THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
LIBURAN DI RUMAH



Liam tengah menikmati sarapannya bersama Reece, dan ten A.


"Mama lipulan don," ajak Liam.


"Di rumah saja ya," ujar Manya.


"Di lumah napain Ma?" tanya Reece sebal.


"Baby, dari kemarin kan kita sudah keluar," ujar Manya.


"Iya mantana Lees nanya, di lumah pita napain?" tanya Reece.


Manya menggaruk kepala. Adiknya yang super cerdas itu memang bisa membuat orang dewasa harus berpikir keras.


"Kalian mau apa, renang?"


"Posen Mama ... ulan tahun seven A kita belenan!" sahut Reece yang sudah mulai lancar bicara.


"Hmmm ... apa dong. Kalau keluar kalian mau apa?" tanya Manya kini putus asa.


"Bain masat-masatan aja tayat teumalin!" seru Aqila.


"Ah ... pita bitin tue Mama!" seru Liam.


"Iya Mama ... Aidan bawu tue sus!'


"Atuh tue pie!" seru Adelard.


"Boleh, kita belanja yuk!" ajak Manya yang tentu disambut sorak sorai anak-anak.


Manya membawa empat suster termasuk Saskia dan putranya. Manya mengambil troli belanja. Liam dan Reece ada di kereta bayinya begitu juga triple A. Hanya seven A saja yang sudah besar. Mereka bergandengan tangan dan membantu ibunya mengambil beberapa bahan kue yang diminta Manya, ibunya.


"Mama tepungnya ini?" tanya Laina.


"Iya sayang, ambil empat bungkus ukuran satu kilo ya!' pinta sang ibu sekaligus menjawab pertanyaan putrinya.


"Mama beli buah kiwi boleh?" pinta Syah.


"Ambil sayang, kan untuk toping kue pie kita butuh buah," ujar Manya.


"Strawberry, kiwi, anggur, blackberry atau blackcurrant ma?"


"Ambil semua sayang," jawab Manya.


"Mama belum nyampe!" teriak Bhizar menjinjit untuk mengambil buah.


Salah satu pramuniaga membantu Bhizar mengambil buah yang diinginkan.


"Ambil per dua kilo aja tiap buahnya ya mba," pinta Manya.


"Mama mau eskrim," Manya mengangguk.


Akhirnya troli belanja penuh dengan makanan dan bahan kue. Setelah membayar mereka pun kembali ke mobil dan pulang.


"Kita langsung eksekusi Ma?" ujar Lika tak sabaran.


"Cuci tangan dulu sayang!" suruh Manya.


Semua anak pun dicuci tangannya. Tak lama Maira dan lainnya datang. Para bayi langsung ikut duduk dan diberi mangkuk plastik berisi tepung. Hanya butuh lima menit untuk membuat semuanya berantakan.


"Mama ... antu!" pekik Pram menakuti Manya.


"Uh ... kamu jadinya bukan seram sayang. Tapi lucu!" kekeh Manya.


Bayi itu berbedak tepung. Bukan hanya Pram saja yang penuh dengan tepung, Tita, Mai, Rai dan Cia juga sudah bertepung.


'Mama ... utih mua!" pekik Tita.


Maira dan Amertha membiarkan putri mereka penuh dengan tepung, begitu juga Leticia. Para pria datang setelah bermain golf.


"Astaga ... ini kenapa jadi putih semua?" tanya Jovan sambil tersenyum lebar.


"Papa ... antu!" lagi-lagi Pram menakuti ayahnya Praja.


'Waah ... kenapa kau jadi putih Baby?" tanya Praja ikutan tertawa.


"Antu!" Pram menakuti semua orang-orang dewasa.


"Hmmm ... hantunya lucu sekali ini?" Irham menciumi bayi itu hingga membuat wajahnya ikutan putih.


"Daddy ... antu!" pekik Lasyid menunjuk ayahnya.


"Waah ... takut!" pekik Abraham tertawa ketika Irham mendekati mereka.


"Daddy ... inin!" titah Maizah meminta Irham duduk.


Pria itu menurut, dengan sigap Maizah mengusap tepung di wajah pria itu. Tita pun ikut-ikutan, lalu semua bayi menorehkan tepung di wajah pria itu.


"Huaaahahahaha!" seven A tertawa terbahak-bahak.


Wajah Irham penuh dengan tepung. Pria itu pun menoreh tepung di wajan Abraham kecil.


"Kena!" seru pria itu.


Manya hanya menghela napas. Ruang tengahnya kini harus dibersihkan. Wanita itu memanggil jasa cleaning servis online. Sedang semua anak-anak dibersihkan oleh para suster. Hanya butuh waktu dua puluh menit. Ruangan yang berantakan jadi bersih dan wangi, begitu juga anak-anak dan para ayah.


"Gimana, puas mainnya?" tanya Amertha.


Kue disusun rapi, hanya dalam sekejap semua kue sudah masuk ke perut semua orang.


"Masih mau lagi?" tanya Denna.


"Ini churros ya. Selainya coklat!"


Kini para suster membersihkan mulut anak-anak dari coklat. Semua kini berbaring dengan perut membuncit. Jovan senang menciumi perut bulat itu.


"Papa ... elut atuh!'' pinta Tita membuka kaosnya dan memperlihatkan perut bulatnya.


Jovan menyembur perut menggemaskan. Tita tergelak. Tak lama mereka makan siang. Rudi dan Leticia pamit begitu juga Irham dan Renita.


"Moma mawu peuldhi?" Aqila sedih.


"Nanti liburan panjang kita main lagi," ujar Renita mengecup pipi kemerahan Aqila.


Triple A melambai tangan dengan sedih, hanya Reece dan Liam yang biasa saja.


"Baby ... ayo bobo siang!' perintah Manya.


Semua menurut, anak-anak tidur siang. Sore menjelang, semua sudah bersih dan rapi. Manya masih memberikan kudapan kue sus yang tadi pagi mereka buat.


"Mama ... eskrimnya mana?" tanya Abraham.


"Oh iya!"


Semua pun dapat satu gelas kecil eskrim. Bahkan ada yang memakannya dengan sus.


"Sepertinya kalian sudah banyak makan ya!" sindir Amertha.


"Moma ... pita ipu basih pasa peultumbuhan!" sahut Reece.


"Iya ... apa kita nggak boleh makan?" sahut Abi.


"Baby!" tegur Manya.


"Moma nggak maksud gitu loh?" lanjutnya.


"Iya Mama," sahut Abi menyesal..


"Sudah sayang, Moma yang salah, lagi pula kalian jarang makan banyak seperti ini," sahut Amertha menyesal.


"Banyak gimana sih?" tanya Lika bingung.


"Lika cuma makan lima loh kalo digabung sama yang tadi siang," lanjutnya.


"Iya ... banyak itu kalau kita makan sepuluh atau dua puluh," sahut Abi.


Amertha cemberut, wanita itu hanya ingin menggoda semua anak-anak yang begitu gembul. Ia lupa jika semua cucunya sangat pintar.


Makan malam usai, semua anak pergi tidur. Gerard memilih mengangkut putranya begitu juga Ramaputra. Dua pria itu tak peduli jika Reece atau Liam marah-marah.


"Nanti ngamuk loh!"


"Aku sudah tau triknya," sahut Gerard.


"Jangan kau tinggal dia tidur sendirian!" peringat Jovan.


"Iya, aku memang tidur bersama putra dan putriku!' ujar Gerard.


Akhirnya rumah sepi tanpa Liam dan Reece. Manya hanya bisa pasrah, ia sudah menganggap dua balita itu anaknya sendiri, ia merasa kehilangan jika tak ada Reece dan Liam. Bahkan kini Tita dan Mai sudah jadi bagian hidupnya.


"Besok mereka akan merusuh lagi sayang," ujar Jovan menjadi penenang bagi Manya.


Mereka pun masuk ke kamar. Setelah mencium semua anak. Jovan meminta Manya menyiapkan bajunya. Ia akan keluar kota bersama Praja besok.


"Aku tak ada selama tiga hari sayang," ujarnya pamit.


"Iya sayang, hati-hati ya besok," Jovan mengangguk.


'Kau lupa besok hari apa sayang?" tanya pria itu .


"Ulang tahun pernikahan kita yang ke delapan tahun," jawab Manya.


"Mestinya kita merayakannya. Apa kau ikut saja sekalian bulan madu," ajak Jovan.


"Maaf sayang, besok aku ada jadwal operasi," sahut Manya dengan nada menyesal.


Jovan begitu bahagia dengan istrinya. Manya tak pernah menuntut apa-apa, bahkan wanita itu jarang memperlihatkan kecemburuannya, hal itu membuat Jovan berhati-hati, ia selalu menolak kerjasama pebisnis wanita. Terlebih wanita-wanita jaman sekarang makin nekad.


"Lebih baik aku kehilangan triliunan rupiah dari pada aku kehilangan istri dan anakku!" sahut Jovan dalam hati.


Bersambung.


Yah ... jauhi dari pada nanti bikin susah.


Next?