
"Dad ... jangan macam-macam ah!" peringat Abraham.
"Aku tidak macam-macam?" sahut Adelard dengan kening berkerut.
"Emang kenapa sih Pi?" tanya Manya heran.
"Sayang, Grandpa sudah terlalu tua untuk menikah lagi," jelas Maira.
"Apa ... hanya karena umur kalian mempermasalahkan Grandpa yang jatuh cinta?" tanya Manya tak percaya.
"Grandpa berhak untuk itu Mi!" lanjutnya membela Aldebaran.
"Sayang, apa kata orang jika seusia grandpa menikah?" tanya Jovan meminta istrinya pengertian.
"Loh emang kenapa dengan kata orang?" tanya Manya.
"Dulu waktu kau menikahi ku dengan tujuh anak, kau tak peduli omongan orang!" lanjutnya ketus.
"Bahkan kau meninggalkan aku juga tak peduli dengan perasaanku waktu itu?!" sindirnya pelan.
"Sayang ...," Jovan.
"Sudah ... sudah!" sela Aldebaran mulai marah.
"Jangan ungkit masa lalu! Jika kalian memang keberatan dengan apa yang aku rasakan. Baik, aku menurut!" lanjutnya lalu berdiri.
Aldebaran memilih naik ke lantai dua dan menuju kamarnya. Manya menatap semuanya dengan pandangan kesal. Jovan dan lainnya hanya diam saja.
"Dasar tak punya hati!" sindir wanita itu.
"Sayang ... bukan begitu!" peringat Jovan.
Manya memilih meninggalkan semua orang dan masuk ke kamarnya. Pintu sedikit ditutup keras. Maira dan Amertha menutup mata melihat itu.
Ramaputra tak mengatakan apapun, ia hanyalah seorang besan. Pria itu memilih tidak ikut campur terlalu dalam. Amertha ingin sekali mengungkap pendapatnya. Mulut wanita itu hendak terbuka, tapi Ramaputra menahan tangan istrinya. Ia menggeleng.
"Sebaiknya kita pulang," pamit pria itu.
"Ah ... maafkan kami besan. Ini situasinya sangat tidak enak," ujar Abraham.
"Tidak masalah," sahut Ramaputra lalu menggandeng istrinya.
Jangan tanyakan Reece dan Tita. Dua anak itu tidak mau lagi bersama ayah ibu mereka. Keduanya memilih bersama kakak perempuannya. Tinggal Abraham, Jovan dan Maira duduk termenung. Praja memilih diam, pria itu tak bisa berkata apapun, ia hanya anak angkat.
"Saya mau istirahat dulu," pamit pria itu.
"Praj ... bagaimana menurutmu?" tanya Abraham langsung.
"Aku harus jawab apa Kak?" tanya Praja.
"Kau juga anaknya Daddy!" jawab Abraham kesal.
"Daddy berhak bahagia di usia tuanya!" jawab Praja tegas.
"Apa dia kurang bahagia dengan kami?" tanya Maira tak suka jawaban Praja.
"Jika semua adalah keputusan kalian. Jangan tanya aku lagi!" tekan Praja kembali.
Maira berdecak, Praja memilih pergi. Jovan tak bisa berpikir apa-apa, ia akan sulit tidur malam ini karena Manya pasti memunggungi pria itu.
"Sayang, Daddy bahagia kan selama ini dengan kita?" tanya Maira.
"Empat tahun sudah Daddy bercerai dengan Leonita. Selama itu juga dia mempermainkan wanita itu membalaskan dendamnya," lanjutnya.
"Aku pusing!" putus Abraham.
Pria itu memilih ikut naik ke lantai dua, disusul istrinya. Mereka menginap di rumah menantunya. Abraham terlalu pusing untuk berkendara walau jarak rumahnya sangat dekat.
Sedang di kamarnya, Aldebaran tampak menatap plafon putih dengan list emas. Sungguh, ia masih pria yang gagah. Walau usianya sudah tua dengan rambut yang putih kekuningan karena rambut asal pria itu adalah pirang.
"Apa cintaku ini memang sudah tidak layak lagi?" tanyanya bergumam.
Wajah manis Demira begitu kuat di ingatannya. Pria itu ingin sekali menghilangkan semua perasaannya. Tetapi makin lama, perasaan itu makin kuat.
"Demira ... maafkan aku sayang. Andai kita bertemu dua puluh tahun lalu. Mungkin kita akan. bersatu," ujar pria itu bermonolog.
Pagi menjelang, tak ada percakapan yang berarti, Manya tetap membuatkan sarapan untuk keluarga. Pagi hari yang cukup kikuk, anak-anak menatap kelakuan orang dewasa.
"Ata' ... meuleta tenapa?" tanya Aislin pada Aqila. "Tot Mama, Papa, Popa, Moma pama yuyut sembelut?"
"Nggak tau Baby, sakit gigi kali?" jawab Aqila sambil mengendikkan bahu.
Manya sadar jika moodnya yang buruk ini dapat terbaca pada anak-anak. Tadi malam Jovan tidak masuk ke kamar. Pria itu memilih tidur di kamar lain dan Manya terbangun karena tidak mendapati suaminya di ranjang.
Wanita itu masih kesal, walau akhirnya sadar jika suaminya tengah mengalami Couvade Syndrome. Wanita itu mencari sang suami.
Manya mendengar Jovan muntah di kamar tamu. Wanita itu segera masuk dan mendatangi suaminya yang berkali-kali muntah.
"Kenapa kau tidak tidur di kamarmu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ma, Pa, kalian kenapa sih?" tanya Abraham kecil mulai kesal.
Lamunan Manya buyar seketika. Wanita itu tak sadar jika melamun dan mengabaikan semua anak-anak.
"Maaf sayang, Mama hanya kena dampak mood baby," jawab Manya.
"Jangan bohong deh Ma. Mama pernah hamil triple A, Mama malah yang muntah-muntah! Tapi Mama nggak pernah gini!" sahut Abraham ketus.
Memang dari semua anak, Abraham yang paling vokal, walau keputusan kebanyakan Bhizar yang mengambil. Manya terdiam, ia memang salah membawa perasaannya.
"Besok aku pergi!" ujar Aldebaran lalu bangkit dari kursi.
"Manya, makasih ya sayang. Babies, Uyut akan pergi lama jadi mungkin kita akan jarang bertemu," jelas pria itu.
"Dad,"
"Tidak masalah Nak, Daddy mengerti akan keberatan kalian. Maaf jika apa yang aku rasakan membuat kalian malah jadi ribut seperti ini!" sahut Aldebaran.
Praja hanya diam, pria itu tak menanggapi apa-apa. Aldebaran pergi meninggalkan meja makan. Semua anak mendadak murung.
"Uyut mau pergi kemana?" cicit Aidan dengan sedih.
"Maksud uyut nggak mau sama kita lagi gitu?" tanya Adelard kini.
"Hiks ... hiks!" Pram malah terisak.
Sosok Aldebaran memang jarang menyentuh mereka, tapi kehadiran pria itu membuat semua anak semangat. Manya merasa bersalah.
"Babies ... uyut nggak akan kemana-mana kok," ujarnya menenangkan semua anak.
"Pati tata yuyut padhi bawu peuldhi Mama," sahut Tita sedih.
"Nggak sayang, Uyut tidak akan
kemana-mana Papa pastikan itu!" putus Jovan.
Pria itu lalu pergi ke lantai satu menuju kamar kakeknya. Abraham ikut menyusul putranya. Maira tidak ikut, ia duduk dan memakan sarapannya.
"Nggak ikut ke atas juga?" sindir Praja.
"Mas," peringat Saskia pada suaminya.
"Dek, Kakak tau kakak salah. Maafin ya," pinta wanita itu.
Praja hanya mengangguk, Manya mulai menyuapi anak-anak yamg tiba-tiba tak berselera makan.
Sedang di kamar Aldebaran, rupanya omongan pria itu bukan hanya ancaman semata. Aldebaran telah memutuskan jika ia memilih pergi dan hidup sendiri di sebuah panti jompo.
"Dad," panggil Abraham.
"Grandpa," panggil Jovan.
Abraham memeluk ayahnya. Menghentikan pria itu menyusun baju-bajunya. Memang baju Aldebaran banyak di rumah Manya daripada di rumah Abraham putranya.
"Nak, Daddy sudah memutuskan untuk tinggal di panti jompo," ujar Aldebaran dengan suara berat.
"Jangan Dad. Kami masih bisa mengurusmu," cegah Abraham.
"Tidak Nak. Aku ingin hidup sendirian, kalian bisa menjengukku kapan-kapan," ujar pria gaek itu lagi.
"Dad, kau tidak kemana-mana!" tekan Abraham.
"Bahkan aku dari dulu selalu bilang kalau bisa mengurusmu dari pada Leonita!" lanjutnya.
"Tapi, kalian akan bertambah tua, aku tidak mau menyusahkan," ujar Aldebaran lagi.
"Dad, apa kau yakin ingin menikah lagi?" tanya Abraham memastikan keinginan ayahnya.
"Aku sudah tua untuk memikirkan itu!" elak pria gaek itu.
"Dad!"
"Grandpa, aku mendukung cintamu!" tekan Jovan.
"Kenapa? Apa karena takut aku pergi dan mengambil harta warisan?" sahut Aldebaran ketus.
"Dad ... bukan itu!" sahut Abraham kesal.
"Ingat ... aku masih bisa memberi makan Jovan, istri dan seluruh anaknya tanpa hartamu!" lanjutnya mulai emosi.
"Dad ... aku serius dengan pertanyaanku tadi. Apa benar kau ingin menikah lagi?"
Aldebaran menatap netra lamur putranya. Perlahan ia mengangguk.
"Jawab tegas Dad. Kau laki-laki kan?"
"Iya aku mau menikah dengan Demira Aliyah!" jawab Aldebaran tegas.
Bersambung.
Nah.
Next?