pastel dan pangsit. Semua anak tentu menyambut makanan.


"Baby ... kenapa Mama nggak dicium dulu?" Manya cemberut.


"Oh ... Mama .... sayan tuh ... pusaan tuh!" sahut Pram menggombal.


Bayi mau dua tahun itu mencium Manya, lalu baru semua anak dan adiknya.


Tak terasa malam menjelang, Jovan pulang ketika anak-anak sudah terlelap. Praja diminta menginap karena Saskia tak pulang, Pram menolak pulang, bayi itu kini mulai betah di rumah Manya.


"Sayang, ada berita bagus loh," ujar Manya ketika mereka di ruang keluarga.


"Manya!" peringat Aldebaran.


Tentu saja hal itu membuat Abraham, Ramaputra, Maira dan Amertha begitu penasaran. Praja sudah masuk kamar, ia kelelahan sedang Daniel memilih pulang menggunakan mobil yang tadi mereka bawa.


"Hei ... ada apa ... ada apa?" tanya Maira sangat penasaran.


"Manya!" peringat Aldebaran lagi.


"Apaan sih!" sahut Maira ketus pada ayah mertuanya.


"Katakan saja sayang. Abaikan kakekmu!" perintah Abraham melirik ayahnya.


"Tadi ada cinta bersemi loh,"


Aldebaran akhirnya pasrah. Semua menutut penjelasan dari wanita yang tengah hamil lagi itu.


"Jangan membuat kami mati penasaran sayang!" gemas Abraham.


"Grandpa jatuh cinta sama dokter kandungannya Manya Papi," jawab Manya.


"Apaa!" pekik semua orang tak percaya.


Bersambung.


Hahaha ... yang tua yang bercinta.


othor masih jomblo😭.


next?