THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS

THE PRESIDENT'S SEVEN TWINS
LAHIRAN MENDADAK



Para ibu-ibu sosialita tengah berkumpul di sebuah kafe milik Leticia. Wanita itu mengembangkan usaha dengan menciptakan kafe untuk para ibu-ibu sosialita yang tengah hamil di usia rentan. Leticia juga menempatkan dokter di sana sebagai tenaga ahli.


"Jadi selama kita masih menstruasi, kita bisa hamil Dok?" tanya salah satu wanita dengan pakaian dari branded ternama.


"Tentu saja. Tetapi, kami juga mengingatkan bahayanya resiko ketika hamil di usia rentan seperti Nyonya Renita," jelas dokter yang juga wanita.


"Apa saja itu Dok?"


"Wanita yang hamil di usia tua lebih berisiko melahirkan bayi prematur atau lahir dengan berat badan rendah. Hal ini bisa menyebabkan bayi mengalami berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pernapasan, daya tahan tubuh lemah, hingga terhambatnya tumbuh kembang," jawab dokter. (Sumber Google).


"Tapi kami ingin hamil lagi Dok," sahut salah satu wanita yang mengelus perut Renita.


"Kita ingin anak lagi karena semua anak sudah hidup masing-masing, suami juga mulai cuek. Malah saya rasa suami saya berselingkuh dengan sekretarisnya," lanjut wanita itu.


"Kenapa ingin punya anak lagi? Adopsi kan lebih baik!" ujar Dokter memberi saran.


"Duh, anak orang itu Dok. Saya takut nanti ayah dan ibunya minta pertanggungjawaban pas di akhirat. Kalau anak sendiri kan nggak sesulit itu dan saya yang akan bertanggungjawab atas putra atau putri saya nantinya," jawab wanita itu panjang lebar.


"Saya punya enam anak angkat. Sekarang mereka sudah besar dan sukses," sahut satunya lagi.


"Wah ... bagus itu!"


"Tapi mereka seperti nggak ingat saya sama sekali. Datang sekedar formalitas lalu sekarang tak mau menelepon saya. Malah keluarganya yang dulu tak peduli kini tinggal bersama mereka," lanjut wanita itu miris.


"Serba susah ya," sahut lainnya lagi.


"Ya memang susah," sahut Renita memutar mata malas.


Sedang di rumah sakit Dinata's Hospital. Maira turun dari ranjang periksa. Ia duduk di sebelah suaminya.


"Beratnya bagus sekali, apa ibu ingin operasi cesar untuk proses persalinan nanti?" tanya sang dokter tersenyum.


"Mi, kita operasi cesar aja ya," pinta Abraham.


Maira mengangguk, usia kandungannya sudah siap dan berat juga kondisi janin juga sangat bagus. Abraham memastikan putrinya lahir secara Cesar. Ya, janin yang ada di kandungan Maira adalah perempuan.


Maira pun langsung dirawat inap di rumah sakit. Usia kandungannya sudah mencapai tiga puluh satu minggu.


"Duh mau pipis,"


Maira langsung pergi ke toilet untuk buang air seninya. Entah kenapa ia memilih berjongkok bukan duduk di atas closed. Setelah membuang urinenya, tiba-tiba perutnya merasa mulas luar biasa. Ia sampai mengerang kesakitan.


"Sayang?!" panggil Abraham mengetuk pintu kamar mandi.


Pria itu tengah menyiapkan baju rawat sang istri. Merasa istrinya lama di kamar mandi, ia segera mengetuk pintunya.


"Sayang?!" panggilnya mulai panik.


Maira merasa perih dan mulas. Ia lemas sekali sedang untuk bangkit saja ia merasa kesusahan.


"Sayang!" teriak Abraham di depan pintu.


Pintu menggedor-gedor pintu karena terkunci. Ia berteriak-teriak memanggil istrinya.


"Maira!" pekiknya mulai ketakutan.


Abraham langsung keluar dan berteriak pada semua perawat.


"Tolong! Istri saya terkunci di kamar mandi!"


Butuh waktu lama untuk mendatangkan kunci itu. Manya dan Jovan juga Praja datang menenangkan Abraham yang menangis ketakutan.


"Mami!" pekik Jovan langsung menggendong ibunya yang terbaring di lantai yang basah.


"Mami ...," panggil Manya dan Praja cemas.


Abraham tak bisa berkata-kata, mulutnya kelu. Ia langsung menggenggam tangan istrinya. Dokter kandungan datang dan meminta semua keluar ruangan. Manya membawa suaminya dan Praja keluar.


"Kita keluar dulu yuk!"


Ketiganya pun keluar dari ruang rawat Maira. Tiba-tiba bunyi bel terdengar beberapa perawat masuk ke ruang itu. Jovan dan Praja ingin menerobos tetapi langsung ditahan oleh Manya.


"Jangan masuk! Kita serahkan pada yang ahli ya!"


"Mami ... hiks!"


Dua jam berlalu. Sosok bayi cantik berambut pirang dan bermata hazel sudah ada di inkubator. Aldebaran di sana menatap dan membelai cucu cantiknya dengan tangisan haru.


Abraham menciumi istrinya yang sedikit pucat. Ya, Maira tadi melahirkan secara normal. Bayi lahir dengan bobot 3,0 kg dan panjang 47cm itu tampak sehat dan menangis begitu kencang.


"Kami harus mensteril anda Nyonya!" Maira mengangguk setuju.


Ia memang hanya ingin satu anak saja yang lahir setelah itu selesai.


"Lusa setelah anda sudah lebih baik kita akan mensterilkan anda," ujar dokter lalu meninggalkan keluarga yang tengah berbahagia itu.


Tak lama Amertha dan Ramaputra datang membawa semua anak-anak.


"Pana Dedet payi na!?" pekik Reece tak sabaran.


"Sini Baby,"


Manya menggandeng semua anak untuk melihat inkubator. Tampak bayi bergerak merenggangkan ototnya.


"Tot payina palam totat Ma?" tanya Aqila bingung.


"Agar bayinya cepat besar sayang," jawab Manya.


"Mama talo bedhitu Elald pawu masut totat imi Mama, pial sepat peusal!" pinta batita lucu itu.


"Ngapain kamu cepat besar sayang?!" kekeh Aldebaran. "Kamu kecil aja!"


"Yuyut ... Elald pawu dantiin Mama sadhi doptel. Pial Mama pistilahat pi ladam mumah!" jawab Adelard bijak.


"Oh ... sayang. Kau manis sekali," puji Manya lalu mengecup pipi putranya itu.


"Seupeltina ipu lide yan badhus. Talo pedhitu, peben e yan pasut totat pulu talo meuleta peusal palu pita masut!" saran Reece.


"Jadi kau ingin menjadikan seven A kelinci percobaan?!" cibir Aldebaran.


"Pa'a ipu selimpi peulsopaan puyut?" tanya Aqila dengan mata bulatnya.


Aldebaran menggaruk kepalanya ia bingung menjawab pertanyaan salah satu cicitnya itu. Tak lama Liam dan Aislin datang bersama orang tua dan juga kakek neneknya.


"Kak," Clara memeluk Maira.


"Selamat ya," ujarnya.


Maira mengangguk dengan senyum indah. Bayi itu diambil oleh Gerard dan menggendongnya. Denna mengecup pucuk kepala bayi itu.


"Cantik sekali, mirip biangnya," ujar Gerard sebal.


"Daddy pian ipu pa'a?" tanya Liam ingin tahu.


"Biang itu induk atau inti Baby," jawab Gerard.


"Oh," sahut Liam mengangguk seakan mengerti.


"Talo selimpi peulsopaan pa'a Daddy?" tanya Aqila.


"Apa?" Gerard tak mengerti perkataan Aqila.


"Ipu puyut padhi pilan talo Ata'peben e bawu pisadhiin selimpi peulsopaan!" jelas batita cantik itu.


Gerard menatap kakeknya yang berdecak sebal cicitnya masih mengingat perkataan nya.


"Kelinci percobaan, Gerard!" sahut Aldebaran ketika Gerard masih tak mengerti perkataan Aqila.


"Oh ... kenapa seven A ingin dijadikan kelinci percobaan?" tanya pria itu.


"Ah ... Daddy tot panya ladhi sih?!" celetuk Aidan kesal.


"Lolan Pitu putuh sawaban butan peulpanyaan. Talo pemua peulpanya ... yan zawab spasa?" lanjutnya mendumal.


Bersambung.


Iya Daddy ... kalo semua nanya ... yang jawab siapa ?? 😅😅🤣🤭


next?