
Abhizar menekuk tangannya di pinggang. Bayi itu kesal bukan main. Ia baru saja menyusun kardus sepatu dengan susah payah. Namun, Abraham menyenggolnya dan kini semua kardus itu berantakan.
"Plaham ... pihat beulatuanmu!" hardiknya marah.
Hal itu membuat empat suster bukannya melerai tetapi malah memvideokan kemarahan Abhizar yang di mata mereka lucu.
"Atuh eundat peumaja!" seru Abraham tak mau disalahkan.
"Beustina tamu pihat-bihat palana don!" seru Bhizar lagi.
"Kkejhsbnajshbwjwushbsbdhbsbvyylll!" teriak Abraham menggunakan bahasa entah.
"bdbgehnehdggdgebshhdbbebebbkckcklkbxhhx!" sahut Bhizar juga.
"Piam pemuana!" bentak Abi marah dan membuat dua saudaranya diam.
Bhizar mulai menangis dan berlari ke arah susternya.
"Pustel ... belpon mama hiks ... hiks!" bayi itu mulai menangis.
"Pa'a-pa'a nadu ... pa'a-pa'a nadu!" sergah Abraham.
"Pasal cenen!" ledeknya.
"Huuwwaaa ... Plaham matal bustel ... mama!!!"
"Nayis teyus ... teyus ... hiks ... hiks!" Abraham ikutan menangis.
"Lolan bipilan eundat senaja ... hiks ... hiks!"
Abi menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan. Sedang Abigail, Alaina dan Ailika hanya menonton saudaranya yang tengah berseteru.
"Basti beuntal ladhi Syah iputan nayis," terka Laina berbisik.
Agil dan Lika mengangguk setuju benar saja, Syah yang tidak berada dalam perkara ikutan menangis drama tanpa air mata. Hal itu membuat tiga saudara kembar laki-lakinya datang dan terpukau walau mereka juga menangis tapi dengan derai air mata.
"Tot ... tamu ... hiks ... hiks ... eundat lada ain batana ... hiks?" tanya Abraham sambil terisak.
"Biya ... pisaan!" sahut Bhizar sambil menarik ingusnya.
"Eundat pahu ... lolan penen nayis judha ... hiks ... hiks!"
"Nayisna pudahan don!" pinta Abi akhirnya.
Bhizar, Syah dan Abraham menghentikan tangis mereka. Keempatnya memilih menyusun bersama kotak-kotak sepatu yang tadi disusun Bhizar.
"Bemana pamu mawu puwat pa'a syih?" tanya Abraham setelah menyusun kotak sesuai arahan Bhizar.
"Mawu puwat pumah-pumahan!" jawab Bhizar.
Para suster melihat susunan kotak yang terpasang berbentuk persegi empat dengan bagian tengah sengaja tak diisi sepatu.
"Bini bintuna!" tunjuk Bhizar pada lubang itu.
"Tamu pisa basut?" tanya Syah kini.
Bhizar merangkak masuk dalam susunan kotak. Tetapi, ketika keluar kotak itu kembali berjatuhan.
"Tuh tan ... patuh ladhi!' seru Abraham kini marah.
"Ipu atuh eundat peumaja!" teriak Bhizar.
"Atuh padhi judha eundat peumaja!' teriak Abraham.
Aksi saling dorong tak dapat dihindari. Para suster langsung memisahkan mereka. Ada dua kubu anak laki-laki yang salin buang muka dengan lipatan tangan di dada, sedang anak perempuan menonton saja.
"Nggak boleh berantem ah!" peringat Denna pada keempat bayi menggemaskan itu.
Leni mengirim video dengan durasi satu jam itu pada ibu mereka, Manya.
"Pototna atuh eundat bawu bain syama tamuh!" sahut Abi pada Abraham.
"Atuh judha eundat mawu!" teriak Abraham tak mau kalah.
"Eh kok malah diterusin sih?' peringat Leni kini.
"Apisna ... Plaham puluan bustel ... meubelin!" sahut Bhizar menunjuk saudaranya.
"Tamu yan bempelin!" sahut Abraham juga tak mau kalah.
"Loh kok diterusin? Bilangin uyut ya?" ancam Denna kini.
"Bustel bembeulin!" kini Bhizar, Abi, Syah dan Abraham meneriaki kesal pada susternya itu.
"Bipit-bipit nadu!" dumal Bhizar.
"Abis kalian berantem mulu, mending aduin uyut aja deh!" sahut Neli kini.
"Huuwwaaa!" keempat bayi laki-laki itu pun menangis.
"Tuh tan peunel bada nayis peumbental ladhi!" sahut Agil membenarkan terkaannya.
Hingga ketika Manya dan Jovan pulang. Keempat bayi laki-laki mereka masih ngambek.
"Loh ada apa nih kok ngambek?" tanya Jovan bingung dengan wajah cemberut empat putra kembarnya.
"Kotak sepatu?" tanya pria itu bingung.
"Tadi aku udah kirim videonya," jawab Manya lagi.
Jovan membuka ponselnya, ia memang tak pernah membuka ponsel ketika bekerja. Pria itu membuka video yang dikirimkan istrinya lalu terjawab lah semua kebingungannya. Pria itu tersenyum.
Manya hanya cemberut melihat senyum suaminya. Padahal ia ingin sekali berkirim pesan di sela-sela kesibukannya. Ia ingin sekali sang suami mengirim pesan singkat padanya, walau hanya basa-basi, ia sudah senang bukan main.
"Maaf sayang, aku memang tak suka lihat ponsel agar aku cepat menyelesaikan pekerjaan jadi bisa cepat pulang," jelas pria itu.
Manya akhirnya mengerti. Sang suami tidak ingin berlama-lama dengan pekerjaan. Mereka membawa tujuh bayi mereka ke kamar. Manya memberi nasihat pada ketujuh bayinya.
"Kalau sesama saudara tidak boleh beran ....?"
"Ni ...," sambung semua bayi hingga membuat Jovan menahan tawanya.
"Nggak boleh berantem sayang," ralat Manya sambil tersenyum lebar.
"Peulatem pa'a mama?' tanya Abraham sambil menguap lebar.
"Seperti kalian tadi, ribut dan mempermasalahkan hal kecil," jawab Manya.
"Pati Plaham puluan mama," sahut Bhizar dengan suara yang mulai lemah karena mengantuk.
"Pijal puluan mama!' sahut Abraham dengan mata terpejam.
"Tamuh yan palah!" sahut Bhizar juga memejamkan matanya.
Jovan terkikik geli melihat perdebatan sambil tidur itu. Ia gemas bukan main lalu mengecup semua bayinya dengan penuh kasih sayang.
Pagi hari semua anak lupa dengan apa yang terjadi kemarin. Jovan menunggu paket, ia akan memasangkan tenda di halaman belakang untuk bermain anak-anaknya.
Paket datang, ia memasangnya dimandori oleh tujuh bayinya.
"Papa yayah napain?" tanya Lika.
"Mau buat tenda baby," jawab pria itu.
"Penda?"
Jovan hanya tersenyum mendengar perkataan salah dari putrinya itu.
"Nanti malam kita barbeque sama Papa yayah Gerard loh," ujarnya memberi tahu.
"Ouh ... beumana Papa yayah Lelat peulum benitah?" tanya Lika.
Enam saudaranya mengamati tenda yang kini sudah berdiri tegak. Keenamnya bertepuk tangan meriah. Lika pun ikut bertepuk tangan.
"Wah peusal pan badhus setali papa yayah!" puji Bhizar dengan tatapan terpukau.
"Papa tinggal dulu ya, bye Babies!" ujarnya pamit.
"Pay papa yayah ... pulan pawa tue ya!" sahut Agil dan Laina.
"Oke baby!" sahut pria itu.
Abraham sudah masuk dalam tenda yang belum ada alasnya.
"Bustel pita tasyih tasul pisyimi!' pintanya.
"Nggak muat baby," sahut Lena.
"Itu ada alasnya sendiri, kita tunggu papa yayah aja ya, yuk!' ajaknya.
Semua anak-anak menurut. Mereka menjauhi tenda yang baru dipasang. Mereka memilih bermain dan berdebat tak ada habisnya.
Malam tiba, Gerard Lektor, Hasan, Bima dan Bernhard juga datang membawa banyak makanan. Jovan menyediakan panggangan di halaman belakang. Daging sudah disiapkan, Jovan memilih teh hangat sebagai minuman dibanding soda apa lagi anggur. Ada tujuh bayi di sana, dan ia tak mau salah memberi minum anak-anaknya.
"Wah, baunya sudah harum!" ujar Lektor ketika daging sedang dibakar.
"Pom Pasan ... bawu loptonna!" pinta Agil dengan nada imutnya.
Hasan cemberut namanya berubah di mulut para bayi. Gerard tertawa meledek.
"Kau memang cocok dengan nama panggilan itu San!"
"Ck ... sialan kau!" gerutunya kesal.
"Jaga bicara kalian, ada anak kecil yang mendengar!" peringat Jovan.
"Bijal ... pamu tenapa peultintah ladhi!" teriak Abraham memarahi saudaranya.
"Spasa yan peultintah ... pamu janan peumbalanan picala!" sahut Bhizar menolak disalahkan.
Semua pria melihat bagaimana dia bayi berseteru dengan bahasa mereka. Aksi dorong antara Bhizar dan Abraham kembali terjadi hingga membuat Gerard terbahak, sedang Manya melerai dan memarahi dua bayi tampannya itu.
bersambung.
duh ... kelakuan mereka ya 🤦
next?